
Sambil menatap sekretaris barunya, Dey mengusap bekas tamparan keras dari Vey. Tanpa berucap sepatah katapun, Dey langsung pergi meninggalkan Vey yang masih dikuasai emosinya. Bahkan kata maaf saja tidak keluar dari mulut Dey, dan lebih memilih untuk pergi begitu saja tanpa berdosa sedikitpun. Dengan santai tanpa merasa bersalah, Dey segera duduk di kursi kerjanya sambil menatap layar kerjanya.
Sedangkan Vey tengah merasa gondok saat melihat sikap Dey yang seakan tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun, dengan mudahnya seakan tidak mempunyai masalah apapun..
"Lihat lah pria itu, benar benar menyebalkan sekali, bukan? bahkan yang seharusnya aku marah, lalu kenapa dia yang tiba tiba menunjukkan kekesalannya padaku? aku yang bodoh atau dia yang terlalu pintar." Ucap Vey bermonolog sambil berdecak kesal.
"Lihat saja, aku pastikan akan membalasnya. Enak saja sudah mencuri ciuman pertamaku, aku tidak akan melepaskan dari genggamanku untuk aku buat dia malu seumur hidupnya." Gumam Vey sambil berpikir untuk mencari sebuah ide yang benar benar extrim, pikirnya.
Karena masih terasa kesal, Vey terpaksa kembali ke ruang kerjanya. Ketika Vey tengah berjalan dan menyusul Dey, semua karyawan memasang matanya untuk melihat Vey yang tengah berjalan terburu buru. Sedangkan Vey, sebisa mungkin untuk menutupi luka pada bibirnya yang sedikit terlihat bengkak.
"Vey! tunggu, berhenti." Seru Yeni memanggilnya dan langsung menghampiri Vey. Dengan cara sebaik mungkin, Vey mencoba menutupi luka yang ada pada bibir bawahnya yang sedikit terlihat bengkak seperti mendapat serangan dari lebah.
Yeni yang melihat gerak gerik Vey yang mencurigakan, segera ia membuka penutup mulutnya. Seketika, Yeni tercengang melihatnya seperti tidak percaya.
"Vey, bibir kamu kenapa? kok tiba tiba dower gitu? hah. Jangan jangan kamu mendapat ciuman arogan dari si Bos, ya. Wah ... kamu sangat beruntung, Vey. Gimana gimana, enak tidak di cium si Bos tampan." Tanya Yeni sambil meledek, Vey hanya membuang nafasnya dengan kasar.
CTAK! "Enak saja kalau ngomong," jawab Vey dan langsung pergi meninggalkan sahabatnya.
"Sial! bukannya dapat cerita gembira, eeeh dapatnya sentilan." Gumam Yeni sambil mengusap dadanya. 'Sabar, sabar ....' batinnya.
Sedangkan Vey segera kembali ke tempat kerjanya. Rasa kesalnya kini menjadi berlipat ganda. Vey tetap mencoba untuk tetap bersikap kaku dan juga dingin.
Sesampainya di ruang kerja, Vey duduk di kursi kerjanya. Pandangannya pun tertuju pada sebuah layar ponsel, ia sendiri bingung harus mengerjakan apa selain bermain dengan ponselnya.
Bosnya sendiri masih mempelajarinya, apalagi Vey sebagai sekretarisnya. Tentu saja menunggu Bosnya mahir dan aktif dalam pekerjaannya.
Begitu juga dengan Dey yang sedikitpun tidak menoleh kearah Vey, ia memilih untuk fokus dengan layar pintarnya itu.
"Dey," seru sang ayah memanggilnya.
Dey yang tidak menyadari atas kehadiran sang ayah diruang kerjanya dan membuyarkan tatapan fokusnya, ia langsung mendongakkan pandangannya.
"Papa, ada apa?" tanya Dey.
"Bagaimana dengan pinggang kamu, Dey? apakah masih sakit?" tanya sang ayah. Sedangkan Dey menoleh kearah Vey, kemudian kembali menatap sang ayah yang masih berdiri tegak dihadapannya.
Dey sendiri baru menyadari, jika sedari tadi dirinya tidak merasakan sakit sedikitpun pada bagian pinggangnya.
"Iya Pa, pinggang Dey sudah tidak merasakan sakit lagi. Kok bisa, ya. Tadi pagi kenapa tambah sakit ini pinggangku, ini langsung sembuh." Jawab Dey seperti tidak percaya, kemudian berkali kali ia menggerakkannya.
"Iya Pa, orang tadi Dey buru buru. Ya sudah kalau begitu, Papa datang kesini hanya ingin memastikan saja. Sudah sana cepetan ucapin terima kasih dan kamu ajak makan siang bersama." Ucap sang ayah memastikan, kemudian Beliau segera keluar dari ruang kerjanya. Sebelum keluar, tuan Viko mendekati Vey yang duduk tidak jauh dari tempat duduknya Dey.
"Vey, terima kasih ya. Kamu sudah mengurut putraku dengan baik, dan sampai sembuh. Maafkan Dey yang sudah membuatmu kesal." Ucap Tuan Viko yang seolah olah mengerti dengan apa yang dilakukan Dey padanya. Disaat itu juga, Vey baru menyadari jika ruangan yang dijadikan tempat untuk memijat ada CCTV nya.
Rasa malu, itu pasti ada. Ditambah lagi dengan luka bibirnya sendiri, Vey berusaha untuk tetap tenang dan menunjukkan tidak ada apa apa antara dirinya dengan Dey.
Setelah tuan Viko keluar dari ruang kerja, kini suasana kembali hening tidak bersuara. Dey maupun Vey sama diamnya tanpa bersuara, Dey sendiri mengabaikan perintah dari ayahnya yang diminta untuk mengucapkan terimakasih.
Dey pria yang bersikukuh atas pendiriannya yang terbilang dingin dan juga kaku. Hingga sulit untuk berucap kata maaf.
Tidak memakan waktu lama berada didalam ruangan, jam istirahat untuk makan siang pun telah tiba waktunya untuk menyudahi aktivitas dalam bekerja.
Vey yang merasakan perutnya keroncongan, segera ia bangkit dari posisi duduknya dan keluar dari ruang kerjanya. Dey yang melihatnya pun, ia ikut menyusulnya dari belakang tanpa sepengetahuan Vey yang sudah masuk ke Kantin.
"Bu, sup iganya satu mangkok dan minumnya air putih yang hangat." Ucap Vey memesan makanan.
"Iya mbak Vey, ditunggu sebentar ya." Jawabnya, Vey pun mengangguk. Kemudian segera ia mencari tempat duduk yang sekiranya masih kosong.
Vey tidak perduli dengan karyawan lainnya yang tengah berbisik membicarakan tentang dirinya mengenai bibir manisnya yang tiba tiba terlihat sedikit bengkak.
"Vey, bibir kamu kenapa? di cium kumbang, ya? cie ... kumbang yang mana, Vey?" tanya salah satu karyawan laki laki sambil mengejek. Vey hanya meliriknya tajam.
"Palingan juga habis ditampar si Bos, makanya babak belur begitu." Sahut Selwy yang sok tahu, tanpa disadari disudut kantin ada Dey yang tengah memperhatikannya.
Vey yang mendapat ejekan dari Selwy pun tidak peduli, bahkan dirinya tetap bersikap acuh.
"Vey, ayo duduk. Kamu tidak perlu meladeni Selwy, dia itu memang begitu. Diamkan saja dia, nanti kalau capek juga bakalan berhenti." Ucap Yeni yang tiba tiba menghampiri sahabatnya.
Disaat Vey dan Yeni duduk, disaat itu juga Dey ikut duduk disebelah Vey. Seketika, Yeni terperanjat kaget melihat Bosnya yang ikut duduk bersamanya.
Semua karyawan yang melihat Bosnya duduk disebelah Vey pun terkejut dan tidak menyangka nya. Begitu juga dengan Selwy, dia sendiri ikut terkejut melihatnya. Karena tidak mau kalah dengan Vey, dengan cepat Selwy ikut duduk di sebelah kanan Dey.
"Yen, kita pindah saja yuk. Terasa engap, tau." Ajak Vey pada sahabatnya, disaat itu juga tangan Vey ditahan oleh Dey.
"Duduk lah, temani aku makan siang. Dan kamu, kamu, cari tempat duduk kalian masing masing. Aku hanya ingin ditemani sekretarisku ini, si Vey." Ucap Dey dan menunjuk kerah Yeni dan Selwy secara bergantian.