
Setalah mengambil air minum, Vellyn langsung meminumnya hingga tandas satu gelas air minum. Kemudian ia mendekati ibunya Arnal yang tengah sibuk dengan alat dapurnya.
"Biar saya bantu, Bu." Ucap Vellyn memberanikan diri.
"Tidak perlu, Nona. Sebentar lagi juga sudah selesai, lebih baik Nona duduk aja di ruang tengah sambil nonton televisi."
"Tidak apa apa kok, Bu. Saya juga sudah terbiasa melakukan pekerjaan dapur, karena ki sekeluarga diajarkan untuk bekerja keras. Jadi biarkan saya membantu Ibu untuk menyiapkan sarapan pagi, boleh kan Bu?" kata Vellyn, ibunya Arnal sedikitpun tidak bisa melakukan penolakan.
Meski merasa tidak enak hati, mau tidak mau tetap mengizinkan Vellyn untuk membantu menyiapkan sarapan pagi.
Sedangkan Arnah tengah sibuk membereskan bawaan yang akan dibawa nya keluar Kota. Setelah semuanya beres dan tidak ada lagi yang tertinggal, ia segera bersiap siap.
Saat berada didepan cermin, pandangan nya mengarah ke sebuah bingkai kecil dan album di atas meja. Arnal mengambilnya dan menatap foto tersebut yang penuh kenangan dan menaruh nya kedalam kotak.
"Aku harus melupakan semua kenanganku, jalanku dan jalan nya dia sudah tidak mungkin untuk kembali. Rasa itu ada, jika aku tidak menyingkirkannya. Karena aku tidak ingin larut dalam kenanganku, aku harus melupakan nya. Tidak ada untungnya aku menyimpan nya, mungkin lebih baik aku menguburnya itu akan jauh lebih baik. Biarlah semua akan berjalan seperti air mengalir, tidak perlu dijadikan kenangan seperti ini yang bisa menyakitkan salah satunya." Gumam Arnal, kemudian ia segera memutar badannya untuk keluar dari kamarnya dengan membawa kotak yang berisi kenangan nya dimasa sekolah abu abu.
Saat memutarkan badannya, dilihatnya Vellyn yang sudah berdiri diambang pintu. Sepasang matanya tertuju pada sebuah kotak yang ada ditangan Arnal.
"Apa itu?" tanya Vellyn dengan berani, meski ada rasa sedikit takut. Karena penasaran, Vellyn tidak peduli malu ataupun tidak malu.
"Album dan lain sebagainya, ada apa?"
"Album? maksudnya album yang tadi?" tanya Vellyn yang masih tidak mengerti.
"Iya, saya mau menguburnya. apakah Nona mau ikut? tidak juga tidak apa apa."
"Mau mengubur perasaan aja ngajak ngajak, kalau mau mengajak aku tuh ..."
"Ke hati saya, Nona mau?" tanpa rasa malu dan dengan rasa percaya diri, Arnal asal berucap.
Disaat itu juga, Vellyn mendadak bengong mendengarnya.
"Ajakan macam apa itu, lagi konsleting kali, ya." Kata Vellyn, sedangkan Arnal tidak menghiraukan nya. Karena tidak bisa untuk berlama lama berada di rumah, Arnal segera membawa kotak tersebut ke belakang rumah untuk di kuburnya.
Vellyn yang merasa ucapan nya tidak ditanggapi, ia segera masuk kedalam kamar untuk mengambil tas kecilnya. Saat berada didalam kamar Arnal, sepasang mata Vellyn mendadak heran.
"Kok kamar nya sudah berubah, apa karena ada hubungan nya dengan kak Lunika? sepertinya sih begitu. Kasihan sekali dia, mencintai tapi tidak terbalaskan rasa cintanya. Benar benar menyakitkan, pantas saja susah untuk move on." Gumam Vellyn, kemudian ia segera keluar dari kamar tersebut.
Karena tidak ingin merasa jenuh berada didalam rumah yang menurutnya sangat asing, akhirnya Vellyn menyusul keberadaan Arnal yang sedang berada dibelakang rumah.
"Sudah lah, jangan kamu tangisi ataupun kamu sesali. Semua tidak akan kembali seperti dulu, yang harus kamu lakukan itu bersabar dan mencari penggantinya, itu yang benar." Ucap Vellyn yang tiba tiba berucap didekat Arnal.
"Mencari pengganti, Nona bilang? tidak semudah itu, Nona." Kata Arnal sambil menatap Vellyn.
"Terus ... mau apa? mau menangisi dan meratapi, begitu mau kamu? dih! kurang kewarasan aja kamu itu." Ucap Vellyn dengan santai.
'Ancaman kamu itu sama menyebalkan, sama kek orang di rumah." Ucap Vellyn dengan ketus.
Arnal yang sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk berdebat, ia langsung menarik tangan Vellyn dan mengajaknya untuk masuk kedalam rumah.
Dengan langkah yang susah untuk berjalan, Vellyn hanya bisa mengikuti langkah kaki Arnal yang cukup lebar.
Sampainya di ruang makan, Vellyn dan Arnal segera duduk. Keduanya duduk berdekatan, kemudian Arnal mengambilkan sarapan pagi untuk Vellyn.
"Nona Vellyn, jangan sungkan sungkan. Anggap saja di rumah sendiri, ya .... walaupun tidak sebagus dengan rumah milik Nona Vellyn." Ucap ibunya Arnal, sedangkan Vellyn mengangguk dan tersenyum.
"Sama aja lah Bu, dimana pun tempat tinggalnya. Yang paling utama itu isi dalam rumahnya, yaitu saling menyayangi satu sama lain. Tidak ada pilih kasih atau mementingkan kesenangan sendiri sendiri."
DEG
Disaat itu juga, ibunya Arnal seperti mendapatkan tamparan keras saat mendengar ucapan dari Vellyn.
"Iya Nona, yang dikatakan Nona Vellyn memang benar. Untuk apa kemewahan, jika keluarganya berantakan." Ucap ibunya Arnal ikut berkomentar.
"Sudah lah, nanti ujung ujungnya tidak jadi sarapan. Yang ada mengobrol dan membicarakan hal yang tidak penting. Waktuku tidak banyak untuk sekarang ini, aku harus segera berangkat." Sahut Arnal ikut menimpali, tepat nya agar tidak membahas sesuatu yang bisa membuat tidak nyaman ketika menikmati sarapan paginya.
Vellyn yang mendengar ucapan dari Arnal, ia segera menghabiskan sarapan paginya. Karena dirinya sendiri ingin cepat cepat untuk segera pulang. Bukan tidak nyaman karena keadaan rumah nya, karena ia belum terbiasa dekat dengan orang yang tidak ia kenali.
Ketika selesai sarapan pagi, Vellyn yang hendak membereskan meja makan nya pun kedua tangan nya dihalangi oleh Arnal.
"Tidak perlu, waktu kita sudah mepet. Kalau sampai aku tidak mempunyai waktu untuk mengantarkan kamu, bisa bisa aku terpaksa membawamu ikut denganku keluar Kota." Kata Arnal mencegah Vellyn yang hendak membereskan meja makan.
"Iya Nona, lebih baik Nona bersiap siap untuk berangkat. Biarkan Ibu yang akan membereskan meja makan nya, kalian beraya bersiap siap." Ucap ibunya Arnal ikut menimpali.
"Maaf ya Bu, jika kedatangan saya ini merepotkan Ibu. Sekali lagi terima kasih banyak atas hidangan dan tempat istirahat untuk saya. Kalau begitu, saya permisi untuk pamit pulang ya, Bu." Ucap Vellyn sebaik mungkin.
"Ibu tidak merasa direpotkan, Nona. Justru Ibu sangat senang dengan kedatangan Nona di rumah Ibu yang kecil ini. Jika berkenan, Nona bisa datang lagi ke rumah Ibu dan menginap lagi."
"Iya Bu, kapan kapan. Saya pamit pulang ya, Bu."
"Ah iya, Ibu sampai lupa. Hati hati di jalan, Nona. Dan buat kamu Arnal, jangan kebut karbit mengendarai mobilnya." Ucap Beliau pada Vellyn dan putranya.
"Iya Bu, Arnal berangkat dulu. Ibu di rumah juga hati hati selama Papa tidak ada di rumah, Arnal pamit." Jawab Arnal berpamitan, kemudian mencium pinggung tangan milik ibunya dan diikuti oleh Vellyn.
Setelah tidak lagi terlihat bayangan mobil, disaat itu juga ibunya Arnal teringat sesuatu yang sudah ia lakukan pada putranya atas kehendak yang diinginkan nya.
"Kasihan sekali kamu, Arnal. Sampai sekarang juga kamu belum menemukan pendamping hidupmu. Andai saja ibu tidak egois, mungkin kamu tidak akan mengalami hidup sesakit ini. Maafkan Ibu kamu ini, Arnal. Semoga kamu segera mendapatkan seorang istri yang baik seperti Lunika, hanya doa yang bisa Ibu berikan untukmu." Gumamnya penuh penyesalan.