Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Merasa kesal


Setelah melapor ke pak RT, Lukisan dan Zicko segera pulang. Tiba tiba, Zicko merasakan sesuatu pada perutnya.


"Ada apa denganmu? perutmu, sakit?" tanya Lunika penasaran.


"Iya, aku lapar. Tadi, waktu aku pulang dari kantor belum makan siang. Aku kepikiran kamu, jadi aku sempatkan untuk segera menyusul kamu di rumah ibumu." Jawab Zicko.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, karena aku baik baik saja." Ucap Lunika sambil berjalan beriringan dengan sang suami.


"Hem ... bagaimana aku tidak memikirkan kamu, jika ternyata banyak laki laki yang mengincarmu."


"Apa urusannya denganmu, biarin saja. Lagian juga aku tidak akan meresponnya, aku sendiri akan tetap fokus dengan perjanjian kita. Aku janji, aku tidak akan berurusan dengan laki laki lain selama aku masih dalam ikatan hutang denganmu." Ujar Lunika tanpa ada rasa beban sedikitpun.


"Benar juga kata kamu, aku dan kamu menikah karena saling membutuhkan. Ah sudah lah, kamu tidak perlu membahasnya lagi. Aku sudah sangat lapar, ayo kita beli makanan. Lupakan saja ucapanku tadi, anggap saja aku sedang lapar tingkat akut." Ucap Zicko sambil berjalan dengan pikirannya yang tidak karuan.


'Kenapa aku menjadi mendadak lemah seperti ini dihadapannya, begitu sulit untukku membentaknya. Bahkan, aku merasa tidak kuasa untuk membuatnya sedih. Apa karena aku merasa bersalah dan berhutang nyawa dengannya? ah! entahlah.' Batin Zicko.


"Kamu pulang saja duluan, biar aku yang membeli makanan. Kita makan dirumah saja, aku tidak ingin menjadi gosip yang tidak sedap untuk didengar." Ucap Lunika yang tidak ingin menjadi bahan gunjingan oleh para tetangga.


"Kamu yakin? kalau ada orang yang macam macam denganmu, bagaimana?" tanya Zicko.


"Tidak, palingan juga cuman ngomongin ini itu." Jawab Lunika mencoba untuk meyakinkan sang suami.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan meminta pak Yitno untuk mengawasimu, aku tidak ingin ada orang yang berniat jahat denganmu. Ya sudah kalau begitu, aku pamit pulang duluan." Ucap Zicko, Lunika hanya mengangguk.


Setelah berpamitan untuk pulang, Zicko berjalan sendiri sampai rumah ibu mertuanya. Sedangkan Lunika masuk ke warung makan untuk sang suami serta untuk dirinya sendiri dan ibunya.


"Eh, Lunika. Pacar baru, ya? atau ... calon suami kamu ya, Lun?" ledek pemilik warung makanan.


"Bukan dua duanya kok, Bu Sari. Maaf Bu, saya tidak bisa lama lama untuk menunggu. Saya pesan ayam gorengnya empat porsi, ikan bakarnya dua porsi dan ... bebek bakarnya juga empat porsi." Ucap Lunika memesannya.


"Banyak banget, Lun. Ada acara lamaran, ya? sudah lah ngaku saja. Lagian kamu berhak untuk bahagia kok, kamu itu tidak pantas mendapatkan keluarga Arnal. Kamu lebih pantas mencari yang lainnya, dari keluarga yang baik baik." Tanya salah satu ibu ibu yang berada diwarung makanan ibu Sari.


"Hus! jeng Retno, tidak baik bicara seperti itu." Sahut yang disebelahnya.


"Tidak apa apa kok, Bu. Mungkin saja, saya tidak berjodoh dengan Arnal. Saya sadar diri kok, Bu." Jawab Lunika yang tiba tiba teringat akan sosok mantan kekasihnya itu, siapa lagi kalau bukan Arnal.


"Kamu yang sabar ya, Lun. Kamu pasti bisa dapetin lelaki yang jauh lebih baik lagi dari Arnal, yang bisa menerima kamu apa adanya. Maafkan ibu yang tidak bermaksud apa apa, serius." Ucapnya.


"Halah! Lunika, miskin ya tetap miskin saja. Mana bisa dapetin lelaki yang jauh lebih baik dari Arnal, hem. Palingan juga ujung ujungnya sama Romi yang sama miskinnya, cocok deh." Sahut seorang ibu paruh baya yang tiba tiba muncul disekeliling ibu ibu yang tengah berada diwarung ibu Sari, Lunika hanya berdiam diri menerima hinaan demi hinaan dari seorang ibu paruh baya yang tidak bertanggung jawab akan ucapannya itu.


"Heh! jeng Vira, mentang mentang kamu adiknya ibunya Arnal. Seenak jida*tmu sendiri ngomong tidak pakai rem, main nyerocos saja."


"Iya nih, jeng Vira yang tidak jauh beda dengan keluarga Arnal. Sukanya merendahkan Lunika dan Romi, kalaupun mereka berjodoh itu jauh lebih baik karena memiliki ibu mertua serta suami yang dapat memberikan kasih sayang yang tulus."


"Lun, ini pesanan kamu. Cepat, pulanglah. Orang dirumah sudah menunggumu, jangan kamu masukkan ke hati ucapan ucapan yang tidak mengenakkan untuk kamu dengar." Ucap Ibu Sari sambil menyerahkan pesanan Lunika. Kemudian, Lunika langsung membayarnya.


Setelah membayar pesanan, Lunika segera pergi meninggalkan warung ibu Sari. Dalam perjalanan pulang, perasaan Lunika terasa sakit tatkala hinaan demi hinaan telah ia dengar begitu nyata dan juga sangat jelas di telinganya.


Sedangkan dirumah Lunika, ada Zicko yang tengah geram mendengar celotehan di warung ibu Sari saat sang istri sedang membeli makanan.


'Dasar! orang pinggiran kota saja belagu, lihat saja besok dihari pernikahan Arnal. Aku akan membalas perbuatan orang orang yang sudah menghina istriku, lihat saja.' Batin Zicko dengan kesal, kemudian langsung mematikan ponselnya.


Tidak lama kemudian, Lunika telah sampai di rumahnya. Seketika dirinya terkejut saat mendapati pak Yitno yang sudah berada dibelakangnya.


"Bapak ngikuti saya, ya?" tanya Lunika. Pak Yitno yang mendapati pertanyaan dari istri majikannya pun hanya mengangguk.


"Aduh, lain kali bapak tidak perlu mengikuti saya. Disini aman kok, Pak." Ucap Lunika yang tidak mengetahui maksud dari pak Yitno yang sudah mengikutinya dengan cara tidak Lunika ketahui.


"Bukan itu yang saya khawatirkan, Nona. Tetapi ini sudah menjadi tugas saya untuk menjaga Nona dari hal hal buruk yang bisa saja mendatangi Nona."


"Ah, sudahla. Ayo pak, mari masuk." Ajak Lunika untuk masuk ke rumah, pak Yitno pun mengangguk.


Sesampainya berada didalam rumah, Lunika tengah mendapati sang suami yang sedang duduk santai di ruang tamu. Lunika menatapnya heran, raut wajah yang tiba tiba mendadak seperti menunjukkan kekesalannya pada seseorang.


"Aku sudah membeli beberapa porsi makanan, ada ayam goreng, ebek bakar, dan juga ikan bakar." Ucap Lunika sembari meletakkan makanan yang ia beli, lalu segera mengambilkan piring serta sendok dan air minum.


"Kamu beli banyak segini untuk siapa, hah?" tanya Zicko sambil membuka beberapa menu pilihan.


"Kamu ambil saja yang sekiranya dapat mengenyangkan perut kamu, setelah tidak ada yang kurang. Maka, aku akan memberikan sebagian untuk tetanggaku yang juga membutuhkan makanan ini." Jawab Lunika dengan tenang.


DEG!!


Zicko tercengang mendengarnya, ia benar benar tidak percaya akan kemurahan hatinya pada orang yang juga membutuhkannya.


'Sungguh mulianya hati kamu, bahkan kamu memberinya bukan sisa makanan yang buruk. Pantas saja, Aden sangat mengharapkan kamu untuk menjadi miliknya. Karena hatimu begitu tulus dan sangat bijak. Semakin lama aku mengenalmu, semakin aku merasa bersalah.' Batin Zicko lumayan lama dalam lamunannya.


"Jangan melamun, tidak baik untuk perut lapar."


"Kalau begitu, aku ambil bebek bakarnya saja. Selebihnya, kamu berikan ke tetangga kamu yang membutuhkan."


"Baik lah, terima kasih. Kalau pak Yitno?"


"Sama seperti tuan muda, Nona. saya juga bebek bakarnya saja, selebihnya untuk tetangga Nona." Jawab pak Yitno.


"Ya sudah kalau begitu, aku pamit keluar sebentar untuk berbagi pada mereka yang membutuhkannya. Setelah itu, aku mau menyuapi ibuku." Ucap Lunika, Zicko pun mengangguk.