
Karena rasa penasarannya, akhirnya Romi dan Arnal memilih untuk bertanya terlebih dahulu. "Cepetan, Rom." Perintah Arnal sambil menepuk punggungnya.
"Selamat malam, Pak. Permisi, saya mau bertanya. Sebenarnya ada acara apa di rumah Tuan Zayen ya, Pak?" tanya Romi sedikit ada rasa malu.
"Kenapa Anda bertanya dengan saya? Anda yang diundang, kok tidak tahu? jangan jangan Anda ini penyusup, ya." Tuduh salah satu orang penjaga rumah dengan tatapan menyelidik.
"Bukan lah Pak, saya tamu undangannya Tuan Zayen. Kita berdua ini bagian orang kepercayaan Tuan Zayen. Lihat dengan jelas mobil yang saya bawa dong, Pak." Sahut Arnal mencoba cari pembelaan.
"Oh iya, maaf. Silahkan masuk, semuanya sudah hadir dan sudah berkumpul bersama didalam." Ucapnya.
"Bapak ini bagaimana sih, saya tuh tanya sama Bapak, Tuan Zayen mengadakan acara apa? begitu." Kata Romi yang sudah mulai gusar.
"Masuk aja, nanti juga tahu sendiri didalam akan ada acara apa. Silahkan, mari ...."
"Terima kasih, Pak." Jawab Romi dengan seny sambil menahan perasaan geram.
Karena merasa geram dan tidak mau membuang buang waktu, akhirnya Romi dan Arnal segera masuk kedalam. Malu tidak malu, pikir Arnal maupun Romi.
"Tertawa, lagi. Menang lotre, Elu." Kata salah satu temannya penjaga rumah.
"Lihat noh, aku berhasil kerjain calon menantunya orang tajir." Jawabnya.
"Maksudnya?"
"Dua ank muda tadi kebingungan mau masuk kedalam rumah nya Tuan Zayen. Mumpung masih ada kesempatan, aku mengerjain mereka. Soalnya besok besoknya lagi sudah tidak bisa untuk mengerjai mereka berdua, secara dia akan menjadi Tuan kita." Jawabnya.
"Hem, ketahuan Tuan Zayen baru berabe Elu." Katanya menakutkan.
"Tidak bisa, Tuan Zayen tidak akan marah. Ini kan hanya lelucon, bukan penghinaan. Ah sudah lah, ayo kita jaga keamanan rumah Tuan Zayen." Ucapnya dan mengajak untuk berjaga jaga.
Sedangkan Arnal dan Romi mulai gelisah, rasa takut dan was was telah bersemayam dibenak pikirannya.
"Rom, banyak banget tamunya ya. Bagaimana ini? apa iya, kita akan berkumpul bersama mereka?" Tanya Arnal dengan suara yang lirih sambil beriringan jalannya.
Disaat itu juga, Romi berkali kali mengusap wajahnya dengan kasar. Romi mencoba untuk menjernihkan pandangannya, berharap apa yang ia lihat adalah mimpi buruk, pikirnya.
"Kamu kenapa, Rom?" tanya Arnal penasaran melihat sahabatnya mendadak menjadi aneh.
Begitu juga dengan sosok perempuan disudut sana, yang rupanya ikut menatap Romi yang tengah tercengang. Seketika keduanya tercengang melihatnya. Arnal semakin bingung melihat temannya yang sudah seperti orang terhipnotis.
"Woi! kenapa kamu, Rom?" lagi lagi Arnal memanggilnya dan juga ikutan mengusap wajah milik Romi.
"Reseh, Lu. Si*al banget gue hari ini, cih." Kata Romi dan berpindah pandangannya.
"Lah emangnya kamu lihat apaan? hantu seksi? atau ... tukang kredit? atau ... jin iprit?"
"Premannya hantu." Jawab Romi singkat, Arnal hanya mengernyitkan keningnya.
"Hai Romi, Arnal, kalian berdua masih berdiri disini? ayo masuk. Semua sudah berkumpul loh, ayo." Sapa Tuan Zayen pada kedua orang kepercayaannya dan mengajaknya untuk masuk kedalam.
"Selamat malam Tuan, maaf kami berdua datang terlambat." Sapa Romi dan Arnal penuh hormat.
"Malam juga, sudah lah ayo masuk." Ajak Tuan Zayen yang memberi sambutan hangat untuk kedua orang kepercayaannya.
"Kalian berdua tidak perlu gugup, Rom, Arnal. Anggap saja bersama keluarga sendiri, tidak perlu segan ataupun malu. Kita semua sama, tidak ada yang rendah dan tidak ada yang tinggi. Yang menjadi kita rendah itu, ya perbuatan buruk kita. Selagi kita terus berbuat baik, kita tidak perlu malu. Malu aja ada tingkatannya. Ayo ikut aku, bagian kita bersama yang muda muda. Biar kita lebih nyambung obrolannya." Ucap Zicko dan mengajak Arnal dan Romi untuk bergabung dengan saudara laki lakinya.
"Tapi ..."
"Tidak ada tapi tapian, ayo ikut aku. Kita akan berkumpul di ruangan sana, yang lainnya tidak ada yang datang. Ada juga, Vellyn dan Kalla." Kata Zicko, sedangkan Arnal dan Romi saling menatap satu sama lain.
"Kalian berdua itu kenapa?" tanya Zicko yang merasa ada yang aneh dengan Arnal dan Romi.
"Tidak ada apa apa, aku hanya teringat ban mobilku bocor." Kata Arnal mencari alasan.
"Benar banget, soalnya tadi kita tinggal dan belum menghubungi tukang bengkel." Ucap Romi ikut menimpali.
"Oh, soal mobil yang ban nya bocor? sudah diamankan oleh anak buahku."
"What ! yang benar aja." Kedua berucap dengan serempak.
"Sedari keluar dari rumah, kalian berdua sudah diikuti oleh orang orang kami." Ucap Zicko sambil berjalan, sedangkan Romi dan Arnal tanpa sadar ikut berjalan mengikuti langkah kaki Zicko yang entah menuju ke ruangan mana.
Sedangkan Vellyn bersama sang Kakak dan juga kakak iparnya, kini ketiganya tengah menikmati obrolan nya ditemani cemilan serta minumannya.
"Ada apa dengan wajahmu, La? kok ditekuk krn gitu. Kenapa marah, ya? sama siapa?" tanya Vellyn sambil mengunyah cemilan.
"Bukannya tambah happy, ini yang ada tensiku tambah naik aja." Jawab Kalla dengan kesal, kemudian ia langsung duduk dan menyerobot cemilan yang ada ditangan Vellyn.
"Dih! ambil sendiri dong, noh! dimeja masih banyak." Kata Vellyn yang dengan sigap langsung menyumputkan cemilannya dibelakang.
"Reseh juga kamu ini, sama aja kek si Romi." Kata Kalla dengan sungut.
"Cie ... ada babang Romi, asik nih ..." goda Vellyn sambil meledek. Kalla semakin kesal mendengarnya. Bukannya mendapat pembelaan, yang ada mendapat kesal, pikirnya.
"Vellyn, kita tukaran aja, yuk."
"Tukeran apaan? baju?"
"Ya bukan lah, tukeran posisi." Kata Kalla langsung pada intinya, sedangkan Vellyn sendiri belum mengerti dengan maksud dari saudara perempuannya.
"Tukeran, memangnya tukeran posisi apaan?"
"Kamu jadi sekretarisnya Romi di perusahaan nya Kak Daka, mau ya? nanti aku yang akan menjadi sekretarisnya Kak Dey." Kata Vella penuh harap.
"Memangnya kenapa dengan Romi?" tanya Vellyn yang masih penasaran.
"Gak nyaman aja, reseh orangnya." Jawab Kalla beralasan, sedangkan Deyzan dan istrinya tidak peduli dengan obrolan adik perempuannya. Keduanya tetap menikmati cemilannya tanpa ikut ikutan mengobrol bersama sang adik.
"Gak mau aku, soalnya aku lebih betah bersama kak Dey." Kata Vellyn menolak.
"Yah ... kamu jahat banget sih sama aku, cuman selama kak Daka di luar Negri, kok. Mau ya Vell ...."
"Vellyn tidak akan bisa pindah kemana mana, karena Kakak mau mengajak istri Kakak liburan ke Luar Negri bersama Kak Zicko. Jadi ... Vellyn akan menjadi sekretarisnya Arnal." Sahut Deyzan ikut menyahut.
"What !! yang benar aja, Kak. Oh! tidak, Vellyn tidak mau. Bisa bisa tensiku naik, jika satu ruangan dengannya." Ucap Vellyn ikut terkejut, Kalla yang mendengarnya pun tertawa puas.