
Dey maupun perempuan yang ada disebelahnya pun sama sama sibuk dengan rasa penasarannya.
"Bagaimana? apakah kalian berdua sudah siap?"
Tanpa bersuara, kedua calon pengantin sama sama mengangguk tanpa menjawab pertanyaan.
"Baiklah, sebelum dimulai lebih baik kalian berdua saling bertatap muka. Agar lebih yakin dan tidak menjadi rasa penasaran, mari silahkan." Ucapnya, karena pada intinya memang menyimpan rasa penasaran. Kedua calon pengantin akhirnya sama sama menoleh kearah yang berlawanan.
DUAR!!!!!
"Kamu!!!"
"Kamu!!"
"Tidak!!!!!"
"Kenapa kamu oragnya, cih! ini pasti salah."
"Aku yakin bukan kamu orangnya, dih! amit amit lihat muka kamu yang mes*um ." Gumam keduanya saling menatap tajam satu sama lain.
Dey sendiri terkejut saat melihat perempuan yang ada disebelahnya. Begitu juga denga para saksi, semua ikut terkejut saat mendengar teriakan dari kedua calon pengantin yang begitu histeris. Bukannya terlihat mesrah, justru keduanya bak Tommy and Jerry.
"Ih, siapa juga yang mau menikah dengan perempuan super menjengkelkan seperti kamu. Ini pasti ulahnya Zicko, aku yakin itu. Dimana itu orang, Zicko!! awas! kamu." Ucap Dey dengan kesal.
"Dey, jangan berteriak teriak. Jaga bicara kamu, Zicko tidak bersalah. Vey memang benar yang akan menjadi istri kamu, sekarang juga kamu akan mengucapkan kalimat sakralnya." Sahut sang Ayah menimpali, Dey yang mendengarnya pun membelalakan kedua bola matanya seperti tidak percaya.
'Kenapa laki laki me*sum ini yang harus menjadi suamiku? menyedihkan sekali nasibku ini, bukan?" bantin Vey dengan rasa tidak bersemangat. Kecewa dengan pilihan sang Kakek, Vey hanya bisa pasrah.
'Cih! kenapa harus Vey, perempuan yang memiliki tenaga super. Benar benar aku tidak bisa membayangkannya, seperti apa nantinya.' Batin Dey penuh kekesalan, ia tidak bisa membayangkan apabila harus satu kamar dengannya.
Seketika, idenya kembali muncul entah apa yang ada didalam pikirannya. 'Dey, gitu loh.' Batinnya dengan senyum menyeringai pada Vey. Sedangkan Vey yang melihatnya pun bergidik ngeri, serasa akan di mangsanya.
"Bagaimana ini? apakah sudah bisa untuk kita mulai?" tanyanya pada kedua mempelai pengantin.
"Sudah, saya sudah siap untuk memulainya." Jawab Dey dengan tegas, Vey yang mendengarnya semakin mencurigainya.
'Jangan sampai dia akan menyiksaku, aku harus berjaga jaga dengannya. Senyumnya itu loh, benar benar seperti ingin memangsaku, mana dia mesum, lagi.' Batinnya dengan kesal.
"Bagaimana untuk calon mempelai perempuan? apakah sudah siap?" tanyanya pada Vey.
"Tentu saja Pak, saya sangat siap." Jawab Vey yang tidak mau kalah tegasnya, kemudian menatap Dey dengan tatapan yang sulit diartikan. Dey sendiri menaruh rasa curiga pada calon istrinya.
"Baiklah, kita akan mulai pengucapan kalimat sakralnya." Ucapnya, Dey sendiri memulai mengatur pernafasannya. Dengan sebaik mungkin, Dey berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kegugupannya.
Kalimat demi kalimat telah terucap dengan sangat jelas, semua mendengar dan menyaksikannya dengan khusuk. Tidak terasa, kalimat sakral yang dinanti nantikannya kini telah lolos dari Dey dengan sangat jelas.
Semua keluarga besar terharu mendengarnya. Tidak hanya itu saja, kedua orang tua Dey menangis bahagia melihat putranya yang kini telah menikah.
Begitu juga dengan Kakek Revan, perasaannya kini jauh lebih baik dari sebelumnya. Beliau merasa tanggung jawabnya telah ditunaikan dengan baik, amanah yang pernah disampaikan oleh mendiang kakek Dika telah tertunaikan permintaannya.
"Dika, tugasku telah selai. Aku sudah mempersatukan cucu kesayangan kamu kembali ke keluarga Wilyam. Hanya Vey lah satu satunya penerus keluarga Burhan melalui putranya bernama Galuh. Tugasku kini telah selesai, dan aku tidak lagi khawatir dengan Vey. Karena aku yakin jika Dey adalah lelaki yang bertanggung jawab, meski keduanya belum saling mengenal karakternya masing masing." Gumam Kakek Revan dengan menitikan air mata bahagianya, kini ia dapat mempersatukan kembali keturunan besannya itu.
Sedangkan Dey dan Vey masih sama sama dinginnya dan juga saling diam tanpa bersuara. Bukannya memperlihatkan kemesraannya di depan keluarga besarnya, justru keduanya terlihat seperti tidak saling mengenal.
Sedangkan Lunika dan Zicko masih duduk di tempat yang semula, Lunika masih merasa sangat bersalah atas insiden dirinya yang ditolong oleh teman sekolahnya.
"Sayang, kok Aden ikut berdiri dipelaminan?" tanya Lunika memberanikan diri. Rasa penasarannya pun tidak dapat untuk disembunyikannya.
"Oh iya, aku lupa. Aden adalah kakak dari istrinya Dey, kenapa?" jawab Zicko dan balik bertanya.
"Apa!! Aden Kakaknya? kamu sedang tidak bercanda, 'kan?"
"Untuk apa aku bercanda, Memangnya kamu tidak mengetahui jika Aden mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Vey?"
"Aku tahu, tapi ..."
"Kamu masih bingung atau bagaimana? dari pada kamu bingung, ayo kita temui mereka. Kita beri ucapan selamat untuk Vey dan juga Dey."
"Tidak, tidak mungkin. Apa iya Vivi yang menikah? aku rasa bukan deh."
"Vivi?"
"Iya, bukannya adiknya Aden adalah Vivi?"
"Vivi? yang bener itu Vey, kali. Sini, aku beri tahu yang sebenarnya. Nama aslinya tuh Raveyza Burhan, biasa dipanggil oleh keluarga dengan sebutan Vey. Sedangkan Aden itu, Radenra Karsa. Mereka bukan kakak beradik tidak satu lbu maupun satu Ayah. Mereka berdua mempunyai asal usul yang berbeda, Vey sebenarnya masih bagian keluarga Wilyam. Namun, karena sebuah kecelakaan yang merenggut keluarganya. Vey lah yang masih dapat diselamatkan dari insiden kecelakaan, karena kasihan tidak memiliki keluarga. Maka, Kakek Revan lah yang mengasuh Vey dan diakui jika Aden adalah Kakaknya."
"Oooh, begitu. Jadi selama ini Aden menyembunyikan identitas nama aslinya, aku baru tahu sekarang."
"Iya, kakek Revan lah yang sengaja menyembunyikannya. Kakek Revan itu hanya takut saja, jika Aden akan dimanfaatkan oleh teman temannya dan salah memilih banyak teman. Oh iya, apakah kamu mengenal dekat dengan Vey? maksud aku Vivi yang kamu kenal."
"Vivi adalah didikanku, dia anak yang cukup lihai dan pintar dalam mempelajari ilmu bela dirinya. Ah sudah lah, ayo kita temui mereka. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Vivi, aku ingin segera mencubit gemas kedua pipinya."
"Pantas aja, tenaganya sangat super. Kamu tahu? pinggang Dey sakit itu karena ditabrak Vey dengan tidak sengaja, tidak tahunya mereka berdua berjodoh. Dunia sudah seperti daun kelor, seperti kamu. Aku sudah berusaha menolak perjodohan dari Papa kamu, rupanya aku menikahimu."
"Terus ... kita mau ngobrol seperti ini terus, hah?"
"Iya ya sayang, ayo kita temui mereka." Ajak Zicko, dan tidak lupa menggandeng istrinya.
Sesampainya di atas panggung pelaminan, Zicko dan Aden kembali saling menatap dengan rasa yang sama kesalnya. Namun, keduanya segera menepis pikiran buruknya.
"Vivi ... selamat ya, semoga bahagia. Akhirnya kita jadi saudara seperti yang kamu inginkan." Ucap Lunika memberi sebuah ucapan selamat senyum senyum bahagia. Bukannya tersenyum dan mengucapkan terimakasih, justru pandangannya tertuju pada perut Lunika yang sudah terlihat besar. Kemudian mengarahkan pandangannya pada sang kakak.
"Kak Lun sudah menikah?" tanyanya sambil menunjuk kearah Lunika dan menggesernya kearah sang Kakak.
Lunika sendiri tidak mengerti, ia dan sang suami menatapnya bingung.
"Iya, Lunika sudah menikah. Dan Kakak lah suaminya, itu salah kamu kenapa tidak pernah main ke rumah Kakak." Sahut Zicko memperjelas.
Disaat itu juga, Vey membelalakan matanya. Pendengarannya seperti bermasalah, berkali kali ia menepuk nepuk kedua pipinya tetap terasa sakit.
"Ini nyata Vey, hem. Halusinasi kamu terlalu tinggi, Lunika sudah menjadi istrinya Zicko." Sahut Aden ikut menimpali, Vey hanya tersenyum tipis.
'Padahal aku berharap Kak Lunika akan menjadi istri Kak Denra, tapi rupanya Kak Zicko yang memenangkannya. Tapi ... kenapa bisa menikah dengan Kak Zicko? apa iya karena kebetulan. Atau ... ah, kasihan sekali Kak Denra. Padahal sejak masih sekolah sudah menyukai Kak Lun, bahkan ia rela sakit hati karena Kak Arnal. Pantas saja, Kak Denra mabok berat begitu. Rupanya Kak Denra prustasi dan pergi ke luar Negri.' Batin Vey penuh tanda tanya.