
Setelah mendapat ide, Zicko akhirnya memilih untuk segera pulang. "Aku pamit pulang, akan aku coba saran darimu. Kalau sampai tidak berhasil, kamu yang harus menanggung akibatnya." Jawab Zicko disertai memberi ancaman untuknya.
"Iya ya ya, terserah Tuan saja." Ucapnya, kemudian ia segera pulang. Berharap kepulangannya akan diterima dengan baik oleh istri tercintanya, dan tidak ada lagi drama pengusiran yang baru saja ia terima.
Sampai didepan rumah, perasaannya pun masih bercampur aduk untuk membayangkannya. Dengan pelan pelan Zicko berjalan masuk kedalam rumah, ia berharap kepulangannya tidak diketahui oleh sang istri.
Saat sudah berada didepan pintu kamarnya, Zicko tersenyum mengembang. "Akhirnya sampai juga didepan kamar." Gumamnya, dengan hati hati Zicko membuka pintu kamarnya. Kemudian ia mengganti pakaiannya dan segera beristirahat.
"Akhirnya, istriku sudah tertidur pulas." Gumam Zicko dengan perasaan lega.
Dengan sangat hati hati, Zicko berbaring disebelah sang istri agar tidak terbangun dari tidurnya. Saat hendak tidur, sepasang matanya tertuju pada bantal guling yang dipeluk oleh istrinya.
"Yang harus kamu peluk itu aku, bukan bantal guling." Ucap Zicko bergeming, kemudian ia mencoba untuk menyingkirkan bantal gulingnya.
"Yes! berhasil." Kata Zicko penuh kemenangan, lalu ia melemparkan ke sembarang arah bantal gulingnya. Karena rasa kantuk yang sudah tidak tertahan, segera ia memejamkan kedua matanya.
Malam semakin larut, bahkan rasa lapar pun tidak lagi dirasakan lagi oleh Zicko. Semua telah tergantikan dengan kebahagiaan yang selama ini dinanti nantikannya, meski dirinya harus mengulanginya lagi dari nol sekalipun. Zicko tidak akan pernah menyerah untuk meluluhkan kembali perasaan istrinya.
"Si*al! kenapa juga kedua mataku ini masih saja tidak bisa diajak kompromi, mana itu menggoda banget, lagi." Gumam Zicko yang semakin tergoda dengan istrinya sendiri.
"Sayang, bangun dong ..." bisik Zicko di dekat telinga istrinya. Antara sadar dan tidak sadar, Lunika tidak meresponnya. Yang ada dipikirannya hanya halusinasi ketika mendengar bisikan dari suaminya.
"Sayang, ayo bangun dong ..." lagi lagi Zicko tidak mau menyerah untuk membangunkan istrinya.
Seketika, Lunika membuka lebar lebar sepasang matanya. Dilihatnya sang suami yang sudah ada dihadapanya dengan posisi yang sama, Zicko pun tersenyum melihatnya.
"Mau apa lagi? aku ngantuk banget, aku ingin tidur."
"Aku mau ... mau itu, em ... itu loh sayang."
Sambil garuk garuk, Zicko tidak lupa sambil memainkan matanya menggoda.
"Itu, apaan?" tanya Lunika tidak mengerti.
"Ih, kenapa kamu tiba tiba tidak bisa ngonek gini sih, sayang? apa karena sudah dua tahun tidak pernah anu, itu? hem."
Dengan sigap, Zicko langsung menindih tubuh istrinya dan menahan kedua tangannya. "Aku ingin mendapat pelayanan darimu." Ucap Zicko sangat detail.
"Pelayanan?" lagi lagi Lunika masih belum juga mengerti. Entah karena bangun tidur secara mendadak, atau ... memang sengaja untuk mengerjai suaminya. Hanyalah Lunika sendiri yang dapat mengetahuinya. Wajar saja jika dirinya merasa tersiksa batinnya selama dua tahun tanpa adanya seorang suami, karena baginya tidak mudah untuk melewatinya. Ditambaha lagi dengan kenyataan yang ternyata sang suami masih hidup dan juga telah mengubah wajah nya, Lunika sendiri tentu saja shock ketika menerima kenyataan itu.
"Aku ingin meminta hak ku, boleh?"
Lunika terdiam seribu bahasa, ia bingung untuk menerima permintaan suaminya itu. Ingin menolak, ia sendiri merindukannya. Ingin menerima, ia sendiri belum terbiasa menatap wajah suaminya yang sekarang.
Meski suaminya orang yang sama, namun ia merasa jika dirinya telah menikah dua kali. Sedangkan Zicko yang merasa memaksakan kehendak, akhirnya ia menyadari atas ucapannya sendiri yang menurutnya sangat lah salah.
Karena tidak ingin membuat istrinya murka, akhirnya Zicko memilih untuk bergegas bangkit dari posisinya. Sambil membelakangi istrinya yang masih dengan posisi nya, akhirnya Zicko memberanikan diri untuk berterus terang tanpa menghadap istrinya.
"Lupakan saja, jangan kamu paksakan. Aku yang terlalu terburu buru, mungkin karena aku sangat merindukanmu, ingin membelai mu, menc*umbu mu, bahkan menginginkan hal yang lebih dari itu. Wajar saja jika aku menginginkan itu semua, karena aku lelaki normal dan sudah dua tahun lamanya aku menahan nya. Tidur lah, apa yang kamu katakan itu ada benarnya. Kamu belum terbiasa dengan wajahku, wajar saja jika kamu masih terbayang bayang dengan wajahku yang dulu." Ucap Zicko yang merasa bersalah atas sikapnya yang sudah membuat istrinya tidak nyaman.
Disaat itu juga, Lunika tersadar atas perlakuan dirinya pada sang suami. Bahkan ia sempat lupa atas perjuangan suaminya demi menyelamatkan diri serta keluarganya. Tubuh Lunika mendadak gemetaran, hanya karena wajah yang berbeda, hingga membuatnya lupa akan keselamatan suaminya sendiri.
"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan tidur satu kamar denganmu sampai diri kamu mau menerimaku dengan keadaanku yang sekarang ini. Dan ingat, aku tidak akan pernah menceraikan kamu apa pun itu alasannya. Begitu juga dengan kamu, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa menggugat nya." Ucap Zicko dengan sengaja memberi peringatan kepada istrinya, kemudian ia segera keluar dari kamar.
Disaat itu juga, Lunika langsung bangkit dari posisinya dan mengejar langkah kaki suaminya.
"Maafkan aku, sayang. Maafkan atas semua kesalahanku yang sudah membuatmu terluka dan kecewa. Aku baru menyadarinya, jika kamu melakukan semua ini demi keselamatan kamu dan demi aku dan juga Niko anak kita. Maafkan aku yang terlalu mencintaimu dengan sosok mu yang dulu, maafkan aku." Ucap Lunika sambil memeluk suaminya dari belakang.
Zicko yang mendengar pengakuan dari suaminya pun tersenyum bahagia, setelah itu ia memutar badannya dan menghadap istri yang sangat ia cintai.
"Jadi ... apakah kamu akan menerimaku dengan kondisiku yang seperti ini?" tanya untuk memastikannya.
Dengan malu malu Lunika menganggukkan kepalanya, kemudian memeluk suaminya lagi dengan erat.
"Terima kasih ya, sayang. Akhirnya kamu mau menerima kondisiku yang seperti ini, aku sangat mencintaimu." Ucap Zicko sambil memeluk istrinya, kemudian keduanya melepaskan pelukannya dan saling menatap satu sama lain.
Dengan tatapan yang begitu lekat, Zicko semakin mendekatkan diri pada sang istri. Sebuah ci*uman mesra telah mendarat di bibir ranum milik istrinya. Begitu juga dengan Lunika, dirinya sama sekali tidak melakukan penolakan. Semakin lama dalam permaianan suaminya, Lunika menyadari atas permintaan dari sang suami yang menuntutnya lebih. Dengan pelan, Zicko menuntun istrinya hingga sampai di tempat tidur, hingga keduanya terhanyut dalam ritual panjangnya yang sudah sekian lama tidak pernah dilakukannya.
Usai melakukan ritual panjangnya, Zicko dan Lunika segera membersihkan diri. Kemudian keduanya kembali ke tempat tidur untuk beristirahat hingga tertidur pulas.