Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kenyataan yang harus diterima


Sampainya didepan rumah, Tuan Zayen dan istri masih berdiam diri tanpa bersuara. Tatapannya pun ikut kosong, sungguh tidak kuasa untuk berhadapan dengan menantunya.


"Zayen, Afna, ayo kita turun. Kalian berdua pasti bisa menghadapinya, Papa percaya pada kalian berdua. Ingat Zayen, Afna, kamu masih ada Niko yang akan menjadi pengganti putramu. Jangan ikuti kesedihanmu, semua itu hanya tipu daya kalian yang membuat kalian berdua semakin rapuh. Hadapi semuanya dengan lapang, semua akan ada gilirannya masing masing." Ucap Kakek Alfan mengajak anak dan menantunya untuk segera masuk ke rumah.


"Apa yang Papa katakan ada benarnya, Zayen, Afna. Ayo kita turun, kalian berdua tidak sendiri. Kita semua akan mendampingi kalian berdua untuk menjelaskan pada menantumu, aku yakin jika Lunika adalah perempuan yang kuat." Sahut sang ibu menimpali.


Karena tidak mempunyai pilihan lain, Tuan Zayen dan istri hanya mengangguk pasrah. Sosok yang kuat dan tegar, kini berubah menjadi lemah tidak berdaya. Bukan karena tidak rela atas kehilangan putranya, namun tidak mampu harus berhadapan menantunya dan cucunya yang baru saja lahir dan harus menyandang statusnya anak yatim. Disitulah kesedihan Tuan Zayen dan sang istri yang tengah dipikirkannya.


Kini, nyonya Afna dibantu Vey sambil menggandeng tangannya. Sedangkan Kakek Alfan dan Tuan Viko berada disebelah Tuan Zayen berjalan beriringan. Sedangkan yang lainnya mengikutinya dari belakang.


Sebelum sampai di rumah, Lunika sudah duduk sambil memangku putranya disofa ditemani Vellyn dan sang ibu kandung dan juga ditemani ibu asuhnya, yang tidak lain istri dari kakek Dana. Namun ketika mendapat pesan dari Tuan Viko, Vellyn diminta untuk menggendong bayi Niko. Takut, sewaktu waktu Lunika akan menangis histeris dan jatuh pingsan.


"Mama, Papa, kalian semua dari mana? kenapa pakaian kalian semuanya hitam? ada apa ini, Ma, Pa?" tanya Lunika sambil memeriksa satu persatu. Diantara semuanya tidak ada satu pun yang bersuara, bahkan di ruang tamu berubah menjadi sunyi dan hening seketika. Satu pun tidak ada yang menunjukkan senyumnya, semuanya nampak bersedih dan seperti mendapat duka yang mendalam.


"Ma, kenapa semuanya diam?" tanya Lunika sambil mengguncang tubuh milik ibu mertuanya. Nyonya Afna pun masih tidak nergemimg, semua nampak mengheningkan cipta.


"Pa, kenapa semuanya diam. Kenapa diantara kalian tidak ada yang bersuara? ada apa ini?" tanya Lunika yang juga mengguncangkan tubub milik ayah kandungnya sendiri dengan perasaan gelisah dan juga cemas tentunya.


Seketika, Lunika teringat akan sosok suaminya yang tak juga terlihat batang hidungnya. Lunika kembali celingukan dan memeriksanya satu persatu diantara keluarga Danuarta dan keluarga Wilyam. Saat tidak menemukan sosok suaminya, Lunika segera mendekati sang ibu mertuanya.


"Ma, dimana suami Lunika? kenapa tidak terlihat? dimana suami Lunika?" tanya Lunika sambil memegangi lengan sang ibu mertua.


Nyonya Afna yang tidak dapat memberikan jawaban, sekujur tubuhnya pun terasa tidak berdaya.


Dengan sigap, Nyonya Afna langsung memeluk erat tubuhnya menantunya dan menangis sesunggukan.


"Maafkan Mama, sayang. Maafkan Mama yang egois ini yang selalu bersembunyi dari kebohongan, maafkan Mama." Ucap Nyonya Afna yang terasa sakit dan sesak didadanya untuk mengungkapkan kebenaran pada menantunya.


Lunika pun segera melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah ibu mertuanya yang terisak akan tangisnya karena bingung harus menjelaskannya.


"Kenapa Mama menangis? katakan pada Lunika, Ma. Ada apa yang sebenarnya, Ma? katakan pada Lunika sekarang juga." Tanya Lunika sambil mengusap air mata pada pelupuk sepasang mata milik ibu mertuanya.


Lagi dan lagi, Nyonya Afna kembali memeluk menantunya dengan erat. Seakan tidak ingin melepaskannya, terasa berat untuk mengungkapkan kebenarannya. Sedangkan yang lainnya hanya bisa diam dan tidak mampu untuk berucap, meski kenyataannya harus disampaikan.


"Ma, katakan pada Lunika, ada apa dengan semua ini? katakan Ma."


"Zi -- Zick -- Zicko, em ... Mama tidak sanggup."


"Ada apa dengan suami Lunika, Ma? ayo katakan. Kenapa semuanya diam? ada apa dengan suami Lunika? Ma, Pa." Tanya Lunika bergantian menatap ibu mertuanya dan ayah mertuanya penuh selidik.


Tuan Zayen maupun sang istri sama sama diam tanpa menjawab pertanyaan dari menantunya, begitu juga dengan yang lainnya sama sama terdiam membisu.


Karena tidak ada pilihan, istri Tuan Viko akhirnya mendekati keponakannya dengan perasaan yang tidak karuan. Mau bagaimanapun Lunika harus mengetahui akan kebenarannya, pikir nyonya Adellyn. Setelah berada dihadapan Lunika, Nyonya Adellyn menatap keponakannya dengan lekat. Kemudian memegangi kedua pundak milik Lunika.


"Tante, lihat lah. Semuanya seperti patung yang tidak berguna, bahkan tidak ada satupun yang menyahut pertanyaan dari Lunika." Ucap Lunika yang merasa diabaikan.


"Lunika, mereka bukannya tidak mau menjawab pertanyaan dari kamu. Mereka sebenarnya tidak sanggup jika harus menjawabnya, takut jika hatimu akan terluka." Jawab Nyonya Adellyn, Lunika masih belum juga dapat mencerna ucapan dari Tantenya.


"Maksud Tante?" tanya Lunika dengan tatapan seriusnya. Nyonya Adellyn akhirnya memeluk keponakannya dengan erat.


"Maafkan Tante, jika kabar yang Tante bawa akan menyakiti hatimu dan terasa tercabik cabik hingga ke ulu hatimu. Kamu harus ikhlas dan juga lapang menerima kabar ini, Tante yakin jika kamu mampu menghadapinya serta melewatinya. Sebenarnya ... suami kamu telah pergi untuk selama lamanya."


DUAR!!!!!!


Seketika, Lunika mendelik dan tercengang ketika mendengar ucapan dari istri Tuan Viko. Tubuhnya gemetar saat suaminya dikatakan telah pergi untuk selamanya. Tidak hanya itu saja, Lunika serasa tersambar petir di siang bolong mendengarnya. Dengan cepat, Lunika langsung melepaskan pelukannya. Kemudian menghampiri satu persatu yang ada disekelilingnya.


"Ma! yang dikatakan Tante Adellyn tidak benar kan, Ma? suami Lunika masih hidup kan, Pa? kalian semua hanya bersandiwara kan, Paman? kalian hanya ingin mengerjai Lunika, 'kan?" tanya Lunika memberondong banyak pertanyaan dengan tangisnya sambil mengguncang tubuh satu satu milik ibu mertuanya, ayah mertuanya, serta Tuan Seyn yang berstatus Kakak sepupunya. Kemudian Lunika menjatuhkan diri dan tertunduk kelantai dengan tangisnya yang terisak.


Istri kakek Dana yang mengerti akan perasaan putrinya segera mendekatinya dan memeluknya.


"Putriku, maafkan kita semua yang sudah berbohong banyak padamu. Maafkan kita semua yang dari awal sudah menutupi insiden kecelakaan suami kamu, maafkan kita semua Nak ... maafkan." Ucap istri kakek Dana memeluk putrinya sambil menangis. Sedangkan Lunika sendiri begitu terpukul mendengar kenyataan yang begitu pahit untuk ia terima secara tiba tiba.


"Tidak! Lunika tidak percaya, Lunika yakin jika suami Lunika masih hidup. Kalian semua hanya mengerjai Lunika, 'kan? tidak! suami Lunika masih hidup. Bahkan, Lunika masih merasakan jika suami Lunika belum meninggal. Yakin itu, bahwa suami Lunika masih hidup." Ucap Lunika dengan nafasnya yang terasa sesak dibarengi dengan menangis, antara percaya dan tidak percaya atas kabar duka yang ia terima.