Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Berkata Jujur


Daka yang mendengarnya pun hanya membuang napasnya kasar.


"Tidak ada kata untuk menolak, hari ini juga kamu akan dirawat di rumah sakit. Mau tidak mau sekalipun kamu tidak akan bisa menolaknya." Kata Daka yang tetap memaksanya, Enja yang tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa nurut dengan apa yang sudah menjadi keputusan seorang Daka.


"Bu Dokter, saya serahkan semuanya pada Bu Dokter. Berikan pelayanan yang baik untuknya, saya tidak perduli berapapun biayanya dan pastinya saya siap untuk membayar secara tunai." Ucap Daka sambil memberi kode ke Dokter Seyla.


"Enja, aku harus pamit untuk segera berangkat kerja. Jaga diri kamu dengan baik, jangan membantah apapun yang itu. Kamu tidak perlu khawatir, Ibu Mala yang akan menemanimu di rumah sakit sampai kamu diizinkan pulang." Ucap nya lagi memberi peringatan pada Enja, sedangkan Enja sendiri hanya mengangguk.


"Bu, saya titipkan Enja sama Ibu. Jika ada apa apa, Ibu bisa menghubungi saya. Kalau begitu saya permisi untuk berangkat bekerja." Ucap Daka berpamitan, Ibu Mala pun menganggukkan kepalanya.


"Iya Nak Daka, Ibu akan menemani Enja sampai diizinkan nya pulang. Sebelumnya Ibu ucapkan banyak terima kasih atas semua yang Nak Daka lakukan untuk kesembuhan Nak Enja." Jawab Ibu Mala, Daka Pun segera berangkat kerja bersama adik perempuannya.


Saat dalam perjalanan menuju Kantor, Kalla yang merasa penasaran ingin sesekali menanyakannya langsung ke orangnya. Namun niatnya pun akhirnya diurungkan, takut jika pertanyaannya akan membuat sang Kakak menjadi emosi.


Sudah berusaha untuk menahannya, tetap saja seorang gadis yang bernama Kalla semakin penasaran dibuatnya. Berani tidak berani, akhirnya Kalla mencoba untuk bertanya pada sang Kakak. Namun sebelumnya, Kalla mencoba untuk mengatur pernapasan nya agar tidak salah tingkah.


"Kak Daka," panggil Kalla dengan perasaan yang cukup takut dan juga malu pastinya. Mau bagaimana pun Kalla tetap berusaha untuk menjadi seseorang yang pemberani.


"Ada apa? hem."


"Kak Enja siapanya Kak Daka? pacarnya?" tanya Kalla dengan berani.


Sssttttttt


Seketika, Daka mengerem mobilnya secara mendadak. "Jangan banyak bicara jika kamu ingin selamat sampai di Kantor." Ancam Daka yang merasa malas untuk menjawab pertanyaan dari adik perempuannya.


"Hem, iya ya ya. Tinggal jujur aja apa susahnya sih, lagian aku kan adikmu."


"Kamu tuh ember kalau diberitahu, ngerti." Kata Daka dengan tatapan tajamnya.


"Ya tidak lah, aku kan bukan anak kecil lagi." Sahut Kalla yang akhirnya membuang mukanya.


Daka yang melihat adik perempuannya cemberut, dengan kasar ia membuang napasnya.


"Iya ya ya, Enja adalah perempuan yang Kakak sukai."


Wajah Kalla langsung berbinar dan disertai senyum yang mereka, Daka hanya mengernyitkan keningnya.


"Puas! kamu." Ucap Daka dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar waktu yang bisa saja dirinya datang terlambat.


Sedangkan Kalla benar benar lega ketika mendengar jawaban dari sang Kakak, bahkan dengan lajunya mobil yang sangat kencang pun tidak membuatnya ketakutan.


Sssstttttt


PUK!


"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ajak Daka sambil menepuk lengan tangan milik sang adik.


"Hah! kita sudah sampai? yang benar saja, Kak. Perasaan baru juga di perjalanan, jangan jangan mampir ke rumah cewek lain lagi nih." Tanya Kalla sambil memperhatikan disekelilingnya, dan rupanya tempat parkiran. Kalla pun tersenyum lega, namun kelegaan nya tiba tiba berubah menjadi kegelisahan. Yang dimana dirinya akan memulai bekerja dan terjun di Kantor orang tuanya sendiri.


"Jangan banyak omong, sekarang juga ayo kita turun." Sahut Daka dan langsung keluar dari mobil dan masuk kedalam Kantor.


Saat berjalan beriringan dengan sang adik, semua karyawan yang lainnya berbisik satu sama lain nya untuk membicarakan Bosnya itu.


"Kak, kenapa karyawan Kakak semua memperhatikan kita?" tanya Kalla merasa risih ketika dirinya menjadi bahan perhatian orang banyak.


"Dih! tidak segitunya juga, kali. Eh Kak, ruangan kita sama, 'kan?"


"Ya iya lah, pakai banyak tanya segala kamu ini. Sudah lah jangan banyak protes, ikut aja kemana Kakak pergi." Kata Daka, sedangkan Kalla langsung menggaris bawahi kemana sang kakak pergi, pikirnya begitu.


Sampai didalam ruang kerja, Kalla menatap sekelilingnya. Tiba tiba ia melihat sebuah tatanan Kantor yang begitu rapi, bahkan sepasang matanya terasa nyaman ketika melihat di sekelilingnya benar benar terlihat rapi.


"Wah, Kantor Kakak rapih juga ya."


"Duduk lah di sana," perintah Daka sambil menunjuk tempat kerja untuk adiknya, Kalla sendiri menatapnya malas.


Setelah itu, Daka langsung memberikan tugas yang cukup lumayan menguras pikirannya.


"Apa apaan ini? kak, kok banyak begini sih?"


"Sudah lah, dibaca semuanya dulu. Ingat! jangan ganggu Kakak, jika tidak bisa untuk mengerjakan tugas kamu, lebih baik diam."


"Terus ...."


"Nanti kamu akan ada waktunya sendiri untuk bertanya. Jadi, jangan bertanya sebelum Kakak bertanya duluan."


"Dih! kerja sama Kakaknya sendiri udah kek sama orang lain, benar benar menguras emosiku." Gumam Kalla sambil menggaruk tengkuknya lehernya, sedangkan Daka tidak meresponnya. Daka terus sibuk dengan layar pintarnya, dan secepat mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan dengan waktu yang cukup singkat.


Sedangkan di tempat lain, yakni di rumah Deyzan tengah sibuk menikmati sarapan paginya.


"Kak Dey tidak berangkat ke Kantor?" tanya Vellyn yang akhirnya bertanya.


"Nanti agak siangan, Kakak lagi ingin datang terlambat." Jawab Dey sambil mengunyah nasi gorengnya.


"Hem, gitu ya. Oh iya Kak, Vellyn boleh tidak, jika Vellyn mengajak Kak Vey ke Mall." Tanya Vellyn yang akhirnya memberanikan diri untuk meminta izin pada sang Kakak.


"Mau beli apa?" tanya Dey balik.


"Belanja lah, kita kan perempuan." Jawab Vellyn yang juga sambil menikmati nasi gorengnya.


"Nanti malam aja bareng Kakak," ucap Dey sambil menyuapi mulutnya sendiri. Vellyn yang mendengarnya pun hanya bisa diam, kemudian segera melanjutkan makannya hingga habis tidak tersisa.


Vey yang melihat adik iparnya tiba tiba berubah menjadi lesu merasa kasihan.


"Sayang, kenapa mesti nanti malam?" tanya Vey memberanikan diri pada suaminya.


"Karena Pagi ini adalah jadwal kamu untuk periksa ke Dokter, salah?"


"Periksa ke Dokter? memangnya ini tanggal berapa?"


"Tanggal 22, Kak." Sahut Vellyn yang teringat tanggal ke berapa nya.


"Ah iya, aku lupa. Hari ini jadwal untuk periksa ke Dokter, aku baru ingat."


"Hem, makanya jangan berprasangka buruk dulu kalian berdua ini. Dan buat kamu Vellyn, Kakak tidak pernah melarang kamu untuk mengajak Kak Vey pergi keluar. Yang terpenting ingat waktu dan juga ingat bahaya atau tidak, ngerti kan maksud Kakak?"


"Iya Kak, aku mengerti apa yang Kakak katakan. Maafkan Vellyn ya Kak, jika Vellyn sudah berprasangka buruk pada Kakak." Kata Vellyn meminta maaf, Dey pun tersenyum pada Vellyn.