
Zicko yang merasa sedikit tenang, ia mencoba untuk membuka kedua matanya. Ia duduk dengan raut wajah yang sulit untuk ditebak.
"Bro, kamu kenapa sih! muka kamu itu seperti banyak beban saja."
"Aku teringat masa laluku, Jon." Jawabnya dengan lesu.
"Masa lalu, masa lalu apaan? dengan pacar kamu?" tanya Joni lagi.
"Bukan, tapi sebuah kesalahan." Jawabnya yang masih belum siap untuk menjelaskannya.
"Kalau kamu tidak cerita, mana aku tahu. Makanya kamu ceritakan semua keluh kesahmu. Jika aku mampu membantumu, aku akan membantumu. Tapi, aku akan tetap membantumu."
"Waktu itu, waktu aku sedang kelulusan sekolah. Aku pernah mengalami kecelakaan di lokasi sepertiga jalan yang tidak jauh dari sini, aku dengan posisi baru turun dari motor. Niat mau menyebrang jalan bersama teman teman konvoi, kami bersenda gurau. Entah siapa yang mendorongku hingga aku masuk kejalan raya, saat itu juga ada pengendara motor yang begitu kencang dari arah selatan. Akhirnya, aku hanya terserempet."
"Lalu, terus ..." tanya Joni semakin penasaran.
"Dan akhirnya aku pun terjatuh bersama seorang perempuan, kakiku dan kaki perempuan itu sama sama terlukanya. Namun lebih parah luka yang ada pada kaki perempuan itu, darah segar terlihat jelas dimataku. Kakinya yang juga banyak mengeluarkan darah, dan aku lihat perempuan itu meringis kesakitan. Akupun tidak dapat menolongnya dengan kondisi kakiku yang juga sama sakitnya. Aku sendiri susah payah untuk menggerakkan kakiku, dan lebih memilih pasrah. Sedangkan segerombolan temanku langsung membawaku ke klinik terdekat, karena ada luka pada kakiku serta tanganku."
"Kenapa kamu tidak meminta teman kamu untuk menolong perempuan itu, bo*doh sekali kamu. Membiarkan perempuan yang menolongmu tengah kesakitan." Ucap Joni sedikit geram.
"Aku sudah meminta pada temanku untuk menolongnya, tetepi perempuan itu sudah dotolong oleh banyak orang." Jawab Zicko menjelaskan.
"Kasihan sekali perempuan itu, sudah menolong, terluka lagi." Ucap Joni.
"Lalu, apakah kamu sudah bertemu dengan perempuan itu?" tanya Joni.
"Sudah, aku sudah menemukannya. Tapi, aku masih ragu untuk meyakinkannya. Lagian aku tidak mengenali wajahnya, makanya aku takut salah orang, itu saja." Jawab Zicko sambil menyangga dagunya dengan satu tangannya.
"Kenapa kamu tidak mengenalinya? aneh kamu ini, orang jelas jelas kamu melihat kakinya terluka. Apa iya, yang kamu lihat hanya kakinya saja. Ada ada saja kamu ini, lebih fokus pada kakinya dibandingkan wajahnya si penolong. Seharusnya kamu itu melihat wajahnya dan diingat ingat, lalu cari keberadaannya dan segera minta maaf lah dengannya serta berterima kasih." Ucap Joni memberi saran.
"Bagaimana aku bisa mengenalinya, perempuan itu memakai masker. Begitu juga denganku, yang dikerumunin oleh teman temanku.
"Ya sudah, kamu tanyakan saja yang sejujurnya pada perempuan yang kamu curigai itu. Kamu pura pura menanyakan luka pada kakinya, jika ceritanya sama dengan kejadian kamu itu, berarti benar perempuan itu yang kamu cari." Ucap Joni yang terus memberi saran serta nasehat untuk temannya.
"Aku takut, jika dia tahu aku yang ditolongnya. Dan perempuan itu akan membenciku, karena aku yang ditolongnya tidak tahu diri." Jawab Zicko.
"Apa kamu lupa? nyawa kamu sudah diselamatkan oleh perempuan itu. Andai saja tidak ada perempuan itu, entah bagaimaba dengan nasibmu. Entah selamat, atau tidak. Kamu itu jangan egois, kamu berhutang nyawa dengannya. Bahkan, kamu membayarnya dengan jumlah 200 juta saja masih kurang." Ucap Joni terus menerus.
DEG!!!
Seketika, Zicko teringat akan bayaran tentang pernikahannya itu.
"Hei, melamun saja dari tadi. Sekarang tenangkan dulu pikiran kamu itu, agar kamu tidak dikuasi oleh emosimu itu. Setelah cukup tenang, kamu temui perempuan yang sudah menyelamatkan kamu. Ingat, nyawamu sangat berharga. Bahkan, jumlah nominal seberapapun tidak ada nilainya dengan nyawamu." Ucap Joni yang terasa tajam hingga terasa perih sampai ke hulu hatinya.
"Bagaimana kalau perempuan itu membenciku? jika ternyata akulah orangnya yang pernah ditolong tanpa berterima kasih dengannya."
"Setidaknya kamu meminta maaf telah lari dari kenyataan, dan ucapkan terimakasih padanya." Ucapnya.
"Apa!!! istri kamu? memangnya siapa istri kamu?" Joni mendadak kaget mendengarnya.
"Lunika, perempuan yang sudah kamu selidiki."
"Lunika? jadi ... kamu menikah dengan Lunika? yang benar saja kamu, Bro."
"Ceritanya panjang, aku tidak ada waktu untuk menceritakannya denganmu."
"Tidak apa apa, itu kepribadianmu. Tidak perlu kamu ceritakan padaku juga tidak apa apa, aku dapat memakluminya. Lebih baik kamu bicarakan baik baik pada istri kamu itu, kamu tanyakan luka yang ada pada kakinya." Ucap Joni memberi saran pada kalimat terakhirnya.
"Terima kasih ya, Jon. Kamu sudah memberiku saran serta mengingatkan aku. Kalau begitu, aku mau langsung pulang. Takut, jika istriku mencariku." Jawab Zicko dan berpamitan untuk pulang.
"Hati hati di jalan, Bro. Jangan banyak memikirkan sesuatu yang dapat mengganggu pikiran kamu. Fokus saja dengan hal yang positif, jika semuanya akan baik baik saja." Ucap Joni, Zicko pun mengangguk dan segera keluar dari rumah Joni.
Setelah menaiki motornya, Zicko melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanannya, Zicko terus terbayang bayang dengan ingatannya tentang darah segar pada kaki seorang perempuan yang tengah robek dan begitu banyak mengeluarkan darah.
Semakin pusing membayangkannya, Zicko berusaha untuk menepis pikiran buruknya. Sebisa mungkin Zicko berusaha untuk tenang, dan selalu mengingat pesan dari temannya sendiri.
Sedangkan didalam kamar, Lunika sudah terbangun dari tidurnya. Ia mencari sosok laki laki yang menjadi suaminya itu, namun tidak ia temui batang hidungnya serta bayangannya.
"Nona mencari tuan muda?" tanya asisten rumah yang sudah mendapatkan pesan dari majikannya.
"Iya mbak, mbak melihatnya?" jawab
Lunika dan balik bertanya.
"Tuan muda tadi berpesan, katanya mau keluar sebentar, Nona. Oh iya, saya sudah siapkan makan siang untuk Nona."
"Iya mbak, saya mau menunggu suami saya saja. Terasa hambar jika harus makan sendirian, saya masih bisa menahannya kok." Jawab Lunika beralasan, meski sebenarnya sudah terasa lapar. Lunika berusaha untuk menahannya, karena takut bila sang suami pulang ketika dirinya tengah menikmati makanannya.
Sambil menunggu, Lunika kembali masuk ke kamarnya. Didalam kamar, Lunika menyibukkan dirinya dengan laptop pemberian suaminya.
Sedangkan Zicko, kini telah sampai didepan rumahnya. Dengan tergesa gesa, ia segera masuk ke rumah. Saat sampai di ruang makan, Zicko melihat makanan yang sama sekali belum tersentuh.
"Mbak Yuyun," panggil Zicko pada asisten utamanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya asisten rumah.
"Kenapa makanan ini masih utuh? apakah istriku tidak mau makan?"
"Kata Nona muda, makannya nunggu tuan muda pulang. Katanya terasa hambar, jika makan tidak bersama suami." Jawab mbak Yuni menjelaskan.
"Ooh, begitu. Ya sudah, silahkan selesaikan pekerjaan kamu." Ucap Zicko, kemudian ia segera masuk ke kamarnya.