Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Sesuatu


Dipagi hari, Lunika tengah sibuk berada di dapur untuk membuat sarapan pagi. Zicko yah bingung harus berbuat apa, ia memilih untuk menemani sang istri yang terlihat sibuk didapur.


"Biar aku saja yang melakukan pekerjaan ini, mendingan kamu temani ibu berjemur didepan rumah." Ucap Lunika sambil menuangkan nasi kedalam wajan.


"Baik lah, aku akan menemani ibu berjemur." Jawabnya, kemudian segera ia keluar untuk menghirup udara segar dan menemani ibu mertuanya.


Setelah berada didepan rumah, Zicko mendekati ibunya yang tengah duduk berjemur menghadap matahari terbit.


"Ibu, selamat pagi." Sapa Zicko dengan ramah.


"Pagi juga, Nak. Sini, duduk disebelah ibu." Jawab ibu mertua dan mengajaknya untuk duduk disebelahnya. Dengan sedikit canggung, Zicko memberanikan diri untuk duduk di dekat ibu mertuanya.


"Bolehkah ibu meminta waktumu untuk mengobrol?" tanya ibu mertua.


"Boleh kok, Bu." Jawab Zicko dan tersenyum ramah.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu mengenai pernikahan kamu, Nak? apakah mengetahui akan pernikahan sandiwara kalian?" tanya sang ibu mertua penasaran.


"Kedua orang tua Zicko belum mengetahuinya, Bu. Setelah kepulangannya dari Amerika, Zicko akan berterus terang pada mereka berdua. Ibu tidak perlu khawatir, semua akan baik baik saja." Jawab Zicko mencoba meyakinkan ibu mertuanya.


Karena rasa penasarannya yang menggebu, ibu Ruminah ingin menanyakan siapakah nama kedua orang tuanya. Namun, ia urungkan niatnya. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh, yang terpenting semua akan baik baik saja, pikir ibu Ruminah mengenai menantunya serta keluarga menantu.


"Maafkan sikap ibu yang kemarin ya, Nak. Ibu tidak bermaksud untuk berbuat buruk terhadapmu, ibu hanya tidak ingin masa lalu kelam ibu terulang pada putri ibu. Meski Lunika bukan lah putri kandung ibu, tapi ibu sangat menyayanginya." Ucap ibu Ruminah yang sangat takut akan nasib putrinya.


Seketika, Zicko tercengang mendengar kalimat terakhir tentang istrinya yang bukan lah putri kandung dari ibu mertuanya.


"Ibu tidak sedang bercanda, kan? Lunika bukan anak Ibu? lantas, siapa Lunika yang sebenarnya Bu?" tanya Zicko tidak percaya.


"Ibu menemukan Lunika saat dia bersama teman temannya dalam razia satpol PP, Ibu merasa kasihan dengan sosok gadis kecil yang tengah ketakutan saat mendapati kejaran satpol PP. Lunika adalah anak jalanan yang diasuh tidak bermanusiawi, kata Lunika ketika menceritakannya pada ibu. Lunika diperlakukan berbeda dengan teman temannya, ia selalu tersisih. Disitulah, Ibu tidak merelakan Lunika kembali pada pengasuhnya. Dengan tekad yang bulat, ibu mengasuh Lunika hingga dia tumbuh dewasa." Jawab ibu mertua menjelaskannya.


Disaat itu juga, Zicko ikut bersedih mendengar cerita dari ibu mertuanya tentang hidup istrinya.


"Ibu merasa ada sesuatu yang mengganjal pada diri Lunika. Ibu merasa, jika Lunika masih memiliki keluarga. Sebenarnya Ibu ingin berbuat sesuatu pada Lunika dari dulu, tetapi Ibu tidak memiliki seseorang yang bisa membantu ibu untuk melakukan penyelidikan. Tapi, sekarang sudah terlambat. Lunika sudah tumbuh dewasa, dan tentunya juga yang mengasuh Lunika sebelumnya ibu rasa sudah tidak lagi muda. Bayangkan saja, sudah tujuh belas tahun lamanya." Ucap sang ibu mertua yang kembali melanjutkan ceritanya.


"Terima kasih ya, Nak Zicko. Semoga usaha kamu tidak sia sia, dan bisa membongkar jati diri Lunika. Kasihan dia, dari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah. Bahkan dia selalu di pojokkan oleh tetangga yang tidak menyukainya. Lunika selalu dikatai anak yang tidak jelas akan asal usulnya, dan juga anak dari orang tua miskin." Ucap ibu mertuanya menjelaskan serta tidak disadarinya tengah menitikan air matanya ketika mengingat perjalanan hidup Lunika yang dipenuhi kesedihan.


"Ibu jangan bersedih, Lunika pasti akan mendapatkan kebahagiaan. Zicko janji, Zicko tidak akan pernah mengecewakan Ibu. Zicko akan terus menyayangi Lunika, Zicko akan terus bersamanya untuk selamanya. Tidak hanya itu, Zicko akan segera menyelidiki kasus tentang Lunika. Apapun yang akan terjadi, Zicko akan terus bersamanya." Jawab Zicko meyakinkan ibu mertuanya.


"Terima kasih ya, Nak Zicko. Ibu percaya sama kamu, semoga kamu memang jodoh Lunika yang dikirimkan Tuhan untuk menguak siapa jati diri Lunika." Ucap ibu mertuanya dengan tatapan penuh harap.


"Zicko janji, Zicko akan melakukannya demi Ibu dan juga Lunika. Karena orang tua Zicko sendiri pun pernah terpisah selama dua puluh tahunan lebih dengan kedua orang tuanya, Bu. Semua tidak ada yang pernah menyangka berawal dari sebuah pernikahan, hingga pada akhirnya ayah Zicko dipertemukan dengan kakek dan juga Omma. Semoga Lunika pun akan mengalami hal yang sama, sama sama akan segera dipertemukannya dengan kedua orang tuanya." Jawab Zicko, kemudian ia merangkul serta memeluk ibu mertuanya layaknya ibunya sendiri.


"Cie ... yang sudah mulai dekat." Goda sang istri yang tiba tiba sudah berada didekat suaminya, Zicko pun reflek kaget dibuatnya.


"Lunika, ngagetin suami itu tidak baik. Kalau suami kamu kaget yang berlebihan, bagaimana? tidak baik." Ucap sang ibu menimpali.


"Menurut Lunika sih, tidak mungkin. Orang jatuh ke got saja masih bisa marah kok, Bu. Iya kan, suamiku?" Jawab Lunika tanpa rasa canggung lagi, sedangkan Zicko hanya menatap istrinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Hem, waktu itu aku menghindarimu. Coba kamu bayangkan, andai aku mrnabrakmu. Apa tidak semakin besar urus urusannya, bahkan kita tidak bisa menjadi suami istri. Yang ada kamu akan terluka fisiknya serta hatimu, sedangkan aku akan tinggal dibalik jeruji besi. Bersyukurlah karena sebuah got, kita bisa menjadi suami istri." Sahut Zicko, kemudian ia mengedipkan satu matanya menggoda pada istrinya.


"Ah sudah lah, sarapan pagi sudah siap saji. Ibu, suamiku, ayo kita sarapan." Ucap Lunika sedikit canggung saat memanggil sebutan untuk suaminya, lalu mengajak sang ibu dan juga suaminya untuk sarapan pagi. Kemudian Lunika hendak membantu ibunya masuk kedalam rumah, namun tiba tiba ia tanpa sengaja menoleh kearah ke sebrang jalan rumahnya. Dilihatnya sosok Arnal yang tengah menghentikan motornya dan memperhatikannya.


Zicko yang juga sempat menangkap bayangan Arnal, ia pun merasa ada yang ingin dibicarakan pada sekretarisnya itu.


"Kamu antar ibu masuk ke dalam rumah, aku yang akan menghampirinya." Perintah Zicko, Lunika hanya mengangguk dan membantu ibunya untuk masuk kedalam rumah.


Sedangkan Zicko segera menghampiri mantan kekasih istrinya, mau bagaimanapun Arnal adalah sekretarisnya dan mantan kekasih istrinya yang berpisah karena nafsu dari kedua orang tuanya yang matre, pikir Zicko.


Saat dirinya hendak menghampiri Arnal, tiba tiba Arnal melajukan motornya begitu saja. Zicko yang sudah berada dipinggir jalan, hanya membuang nafasnya kasar.


"Itu lah, jika kamu terlalu nurut pada orang tua kamu. Sudah jelas jelas kedua orang tuamu itu memiliki sifat yang buruk, kenapa juga kamu menurutinya. Penyesalan yang akhirnya kamu dapati, padahal kamu ini seorang laki laki. Tapi sayangnya, perasaan cinta yang kamu miliki begitu lemah." Ucap Zicko, kemudian ia segera masuk kedalam rumah.


Sedangkan di kediaman rumah kakek Revan, Aden masih bermalas malasan didalam kamar. Sedari bangun tidur, Aden tidak ada henti hentinya untuk memikirkan sesuatu.


"Ah iya, sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Baik lah, besok aku menemuinya." Ucap Aden dengan lirih dan tersenyum penuh kemenangan.