Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Bertemu


Kangen dengan Zicko? atau ... kangen sama yang belum muncul? si babang Deyzan... anaknya Adelyn dan Viko asisten Zayen, yang putranya kata sang adik super dingin di Amerika. Belum pernah muncul sih, tapi tapi ... hayo ... banyak tapinya.


Ayo ... Meluncur.


Happy reading, ya.


****


Waktu pun telah berlalu, walaupun yang dilalui tidak secepat putaran jam dinding dalam mode pengaturan. Namun ini waktu yang tidak mungkin untuk diputar dengan mudah. Konflik demi konflik telah redam satu persatu, meski sulit untuk ditebaknya kapan akan selesai. Namanya juga kehidupan, tidak lurus seperti penggaris.


Kehidupan, jika tidak ada konflik itu hambar. Entah pepatah mana yang mengatakannya, ibarat makan tanpa garam. Seperti itulah ungkapan ungkapannya. Ada rasa sayang, rasa cemburu, emosi, dan lain sebagainya. Namun kebanyakan konflik pun juga bisa fatal dan juga bisa jauh lebih baik lagi. Entah pemikiran dari mana lagi ini, intinya hidup itu untuk dinikmati apapun jalan hidupnya masing masing.


"Zicko!!!!" teriak sang ibu dari arah dapur. Zicko yang mendengar teriakan sang ibu, segera ia menuju ke sumber suara.


Begitu juga dengan Lunika, ia ikutan panik ketika mendengar suara ibu mertuanya berteriak. Dengan rasa penasaran, Lunika segera menuju kearah sumber suara.


"Mama, kenapa berteriak?" tanya Zicko tidak mengerti.


"Ini, apaan? hem." Tanya sang ibu sambil menunjukkan sesuatu pada putranya.


"Mangga, benar 'kan?" jawab Zicko dengan entengnya.


"Makan noh mangganya, sekalian tuh dihabiskan." Ucap sang ibu sambil menyodorkan satu plastik buah mangga.


"Ada apa, Ma?" tanya Lunika penasaran.


"Itu suami kamu, disuruh beli mangga muda yang didapat mangga yang sudah matang." Jawab ibu mertua sambil menunjuk kearah putranya.


"Bukankah tadi Mama yang bilang, jika Lunika pingin buah Mangga? begitu 'kan?"


"Hem, makanya kalau Mama sedang bicara itu didengarkan. Jangan langsung pergi slonong begitu, hem."


"Yah! salah dong, maafkan aku ya sayang. Aku juga lupa tadi, pas sampai di toko buah semua jadi ambyar gara gara mendapat pesan dari Deyzan." Ucap Zicko pada istrinya.


"Padahal aku pingin sambal mangga muda, trus pakai ayam bakar. Tapi ... ya sudah lah, besok lagi." Jawab Lunika sedikit kecewa, padahal dalam bayangannya sudah sangat menggoda. Namun mau bagaimana lagi, Zicko telah salah membeli buah mangganya.


"Astaga!! hari ini aku harus jemput Deyzan sama Tante Adelyn dan Paman Viko." Ucap Zicko yang tiba tiba teringat akan pesan dari ayahnya.


"Hem, telat!" sahut sang ibu sambil mengupas buah mangganya.


"Telat? belum lah, Ma. Jugaan masih jam berapa ini, palingan juga sedang dalam perjalanan.


"Papa kamu sudah berangkat ke Bandara, lebih baik sekarang kamu pergi ke Toko buah untuk membeli buah mangga muda." Perintah sang ibu.


"Tidak usah Ma, besok juga masih bisa." Sahut Lunika yang tidak enak hati.


"Biarin aja, buat kerjaan Zicko. Kebetulan, Mama juga ingin makan dengan sambel mangga muda dan ayam bakar. Sepertinya enak, tapi entah lah. Selera orang hamil bisa menggoda lidah yang lainnya, termasuk sambal mangga muda yang kamu inginkan sekarang ini." Ucap sang ibu mertua yang juga tergoda dengan selera menantunya.


"Hem, semua wanita kalau sudah kumpul jadi satu benar benar sangat bahaya. Bisa berpotensi para suami akan kualahan dan hanya bisa pasrah, hadeh." Kata Zicko menimpali, kemudian segera pergi ke toko buah.


"Tentu saja boleh, sayang. Tapi hati hati dijalan, jangan kebut kebutaan." Sahut ibu mertua ikut menimpali serta mengingatkan anak dan menantunya untuk selalu berhati hati dalam perjalanan.


"Baik Ma," jawab keduanya serempak dan segera berangkat untuk membeli mangga muda.


Dalam perjalanan, keduanya sudah jauh lebih dekat dan perlakuan Zicko juga semakin penuh perhatian dan romantis. Ditambah lagi ada sang buah hati dalam kandungan sang istri, membuat Zicko semakin bertambah rasa cinta serta kasih sayangnya dan juga perhatiannya.


"Sayang, aku boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Zicko sambil merangkul istrinya.


"Boleh, memangnya mau bertanya apa?" jawab Lunika balik bertanya.


"Setelah anak kita lahir, apakah kamu bersedia ikut denganku?" tanya Zicko penuh hati hati. Takut jika sang istri akan menjadi beban pikirannya.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Lunika yang semakin penasaran.


"Kita akan tinggal di Amerika, hanya sementara. Aku ingin kamu kuliah disana, aku ingin mewujudkan impian kamu. Tidak hanya itu aja sih, aku diminta Paman Viko untuk menggantikan posisi Deyzan. Nanti, jika Deyzan sudah dipertemukan dengan seorang wanita yang dicintainya kita akan kembali lagi ke tanah air, bagaimana?" jawab Zicko menjelaskan.


Lunika yang mendengarkannya, seketika ia berdiam cukup lama.


"Jika kamu keberatan, aku tidak akan memaksamu. Aku hanya mengajakmu, tidak lebih dari itu. Itupun harus ada persetujuan darimu, jika kamu menolaknya akupun tidak akan pergi jauh dari kamu. Aku hanya ingin mewujudkan keinginanmu yang pernah kamu dambakan, melanjutkan ke jenjang lebih tinggi dan bisa menggapai cita cita yang lebih tinggi juga." Ucap Zicko yang masih dengan posisinya.


"Emm ... bagaimana, ya? aku sudah tidak menginginkan itu semua. Cita citaku sudah tergantikan hadirmu dan sang buah hati, itu sudah lebih tinggi dari pangkat apapun. Kalau soal permintaan Paman Viko, aku tidak bisa menolaknya. Aku akan ikuti kemanapun kamu pergi, karena berkat bantuan Paman Viko orang tuaku dapat diselamatkan. Aku pun berhutang budi dengannya. Meski cara kerjanya menunjuk pada anak buahnya, tapi tetap dibawah petunjuk dari Paman Viko untuk menyelidiki kasus orang tuaku." Jawab Lunika meyakinkan.


"Benarkah? serius, sayang. Aku janji, aku akan turuti semua permintaan kamu. Aku akan tetap mewujudkan cita cita kamu, itu janjiku dulu saat mengobrol berdua di rumah ibu asuh kamu tanpa sepengetahuan kamu." Ucap Zicko, kemudian mencium kening istrinya lembut.


Tidak lama kemudian, Zicko dan Lunika telah sampai di Toko Buah. Kemudian keduanya segera turun dan masuk ke dalam Toko Buah.


Dengan perutnya yang semakin membuncit, Lunika terlihat aura keibuan yang terpancar dengan wajah ayunya.


"Sayang, dimana mangga mudanya? sepertinya tidak ada deh." Tanya Lunika sambil celingukan.


"Maaf, mau ta ..." seketika, Lunika menghentikan kalimatnya saat mendapati sosok laki laki yang ada dihadapannya.


"Arnal, kamu Arnal 'kan?" tanya Zicko yang sudah berada di sebelah istrinya.


"Iya, aku Arnal. Bagaimana kabar kalian berdua?" jawab Arnal dan menyapanya. Tidak hanya itu, sepasang matanya tertuju pada perut buncitnya yang sudah semakin besar dan menambah aura keibuannya terpancar lewat wajah ayunya.


"Kabar kita berdua baik baik saja, seperti yang kamu lihat. Oh iya, kenapa kamu harus mengundurkan diri dari Kantor? sekarang masih ada peluang untuk kamu, datang lah." Jawab Zicko yang tidak menyukai basa basi.


"Tidak, terima kasih. Aku lebih nyaman dengan pekerjaanku ini, setidaknya ini perjuanganku untuk memulai kerja kerasku." Jawab Arnal tetap pada pendiriannya.


"Baik lah, jika ini keputusan kamu yang terbaik. Aku doakan, semoga kamu berhasil dalam kerja kerasmu. Dan ... dimana istri kamu?" ucap Zicko dan mencoba bertanya keberadaan sang istri yang sedari tadi tidak terlihat bayangannya.


"Aku sudah bercerai sejak usia hari pernikahan, dan aku memilih untuk tidak melanjutkan rumah tangga yang tidak didasari rasa cinta. Ah, sudah lah jangan dibahas. Oh iya, ngomong ngomong mau cari buah apa?" jawab Arnal dan mengalihkan pembicaraannya.


"Mangga muda, istriku menginginkan mangga muda." Jawab Zicko, sedangkan Lunika memilih untuk diam. Ia tidak ingin membuat suasana hati suaminya memanas.


Selintas, Arnal teringat akan masa lalunya ketika berjuang untuk mendapatkan Lunika yang akan dijadikan istrinya. Namun, karena sulitnya untuk memilih hingga harus kehilangan perempuan yang dicintainya.