
Saat mendengar pengakuan dari Arnal sudah memiliki istri, Hana langsung pergi begitu saja. Disaat itu juga, Vellyn langsung melepaskan tangan Arnal.
"Hei sekretaris Arnal, jangan mencari kesempatan didalam kesempitan. Enak saja pakai ngaku ngaku suami istri, jangan mencoreng status kejombloanku. Gini gini aku juga jomblo baik baik, dih." Ucap Vellyn sambil melirik tajam.
"Ooooh, sendirian rupanya."
"Apa!"
"Tidak, aku juga sendirian." Kata Arnal sambil menyeruput minumannya.
"Siapa juga yang tanya, kepedean." Sahut Vellyn dengan ketus.
"Saya hanya promo saja, Nona. Dan siapa tahu aja ada yang kecantol dengan saya. Lumayan kan, pulang dari warung ada yang nyantol dan bisa diajakin pulang." Ucap Arnal dengan santai.
"Dih, kepedean akut." Lagi lagi Vellyn masih terus menanggapi ucapan dari Arnal.
"Sudah, jangan ngobrol terus. Lihat tuh ayam geprek milik Nona, dari tadi dianggurin." Kata Arnal sama menunjuk ke ayam geprek milik Vellyn.
"Dih, bawel banget kamu." Sahut Vellyn, kemudian kedua nya sibuk menikmati makanannya masing masing hingga habis tidak tersisa.
Setelah selesai makanannya habis, Vellyn segera bangkit dari posisi duduknya untuk menuju kasir.
"Nona boleh keluar duluan, soal ayam geprek biar saya yang akan bayar." Ucap Arnal, Vellyn yang mengerti alasannya pun segera keluar dari warung tersebut.
"Lumayan lah makan gratis." Gumam Vellyn, kemudian ia segera pergi meninggalkan warung tersebut.
Sampainya di parkiran, Vellyn langsung mengambil nomornya. Disaat itu juga, perasaan sedikit tidak enak.
"Kok ban motornya kek bocor, yang benar aja ini. Ah! sia*lan, masa iya harus dorong." Gumam Vellyn berdecak kesal.
"Kenapa dengan motor Nona?"
"Dih! kamu lagi, ngapain sih pakai muncul segala. Bikin kesel aja kamu ini, sudah sana pergi." Usir Vellyn yang tidak ingin berurusan dengan Arnal.
"Saya juga mau naik kendaraan saya, Nona. Jadi, silahkan untuk minggir sebentar ya Nona." Sahut Arnal, sedangkan Vellyn hanya menunjukkan muka masam nya.
'Yah ... dia bawa mobil, lagi. Sedangkan aku harus mendorong motor ini, ah! menyebalkan.' Batin Vellyn berdecak kesal ketika mendapati kesialan.
"Yakin jika Nona tidak ingin ikut dengan saya? nanti nyesel loh, bagaimana?"
"Dih! ogah, aku tidak butuh bantuan mu. Sudah sana kamu pergi, aku bisa meminta bantuan orang rumah, wek ...." sahut Vellyn dan menjulurkan lidahnya karena kesal. Arnal yang melihat tingkah Vellyn hanya tertawa kecil saat mendengar Vellyn berucap dengan kekesalannya.
Dengan pelan, Arnal melajukan mobilnya. Sedangkan Vellyn sendiri memilih untuk mendorong mobilnya dengan perasaan kesalnya.
Saat sudah berada di pinggir jalan, Vellyn mencoba untuk menghubungi keluarganya. Berharap akan segera mendapatkan pertolongan.
"Si*al! si*al! si*al! apes banget sih hari ini, gak ada yang mau angkat telpon, lagi. Benar benar menyebalkan semuanya, satupun tidak ada yang mau angkat telpon. Jangan jangan sudah direncanain, lagi. Ini pasti ide nya paman Zayen, siapa lagi coba. Dulu kak Dey juga di gituin, sekarang aku yang akan mendapatkan sialnya." Gumam Vellyn sambil berkacak pinggang.
"Nona, yakin nih tidak mau ikut pulang? saya hitung dari hitungan tiga nih. Tiga ... dua ... sa..."
"Iya ya ya ya, aku ikut dengan mu." Sahut Vellyn dengan kilat.
"Biarkan aja dipinggir jalan, nanti juga ada yang mengambilnya. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menghubungi pihak bengkel. Sekarang lebih baik Nona masuk kedalam mobil." Sahut Arnal dang mengajaknya untuk segera masuk kedalam mobil.
Karena tidak mempunyai pilihan lain selain ikut pulang bersama Arnal, akhirnya dengan terpaksa Vellyn menyetujuinya.
Saat sudah berada didalam mobil, Vellyn bersandar di jendela kaca mobil sambil menatap luar. Karena merasa bosan, akhirnya Vellyn membenarkan posisi duduknya dan menatap lurus kedepan.
"Lama banget sih sampainya, udah kek mau jalan jalan aja." Celetuk Vellyn yang sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah.
"Sebentar lagi juga sampai kok, Nona." Sahut Arnal sambil fokus menyetir.
"Sebenarnya kamu ini mau bawa kemana sih?" tanya Vellyn sambil menahan rasa kantuk nya.
"Nanti Nona juga bakalan tahu sendiri, bersabar lah." Kata Arnal tanpa menoleh kearah Vellyn.
Karena malas berbicara, akhirnya Vellyn memilih untuk memejamkan kedua matanya. Berharap ketika mobilnya berhenti, Vellyn sudah berada didepan rumah.
Sedangkan Arnal sesekali memperhatikan Vellyn lewat kaca depan, dan dilihatnya Vellyn yang rupanya sudah tertidur dengan pulasnya.
"Itu anak, anak banget sudah tidur pulas gitu." Gumam Arnal, kemudian membelokkan setianya ke rumahnya.
Sampai didepan rumah orang tuanya, akhirnya Arnal dapat bernapas dengan lega. Kemudian ia menoleh ke kursi belakang, sedangkan Vellyn masih terlelap dari tidurnya.
Karena tidak ingin membangunkan Vellyn, akhirnya Arnal memilih untuk menggendongnya sampai kedalam rumah.
"Arnal, siapa perempuan yang kamu bawa?" tanya sang ibu sambil membukakan pintu kamar milik putranya.
"Perempuan ini keponakan Tuan Zayen, Ma. adik dari Tuan Zayen, yakni Tuan Viko." Jawab Arnal sambil menurunkan Vellyn dengan pelan, dan dibantu oleh ibunya untuk menyelimuti tubuh Vellyn.
"Kok bisa bersama kamu? apakah kamu menjalin hubungan dengan nya?" tanya sang ibu sambil menutup pintunya dari luar.
"Tidak ada hubungan apa apa diantara kami kok, Ma. Tadi hanya kebetulan saja kita bertemu, tidak lebih." Jawab Arnal sambil berjalan menuju ruang santai, yakni ruang keluarga.
"Maksud Kamu?" tanya sang ibu yang masih belum mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh putranya.
"Tadi tidak sengaja kita bertemu di warung makan, saat mau pulang tiba tiba motor nya bocor. Jadi, Arnal mengajaknya untuk pulang bareng. Tidak tahu nya dia tertidur didalam perjalan karena memakan waktu yang cukup lama, sampai sampai malam begini." Jawab Arnal menjelaskan.
"Terus, apakah kamu sudah memberi kabar pada Bos kamu?"
"Sudah, Ma. Arnal sudah memberi kabar kepada Tuan Zayen, kata nya sih sekalian berangkat ke luar kota mengantarkan nya pulang."
"Ooh kirain Mama kamu belum memberi kabar untuknya, syukur lah jika kamu sudah memberi kabar sama Bos kamu. Sudah malam, lebih baik kamu istirahat. Katanya besok pagi kamu mau berangkat ke luar Kota, dijaga kesehatan kamu malam ini." Ucap sang ibu mengingatkan, Arnal pun mengangguk dan mengiyakan.
Setelah mengobrol bersama ibunya, Arnal memilih untuk tidur di kamar tamu. Meski ukuran nya cukup kecil, setidaknya masih bisa untuk beristirahat.
Sedangkan di dalam kamar milik Arnal, Vellyn tengah tertidur pulas. Bahkan dirinya sampai tidak terasa sudah berada didalam kamar yang asing.
Begitu juga dengan Arnal, karena seharian penuh harus membereskan tugasnya di Kantor, hingga malamnya sudah tidak dapat untuk bergadang walaupun hanya untuk membereskan bawaan yang akan dibawanya ke luar kota.
Karena merasa ada yang aneh dan tidak seperti biasanya, akhirnya Vellyn terbangun dari tidurnya di pagi buta. Sambil meraba tempat tidur, sedikit sediki Vellyn mencoba untuk membuka matanya dengan samar samar.