Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Terasa berat


Karena tidak ingin lama lama, akhirnya seorang lelaki yang bernama Rayan itu segera angkat bicara.


"Maaf Tuan, jika berkenan saya ingin berbicara sesuatu pada kalian bertiga. Apakah Tuan Tuan tidak keberatan? jika tidak, mari ikut saya untuk berbicara dengan kalian bertiga." Ucap Rayan mengajukan permintaan.


"Mau bicara apa kamu, anak muda? jangan membuang buang waktuku. Katakan saja disini, ngapain harus bersama kita bertiga." Jawab Tuan Zayen yang paling tidak menyukai basa basi.


"Hanya sebentar, tidak lebih." Ucapnya dengan tenang.


Tuan Seyn yang merasa penasaran, Beliau memberi kode pada sang adik untuk menuruti permintaan seorang pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Baiklah, mari." Jawab Tuan Zayen menyetuinya, sedangkan lelaki tersebut meminta izin kepada bapak Kepala Desa untuk berbicara diruang tertutup.


Setelah mendapat persetujuan dari bapak Kades, akhirnya keempat orang tersebut masuk ke salah satu ruangan yang biasa dipakai untuk membicarakan sesuatu yang penting, termasuk ruang rapat yang tidak begitu besar ukurannya.


Lunika yang menunggunya pun merasa bosan, bahkan ia ingin sekali mendobrak pintu yang membuatnya penasaran. Setelah cukup lama menunggu ruangan tersebut dibuka pintunya, akhirnya ayah mertua dan sang ibu mertua serta sang Kakak sepupunya dan juga lelaki yang tidak dikenal pun telah keluar dari ruangan tersebut.


Dilihatnya sang Ibu mertua yang terlihat mencurigakan, dengan seksama Lunika memperhatikannya. Karena rasa penasarannya, Lunika segera bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri sang ibu mertua.


"Ma, ada apa dengan Mama? kok Mama terlihat sembab gitu. Mama tidak habis menangis, 'kan? tuh! kan ... Papa dan Paman, em maksud Lunika Kak -- kak juga kelihatan habis menangis?" tanya Lunika semakin penasaran. Seketika, Lunika menoleh kearah lelaki yang kini sudah berada disebelahnya lagi.


"Kamu!! ini semua pasti ulah kamu yang tidak manusiawi." Tuduh Lunika sambil menunjuk kearah lelaki yang bernama Rayan, sedangkan Rayan hanya tersenyum mengembang menatapnya.


"Pak Kades, kapan dimulainya? sudah capek kita semua menunggu. Apa perlu kita arak keliling kampung ini, biar mereka berdua malu sekalian." Ucap seseorang yang begitu berani tanpa ada rasa takut sedikitpun pada Tuan Zayen maupun Tuan Seyn.


"Iya ya ya, sabar." Sahut pak Kades mencoba untuk tidak membuat warganya semakin ricuh.


"Ma, serius nih?" tanya Lunika seperti mimpi jika dirinya harus menikah tanpa keinginannya.


"Serius, Lunika. Keputusan Mama dan Papa sudah bulat, karena semua ini juga permintaan dari warga. Mau tidak mau kamu harus bisa untuk menerimanya. Kamu tidak perlu khawatir soal Rayan, karena Papa sudah memberi ancaman baginya agar tidak menyakiti dan juga sudah minta untuk melakukan perjanjian. Jadi, kamu tidak perlu takut." Jawab Tuan Zayen menimpali.


Disaat itu juga, tubuh Lunika mendadak lemas dan tidak berdaya. Bahkan kedua kakinya begitu sulit untuk menopang berat badannya sendiri.


"Sudah! cukup, sekarang waktunya tidak banyak. Ayo, kita segerakan Pernikahan mereka berdua disaksikan oleh beberapa warga sekitar. Agar bisa dijadikan saksi atas pernikahan mereka berdua tanpa rekayasa.


Mau tidak mau Lunika hanya bisa pasrah, ia tidak mampu untuk melarikan diri. Selain ada banyak warga yang berkerumun, sang ayah mertua membawa banyak pengawal. Jadi, Lunika sendiri tidak dapat melakukan idenya untuk kabur dari kerumunan orang orang tersebut.


Karena hanya sebuah pernikahan secara mendadak, dan semuanya tidak ada yang spesial diantara keduanya. Jangankan sepesial acara pernikahan, rasa cinta diantara keduanya pun entah seperti apa.


Setelah mendapat pengurusan dari pihak Kelurahan untuk mewakili para warga setempat, kini akan segera dimulai untuk pengucapan kalimat sakral.


Berulang ulang Lunika meremat pakaiannya karena kesal, bahkan Lunika meliriknya tajam. Disaat itu juga, Lunika kembali teringat saat dirinya menikah dengan seseorang yang tidak pernah dicintainya. Bahkan mengenalnya dengan baik saja pun tidak, hanya karena uang dan demi kesembuhan ibu asuhnya.


Kini, Lunika harus dihadapkan dengan situasi yang menurutnya sangat memalukan. Menikah dengan seorang laki laki yang tidak dikenalinya, bahkan rasa cinta pun tidak dimilikinya. Sungguh! pernikahan yang sangat memalukan, pikirnya.


Kalimat demi kalimat dengan khidmat, sikap tenang pun telah ditunjukkan oleh seorang lelaki yang usianya masih cukup muda. Meski sudah dewasa, wajah tampannya sangat tidak selaras dengan usianya yang tertera pada kartu identitasnya. Dengan menarik napasnya pelan, akhirnya Rayan berhasil mengucapkan kalimat sakralnya. Dan pada akhirnya Lunika telah menjadi suami istri yang sah, semua warga pun ikut lega melihat serta menyaksikannya langsung.


Usai acara tersebut, kini warga setempat memberi ucapan selamat. Setelah itu semua bergegas pulang ke rumahnya masing masing.


Kini, tinggal lah Lunika dan keluarga serta suami barunya yang masih berada ditempat tersebut. Rasa kesal dan kecewa kini masih dirasakan oleh Lunika, namun dia sendiri tidak berhak untuk marah serta membenci ayah mertua, ibu mertua, serta sepupunya sendiri, yakni Tuan Seyn.


Lunika masih diam membisu dengan posisi yang masih duduk ditempat semula, bahkan terlihat begitu jelas kekesalannya. Karena tidak ingin masalah bertambah rumit, sang ibu mertua mendekatinya. Berharap akan menerima bujukan dari Beliau.


"Lunika, kamu marah?" tanya sang ibu mertuanya membuka suara. Sedangkan Lunika hanya menggelengkan kepalanya, baginya tidak ada hak untuk membenci dan marah terhadap ayah dan ibu mertuanya. Karena dirinya menyadari, jika pernikahannya karena kesalahan dirinya yang merasa tidak dapat menjaga diri. Meski pada awalnya sang ibu mertua yang memintanya untuk mendatangi acara reuni bersama teman teman sekolahnya.


Karena tidak ingin menyakiti perasaan sang ibu mertua, Lunika menghadap pada Beliau.


"Lunika tidak marah kok, Ma. Ini semua salah Lunika, andai dari awal Lunika bisa jaga diri, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Maafkan Lunika yang sudah mencemarkan nama baik Mama dan Papa, serta nama baik dari keluarga Wilyam.


"Kamu tidak berhak untuk meminta maaf, kamu tidak salah. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk kamu, dan mungkin juga atas kehadiran Rayan suami kamu yang sekarang adalah lelaki yang akan pantas menjadi figur seorang ayah untuk Niko. Bukankah dulu kamu menikah dengan Zicko berawal tidak saling mengenal dan tidak menyukai, bukan? jadi, kamu tidak perlu cemas soal Rayan. Mama rasa jika Rayan adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab." Ucap sang ibu mertua mencoba untuk meyakinkannya, Lunika sendiri hanya bisa mengangguk. Meski kenyataannya masih menyimpan rasa kesal terhadap lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya.


"Oh iya, mulai besok kamu akan tinggal bersama suami kamu. Soal Niko, sepertinya menunggu waktu sekitar satu bulanan. Karena tidak mungkin Niko ikut denganmu, sedangkan kamu sendiri perlu beradaptasi dengan suami kamu yang sekarang. Jangan khawatir, Niko baik baik saja bersama Mama. Untuk sekarang kamu pulang bersama Mama, pagi atau sorenya kamu akan di jemput oleh suami kamu." Ucap sang ibu mertua menjelaskan, lagi lagi Lunika hanya pasrah. Walaupun kenyataannya terasa menyakitkan harus berpisah dengan putranya, meski hanya satu bulan.