
Bunda Afna yang mendengar pertanyaan dari kedua ponakannya pun hanya tersenyum. "Ikuti saja kemana Tante berhenti berjalan." Ucap Bunda Afna.
Disaat itu juga, Bunda Afna membuka pintunya. "Silahkan masuk, Vellyn dan Kalla." Ucap Bunda Afna sembari membuka pintunya dan mempersilahkan kedua keponakannya untuk segera masuk kedalam ruangan yang selalu dijadikan tempat untuk membicarakan sesuatu hal yang cukup penting.
Daya ingat Vellyn langsung tertuju pada sebuah perjodohan. Iya, perjodohan yang sedang Vellyn ingat ingat kembali. "Kakek Ganan." Gumam Vellyn bersamaan dengan Kalla.
"Tante tinggal, ya. Jangan takut, Kakek dan Paman tidak akan menerkam kalian berdua. Cukup siapkan mental kalian dan kepala dingin untuk berhadapan dengan mereka berdua." Ucap Bunda Afna dengan senyum mengembang.
"Tapi Tante,"
"Temui Kakek dan Paman dulu, setelah itu kalian bisa mencari Tante jika kalian berdua butuhkan. Sekarang, ayo temui Kakek Ganan dan Paman Seyn." Kata Bunda Afna meyakinkan. Sedangkan Vellyn masih mencurigai dengan persoalan mengenai perjodohan.
Mau tidak mau, Vellyn dan Kalla hanya bisa nurut dan pasrah. Bunda Afna yang sudah melakukan tugasnya, Beliau segera pergi dari tempat tersebut.
Kini, tinggal lah Vellyn dan Kalla. Keduanya nampak cemas dan penuh tanda tanya mengenai keadaan yang seperti saat ini. Apa lagi dengan Vellyn, pikirannya terus tertuju pada sebuah perjodohan. Ditambah lagi dengan kedatangan seorang Arnal yang juga ikut dalam acara makan bersama keluarga.
'Kenapa bukan Paman Zayen? kenapa juga bukan Kakek Alfan? apa ini sebagian rencana mereka berdua? ah, tau begini tadi aku pura pura sakit gitu. Tapi ... yang dikatakan Tante Aish ada benarnya, aaah! kenapa aku harus pusing.' Batin Vellyn yang terus dihantui oleh segala macam tentang perjodohan.
"Vellyn, kamu kenapa? belum juga duduk, sudah melamun saja kamu ini." Tanya Tuan Zayen, sedangkan Kalla masih berdiri disebelah Vellyn.
"Paman, Vellyn tidak melamun kok. Tadi, Vellyn teringat sesuatu." Jawab Vellyn beralasan.
"Sudah, jangan berdiri terus didekat pintu. Ayo duduk, ada yang ingin Kakek bicarakan dengan kalian berdua." Perintah Kakek Ganan, Vellyn dan Kalla hanya bisa nurut. Keduanya pun segera duduk dihadapan Kakek Ganan dan Tuan Seyn.
"Sebenarnya ada apaan sih Kek? kok sepertinya serius banget deh." Tanya Vellyn memberanikan diri, Kalla memilih untuk diam.
"Yang jelas ada sesuatu yang akan Kakek sampaikan pada kalian berdua."
"Sesuatu? jadi penasaran." Kata Kalla yang belum mengerti.
"Iya, sesuatu. Begini, Kakek hanya memberikan pilihan kepada kalian. Kakek mau tanya, kalian berdua sudah dewasa, 'kan? ayo jawab dengan jujur."
"Iya Kek, kita berdua sudah dewasa. Tapi, apa Iya susah dewasa? soalnya Vellyn merasa masih seperti anak anak yang suka bermanja manja." Kata Kalla yang menyadarinya sendiri sebelum orang lain menuduhnya yang bisa saja lebih menyakitkan.
"Usia kalian memang sudah dewasa, setidaknya kalian berusaha untuk mengimbanginya. Kenapa begitu? apa kalian tidak malu, jika orang lain menilai kalian masih seperti anak kecil? tidak mungkin, kan? ubah lah sikap kemanjaan kalian. Kalian memang tidak dilarang mempunyai sifat manja, itu sudah kodrat seorang perempuan. Tapi, ini tapi loh. Tapi, kalian harus bisa menempatkan dimana sifat manja itu berada. Kalian mengerti? jika tidak, tanyakan saja pada orang bisa kamu ajak untuk mengobrol." Ucap Kakek Ganan panjang lebar dengan dicampur nasehat.
"Terus, maksud kakek meminta kita berdua itu untuk apa Kek?" lagi lagi Vellyn sudah tidak sabar untuk menunggu kepastian.
"Kakek akan memberi pilihan, mau atau tidak. Kalian berdua bisa meminta pendapat dengan orang yang kamu percaya dan bisa memberi kalian penjelasan dan nasehat, serta memberi kalian pilihan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Satu lagi, kembali lagi dengan prinsip kalian berdua. Apakah kalian bisa mengerti dengan ucapan Kakek ini? jika iya Kakek akan melanjutkan pokok pada intinya." Kata Kakek Ganan mencoba untuk memberikan sebuah nasehat terlebih dahulu.
"Iya, Paman." Jawab keduanya serempak.
"Baik lah, Kakek akan mengatakannya sekarang juga. Bahwa Kakek meminta kalian untuk datang ke ruangan ini yaitu, untuk memberi pilihan menikah." Ucap Kakek Ganan.
Disaat itu juga, Kalla mendadak tercengang. Berbeda dengan Vellyn yang sedikitpun tidak menunjukkan sikap terkejutnya.
"Pilihan menikah? maksud Kakek?" tanya Kalla dengan rasa penasarannya.
"Maksud Kakek yaitu, kalian berdua Kakek beri pilihan. Yakni, Vellyn akan Kakek jodohkan dengan Arnal. Sedangkan Kalla akan Kakek jodohkan dengan Romi, bagaimana?"
Disaat itu juga, Vellyn masih diam. Sedangkan Kalla yang melihat ekspresi saudara perempuan sendiri itu, ia menyimpan rasa penasarannya.
"Kamu kenapa diam, Vel?" tanya Kalla sambil melambaikan tangannya didepan wajah milik Vellyn.
"Tidak ada apa apa, kamu jawab aja dulu. Nanti aku menyusul untuk menjawab pertanyaan dari Kakek." Jawab Vellyn dengan ekspresi datar.
"Bagaimana, Kalla? apakah kamu mau menerima perjodohan dari Kakek? jika iya, katakan saja iya. Jika kamu masih ragu, ku bisa mencari solusi dengan orang terdekat mu. Via Papa kamu, Ibu kamu, Kakak kamu, atau ... Tante kamu sekalipun." Tanya Kakek Ganan.
"Sepertinya Kalla harus berpikir lagi deh, Kek. Tidak apa apa kan, Kek? Kalla tidak mau terburu buru." Jawab Kalla berusaha untuk mencari solusi yang lebih pasti, pikirnya.
"Baik lah, sekarang kamu boleh keluar dan temui orang yang bisa memberimu nasehat dan pilihan yang bisa untuk meyakinkan kamu." Ucap Kakek Ganan mempersilahkan Kalla untuk memikirkannya lagi.
"Kalla mau menunggu Vellyn dulu, Kek."
"Tidak apa apa, kalau begitu sekarang Kakek mau memberi pertanyaan pada Vellyn."
"Iya Kek, silahkan. Sebisa mungkin Vellyn akan menjawab pertanyaan dari Kakek tanpa terbebani." Sahut Vellyn berusaha untuk tetap tenang.
"Vellyn, bagaimana jawaban kamu. Apakah kamu mau menerima perjodohan dari Kakek? yakni menikah dengan Arnal." Tanya Kakek Ganan dengan tatapan yang cukup serius.
Dengan pelan, Vellyn menarik napasnya. Kemudian, ia mengeluarkannya dengan pelan.
'Semoga ini pilihan yang tidak akan goyah, aku akan mencoba menerima nasehat dari Tanye Aish. Aku harus bisa belajar dari Tante Aish, dan juga dari Kak Dey.' Batin Vellyn dengan pilihannya itu. Sesekali Vellyn memejamkan kedua matanya dan membukanya pelan.
"Vellyn menerima perjodohan dari Kakek untuk menikah dengan Arnal, itupun jika Arnal mau menerima Vellyn. Jika tidak mau menerima Vellyn, berarti ada jodoh Vellyn di luaran sana." Jawab Vellyn dengan yakin, Kakek Ganan yang mendengarnya pun tersenyum mengembang.
Sedangkan Kalla yang mendengar jawaban dari Vellyn pun mendadak tercengang dan tidak percaya.