
Lunika masih berada didepan gedung, ia merasa minder untuk masuk kedalam.
"Hei, Lun. Dimana suami kamu? kok sendirian." Tanya Romi mengagetkan sambil menepuk punggung milik Lunika. Kemudian menghadap pada Lunika dan menatapnya tidak percaya.
"Romi, kamu baru datang?" panggil Lunika balik bertanya.
"Iya, aku baru datang. Cie ... tambah cantik aja nih, pasti suami kamu yang merubah penampilan kamu ini. Iya, 'kan? jujur saja tidak perlu bohong." Jawab Romi menebak.
"Iya, ini semua memang suamiku yang melakukannya. Aku sudah menolaknya, namun tetap saja memintaku untuk merubah diri. Sebenarnya aku tidak nyaman, tapi aku bisa apa? aku hanya bisa nurut atas kehendaknya karena aku berhutang padanya." Ucap Lunika yang merasa begitu hina dengan statusnya sendiri menjadi seorang istri.
"Tidak apa apa, lagian juga kamu diperlakukan baik oleh suami kamu. Siapa tahu saja, suami kamu benar benar jatuh cinta denganmu. Aku lihat sih, suami kamu bukan orang jahat. Hanya saja, mungkin ada sesuatu yang tidak kamu ketahui. Oh iya, ayo kita masuk." Ujar Romi dan mengajaknya untuk segera masuk kedalam gedung yang begitu megah.
"Maaf Rom, sepertinya kamu duluan saja yang masuk. Aku tidak ingin ada yang membicarakan kita, dan juga memojokkan kita. Maaf ya, Rom. Bukannya aku takut, aku hanya ingin sendirian saja." Ucap Lunika yang tidak ingin memberi getah pada temannya, yaitu Romi.
"Kamu yakin? kalau begitu, aku masuk duluan. Jika ada apa apa, hubungi aku." Jawab Romi, Lunika pun mengangguk dan tersenyum.
'Meski aku lebih dulu untuk masuk kedalam, aku akan berputar arah agar aku bisa berada dibelakangmu tanpa sepengetahuanmu. Aku tahu, acara ini sangat menyakitkan untuk kamu datangi dan kamu beri ucapan selamat pada kedua mempelai pengantin.' Batin Romi merasa tidak tega melihat kesedihan Lunika.
"Saat memasuki dalam gedung, para tamu undangan pun dibuatnya tercengang ketika melihat penampilan Lunika yang tidak pernah disangkakannya. Semua terpukau dan terpesona akan penampilan Lunika yang terlihat sangat cantik bak Cinderella.
Dengan langkah kakinya yang terlihat santai, Lunika celingukan kesana kemari. Berharap, jika dirinya akan menemukan teman sekolahnya.
"Hei! kamu Lunika 'kan?" seru seseorang tengah mendekati Lunika.
"Iya, aku Lunika. Kamu Dewi, 'kan? apa kabarnya Dew?" jawab Lunika dan balik menyapa.
"Iya, aku Dewi. Kamu sendiri apa kabarnya, Lun? wah ... tambah sukses saja kamu, Lun. Mana tambah cantik banget lagi, pasti kamu sudah sukses nih. Jangan jangan ... kamu sudah bersuami, ya?" jawabnya disertai memuji dan mencoba untuk menebaknya.
"Palingan juga modus, mana ada laki laki tajir menyukai Lunika. Yang ada juga laki laki kurang sekarung, penampilannya saja juga nyewa. Biar apa?"
"Biar kelihatan sukses! tapi bohong." Sahut yang lainnya dan tertawa puas ketika mengejek Lunika. Tanpa disadari ada sepasang mata tengah memperhatikan Lunika bersama teman temannya yang tengah mengejek.
"Eh! kalian itu keterlaluan banget, sih. Apa salahnya coba, jika Lunika berpenampilan bsk Cinderella. Memang kenyataannya Lunika itu cantik, 'kan? kalian itu seharusnya menyapa, bukan menghina." Ucap Dewi yang merasa kesal melihat teman sekolahnya selalu dijadikan bahan hinaan.
"Kenyataannya, 'kan? jika Lunika itu miskin." Ucapnya terus mengejek, sedangkan Dewi langsung menarik tangan milik Lunika untuk segera pergi meninggalkan tempat.
"Ups!! aku tidak sengaja menumpahkan minumanku. Maaf ya, Lun." Ucapnya disertai senyum sinis, Lunika hanya menahan kekesalannya tatkala baju yang ia kenakan basah begitu saja.
"Benarkah? jadi, kamu belum tahu siapa suami Hana? kalau begitu sama dong. Aku sendiri juga tidak tahu, karena waktu itu aku sedang di rumah sakit." Jawab Lunika sambil berjalan beriringan dengan Dewi.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita temui Hana." Ajak Dewi pada Lunika.
Sambil menunggu giliran, Lunika berjalan dengan pelan. Saat Lunika melangkah, ia melihat orang orang yang tengah menikmati makanan yang tengah dihidangkannya.
Langkah demi langkahnya, kini tinggal seorang lagi Lunika menatap mempelai wanita dan perempuan.
DUUUAAARR!!!!!!
Seketika, jantung Lunika serasa mendapatkan ledakan Bom Atom tepat mengenai ulu hatinya. Sungguh dasyat ledakan tersebut, hingga dia tidak kuasa untuk menatapnya. Air matanya menganak sungai, pandangannya pun kabur dan tidak dapat untuk melihatnya. Seluruh tubuhnya lemas, ingatannya seakan hilang. Rasa cinta yang ia pendam seakan mati begitu saja, kedua kakinya pun terasa berat untuk menopang tubuhnya. Bibir manisnya pun gemetaran tatkala ingin menyebut namanya, butiran air matanya tengah mengalir deras tiada henti.
"A --- a --- Arnal, Ha --- Hana. Selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia." Ucapnya dengan terbata bata, kemudian mengusap air matanya yang tengah membanjiri kedua pipi mulusnya.
"Hana, rupanya kamu sungguh tidak punya hati. Dengan teganya, kamu menusuk Lunika dari belakang. Lihat saja, kamu akan menuai atas perbuatan kamu. Hatimu benar benar sangat busuk, bahkan tidak jauh beda dengan bang*kai." Ucap Dewi yang sama kesalnya setelah mengetahui kebenarannya.
Lunika yang sudah mu*ak melihatnya, segera pergi meninggalkan pelaminan.
"Lun!! tunggu!" seru Arnal berteriak memanggil nama perempuan yang dicintainya itu sambil mengejar Lunika.
"Lepaskan! kamu sudah menikah, jangan kotori tangan kamu itu. Yang seharusnya kamu sentuh itu bukan aku, tapi istri kamu."
"Lun, ini semua tidak seperti yang kamu lihat. Aku terpaksa melakukannya, setelah ini aku akan segera menceraikan Hana. Percayalah denganku, Lun. Aku hanya mencintaimu, tidak untuk wanita lain."
"Aku bilang lepaskan! aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Jadi, lupakan aku sekarang juga. Yang harus kamu cintai itu, Hana. Bukan aku, karena aku bukan istri kamu."
"Arnal!! lepaskan perempuan miskin itu, kamu tidak pantas menjadi suaminya. Perempuan ini terlalu hina untuk kamu nikahi, Lunika tidak jelas asal usulnya." Bentak sang ayah penuh hinaan pada Lunika, sedangkan Lunika hanya mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang sudah memuncak di ubun ubunnya.
"Heh! Lunika, sekarang kamu puas, kan? laki laki yang kamu cintai sudah menikah dengan sahabat kamu sendiri. Lihatlah, mereka berdua sangat lah serasi." Sahut ibunya Arnal yang juga tidak kalah menghinanya, Lunika sendiri mencoba untuk tetap tenang agar tidak terpancing emosinya.
"Mama! hentikan ucapanmu, Ma!" bentak Arnal yang juga sudah sangat kesal pada kedua orang tuanya sendiri. Lunika hanya menarik nafasnya panjang, lalu membuangnya kasar.
Sedangkan di sudut ruangan tengah heboh dengan adanya sosok laki laki yang datang memasuki gedung pernikahan Arnal dengan Hana, semua para tamu undangan terkesima melihat penampilan seorang laki laki yang tampan akan rupawannya.