Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Penuh harap


Tidak terasa, waktu pun telah berganti malam. Masih dengan hujan deras dan petir yang bersahutan hingga cuaca terasa mencekam. Perasaan cemas serta khawatir, kini telah dirasakan oleh keluarga Wilyam.


Sudah mengerahkan banyak anggota pencarian, namun hasilnya masih juga nihil. Pasrah dan doa, hanya itu yang bisa dilakukan.


"Zicko, dimana kamu Nak ... Papa sangat mengkhawatirkan kamu. Kembalilah, pulanglah, Zicko." Ucap Tuan Zayen masih duduk bersandar didalam mobil, pandangannya pun kosong. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Zicko, Zicko, dan Zicko.


Kini, air matanya pun tidak terbendung lagi. Semangat dan kebahagiaan seakan telah lenyap bak ditelan bumi bersama kesedihannya.


"Paman, sekarang sudah hampir larut malam. Sebaiknya kita pulang, besok kita lanjutkan lagi pencariannya. Biar kita tugaskan kepada anak buah untuk mencarinya. Ayo paman, kita pulang." Ajak Dey berusaha untuk membujuk Pamannya.


"Iya Kak, lebih baik kita pulang. Besok kita datang ke sini lagi, aku juga sudah memerintahkan anak buahku untuk melakukan pencarian yang lebih tanggap lagi." Ucap Tuan Viko menimpali, Tuan Zayen hanya mengangguk tanpa bersuara.


"Bagaimana kalau Paman menginap di rumah Papa, Dey merasa itu lebih baik. Kalau Paman pulang dengan keadaan yang terlihat bersedih, maka istri Kak Zicko akan mencurigainya." Ucap Dey mengingatkan.


"Iya Kak, yang dikatakan Dey ada benarnya. Kalau Kakak tidak pulang, pasti tidak akan mencurigai. Kalau sampai tiga hari tidak juga ditemukan, kita pasrah. Apapun itu, Kakak harus berkata jujur pada Lunika. Kalau sampai terus berbohong, yang ada Lunika akan membenci kita semua. Bahkan bisa jadi akan keluar dari rumah dan mencari Zicko." Ucap Tuan Viko mencoba mencernanya serta memberi solusi, meski solusinya sangat menyakitkan sekalipun.


"Terserah kamu saja Vik, aku sedang tidak mampu untuk berpikir. Yang sedang aku pikirkan adalah keselamatan Zicko, tidak ada yang lain." Jawab Tuan Zayen yang sudah prustasi.


"Baik lah, kalau begitu aku yang akan mengatur semuanya. Aku tahu, ini sangat berat. Namun mau bagaimana lagi jika segala sesuatu kalau sudah takdir yang berkata, maka kita tidak bisa untuk menolaknya. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha, pasrah dan dibarengi dengan doa. Hanya itu yang kita punya dan yang bisa kita lakukan. Selebihnya, hanya Sang Maha Pencipta yang mengendalikan." Ucap Tuan Viko yang juga tidak memiliki cara lain selain berusaha dan berdoa.


Karena waktu yang sudah larut malam, Tuan Zayen serta adik iparnya dan keponakannya kini sudah berada dalam perjalanan untuk pulang. Sedangkan Tuan Guntara bersama Tuan Seyn, kini keduanya masih berada di lokasi pencarian bersama yang lainnya.


"Bagaimana ini? apakah kita akan ikutan pulang?" tanya Tuan Guntara.


"Aku merasa ada yang aneh dengan insiden kecelakaan yang terjadi pada Zicko, apakah ada seseorang yang sengaja melakukannya? apakah Jas nya untuk menghilangkan jejak? ah, kenapa semakin runyam jalan pikiranku." Ucap Tuan Seyn mencoba mencerna atas insiden kecelakaan pada keponakannya.


"Iya juga ya, aku juga merasa seperti itu. Semoga saja, Zicko segera ditemukan dengan selamat. Aku akan segera mencari titik terang dari akar permasalahan ini, setidaknya kita mencari celah untuk menyelidikinya." Sahut Tuan Guntara yang juga ikut pusing memikirkannya.


"Ya sudah, lebih baik kita pulang. Kita pikirkan lagi di rumah, aku akan meminta kepada semua anak buahku untuk melakukan pencarian serta penyelidikan atas kasus ini." Ucap Tuan Seyn.


"Ayo, kita pulang. Sepertinya hujannya semakin deras, suara petir pun sangat menggelegar." Ajak Tuan Guntara, kemudian keduanya segera kembali ke mobil untuk pulang.


"Tunggu sebentar, sepertinya ada pesan masuk." Ucap Tuan Seyn yang tiba tiba ponselnya bergetar.


Saat sudah berada didalam mobil, Tuan Seyn segera membuka pesan masuk. Dilihatnya dengan seksama, rupanya mendapatkan pesan dari Tuan Viko.


"Apa isinya?" tanya Tuan Guntara.


"Kita diminta untuk menginap di rumah Viko, karena tidak ingin istri Zicko mencurigai. Apa yang dikatakan Viko memang ada benarnya, ayo kita ke sana." Jawab Tuan Seyn, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju rumah Tuan Viko.


Selain untuk menghindari kecurigaan serta pertanyaan dari Lunika, pilihan satu satunya yakni untuk tidak menunjukkan batang hidungnya di depan Lunika. Demi kesehatannya dan juga takut membuat depresi, ditambah lagi dengan kondisinya yang baru saja melahirkan. Bahkan luka jahitannya saja masih terasa sakit.


Tidak hanya itu, di kediaman Tuan Viko akan membahas mengenai insiden kecelakaan yang dialami Zicko bersama Arnal. Rasa curiga pun telah menghantui pikiran Tuan Seyn, Tuan Guntara. Sebisa mungkin untuk dibicarakan bersama Tuan Zayen dan juga Tuan Viko.


Sesampainya di rumah Tuan Viko, kini keempatnya duduk dan saling berhadapan. Satupun belum ada yang membuka suara, satu persatu mengatur pernapasannya. Berharap, masalah yang sedang ditanganinya segera berakhir dengan baik.


Tuan Zayen sendiri hanya bersandar dengan tatapan kosong sambil menatap langit langit di ruangan keluarga.


"Bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan? ayo kita berpikir lagi untuk memecahkan masalah jatuhnya mobil kedalam jurang yang sangat curam.


"Sudah lah, jangan kalian bahas lagi. Aku sedang tidak ingin mendengarnya, dan aku hanya ingin menenangkan pikiranku ini." SHut Tuan Zayen yang merasa benar benar sangat prustasi.


Tuan Seyn yang mengerti akan keadaan adiknya, Beliau memilih untuk tidak melanjutkan pembahasannya. Tuan Seyn hanya memberi kode kepada Tuan Viko dan Tuan Guntara untuk membicarakan dilain tempat. Keduanya pun mengangguk mengerti.


Sedangkan di kediaman Tuan Zayen masih terasa sunyi dan sepi didalam rumahnya, begitu juga dengan bayi Niko yang tidak menangis histeris seperti sebelumnya. Menangis pun hanya sekedar lumrah karena haus dan lapar, selebihnya tetap tenang dan tidak menghebohkan isi dalam rumah.


"Lun, sudah malam. Kenapa kamu masih juga belum tidur? tidak baik tidur sampai larut malam."


"Lunika masih kepikiran dengan suami Lunika, Ma. Sebenarnya Papa dan suami Lunika sedang ada dimana sih, Ma? kok perasaan sampai larut malam begini belum juga pulang?" tanya Lunika dengan cemas.


Istri Tuan Zayen segera mendekati menantunya dan duduk disebelahnya, sedang istri Tuan Guntara tengah menidurkan cucunya yang sedari tadi tidak ingin lepas dari gendongan.


"Papa dan suami kamu sedang sibuk, sayang. Makanya, malam ini mereka berdua belum bisa pulang. Mungkin pulangnya besok, coba kamu ingat lagi dengan Papa Guntara dan Papa Zayen. Mereka berdua belum pulang, 'kan? buktinya Mama kamu masih disini. Jadi, bersabarlah. Jangan berpikiran yang macam macam, kecuali Papa Zayen dan Papa Guntara sudah pulang dan suami kamu belum pulang, kamu berhak mencurigainya." Ucap sang ibu mertua beralasan.