
Tuan Guntara menatap lekat sosok Lunika yang jaraknya tidak begitu jauh.
'Benarkah dia adalah putriku? benarkah itu kenyataannya? Keira, wajahnya begitu mirip dengan Keira istriku. Semoga saja, dua adalah benar putriku.' Batin tuan Guntara berusaha untuk tenang.
Tiba tiba ponsel milik tuan Seyn terdengar seperti ada seseorang yang tengah memanggil, dengan cepat langsung merogoh ponselnya dalam kantong jasnya. Dilihat nama kontak yang tidak asing, kemudia tuan Seyn segera menerima panggilan terebut dari salah satu anak buahnya.
"Katakan saja dengan jelas, ada apa?" tanya tuan Seyn.
"Begini Bos, saya sudah menemukan laki laki yang dimaksudkan Nona Lunika. Sekarang sedang kami tahan di tempat yang sudah Bos Seyn perintahkan. Untuk langkah selanjutnya, kami akan melakukan pengepungan disalah satu rumah milik seseorang yang menjadi faktor utama." Jawabnya dengan detail.
"Baik lah, aku dan yang beberapa orang akan mendatangi kalian. Ingat! jaga dengan ketat, jangan sampai bisa lolos." Perintah tuan Seyn.
Usai mendapatkan kabar terbaru dari anak buahnya, tuan Seyn langsung mematikan panggilannya.
"Bagaimana, kak Seyn? apakah ada kabar baru?" tanya tuan Zayen penasaran.
"Semua sesuai yang kita harapkan, Martha sudah ditangkap. Sekarang sudah ada di markasku, ayo kita berangkat. Untuk paman Alfan, paman Tirta, temani tuan Guntara bersama Zicko dan Lunika. Untuk paman Ganan dan paman Dana, ikut lah denganku. Sedangkan kamu, siapa kamu namanya?" perintah Seyn pada keluarganya dan kemudian menunjuk kearah Romi.
"Namaku Romi, Paman." Jawab Romi menyebutkan namanya.
"Romi, kamu dan ayah kamu tetap di rumah. Kamu tidak perlu khawatir, sekeliling rumah sudah ada penjagaan ketat dari anak buah kami semua. Ingat, jangan pernah menerima telfon apapun itu. Jika ada kabar yang lebih genting, diantara kami akan ada yang pulang. Jadi, tetap fokus didalam rumah.
"Baik, Tuan. Aku akan tetap berada di rumah ini dan tidak akan keluar rumah." Jawab Romi meyakinkan. Sedangkan tuan Seyn mengangguk.
"Terus, aku disuruh ngapain?" tanya tuan Zayen yang tidak kesebut namanya.
"Kamu ada baiknya temani tuan Guntara, biar aku yang akan melakukan pengepungan bersama paman Ganan dan paman Dana." Jawab tuan Seyn meyakinkan.
"Baik lah, aku serahkan semuanya pada kak Seyn. Hati hatilah, jangan sampai kak Seyn kecolongan. Terima kasih ya, kak Seyn." Ucap tuan Zayen.
"Ini sudah menjadi tanggung jawabku, sudah saatnya aku melakukan ini semua. Ya sudah, aku mau berangkat. Hati hati dengan langkah kakimu, semoga kebenaran segera terungkap." Jawab tuan Seyn terus meyakinkan adiknya.
Meski keduanya dahulu sama sama dinginnya, bahkan sulit untuk satu pendapat. Namun, keduanya kini bagaikan saudara kandungnya sendiri. Bahkan begitu banyak perubahan pada diri tuan Seyn.
Usai melakukan musyawarah, semua berpencar pada tujuannya masing masing.
Didalam perjalanan, tuan Guntara satu mobil dengan Jennyta, Lunika, dan Zicko serta tuan Zayen. Didalam mobil terasa hening, bahkan tidak ada satupun yang berucap diantara semuanya.
Tuan Guntara duduk bersebelahan dengan Jennyta, sedangkan Zicko dengan istrinya. Sedangkan tuan Zayen memilih duduk disebelah pak Yitno selalu sopir utamanya.
Berbeda lagi dengan Kakek Alfan dan kakek Tirta, kedua kakek tersebut berbeda mobil dengan tuan Zayen.
Setelah memakan waktu yang cukup menyita waktu, tidak lama kemudian telah sampai di rumah sakit yang di tuju.
"Pa," panggil Jennyta pada ayahnya. Namun, pengawal tidak memberi kesempatan untuk saling berbicara. Tuan Guntara sendiri hanya bisa nurut dan pasrah, karena Beliau memilih untuk mencari titik aman.
'Maafkan Papa, Jennyta. Jika Papa tidak bisa merespon panggilan dari kamu.' Batin tuan Guntara sambil berjalan.
"Kita sudah sampai, sekarang juga kita akan temui Dokter Burman. Setelah itu, kita akan meminta untuk segera dilakukan tes DNA. Soal hasil, kita harus siap menerimanya. Benar atau tidaknya, kita tetap harus lapang." Ucap tuan Zayen, kemudian melirik kearah Jennyta. Sedangkan Lunika mulai merasa gelisah.
'Kenapa aku menjadi gugup begini? seharusnya aku senang, dan aku memiliki titik terang untuk menemukan orang tuaku. Ya Tuhan ... kenapa rasanya aku ingin menangis? aku tidak tahu setelah ini, akankah aku menangis bersedih? atau ... aku menangis karena bahagia.' Batin Lunika penuh kecemasan serta kegelisahan.
'Gawat, jika memang aku bukan anaknya Papa Guntara, bagaimana? tidak, aku yakin jika aku adalah anaknya. Bukan perempuan ini, yang sudah mengambil Zicko dariku.' Batin Jennyta berdecak kesal.
Setelah itu, Lunika dan Jennyta serta tuan Guntara kini tengah dilakukan tes DNA. Sedangkan Zicko, tuan Zayen, kakek Alfan, dan kakek Tirta, kini tengah menunggunya dengan perasaan cemas, gelisah dan tidak karuan dalam pikirannya masing masing.
Semuanya hanya mondar mandir, bahkan tidak ada yang bisa duduk dengan tenang.
Sedangkan di lain tempat, tuan Seyn dan kakek Dana serta kakek Ganan kini tengah barada disebuah markas lama yang pernah dijadikan untuk melakukan penimbunan barang diwaktu masa kelamnya bersama tuan Zayen.
PROK PROK PROK!!!
Tuan Seyn tersenyum menyeringai melihat sosok laki laki yang amat dibencinya sambil bertepuk tangan.
"Kamu!! rupanya dari dulu kamu itu tidak pernah berubah, Martha. Da*sar! bo*doh! apa kamu lupa, kamu sedang bermain dengan siapa?"
"Ampun Bos! ampun! dulu aku pernah ingkar denganmu, aku tidak tahu jika Bos Seyn akan ikut penyelidikan ini. Aku akan lakukan apapun itu, asalkan aku dibebaskan. Jangan penjarakan aku, Bos." Ucapnya merengek penuh penyesalan.
Dengan senyumnya yang penuh arti, Seyn mulai mulai mencari idenya.
"Katakan! sekarang juga. Dimana Bos kamu itu, hah!" bentak Seyn sambil mencengkram kerah bajunya.
Sedangkan kakek Ganan dan kakek Dana masih berdiri tegak dibelakang tuan Seyn.
Dengan gemetaran, bang Martha memegangi tangan milik tuan Seyn yang tengah mencengkram kerah bajunya berusaha untuk melepaskannya. Namun sayangnya, tenaga tuan Seyn masih sama kuatnya seperti dulu. Bahkan tatapan matanya semakin tajam, bang Martha semakin ketakutan menatapnya.
"Cepat! katakan sekarang juga, siapa Bos kamu itu, hah! jangan main main denganku, Martha." Ucapnya dengan mengancam.
"I -- iya, Bos."
"Aku bukan Bos kamu lagi, tau. Apa perlu, aku pat*ahkan kedua kaki kamu itu." Ancamnya lagi.
"Ampun, ampun. Baik lah, aku akan mengatakannya sekarang juga. Tapi aku mohon, jangan penjarakan istriku." Pintanya dengan memohon.
"Tidak ada yang gratis untuk mendapatkan ampun dariku, kamu tetap harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan dan perbuatan istrimu yang sudah membuat seorang gadis kecil berpisah dengan orang tuanya." Ucap tuan Seyn dengan sorot matanya yang tajam, bang Martha hanya menatapnya pasrah dan tidak mempunyai cara lain selain menyerahkan diri pada mantan Bosnya dahulu.