
Lunika masih dilema dengan perasaannya sendiri, ditambah lagi seperti mimpi. Untuk menyingkirkan kegundahannya, ia mencoba menarik nafasnya pelan dan membuangnya tanpa kasar. Berharap, apa yang akan menjadi keputusannya adalah mutlak dan tidak akan goyah sedikitpun.
Zicko masih menatap lekat paras cantik milik istrinya begitu fokusnya, sedangkan Lunika sendiri serasa salah tingkah dibuatnya.
'Benarkah apa yang dikatakannya tadi? seriusan nih, dia menyukaiku? dilihat dari sorot matanya juga tidak ada sedikitpun kebohongan. Semoga keputusanku ini adalah yang terbaik, meski aku sendiri masih ada rasa ragu. Tapi ... baiklah, aku akan memberi keputusan yang mutlak. Semoga ini pilihanku, dan mencoba melupakan segala kenangan bersama orang yang salah.' Batin Lunika berusaha menguatkan hatinya pada keputusan yang akan ia berikatan pada suaminya sendiri.
"Hei ... kenapa kamu melamun? baiklah, aku tidak akan pernah memaksamu. Kalau kamu masih dilema dengan perasaan kamu sendiri, aku akan siap menunggumu. Setidaknya aku sudah berusaha untuk berkata jujur didepan kamu dan didepan ibumu, aku pamit pulang." Ucap Zicko membuyarkan lamunan sang istri yang terlihat begitu fokus dengan lamunannya sendiri.
Karena tidak mendapati jawaban dari sang istri, Zicko segera bangkit dari posisi duduknya dan berdiri sambil mengatupkan kedua tangannya menghadap ibu mertuanya.
"Ibu, terima kasih sudah memberikan kesempatan pada Zicko. Sekarang Zicko sudah jauh lebih tenang dan siap menunggu jawaban dari Lunika. Kalau begitu, Zicko pamit pulang." Ucap Zicko pada ibu mertuanya, kemudian melangkahkan kakinya untuk mencium tangan milik ibu mertuanya sesopan mungkin.
"Tunggu, jangan pergi dulu." Ucap Lunika dan meraih tangan milik suaminya yang hendak mendekati ibunya, Zicko sendiri menoleh pada sang istri.
"Ada apa?" tanya Zicko, kemudian sepasang matanya tertuju pada tangannya yang tengah diraih oleh sang istri. Dengan cepat, Lunika langsung bangkit dari posisi duduknya dan keduanya saling beradu pandang.
Lunika yang mendapat tatapan dari sang suami pun malu malu melihatnya.
"Aku menerimamu sebagai suamiku sepenuhnya, bukan lagi sebuah sandiwara. Melainkan suamiku yang mempunyai hak atasku sepenuhnya." Jawab Lunika dengan tatapannya yang serius, Zicko pun tersenyum bahagia mendengarnya.
Tanpa pikir panjang, Zicko langsung memeluk erat istri dengan mesra. Kemudian, menc*ium kening milik istrinya dengan lembut.
"Terima kasih, sayangku. Aku janji, aku akan membuatmu bahagia dan tidak akan aku biarkan bersedih." Ucap Zicko sambil membelai rambut panjang milik istri yang dicintainya.
Saat fokus dengan pelukan mesra dari suaminya, tiba tiba indra pendengarannya milik Lunika seperti ada sesuatu yang tengah berbisik didekat telinganya. Kemudian, Lunika melepaskan pelukan dari suaminya.
"Kamu lapar?" tanya Lunika menebaknya, sedangkan sang ibu tersenyum mendengar pertanyaan pada putrinya.
Zicko yang mendapati pertanyaan dari istrinya pun menahan rasa malu pada ibu mertuanya, mau tidak mau Zicko tetap jujur apa adanya.
"Iya, dari tadi aku menahan lapar. Kamu tahu? karena perasaanku padamu, aku menahan lapar yang berkeroncongan. Bahkan, jika kamu tidak memberi jawabannya mungkin saja aku akan berpuasa dua puluh empat jam." Jawab Zicko sambil pura pura cemberut.
"Ya sudah kalau begitu, masih ada waktu untuk membeli makanan diluar sana. Jadi, ajak lah suamimu untuk makan malam diwarung. Dirumah sudah tidak ada makanan yang siap untuk di sajikan." Perintah sang ibu.
"Iya Bu, kalau begitu Lunika pamit untuk pergi ke warung." Jawab Lunika, sang ibu pun mengangguk.Kemudian keduanya segera berangkat ke warung dengan mengendarai sepeda motornya.
Dalam perjalanan menuju warung makanan, keduanya nampak serasi. Diantara para tetangga yang tengah berpapasan dijalanan, melihatnya seperti tidak percaya dengan sosok Lunika yang tengah naik motor besar bersama seorang laki laki yang terlihat tampan dan selalu membuat semua perempuan terpesona melihatnya.
Tidak memakan waktu lama, Lunika telah sampai didepan warung makan langganannya. Dengan hati hati, Lunika turun dari motor.
"Aduh aduh ... baru saja ditinggal menikah sama kekasihnya sudah dapat penggantinya. Hebat betul kamu, Lun. Mentang mentang paling cantik dipinggiran kota, dengan mudahnya mencari pengganti dalam sekejab." Ucap seorang ibu paruh baya dengan tatapan tidak suka.
"Jangan bicara seperti itu didepan Lunika, tidak baik. Ditambah lagi ada pacarnya, sangat tidak pantas." Ucap yang berada disebelahnya.
"Eh, mbak Lunika. Yang disebelah mbak Lunika itu suaminya mbak Lunika, ya?" tanya sang pemilik warung.
"Iya, saya suaminya Lunika. Saya pesan nasi goreng dua porsi dengan telornya dua dan yang pedas ya, Bu." Sahut Zicko yang tidak suka mendapatkan banyak bicara, semua yang mendengarnya pun tercengang tidak percaya.
"Hei, Bu. Kamu ngomong apa, tadi? Suami Lunika?" tanyanya tidak percaya.
"Hem, makanya kalau jadi warga itu yang tanggap ketika ada warga baru masuk didaerah kita. Jangan sukanya nyinyirin yang tidak jelas, yang ada ketinggalan berita." Jawab pemilik warung makan.
"Maksudnya sih, apa? aku masih tidak mengerti." Tanyanya lagi, sedangkan Zicko dan Lunika hanya menatapnya geram.
"Tadi pagi, pak RT dan istrinya telah memberitahu pada sebagian warga. Jika Lunika sudah menikah dan suaminya menginap dirumah ibu Ruminah. Soal pernikahannya tidak di rumah Lunika, dikarenakan ibunya tengah jatuh sakit. Maka, Lunika menikah dikediaman suaminya." Jawab pemilik warung dengan detail saat menjelaskannya.
"Jadi ..." ucapnya terhenti karena malu.
"Jadi, kami berdua sudah menjadi suami istri, Bu." Sahut Lunika tanpa rasa malu.
"Oh iya Maaf, Lun. Jika nasi gorengnya membuatmu lama menunggu, ini nasi gorengnya." Ucap pemilik warung sambil menyerahkan pesanan yang diminta oleh suaminya itu.
"Berapa Bu?" tanya Lunika setelah menerima pesanan suaminya.
"Totalnya tiga puluh lima ribu, Lun." Jawab pemilik warung, Zicko langsung merogoh saku celananya dan mengambil uang satu lembaran merah.
"Ini Bu, sisanya buat ibu saja." Ucap Zicko sambil memberikan satu lembaran kertas merah pada pemilik warung.
"Cah bagus, ini masih ada kembaliannya." Ucap pemilik warung tidak enak hati,
"Buat ibu saja, jangan menolak." Sahut Lunika dan tersenyum. Kemudian Zicko dan Lunika terus berjalan sampai didepan warung, hingga keduanya telah pergi dan meninggalkan warung tersebut.
Dalam perjalanan, angin malam pun telah menusuk sampai ke tulang. Lunika yang merasa kedinginan, ia langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang milik suaminya dengan erat.
Seketika, Zicko tersenyum bahagia. Kemudian, ia memegangi tangan milik istrinya dan keduanya saling mempererat genggamannya. Sedangkan Lunika menyandarkan pada punggung milik suaminya dengan menc*ium aroma parfum yang tidak asing baginya, yaitu aroma parfum yang begitu khas di indra penciumannya.
'Kenapa aku merasa ada sesuatu yang telah mengingatkan aku pada seseorang? kenapa aroma parfumnya begitu menu*suk indra pernciunanku?' batin Lunika mengingat sesuatu.