Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Mengingatkan


Arnal masih mencoba untuk mencernanya, berharap apa yang tengah ia dengar hanya sebuah mimpi.


"Bagaimana, Arnal? apakah kamu bersedia menikahi Vellyn? jika iya, maka kami akan segera melangsungkan pernikahan kamu dengan Vellyn. Usiamu tidak lagi muda, kamu juga berhak untuk memiliki seorang istri sekaligus teman dalam kehidupannu." Tanya Kakek Ganan serta mengingatkan.


Arnal yang mendengar pertanyaan dari Kakek Ganan, ia berusaha untuk mengatur pernapasan nya. Berharap dirinya mampu memberikan jawaban yang benar benar hasil keputusannya. Sedangkan Romi sendiri tidak berani untuk mendukung maupun untuk menolaknya, dirinya sendiri sibuk dengan nasibnya sendiri ketika mendapatkan pertanyaan yang sama.


"Jika kamu ragu, kamu boleh pikirkan lagi. Kamu masih ada kedua orang tua, bukan? siapa tahu saja kamu ingin meminta pendapat dengan kedua orang tua kamu. Dan kamu bisa menjawabnya di hari esok, Kakek akan tunggu jawaban dari kamu." Kata Kakek Ganan memberi jangka waktu untuk Arnal.


'Bagaimana ini? Vellyn aja menerimanya tanpa beban. Lalu, kenapa aku harus mengulur waktuku? tapi ... apa benar, jika Vellyn mau menikah denganku? aaah! kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini? benar benar pilihan yang sulit untuk aku percaya.' Batin Arnal sambil melamun.


"Arnal, bagaimana? apakah kamu ingin menjawabnya besok? karena Kakek harus memberi pertanyaan juga sama Romi." Tanya Kakek Ganan untuk meminta jawaban dari Arnal.


Sambil menarik napasnya dengan pelan, Arnal mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Maaf sebelumnya, Kek. Saya ini bukan seorang pengusaha sukses, saya hanya orang bawahan. Mana pantas bersanding dengan seorang Vellyn yang kehidupannya penuh kesempurnaan. Berbeda dengan saya, sedangkan saya ini adalah orang yang bisa dikatakan jauh perbedaannya dengan Vellyn. Apa lagi kedua orang tua saya."


"STOP! jangan kamu ulangi perkataan kamu itu. Tidak ada dalam kamus keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta mengenai status sosial maupun apa lah, semua sama dimata kami. Kami tidak pernah memandang kedudukan tinggi maupun rendah sekalipun. Jika itu yang terbaik, maka itulah yang menjadi pilihan kami." Ucap Kakek Ganan dengan tegas.


"Yang kamu dengar dari Kakek Ganan adalah benar kenyataannya. Kamu bisa melihat ayah dari Vellyn, apakah Tuan Viko dari golongan orang kaya? aku katakan, tidak! Tuan Viko statusnya sama seperti mu. Tuan Viko dahulunya hanyalah kaki tangan dari Tuan Zayen, lalu di jodohkan dengan Adellyn adik dari Tuan Zayen. Tidak hanya itu saja, istri dari Kakek Ganan juga bukan dari orang terpandang, Omma Maura dari kampung yang jauh dari seberang sana. Jika kamu mau mencari tahu tentang keluarga Wilyam, maka kamu akan tahu setatus seperti apa para menantunya dan sejauh mana silsilahnya. Maka, disitulah kamu akan memahaminya." Ucap Tuan Seyn menjelaskan dengan panjang lebar.


Arnal yang mendengarnya pun sudah rumit, apalagi harus mencari tahu, pasti akan tambah rumit untuk mengetahui silsilah tentang keluarga Wilyam, pikir Arnal dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Begitu juga dengan Romi yang ikutan pusing mendengar penjelasan dari Tuan Seyn. 'Rumit sekali untuk dijabarkan, semoga saja setelah ini aku tidak ikutan semakin rumit.' Batin Romi penuh harap, agar dirinya tidak ikutan rumit seperti sahabatnya sendiri.


Setelah sedikit dapat dipahami dan dimengerti, akhirnya Arnal memilih untuk memberi keputusan.


"Setelah saya mendengar dengan apa yang dijelaskan oleh Tuan Seyn, akhirnya saya dapat mengerti. Dengan niat hati saya, bahwasanya saya menerima perjodohan ini. Saya siap untuk menikah Vellyn menjadi istri saya." Ucap Arnal sedikit membusungkan punggungnya.


Sedangkan Romi yang mendengar ucapan dari Arnal seperti tidak percaya, Romi benar benar kaget dan juga tercengang.


"Arnal, kamu tidak sedang mengigau, 'kan?" tanya Romi sambil menatap Arnal dengan tatapan seperti tidak percaya.


"Memangnya yang kamu lihat dan kamu dengar itu, aku sedang mengigau? hem." Jawab Arnal.


"Sekarang giliran kamu, Romi." Ucap Kakek Ganan dengan fokus menatap Romi dengan sangat intens. Disaat itu juga, Arnal maupun Romi langsung terdiam.


Romi yang mendapat tatapan dari Kakek Ganan pun semakin salah tingkah, malu itu pasti. 'Giliranku yang akan menjadi terdakwah.' Batin Romi sambil menelan salivanya.


"Nak Romi," panggil Kakek Ganan masih dengan tatapannya yang serius.


"Iya, Tuan." Jawab Romi dengan santun.


"Kamu sudah tahu kan, permasalahannya Kakek meminta kalian berdua datang ke ruangan ini? yang tidak lain adalah sama seperti Arnal. Kakek langsung saja pada pokok intinya, jika Kakek ingin menjodohkan kamu dengan Kalla, sekretarismu itu."


"What ! sama preman hantu, itu." Dengan reflek, Romi menyebut Kalla dengan panggilan preman hantu. Seketika, Tuan Seyn dan Kakek Ganan tertawa kecil mendengarnya. Begitu juga dengan Arnal, ia hanya menahan tawanya. Takut, jika sahabatnya akan murka pada dirinya.


"Preman hantu, ada ada saja kamu ini. Sepertinya kamu sosok lelaki yang humoris, sampai sampai kamu sudah memilih nama julukan untuk Kalla." Kata Kakek Ganan, Romi sendiri dibuatnya bingung.


'Bukannya marah, ini Kakek kenapa tertawa juga. Tuan Seyn, juga. Kenapa mesti tertawa, coba. Aku aja geram, lah ini orang orangnya kenapa justru tertawa, mengherankan.' Batin Romi yang merasa aneh.


"Maaf Tuan, bukan maksud saya untuk menghina. Tadi saya reflek keceplosan, maaf Tuan." Ucap Romi yang merasa tidak enak hati sudah menyebut Kalla dengan panggilan Hantu, pikirnya.


"Kamu tidak salah, karena tidak cuman kamu yang seperti itu. Kakek memaklumi nya, karena Kakek pernah muda. Jadi, anggap lah itu sebuah lelucon. Asalkan tidak pada orang yang lebih tua, jatuhnya tidak sopan. Anak muda biasanya menganggap hal wajar, karena itu lumrah." Ucap Kakek Ganan, sedangkan senyum senyum malu.


"Terus ... bagaimana jawaban kamu, apakah kamu akan menerima perjodohan ini? jika kamu masih ragu, kamu bisa memikirnya kembali. Karena Kalla sendiri pun demikian, Kalla juga sedang mencari jawaban yang


benar benar bukan dari paksaan. Sama sepertimu, Kakek tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang." Ucap Kakek Ganan, memberi saran untuk Romi.


"Maaf Tuan, jika saya belum bisa menjawab ya sekarang. Saya mesti pikirkan lagi, karena sadar diri posisi saya dan keadaan saya yang sebenarnya." Jawab Romi, lagi lagi Kakek Ganan memberi tatapan yang cukup tajam pada Romi.


Disaat itu juga, Romi tersadar akan kesalahannya dalam berucap. Yang dimana dirinya lupa dengan Arnal yang baru saja mendapatkan penjelasan yang cukup panjang dan juga lebar, mengenai status sosial dan yang lainnya.


"Jangan kamu ulangi lagi, ingat baik baik penjelasan dari Kakek." Ucap Kakek Ganan mengingatkan kembali, sedangkan Romi yang mendengarnya pun menunduk malu.