Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Akhirnya


Zicko masih dengan sorot matanya yang tajam, kedua tangannya pun masih memegangi pistol nya. Selangkah kemudian, Zicko berjalan layak nya pemain trailer yang dimana semua anggota tubuhnya bekerja. Dari indra pendengarannya, penglihatannya, kedua kakinya serta kedua tangannya yang tidak lepas dari gerak geriknya.


Begitu juga dengan Denra, dirinya ikut sibuk untuk menerima serangan dari Zicko yang terlihat sudah siap untuk memulai aksinya.


Keduanya tersenyum menyeringai, bahkan tatapannya sama sama terlihat mematikan. Sedangkan Arnal maupun Lunika tengah berusaha untuk melepaskan diri dari jeratan tali yang mengikat pada kedua tangannya, namun tetap saja tidak berhasil. Sedangkan Seril dan Jennyta masih berada di dekat Arnal maupun Lunika, keduanya diminta untuk berjaga jaga.


"Tunggu! hentikan pertumpahan darah kalian, hentikan semua ini." seru seseorang dengan tertatih tatih untuk berjalan. Semua yang mendengarnya pun menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya seseorang yang sudah tidak lagi terlihat muda.


"Kakek Revan?" semua memanggilnya tidak percaya. Begitu juga dengan Denra, dirinya pun tidak menyangka jika kakek Revan telah menemuinya di Mansion.


"Hentikan perbuatan mu itu, Denra. Apakah kamu ingin mengulangi jejak masa lalu yang sudah silam, itu? hentikan perbuatan buruk mu itu." Ucap sang kakek mencoba untuk melerai perbuatan cucu nya. Sedangkan Denra masih terdiam, ia masih dikuasai emosinya.


"Sebelum terlambat dan polisi belum bertindak, hentikan perbuatan mu sebelum kamu menyesal di kemudian hari. Sayangilah usia kamu, jangan ikuti hawa nafsumu. Kamu masih bisa mengikuti alur ceritamu dengan baik, itupun jika kamu menjalaninya dengan baik juga." Ucap kakek Revan yang mencoba untuk menasehati cucu satu satunya yang menjadi harapan untuk melanjutkan generasi keluarga Karsa selanjutnya.


"Denra, yang dikatakan kakek kamu ada benarnya. Apa untungnya kamu menyiksa Lunika, apakah dengan cara menyandranya dan menyiksa nya akan membuat mu merasa puas? tidak, anakku. Hidupmu tidak akan pernah tenang, jika kamu terus menerus mengikuti amarahmu. Tidak hanya kamu yang terluka dan kecewa, tetapi juga Arnal yang sama hal nya seperti mu." Sahut kakek Ganan yang selalu menjadi penengah ketika bagian dari keluarganya mendapati masalah.


Denra masih terdiam, ia mencoba menetralkan emosinya. Entah kenapa, saat mendengar sebuah nasehat, detak jantung Denra bergemuruh hebat.


"Dan kamu Seril, Jennyta, apa untungnya kalian berdua menjadi hasutan dari Denra. Kalian hanya mendapatkan getahnya, dan hanyalah sebuah penyesalan yang akan kalian berdua terima. Seril, hentikan perbuatan mu itu. Cinta tidak perlu untuk dipaksakan, ikutin saja seperti air mengalir. Maka, kamu akan menemukan jawabannya. Kamu perempuan yang berpendidikan, jangan sia siakan masa hidupmu ini." Ucap kakek Ganan yang kini mencoba menasehati perempuan yang pernah singgah di kehidupan Zicko dimasa lalu nya.


Seril maupun Jennyta sama sama terdiam ketika mendapati nasehat dari kakek Ganan, keduanya tidak mampu untuk melawan dan memilih menjadi pendengar setia. Ditambah lagi kedatangan dari Tuan Zayen dan juga Tuan Seyn, maupun kakek Ganan, ketiga nya serasa tersambar petir di siang bolong.


"Seril, kemarilah Nak." Panggil kakek Ganan pada Seril, dengan terpaksa Seril memilih untuk mendekati kakek Ganan.


"Buang pistol mu, kakek tidak ingin kamu masih di kuasai amarahmu. Kemarilah, ada yang ingin kakek sampaikan sama kamu." Pinta kakek Ganan dengan suara lembut, Seril yang awalnya masih di kuasai emosinya. Sedikit demi sedikit mulai mereda dan nurut dengan apa yang dikatakan kakek Ganan.


Setelah berada di hadapan kakek Ganan, Seril menatap kakek Ganan dengan perasaan penuh tanda tanya.


"Kamu tahu? kamu adalah bagian dari keluarga Wilyam. Kamu adalah kakak dari Vey, istri Deyzan."


Seketika, Seril tercengang mendengarnya. Sungguh jawaban yang tidak pernah disangkakannya.


"Apa? keluarga Wilyam? tahu dari mana jika Seril adalah bagian dari keluarga Wilyam."


"Lalu ... kenapa kakek tidak menangkap Seril dari dulu?"


"Karena kakek harus menemukan bukti yang akurat, setelah dilakukan penyelidikan rupanya kamu adalah bagian dari keluarga Burhan. Kamu dan Vey memang terpisah karena ibu mu memilih untuk meninggalkan ayah kamu. Semua sudah berlalu, dan semua telah tiada. Sekarang lebih baik kamu hentikan perbuatan kamu ini. Dendam dan kebencian tidak akan pernah berakhir, jika diri kamu sendiri tidak mencegahnya." Ucap kakek Ganan, disaat itu juga Seril menitikan air matanya. Dirinya menyesali atas perbuatannya yang mudah terobsesi akan sesuatu hal yang tidak dicernanya terlebih dahulu.


Begitu juga dengan Denra yang masih terdiam dan menjadi pendengar Seril dan kakek Ganan yang tengah membicarakan sesuatu. Sedangkan Jennyta hanya berdiam diri, ia merasa tidak ada yang menjadikan penyemangat untuknya.


"Kak Seril ..." panggil seorang perempuan yang masih muda usianya berjalan mendekati kakek Ganan dan Seril.


"Kamu ..." ucap Seril yang lupa akan namanya.


"Iya, aku Vey. Benarkah kamu Kak Seril? benarkah?" dengan napasnya yang berat, Vey berjalan lebih dekat. Setelah itu keduanya saling memeluk dengan erat, pertemuan yang tidak pernah disangkakan nya.


"Rupanya aku masih mempunyai seorang adik yang cantik sepertimu, kemana selama ini aku, yang selalu sibuk dengan duniaku." Ucap Seril penuh penyesalan, dirinya baru mengingatnya jika dirinya masih memiliki saudara. Setelah itu Seril maupun Vey saling melepas pelukannya, kemudian saling menghapus air matanya satu sama lain.


"Kakek, maafkan Seril." Kalimat itupun reflek dilontarkan dari mulutnya.


"Maaf? maaf untuk apa?" tanya kakek Ganan.


"Sebenarnya Seril mendapatkan pesan dari Ibu sebelum meninggal untuk mencari keberadaan saudara Seril, namun kenyataannya tidak ada yang terisa keturunan dari keluarga Burhan. Disaat itulah, Seril menyerah untuk mendatangi keluarga Wilyam. Karena percuma dan akan disangka pengemis murahan." Jawab Seril berterus terang.


"Karena Vey ikut dengan keluarga Karsa, yakni sebagai adik Denra. Identitas Vey pun sengaja di sembunyikan demi keselamatannya." Ucap kakek Ganan menjelaskan nya secara detail.


Denra yang sedari tadi hanya diam, akhirnya dia mendekati Arnal dan Lunika yang kedua tangannya masih terikat kebelakang. Semua yang melihatnya pun terkejut dan disertai perasaan was was, jika kenyataannya Denra masih menyimpan emosinya.


Seketika, keterkejutan nya berubah menjadi senyuman yang mengembang saat melihat Denra melepaskan ikatan yang mengikat pas kedua tangan Lunika dan Arnal.


"Lun, Arnal, aku minta maaf atas kesalahan ku pada kalian berdua. Terutama sama kamu, Lunika. Aku benar benar menyesal, dan aku siap menerima konsekuensinya." Ucap Denra penuh penyesalan, Lunika masih diam dan sedikitpun tidak bergeming.


"Aku memaafkan kamu, jangan kamu ulangi lagi kesalahan yang hampir saja fatal." Sahut Arnal, sedangkan Lunika masih tetap diam. Kekecewaan, pasti ada pada diri Lunika. Ditambah lagi yang sudah mencelakai suaminya dan hingga terpisah dengannya selama dua tahun, membuat traumanya yang belum juga hilang.