
Dey yang mendengar pertanyaan dari Vey pun masih menatapnya dengan penuh kesal.
"Sana keluar, aku tidak membutuhkan kamu. Cih! seperti tidak ada tukang urut selain kamu, ogah gue." Usir Dey sambil mengibaskan tangannya seraya mengusir keberadaan Vey yang berada dihadapannya.
Dengan senyum merekah dan penuh kemenangan, Vey mengedipkan matanya. Dey pun mengernyitkan dahinya dan bergidik ngeri melihat tingkah Vey yang menggelikan itu. "Dasar! cewek aneh, sudah tidak waras dianya." Gumam Dey sambil menggelengkan kepalanya penuh keheranan dengan sikap Vey yang terlihat begitu cuek dan sedikitpun tidak ada rasa canggung ataupun apalah.
Vey tidak memperdulikan Dey, ia terus berjalan menuju pintu untuk segera pergi meninggalkan ruang kerja milik Bosnya itu.
"What !!!" apa apaan ini, Paman Zayen. Kenapa pintunya terkunci, mampus! aku. Bagaimana ini? bagaimana caranya aku bisa keluar dari ruangan terkutuk ini, benar benar sial. Mana pakai kode segala, lagi." Ucapnya yang terus menggerutu karena sial, pikir Vey sambil mengacak kodenya.
Dey yang melihat ekspresi prustasi dari Vey hanya tersenyum, dan tiba tiba Dey tertawa kecil ketika mendapati Vey berdecak kesal. Vey yang merasa terpojok karena riuh tawa dari Dey membuat Vey semakin kesal dan juga sangat geram.
Dengan sedikit rasa nyeri pada bagian pinggangnya, Dey mendekati Vey yang tengah berdiri didekat pintu sambil memegangi bagian pinggangnya yang terasa nyeri dan sakit.
"Kenapa kamu masih berdiri didepan pintu? hah. Bukankah kamu sangat menginginkan segera pergi dari ruangan ini, ayo cepetan keluar. Aku sudah eneg melihat muka kamu itu yang pas pasan, dan tidak terlihat cantik sedikitpun." Ledek Dey yang terus memancing emosi Vey yang terlihat semakin memuncak.
Vey yang semakin geram, seraya ingin melayangkan tinjuannya tepat pada bagian sudut bibir milik Dey.
"Kenapa kamu menatapku dengan tajam? nanti kamu tergoda, lagi. Sudah cepetan keluar, aku sudah bosan melihatmu." Usir Dey yang semakin bersemangat untuk mengerjai Vey.
"Dih! kepedean banget kamu, kamu pikir kamu itu tampan? hah. Tidak! kamu sangat jelek dan norak, ucapanmu pun tidak sekelas dengan jabatan kamu yang sekarang ini." Ucap Vey dengan terang terangan pada Dey yang menyandang sebagai seorang Bos, bahkan banyak perempuan yang terpesona dengannya. Namun, tidak untuk Vey yang berani terang terangan menghinanya.
"Lihat saja, kamu atau aku yang tidak laku." Tantang Dey sambil mendekatkan wajahnya tepat didepan Vey yang hampir saja menempel.
"Ya jelas kamu lah, mana ada perempuan yang mau sama kamu. Tampan, tapi masih kurang." Ucap Vey dengan senyum sinisnya.
"Silahkan aja kalau bisa bertahan berdiri didekat pintu, selamat menikmati bocah laki." Ledek Dey dengan senyumnya menyeringai, Vey yang menatapnya pun semakin kesal dan juga sangat geram pada Dey.
Vey yang awalnya ingin meminta Dey untuk membukakan pintunya, kini harus gagal karena ulahnya sendiri.
'Sial! mulutku ini benar benar ember, kalau begini bagaimana caranya untuk keluar dari ruang kerjanya. Bodoh! bodoh! bodoh! kamu ini, Vey.' Batin Vey dan mengrutuki dirinya sendiri.
Dey yang tengah duduk dikursi kerjanya hanya menahan tawa saat Vey terlihat lesu dan juga tidak bersemangat.
"Makan tuh rasa capek, encok encok lu." Ledek Dey dengan senyum menyeringai, Vey hanya menghentakkan kedua kakinya dilantai secara bergantian. "Awas lu! Bos tengil." Umpat Vey dengan tatapan tajamnya.
Karena sudah memakan waktu yang cukup lama, Vey tidak sadarkan diri jika dirinya tertidur sambil bersandar pada pintu dan dengan posisi kedua kalinya diluruskan.
Dey yang melihat Vey tertidur pulas, segera menghubungi salah satu orang kepercayaan Tuan Zayen untuk sepeda masuk lewat pintu darurat.
"Maaf Tuan, ada perlu apa menghubungi saya untuk masuk?" tanyanya tanpa melihat ada seseorang yang tengah tidur pulas bersandarkan dengan pintu.
"Nona Vey," ucapnya kaget. Namun, segera mengubah sikapnya untuk tenang dan seakan tidak menunjukkan ekspresi terkejutnya pada sesuatu.
Setelah Vey sudah dipindahkan ke ruang istirahat, Dey sedikit merasa lega.
"Keluarlah, jangan mengatakan sesuatu pada Paman Zayen. Katakan padanya, jika aku sudah mendapatkan pijatan dari Vey. Satu lagi, Vey ketiduran karena kelelahan." Perintah Dey memberi pesan pada orang kepercayaan barunya.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Ucapnya berpamitan, Dey pun mengelus dada bidangnya merasa lega dan jauh lebih tenang dari waktu sebelumnya.
Setelah orang kepercayaan Tuan Zayen pergi, Dey tersenyum lega dan segera memeriksa Vey yang tengah beristirahat.
"Dasar! cewek aneh, badan kuat tapi tidak bisa menahan rasa kantuknya." Gumam Dey sambil memperhatikan Vey yang tengah tertidur karena malas capek untuk menunggu Dey membantunya untuk membukakan pintunya.
Sambil menahan rasa sakit, Dey pun terbatuk batuk. "Jangan jangan pingganggu terkilir, sial! mau tidak mau aku harus pergi ke tukang urut." Gumam Dey sambil berjalan menuju kursi kerjanya.
Dengan sangat hati hati, Dey duduk di kursi. Sambil menunggu ayah dan pamannya masuk ke ruang kerjanya, Dey menyibukkan diri dengan layar yang ada di depannya.
"Dey, dimana Vey?" tanya Tuan Zayen yang tiba tiba masuk ke ruang kerjanya. Dey meringis menahan rasa sakit pada pinggangnya.
"Vey sedang tidur, Paman. Dia kelelahan setelah memijat serta mengurut pinggangku ini, mungkin capek." Jawab Dey sambil meringis menahan rasa sakit.
"Vey itu cewe ya, Pa?" tanya Vellyn mencoba menangkap pembicaraan dari sang kakak.
"Iya, nanti kamu bisa berteman dengannya. Anaknya sangat baik, dan sepertinya sangat cocok menjadi teman sekaligus kakak ipar kamu." Sahut Tuan Zayen dan melirik kearah Dey, lagi lagi Dey mengernyitkan dahinya.
"Cih! Paman jangan ngada ngada, Dey alergi dengan model cewek yang tenaganya kaya laki. Bisa bisa remuk semua tulangku, Paman." Sahut Dey sambil bergidik ngeri membayangkannya.
Sang ayah maupun pamannya dan Vellyn adiknya pun tertawa kecil melihat ekspresi Dey yang sangat lucu, pikir ketiganya.
"Paman cuman bercanda, bagaimana pijatan dari Vey? sudah enakan 'kan?" ucap sang paman dan bertanya mengenai rasa sakitnya.
"Iya Paman, sudah jauh lebih baik lagi." Jawabnya beralasan, kemudian melempar senyumannya.
'Semoga saja, itu anak tidak keburu bangun. Kalau saja dia bangun, mam*pus aku.' Batin Dey harap harap cemas memikirkan Vey yang telah difitnah mengenai soal sudah mengurutnya.
"Pa, Paman, apa yang harus Dey lakukan di Kantor ini?" tanya Dey yang belum mengerti untuk mengurus pekerjaan Kantor.
"Ah iya, Paman sampai lupa. Kamu pelajari dulu dari awal, sebentar lagi Zicko akan datang. Karena Kantor ini awalnya Zicko yang menduduki ruangan ini." Jawab Tuan Zayen menjelaskan.
"Dan Papa kesini hanya mengantarkan kamu serta membicarakan kelanjutan kamu dan Zicko. Karena jika Papa membicarakan pekerjaan ini di rumah, yang ada tidak akan kelar dan tidak fokus. Jadi, siapkan mental kamu untuk menjadi Bos baru di Kantor ini." Ucap sang ayah yang juga ikut menjelaskan pada putranya.