Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Pasrah


'Dih! senyum senyum sinis segala, pasti ini ada sesuatu yang direncanakan.' Batin Vey menebaknya, Dey sendiri tengah memperhatikan dari ujung kepala hingga ke ujung bawah pada Vey.


'Sebenarnya ini anak cukup cantik, tetapi kenapa penampilannya tomboy gini. Hem, sebelas dua belas nih sama Vellyn. Sama sama suka bikin onar, menyebalkan. Tidak adik, tidak sekretaris.' Batin Dey yang juga ikutan mengamati Vey dari ujung sampai ke ujung.


"Pak Bos, dih! ngelamun. Aku disuruh ngapain? duduk kek, atau ... pulang sekalian." Ucapnya tersenyum sambil menggembungkan kedua pipinya.


"Pijat punggungku sekarang juga, jangan banyak protes."


"Nah! kata Pak Bos ditabrak aja bikin remuk, kenapa memintaku untuk memijat punggung Bapak? dih! aneh."


"Banyak omong kamu ini, jangan panggil aku Bapak, ngerti. Kamu kira aku ini bapak kamu, enak saja."


"Lah terus panggil siapa? Abang? kakak? atau ... Om! baik lah." Seketika, Dey menatap tajam pada Vey. Sedangkan Vey sendiri tersenyum lebar pada Dey.


"Terserah kamu saja, penting aku bukan bapak kamu." Ucap Dey, kemudian segera bangkit dari posisinya yang tengah duduk di kursi kerjanya dan mendekati Vey yang tengah berdiri tegak didepannya.


"Om! jangan disuruh mijit dong, tanganku sedang keram." Pinta Vey penuh alasan, berharap bisa lepas dari Bosnya itu. Tanpa disadari juga, Vey telah memanggilnya dengan sebutan Om! Dey sendiri hanya mengernyitkan keningnya sesaat.


"Banyak alasan saja kamu ini, buruan pijat aku. Atau ... aku akan menghukummu yang lebih berat lagi, hah."


"Iya ya ya ya Om ganteng ..." ucap Vey sambil melempar senyumnya dan bermain mata, lagi lagi Dey hanya membuang nafasnya kasar saat menanggapi tingkah aneh pada Vey.


CTAK!


"Aw! sakit, Om." pekik Vey sambil mengusap keningnya yang mendapat sentilan kuat dari Dey.


"Emangnya aku pikirin." Sahut Dey, kemudian kembali ketempat duduknya.


Dengan terpaksa, Vey akhirnya hanya bisa nurut pada Bosnya. Ia tidak ingin mendapatkan hukuman lebih menyiksanya.


"Om! kalau sakit bilang ya, nanti aku tambahkan tenagaku." Ucap Vey dengan enteng.


"Jangan banyak omong, lakukan saja tugas kamu." Sahut Dey sambil menatap layar kerjanya.


'Rupanya pijatan Vey enak juga, aku kira seseram tabrakannya.' Batin Dey yang tanpa disadari tengah menikmati pijatan lembut dari Vey.


"Ehem ehem," suara berdehem dari ambang pintu pun tengah mengagetkan Vey maupun Dey. Disaat itu juga, Vey menghentikan aktivitasnya yang tengah memijat punggung milik Bosnya.


"Pergi sana ke tempat kerjamu, cepetan." Perintah Dey sambil menyikut Vey yang berada disebelahnya.


Dengan senyum ramah pada tuan Zayen, Vey akhirnya dapat kembali ke tempat kerjanya. 'Selamat ... selamat, akhirnya aku tidak jadi memijatnya.' Batin Vey penuh kemenangan.


"Vey, kemarilah." Panggil Tuan Zayen yang tengah berdiri tegak di dekat meja kerja milik Bosnya.


'Ada apaan lagi sih, paman Zayen? benar benar membuatku semakin tegang saja deh.' Batin Vey penuh dengan rasa curiga.


"Sekarang kamu belum ada pekerjaan, 'kan?" tanya Tuan Zayen.


"Iya Paman, Vey masih nganggur. Hari ini Vey belum mendapat pekerjaan dari Om Dey."


"Om Dey?" tanya Tuan Zayen menyelidik dan tatapannya pun pindah ke arah keponakannya.


"Begini loh Paman, Om Dey itu tidak mau di panggil Bapak. Katanya, Om Dey itu bukan bapaknya Vey, jadi Vey dilarang keras sekerasnya untuk memanggilnya dengan sebutan Bapak. Padahal Bos Bos lainnya juga panggilannya Bapak deh, apa karena Om Dey sedang jomlo akut ya Paman." Sahut Vey dan mengarahkan pandangannya ke Dey yang terlihat tengah mengepalkan kedua tangannya menahan rasa geram dan juga rasa kesal. Sedangkan Tuan Zayen hanya menahan tawanya saat Vey mengatakan keponakannya jomlo akut.


"Sok tahu, kamu." Ucap Dey dengan kesal.


"Sudah sudah, kalian berdua ini sudah seperti kakak beradik saja. Susah untuk dikendalikan, dan juga susah untuk berdamai. Jadi gini, Paman ada pekerjaan untuk kamu, Vey. Mau tidak mau kamu harus menuruti perintah dari Paman, apapun itu tidak ada penolakan." Ucap Tuan Zayen, Vey hanya bengong mendengarnya.


"Memangnya pekerjaan apa, Paman?" tanya Vey penuh rasa penasaran. Sedangkan Dey sendiri sudah dapat menangkapnya sendiri, pekerjaan yang tidak lain adalah memijat dirinya, pikir Dey dengan tebakannya.


"Paman minta, kamu pijat dan urut yang benar pada bagian pinggang milik Dey. Ingat, jangan sembarangan memijat. Karena bagian pinggang bukan hal sepele untuk kamu pijat, kamu pasti bisa dan mengerti." Jawab Tuan Zayen menjelaskannya.


Vey sendiri mendadak tercengang saat mendengarnya langsung, seperti mendapat ush simalakama. Berhenti memijat, tetapi harus melanjutkannya lagi.


'Dih, aku kira tidak akan terjadi drama pemijatan, rupanya aku harus menerima buah simalakama.' Batin Vey dengan lesu.


Dengan serius, Vey menoleh kearah Dey yang tengah memegangi bagian pinggangnya. Karena sudah merasa bersalah saat tanpa sengaja menabrak Dey, akhirnya Vey menuruti permintaan dari Pamannya.


"Baik, Paman. Vey akan melakukan perintah dari Paman dengan baik, jugaan rasa sakitnya karena ulah Vey yang tidak fokus melihat jalanan. Pada akhirnya dengan tidak sengaja Vey menabrak seseorang yang tidak tahu apa apa, karena jalanan waktu malam itu memang sangat lah sepi." Jawab Vey meyakinkan.


"Ya sudah kalau begitu, kamu bisa memijatnya di ruangan istirahat. Katakan pada Paman, apa yang dibutuhkan kamu untuk memijat pinggangnya Dey."


"Minyak khusus untuk mengurut, terus ... bawang merah. Sudah, itu saja Paman." Jawab Vey dan tersenyum manis, namun senyumnya penuh arti yang sulit untuk diartikan.


"Aku tidak menyukai bau bawang merah, ganti yang lain." Ucap Dey menimpali.


"Om Dey mau sembuh atau tidak? hem, kalau tidak mau ya sudah. Aku lepas tangan, karena bawang merah sudah menjadi andalanku untuk memijat." Sahut Vey yang tetap bersikukuh, meski kenyataannya tidak memakai bawang merah pun tidak mengapa.


"Dey, lebih baik kamu nurut saja pada Paman. Yang terpenting pinggang kamu itu segera sembuh, apa kamu lupa dengan tanggal yang sudah ditentukan? hem."


"Iya, Paman." Jawab Dey datar.


'Cih! kenapa meski pakai jurus andalan memojokkan aku, menyebalkan. Semoga saja yang akan menjadi istriku nanti tidak seperti Vey yang super menjengkelkan, bisa bisa mati berdiri aku.' Batin Dey bergidik ngeri saat membayangkan pengantin wanitanya adalah sosok seperti Vey. Perempuan yang super menjengkelkan dan memiliki tenaga super yang kapan saja bisa menendangnya.


"Ya sudah, Paman mau meminta salah satu karyawan untuk mencarikan minyak urut dan juga bawang merahnya. Kalian berdua tetap lah disini, jangan kabur. Kalau sampai kalian berdua kabur, tidak segan segan kalian berdua akan Paman nikahkan, ngerti." Ucap Tuan Zayen sambil memberi ancaman kepada keduanya. Vey maupun Dey sama sama bergidik ngeri mendengar ancaman dari Pamannya.