Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Sebuah permintaan


Rasa lelah yang sudah terbayar dengan istirahat dan tidur panjang, Lunika akhirnya terbangun di jam yang masih sangat pagi. Perasaannya pun berubah menjadi gelisah, tinggal menunggu beberapa jam lagi Lunika akan segera meninggalkan tempat yang dimana sudah membuatnya nyaman.


Putra kesayangannya pun masih terlelap dari tidurnya, Lunika memilih untuk tetap berbaring disebelah putranya. Namun karena merasa bosan dan tidak ada guna, akhirnya Lunika memilih untuk segera bangkit dari tidurnya dan mencari angin lewat balkon. Berharap udara segar dapat menambah kesegaran pada tubuhnya dan memberi energi yang baik.


Dengan menarik napasnya dalam dalam, kemudian ia membuangnya pelan dan disertai gerakan gerakan kecil.


Seketika, ia kembali teringat dengan sosok suami barunya. "Sial! ngapain juga itu orang masih bersemayam di otakku, bikin eneg aja." Umpatnya berdengus kesal.


Karena tidak ingin terus memikirkan lelaki yang sudah menjadi suaminya, Lunika memilih untuk melakukan aktivitasnya seperti biasanya.


Hingga tidak sadarkan diri ketika sudah pagi yang cerah dan ditemani sang mentari yang menghangatkan isi bumi, Lunika akhirnya bersiap siap membersihkan diri. Sedangkan putranya tengah diurus oleh salah satu pelayan yang dipercaya.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya Lunika telah selesai melakukan ritualnya untuk membersihkan diri. Kemudian setelah itu ia mengenakan pakaian pemberian sang suami dikala masih liburan bersama, yakni bersama keluarga.


"Bagaimana ini, apakah aku bisa meninggalkan rumah ini? ah! begitu berat untukku berpisah dengan Mama dan Papa. Bahkan aku sendiri sudah merasa nyaman berada dirumah ini, semoga ini semua hanya mimpi. Aku yakin jika suami masih hidup, dan ini semua hanya mimpiku semata." Gumam Lunika sambil bercermin dan menyisiri rambutnya.


"Permisi Nona," ucap pelayan dengan sangat hati hati. Takut kedatangannya tengah mengagetkannya.


"Iya Mbak, ada apa?" sahut Lunika sambil fokus pada cermin. Kemudian ia menoleh ke sumber suara, tepatnya yang tidak jauh dari pintu.


"Maaf Nona, sekarang Nona sudah ditunggu oleh Tuan dan Nyonya. Kata Beliau, suami baru Nona sudah datang. Jadi, Nona diminta untuk segera turun dan sarapan pagi bersama mereka." Jawabnya menjelaskan.


"Oh, iya Mbak. Katakan saja jika saya akan segera turun." Ucap Lunika dengan perasaan gugup, bahkan kegugupan nya serasa mengulang masa mudanya. Lunika sendiri tidak pernah menyangka jika dirinya sendiri merasa aneh, dan ia serasa masih muda lagi.


Berkali kali Lunika menepuk nepuk kedua pipinya untuk memastikan kebenarannya, ia berharap jika semuanya hanya mimpinya semata.


Dengan malas dan ragu, Lunika seakan ingin mengurung diri dalam kamar. Namun tidak dapat dipungkiri, yang ada dirinya akan membuat kecewa pada ayah dan ibu mertuanya.


Penuh tekad yang bulat, Lunika mencoba untuk meyakinkan diri. Apa yang menjadi keputusan serta pilihannya, Lunika mencoba untuk menerimanya dengan lapang. Meski ada sedikit rasa kecewa, namun rasa kecewanya tidak sebanding dengan kebaikan yang lainnya yang ia terima dari keluarga ayah dan ibu mertua Lunika selama ini.


Sambil menarik napasnya pelan sebelum menuruni anak tangga, Lunika mencoba mengatur pernapasan nya agar dijauhkan dari kegelisahannya.


Penuh hati hati ketika menuruni anak tangga, Lunika terus berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kegugupannya ketika bertemu dan berhadapan dengan suami barunya.


Dan kini, sampailah di ruang makan. Yang dimana suaminya tengah duduk bersama ayah dan ibu mertuanya. Seketika, Lunika terkejut saat mendapat pelayanan dari suaminya yang bernama Rayan. Ingatannya kembali pada suaminya yang selalu memberi perhatiannya apapaun itu, termasuk ketika berada di ruang makan yang selalu menarik kursi dan mempersilahkan sang istri untuk duduk disertai senyum manisnya.


'Apa Mama dan Papa sudah mengajarinya untuk menyerupai suamiku Zicko? benarkah laki laki ini dipaksa untuk menyamakan aktivitas suamiku Zicko? tidak! ini tidak boleh terjadi.' Batin Lunika mencoba mencernanya dengan penuh tanda tanya dalam benak pikirannya.


"Lunika, kenapa kamu melamun? suami kamu sudah berada disebelahmu. Kenapa kamu tidak melayaninya? ayo, ambilkan sarapan paginya." Sang ibu mertuanya pun lagi lagi membuat Lunika serasa membuka kenangan bersama suaminya, yakni Zicko.


'Sebenarnya lelaki ini siapa? kenapa Mama dan Papa bersikap baik dengannya? apakah masih bagian keluarganya? apakah Mama dan Papa yang merencakan jebakan itu agar Lunika mau menikah? aah! kenapa pikiranku serumit ini. Aku yakin, laki laki ini kalau bukan bagian keluarga, pasti lelaki bayaran.' Batin Lunika yang terus berusaha untuk mencari jawaban yang sebenarnya.


"Lunika, bisa bisa nanti sarapan kamu jadi hambar jika kamu cuekin." Ucap sang ibu mertua mengagetkan.


"Eh iya Ma, Lunika sampai lupa." Jawab Lunika dengan malu.


"Ya sudah, habiskan dulu sarapan paginya ditemani suami kamu. Mama dan Papa mau bersiap siap dulu, lagian masih kepagian untuk pulang bersama suami kamu." Ucap sang ayah mertua ikut angkat bicara, seketika Luna tersedak mendengarnya.


"Hem ... tidak perlu se kaget itu juga, kali." Ucap Rayan sambil menyodorkan segelas air minum pada sang istri, Lunika pun segera meraihnya dan meminumnya hingga tandas. Sedangkan Tuan Zayen dan istri justru hanya menahan senyumnya, takut Lunika semakin mencurigainya, pikir ayah dan ibu mertuanya.


"Kamu itu siapa sih! hah? orang bayaran?" sungut Lunika dengan kesal, bahkan ingin rasanya melayangkan sebuah tinjauan untuknya. Lagi lagi Rayan hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Dih! cuman senyum senyum tidak jelas, aku ada permintaan jika kamu mau membawaku pulang ke rumah kamu." Ucap Lunika langsung pada intinya tanpa basa basi.


"Permintaan? memang kamu mempunyai permintaan apa? kebebasan? hem."


"Tidak perlu kebebasan, aku tidak membutuhkan kebebasan darimu. Aku hanya ingin jangan pisahkan aku dengan putraku, titik."


"Siapa juga yang mau memisahkan kamu dengan putramu, aku hanya ingin ... tidak jadi. Karena aku juga ada permintaan untukmu, biar adil." Ucap Rayan yang mencoba mengimbangi ucapan dari sang istri.


"Permintaan? kenapa kamu jadi ikutan meminta permintaan dariku? bukankah kamu sudah mendapat bayaran dari mertuaku? hem."


"Kalau mau, jika tidak mau juga tidak apa apa. Aku kan hanya ingin impas, sama sama untung dan tidak merugikan aku." Ucapnya sambil melirik penuh menggoda, Lunika sendiri hanya menelan ludahnya kasar.


"Terus ... apa permintaan kamu? sudah cepetan katakan, sebelum mertuaku datang."


"Bukan disini jawabannya, aku akan meminta permintaanku setelah sampai di rumahku. Tapi ... dari sekarang juga kamu harus menyetujuinya. Jika tidak, aku tidak akan menyetujui permintaan kamu. Soal bawa anak kamu, setelah permintaanku kamu kabulkan." Sahut Rayan penuh senyum menggoda dari tatapannya.


"Dih, kenapa serumit itu permintaan kamu? benar benar membuatku kesal saja." Lunika pun hanya berdecak kesal.


"Mau atau tidak? aku tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu jawaban darimu."


"Iya ya ya, aku akan menerima permintaanmu. Awas! kalau sampai permintaan kamu itu macam macam."


"Satu macam saja kamu kualahan, kenapa mesti macam macam? aku tidak akan menyulitkanmu. Justru permintaanku sangat mudah untuk kamu lakukan, karena kamu sudah lihai." Ucap Rayan sambil mengedipkan matanya penuh menggoda, Lunika bergidik ngeri melihatnya.