
Suasa kantor kini tidak lagi sunyi, semua tengah disibukkan dengan tugasnya masing masing.
"Vey, ayo cepetan keluar. Semua karyawan sudah siap siap untuk menyambut kedatangan Bos baru, ayo cepetan keluar Vey." Seru sahabatnya memanggil sambil menggedor gedor pintunya.
"Ah! berisik kamu, Yen. Perutku masih mules banget, tau. Mendingan kamu itu ikut menyambut Bos baru bersama yang lainnya, sudah sana pergi. Kamu tidak perlu khawatir, nanti aku akan menyusulmu. Jika Bos besar tanya, kamu jawab aja jika perut aku sedang mules dan lagi di toilet." Sahutnya dari dalam.
"Terserah kamu aja deh, Vey. Aku tidak mau ikut campur jika Bos besar akan marah, dan aku tidak mau ikut ikutan pokoknya." Ucapnya dan segera pergi meninggalkan Vey yang sedang berada di toilet.
Yeni yang sudah dikenal baik oleh Vey, kini ikut berkumpul bersama pekerja yang lainnya. Semua mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan orang yang sangat di segani.
Sedangkan diluaran sana, tepatnya di depan Kantor ada seseorang yang sudah ditunggu tunggunya sedari tadi.
Setelah melepaskan sabuk pengamannya, semua yang ada didalam mobil segera turun.
Dey yang baru saja turun dari mobil, semua yang akan menyambutnya pun tidak dapat dipungkiri jika tidak ada yang tidak terposona melihat penampilan Dey yang sangat memukau dan terlihat sangat tampan dengan postur tubuhnya yang mempesona.
Semua tengah berbisik membicarakan sosok Dey yang benar benar terlihat terpesona. "Wah! dari kejauhan saja sudah terlihat tampan, bagaimana jika berhadapan langsung? benar benar terlihat sempurna dengan penampilannya yang memukau.
" Duh! Vey, kamu lama banget sih. Ayo cepetan kesini, lihatlah Bos baru kita sudah datang." Gumam Yeni sambil celingukan kebelakang sambil mencari keberadaan sosok sahabatnya sendiri.
Selain hebohnya di dalam Kantor, di depan kantor pun terdengar heboh akan kedatangan Dey bersama yang lainya.
"Kak, pinggang Kak Dey masih sakit kah?" tanya Vellyn karena penasaran dengan kondisi sang Kakak yang terlihat tengah menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya.
"Pakai tanya segala kamu ini, ya jelas sakit lah." Sahut Dey sambil memegangi bagian pinggangnya.
"Dey, ayo kita masuk. Dan kamu Vellyn, masuklah lewat jalur darurat." Ajak Paman Zayen pada kedua ponakannya.
"Iya, Paman." Dey dan Vellyn sama sama menganggukkan kepalanya, kemudian keduanya Velly dan sang ayah masuk kedalam dengan arah yang berbeda. Sedangkan Dey dan Tuan Zayen masih berada di dalam mobil.
"Dey, kuatkan pandangan kamu." Ucap sang Paman sedikit meledek keponakannya.
"Hem, maksud Paman pasti seorang perempuan?"
"Tentu saja, didalam sana banyak kaum perempuan yang tengah menantikan kedatangan kamu. Pokoknya kamu harus siap mental, apapun itu." Jawab sang Paman mengingatkan sedikit demi sedikit, agar keponakannya tidak begitu mudah untuk mendapat godaan yang bisa menjatuhkan nama baiknya sendiri.
"Paman, ada ada saja untuk menggoda Dey. Aw! rupanya masih sakit." Sahut Dey, dan kemudian memekik sambil menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya.
"Pinggang kamu masih sakit?" tanya sang Paman sambil mrlepaskan sabuk pengamannya. Sedangkan Dey meringis menahan rasa sakitnya itu sambil melepas sabuk pengamannya.
"Lumayan, Paman."
"Tidak perlu khawatir, aku mempunyai karyawan yang cukup mahir dalam memijat." Ucap sang Paman meyakinkan keponakannya.
Kini, Dey dan Tuan Zayen sudah berdiri didepan pintu masuk. Semua terlihat jelas dari depan gedung Kantor yang cukup menjulang tinggi, jika banyak para karyawan yang tengah berbaris untuk menyambut kedatangan Pimpinan baru.
Begitu juga yang jaraknya cukup jauh dari pintu masuk, ada banyak karyawan yang juga ikut serta dalam penyambutan Bos barunya.
"Yen, mana Bos barunya? hem. Kamu bilang sudah datang, sampai sekarang masih sepi sepi aja."
"Aduh! Vey, telinga kamu apa tidak bisa mendengarkan kah? coba kamu dengarkan, sunyi 'kan? nah! berarti Tuan sedang dalam perjalanan masuk kedalam Kantor ini."
"Ah, iya. Suasana sangat sepi, bahkan hening seperti kuburan. Jadi penasaran, sekeren apa sih Bos baru kita." Jawab Vey sambil menatap lurus ke arah pintu Utama masuk, kemudian mengganti posisinya dengan karyawan yang ada disebelah Yeni sahabatnya.
"Vey, kamu aja sana. Bukankah kamu yang akan menjadi sekretarisnya? nanti di serobot Selwy, udah cepetan maju sana." Ucap Yeni sambil mendorong sahabatnya.
"Ih! apa apaan sih Yen, sudah aku bilang tadi. Aku males nyambut pimpinan perusahaan, aku mau tetap disini aja. Udah dong, kamu jangan memaksaku. Seperti tidak tahu aja sama Bos Besar kita, nanti kalau butuh aku juga bakalan mencariku." Jawab Vey meyakinkan sahabatnya.
"Dih, mentang mentang dekat sama Bos Besar nih. Jadi dengan mudahnya kamu berada di Kantor ini, sebenarnya kamu ada hubungan apaan sih. Sampai sampai baik banget si Bos sama kamu, mana kalau pulang dianter lagi. Jangan jangan kamu ada hubungan spesial ya? soalnya aneh aja kamu itu." Ucap Yeni yang masih menyimpan rasa penasarannya pada sosok sahabatnya sendiri.
"Dih! mau tau aja kamu ini, ada deh. Yang jelas orangtuaku dulunya tetangga sama Bos Zayen, penasaran 'kan? makanya main dong kerumahku." Jawab Vey sambil mengedipkan matanya.
"Genit banget sih kamu, Vey. Sudah, diam aja. Nanti kena sembur baru nyahok kita, Vey." Ucap Yeni yang semakin greget dengan Vey yang selalu menggampangkan sesuatu.
"Diam! semuanya, Bos baru kita sudah berjalan masuk ke ruangan ini." Ucap salah satu karyawan yang menjadi pengarahan.
"Vey, gila! ganteng banget."
"Ah! Norak lu, Yen. Cuman pakai kaca mata hitam gitu kamu bilang keren, aku mah udah bosan ngeliat penampilan cowok kek gitu. Kakakku jauh lebih ganteng darinya, ah norak lu." Ucap Vey yang biasa biasa aja nanggepinnya, sedangkan karyawan perempuan yang lainnya pada heboh dengan sosok Bos barunya yang terlihat jelas dengan postur tubuhnya yang sangat menggoda dan mempesona.
"Wah ... tampan sekali, aku harus bisa dekatinya. Bila perlu aku harus bisa mendapatkannya untuk menjadi milikku."
"Dih, Selwy. Mimpimu tinggi amat, bisa ngaca kaga lu." Ejek Vey yang mendengar temannya bergumam.
"Reseh amat sih! kamu, suka suka aku dong. Emangnya ada yang salah? jika aku mencoba untuk mendekati Bos baru kita. Mendingan kamu urus dulu tuh penampilan kamu itu, norak banget tau."
"Dih! biarin aja, mau penampilanku kek mana pun bukan urusan kamu. Suka suka gua dong, da*sar! nenek lampir."
"Kamu ngatain apa ke gue, nenek lampir lu bilang."
"Kalau iya, kenapa? masalah buat elu." Jawab Vey yang tidak mau kalah.
"Dih! cewek kaya laki sepertimu mending minggir aja deh, bikin mata sepet, tau gak." Ucap Selwy yang tidak mau kalah untuk mengejek Vey.