
Tuan Zayen yang masih mencurigai tentang kematian Putranya, ia segera berjalan menuju kamar mayat.
"Kak, mau kemana?"
"Aku ingin memastikan, apakah benar putraku sudah meninggal. Aku ingin melihatnya langsung, aku sangat penasaran dan ingin memastikannya langsung. Polisi bilang, jika jasad Zicko masih utuh. Bagaimana bisa, Zicko sudah satu minggu tidak ditemukan. Lantas saat ditemukan tidak ada tanda tanda luka di aniaya ataupun yang lainnya, seharusnya jasad Zicko sudah membusuk." Jawab Tuan Zayen yang tiba tiba meragukan kematian putranya.
Disaat itu juga, Seyn pun ikut merasa curiga akan kematian Zicko. "Baiklah, ayo kita lihat sekarang." Sahut Tuan Seyn yang juga merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Tiba tiba Tuan Seyn teringat sebuah ide, disaat itu juga pikirannya memulai menyelidik.
"Tunggu, jangan masuk dulu." Cegah Tuan Seyn.
"Ada apa, Seyn?" tanya Tuan Zayen menghentikan langkah kakinya.
"Kamu Ayahnya, kamu pasti bisa untuk memastikan Zicko asli dan juga palsu. Diingat ingat terlebih dahulu, agar kamu tidak salah untuk memastikan itu Zicko atau bukan." Jawab Tuan Seyn, seketika Tuan Zayen teringat sebuah tanda yang ada pada putranya.
"Iya, aku ingat. Zicko memiliki sebuah tanda luka pada kakinya, lukanya pun tidak pernah diperbolehkan untuk dihilangkan." Ucap Tuan Zayen yang teringat akan sebuah cerita pada putranya disaat remaja, yakni ketika kelulusan sekolah.
"Apakah ada tanda lain yang ada pada Zicko? siapa tahu saja, ada yang masih mengganjal setelah tanda luka pada kaki Zicko."
"Tidak ada, semua bersih. Ayo, kita temui di ruang mayat sebelum jasadnya terbungkus."
"Tunggu, Paman." Seru seorang laki laki yang tengah menghentikan langkah kakinya.
Tuan Zayen pun menoleh ke sumber suara kemudian, laki laki yang tidak asing di ingatannya pun telah menghampirinya.
"Denra?"
"Iya, Paman. Saya ikut turut berduka cita, Paman. Maafkan saya yang baru sempat menemui Paman, karena saya sedang sangat sibuk di Perusahaan. Vey yang sudah mengabarkan ke saya, jika Zicko sudah tidak ada. Dan hari ini juga, Kakek sedang di rawat di rumah sakit karena penyakitnya." Ucap Denra.
"Terima kasih Den, semoga Kakek kamu segera sembuh. Kalau begitu Paman mau masuk ke ruang mayat, sampai jumpa." Sahut Tuan Zayen, kemudian tanpa basa basi segera masuk ke kamar mayat ditemani Tuan Seyn. Sedangkan Tuan Guntara dan Kakek Alfan sedang menunggunya di ruang tunggu. Karena tidak baik untuk memasuki kamar mayat lebih dari dua orang.
Saat berada di kamar mayat, Tuan Zayen dan Tuan Seyn tengah ditemani oleh petugas. Tidak hanya itu, ada salah satu anggota polisi yang juga ikut mendampinginya. Takut, hal yang tidak diinginkan terjadi.
Sampainya di hadapan jasad yang dinyatakan Zicko, dengan pelan Tuan Zayen membuka penutup mayatnya.
Pelan pelan dengan perasaan campur aduk rasanya, sedih, cemas, was was, rasa tidak percaya pun telah menguasai jalan pikirannya.
Seketika, Tuan Zayen maupun Tuan Seyn kaget melihatnya. Tuan Zayen serasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahkan serasa mimpi dan terasa tersambar petir disiang bolong saat melihat wajah pucat pada putranya. Dengan seksama, Tuan Zayen memastikan wajah putranya. Takut, itu hanya halusinasinya yang terbawa dalam bayang bayangannya.
"Benarkah kamu Zicko putraku? aku merasa kamu bukanlah putraku, Papa masih tidak percaya dengan kenyataan ini, jika kamu benar benar telah tiada dalam waktu yang singkat ini." Ucap Tuan Zayen yang masih tidak percaya dengan sosok yang ada dihadapannya adalah putra kesayangannya.
Karena masih belum merasa puas, Tuan Zayen teringat akan pesan dari Tuan Seyn untuk memeriksa bekas luka yang ada pada kaki milik putranya.
Pelan pelan Tuan Zayen kembali membuka bagian kakinya dan mencoba untuk memeriksanya lagi.
Seketika, detak jantungnya tidak dapat dikontrol. Bukan lagi karena jatuh cinta, namun rasa yang tidak bisa dituliskan maupun untuk dijelaskan. Tuan Zayen tertunduk sedih, kini Beliau sudah tidak mampu lagi untuk berkata kata. Kenyataan pahit sepahitnya yang harus diterimanya, dan tidak mungkin untuk dihindarinya.
Begitu juga dengan Tuan Seyn, Beliau ikut bertambah sedih tatkala melihat sebuah kenyataan pahit yang harus diterima.
Karena waktunya sudah tidak bisa untuk berlama lama didalam kamar mayat, Tuan Zayen dan Tuan Seyn diminta untuk segera keluar dan meninggalkan tempat tersebut secepatnya. Dikarenakan sudah waktunya untuk segera dikebumikan. Sebelum diberangkatkan ke pemakaman umum, dilakukannya pengurusan jenazah sesuai agamanya yang dianut. Tuan Zayen beserta keluarganya pun tidak lepas dari jenazah Zicko hingga selesai pengurusannya dari memandikan hingga pada titik akhir.
Dengan tubuh yang lunglai dan tidak mempunyai sebuah harapan lagi, Tuan Zayen tidak lagi bergeming sepatah kata pun.
Sampainya di ruang tunggu bersama Kakek Alfan, Tuan Zayen duduk bersandar dengan tatapan kosongnya. Kakek Alfan mengerti akan perasaan putranya yang kehilangan putra semata wayangnya dan sekaligus putra kesayangannya. Sungguh, benar benar sulit untuk diterimanya. Namun mau bagaimana lagi, tidak ada satupun yang dapat menghindari dari takdir. Semua akan ada masanya masing masing untuk meninggalkan Dunia yang fana.
"Kuatkan hatimu, kamu tidak sepenuhnya kehilangan Zicko. Kamu masih mempunyai cucu laki laki yang akan menjadi pengganti putramu. Niko adalah penerusmu, jangan kamu siksa diri kamu dengan kesedihanmu ini. Tunjukan pada Niko, kamu mampu menjadikan Niko menjadi seseorang yang kuat dan tentunya membanggakan." Ucap Kakek Alfan mencoba untuk menguatkan putranya, meski Kakek Alfan sendiri ikut bersedih dan sangat kehilangan cucunya. Apalagi hanya memiliki seorang Zicko, pastinya sangat terpukul dengan kepergian Zicko yang begitu cepat.
Sebisa mungkin, Tuan Zayen berusaha untuk terlihat kuat dan juga tegar dihadapan yang lainnya.
Setelah cukup lama menunggu jasad Zicko di urus, tidak lama kemudian sudah siap untuk dibawa ke pemakaman umum.
Didalam perjalanan, Tuan Zayen hanya bisa berdiam dan terdiam. Bahkan tatapannya pun kosong dan serasa tidak ada lagi yang bisa dijadikan penyemangat hidupnya.
Sedangkan istri Tuan Zayen masih menyimpan rasa penasaran, ditambah lagi Tuan Viko yang sedari tadi diam dan tidak menjawab pertanyaan dari kakak iparnya. Takut, jika sewaktu waktu bisa keceplosan dengan ucapan yang dapat membuat kakak iparnya jerih pingsan didalam mobil.
Dengan kecepatan yang cukup tinggi, tidak lama kemudian telah sampai di pemakaman umum. Nyonya Afna mendadak shock dan kaget saat mobil yang dinaikinnya berada diarea pemakaman umum.
"Vik, kenapa kita ke pemakaman? ada apa ini? siapa yang meninggal dunia? ayo jelaskan Vik. Kamu jangan mengada ngada Vik, cepat! jelaskan." Bentak Nyonya Afna yang semakin penasaran.
"Nanti Kakak akan tahu sendiri, lebih baik kita ikut diantara orang orang yang sudah berkerumunan disana." Jawab Tuan Viko sambil menunjuk arah yang ditunjukan pada kakak iparnya.