
Karena tidak ada tanggapan dari Lunika, dengan hati hati mencoba untuk memeluknya.
Lunika yang sadar dengan perlakuan dari suaminya, dengan cepat ia segera menyingkirkan tangan milik suaminya.
"Sayang, jangan begitu dong ... aku sangat merindukanmu." Rayu sang suami mencoba untuk meluluhkan hati istrinya lagi.
"Kamu itu bukan suamiku, dan aku tidak mempunyai suami sepertimu, ngerti." Jawab Lunika dengan ketus, sedangkan suaminya justru tersenyum mendengar dan melihat ekspresi sang istri yang masih tidak pernah berubah ketika menunjukkan kekesalannya.
"Terus ... aku suaminya siapa, dong? apa iya, aku suaminya si Anu." goda nya sambil menyikut lengan istrinya. Seketika, Lunika mendadak tajam dengan sorot kedua matanya.
"Bukan urusan ku! mau suaminya si Anu kek, si Una kek, si Ona sekalipun kek, bo*doh amat." Sahut Lunika masih menunjukkan ekspresi kesalnya.
"Sayang, aku ini Zicko! Ze izi ka o ko. Aku suami kamu, sayang. Bukankah kamu sudah mengetahui semuanya? bahkan aku sudah menunjukkan kamu siapa pelakunya yang sebenarnya. Seharusnya kamu mendukung suami kamu ini untuk memberantas orang orang yang sudah menghancurkan rumah tangga kita, bukan membenci suami kamu sendiri." Ucapnya yang terus membujuk.
Sejenak Lunika terdiam, kemudian menoleh kearah sang suami. Dilihatnya memang tidak ada yang berubah sedikitpun dari suaminya, hanya saja wajah palsunya yang membuatnya semakin kesal. Bahkan Lunika harus belajar untuk mencintai suaminya sendiri yang kedua kalinya, dikarenakan wajahnya yang terlihat asing dan terasa mempunyai suami yang baru. Dan pastinya Lunika sedikit tidak nyaman, dan serasa diminta untuk jatuh cinta lagi.
"Lunika, Rayan." Panggil Tuan Seyn yang tidak lagi memanggil keponakannya dengan nama aslinya, Lunika dan suami sama sama menoleh ke sumber suara.
"Iya Paman, ada apa?" tanya keduanya yang lagi lagi bertanya secara bersamaan.
"Kalian berdua itu, dari dulu tidak pernah berubah, selalu kompak. Oh iya, Paman mau pamit pulang. Tidak apa apa kan, jika Paman pulang duluan, ada yang mau ikut?"
"Tidak." Jawab keduanya bersamaan, lagi lagi Tuan Seyn kembali tersenyum saat melihat kedua ponakan yang begitu kompak.
"Kamu!!" sambil berkacak pinggang, Lunika menatap suaminya dengan penuh kekesalan.
"Kalian berdua sudah sama dewasanya, bahkan sudah menjadi orang tua. Seharusnya kalian berdua bisa menerapkan rasa malu kalian, apalagi ada seorang anak." Ucap Tuan Seyn kembali menasehati. Mau bagaimana pun, kedua keponakannya masih membutuhkan nasehat nasehat yang bijak.
Setelah mendengar sebuah nasehat dari Pamannya, Lunika maupun suami langsung menunduk tanpa bergeming.
"Lunika, Rayan, Paman pamit pulang, sampai jumpa lagi di hari esok. Oh iya hampir lupa, Paman hanya ingin mengingatkan saja soal tujuan kalian berdua menikah. Jangan sampai kalian berdua akan menjadi bahan tertawaan oleh orang orang yang tidak menyukai hubungan kalian berdua. Ingat, ada buah hati yang sedang menunggu keharmonisan kalian berdua. Mau bagaimana pun, Niko sangat membutuhkan perhatian kalian berdua dan berada di tengah tengah kalian berdua. Bukan perpisahan atau pun bercerai berai, kasihan Niko. Jika sampai kalian berdua tidak bisa untuk bersama, jangan harap kalian bisa bertemu dengan Niko." Ucap Tuan Seyn sedikit memberi sebuah ancaman, Lunika dan suami masih sama sama diam tanpa menjawabnya.
"Pikir baik baik terlebih dahulu, setelah itu baru memutuskan pilihan kalian berdua. Tapi ingat, Paman sudah memberikan ancaman pada kalian berdua. Jadi, kalian sudah tahu jawabannya, bukan?"
Karena malas menghadapi kedua keponakan yang sama keras kepalanya, akhirnya Tuan Seyn kemudian segera pergi meninggalkan tempat pelatihan ilmu beladiri.
Kini, tinggal lah Lunika dan sang suami yang masih berada di tempat pelatihan tersebut. Karena seperti patung tidak berguna, akhirnya Lunika memilih untuk segera pergi dari tempat tersebut.
"Sayang, tunggu." Dengan cepat, tangan Lunika diraihnya dan ditarik sedikit kuat. Hingga keduanya saling bertatap muka dengan jarak yang sangat dekat.
"Lepaskan, jangan bikin aku malu." Dengan sekuat tenaga, Lunika berusaha untuk melepaskan diri. Namun sayang disayang, tenaga suaminya kini jauh lebih kuat darinya. Bahkan Lunika sendiri sudah tidak mampu untuk melawan tenaga suaminya. Tenaganya benar benar berbeda dengan sosok suaminya yang dulu.
Tanpa pikir panjang, Zicko langsung langsung menggendong istrinya sampai didalam mobil.
"Kita mau kemana? tolong jangan melakukan kekerasan padaku." Tanya Lunika yang sedikit takut dengan tenaga suaminya sendiri, entah kenapa Lunika menilai sosok suaminya yang sekarang memang banyak perubahan dari segi postur tubuhnya yang terlihat semakin berotot.
"Pulang, kita ini pengantin baru. Jadi, dilarang keras untuk keluar rumah." Jawab Zicko sambil mengemudikan mobilnya, Lunika menatapnya sinis.
'Sikap dan kebiasaannya memang tidak pernah berubah, tetapi wajah dan postur tubuh nya yang berubah total. Bayangkan saja, aku harus belajar mengenalinya lagi. Yang jelas aku masih belum bisa memaafkannya, aku masih harus memberi pelajaran untuknya.' Batin Lunika sambil mencari ide.
"Jangan banyak melamun, nanti bisa lupa ingatan. Ditambah lagi kamu belum mengenal suami kamu ini dengan wajah yang baru, tambah sulit nanti jika mau menyembuhkan kamu dari amnesia." Ledek Zicko yang terus mencoba untuk mendekati sang istri.
"Dih! biarin aja, mau lupa ingatan juga tidak apa apa. Bukankah sangat mebgintungkan buat kamu? kenapa mesti menyulitkan kamu. Biarin aja amnesia, biar lupa sekalian sama suamiku Zicko, dan bisa mengenalmu lebih dekat serta jatuh cinta padamu. Bukan kah begitu? hem." Sahut Lunika asal, Zicko hanya mendelik menatap istrinya.
'Duh, bo*doh sekali aku ini. Semakin kepedean aja dianya, sial! sial! jadi merasa bangga dianya, 'kan? duh.' Batin Lunika mengrutuki dirinya sendiri.
"Kamu serius, memilih untuk lupa ingatan? agar kamu bisa menyukai ku." Tanya sang suami, kemudian mengedipkan matanya dengan menggoda. Lunika sendiri bergidik ngeri melihatnya.
Lunika yang sudah punya tekad dari awal, ia sama sekali tidak menerima gurauan dari suaminya. Lunika memilih untuk diam dan kembali menatap lurus ke depan dengan sangat fokus, lagi lagi Zicko menautkan kedua alisnya.
'Aku tidak akan mudah memaafkannya begitu saja, dia harus menerima apa yang selama ini aku lalui. Meski aku mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya, namun perasaanku masih sakit untuk dibohongi.' Batin Lunika yang masih merasa menyimpan kekesalannya terhadap sang suami.
Sedangkan Zicko sedari tadi mencoba mencerna sikap istrinya yang semakin dingin, tetap saja ia tidak mampu untuk menebaknya Namun bagi Zicko tak ada kata menyerah untuk membuat istrinya jatuh cinta lagi dengannya.
'Sekarang aku harus membuatnya mencintaiku lagi? yang benar saja, bagaimana caranya? benar benar lebih sulit dari yang dulu.' Batin Zicko sambil mencari sebuah ide.