Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Permintaan istri


Saat dalam perjalanan pulang, ponselnya pun berbunyi. Segera ia merogoh didalam tasnya, dan dilihatnya ada nama sang istri.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Zicko lewat sambungan telfonnya.


"Buah mangga yang masih segar, terus buah apa lagi, sayang?"


"Bebek bakar, sambal mentahan. Baik lah, aku akan membelikannya untuk kamu. Ya sudah, aku tutup dulu telfonnya." Ucap Zicko, kemudian ia menyudahi sambungan telfonnya.


"Pak Yit, mampir ke toko buah dulu." Perintah Zicko pada supir pribadinya.


"Baik, Tuan." Jawabnya.


Tidak memakan waktu yang cukup lama, Zicko telah sampai di toko buah milik Arnal.


"Pak Yitno tunggu aja disini, tidak usah ikutan keluar." Ucap Zicko yang malas untuk dikawal.


"Iya, Tuan." Jawabnya.


Tanpa ada rasa benci ataupun kesal, Zicko tetap bersikap baik pada Arnal mantan kekasih istrinya sendiri.


"Arnal, aku mau beli buahnya." Panggil Zicko.


"Buah, buah apa?" tanya Arnal yang masih merasa canggung bila berhadapan dengan mantan Bosnya. Lebih lebih lagi sudah menjadi suami mantan kekasihnya dulu.


"Buah Mangga yang masih segar, sekitar 5 kg. Terus ... wah .. ini buah jambu, ya?"


"Iya, itu buah jambu madu deli. Rasanya sangat manis, warnanya pun cantik." Sahut Arnal sambil mengambilkan kardus khusus untuk buah.


"Wah, sepertinya sangat menggoda, aku beli 5 kg untuk warna yang merah, warna yang hijau pun 5 kg juga."


"Baik lah, tunggu sebentar."


"Ternyata tidak membosankan, ya. Aku kira kerja seperti membosankan, rupanya lebih bosan berada dalam gedung. Disini bisa menikmati orang orang yang lalu lalang kesana kemari, apa lagi ada konsumen datang."


"Tapi tidak serapih kamu penampilannya, sepertiku ini akan selalu dipandang rendah. Harus siap mental dari orang orang yang tidak suka dengan pekerjaan seperti ini." Sahut Arnal sambil menimbang buah.


"Tidak juga, justru lebih beresiko kerja Kantoran. Lawannya tidak main main, terkadang nyawa diri sendiri atau nyawa keluarga sendiri yang akan menjadi taruhannya." Ucap Zicko yang teringat akan perjuangan keluarganya, hingga harus berpisah dengan orang yang dicintainya. Bahkan bayi yang baru lahir saja harus menerima resikonya.


"Maaf, karena kami hanya memandangnya dengan pendapat yang tidak mengetahui di balik kerja kerasnya seseorang yang tengah berjaya." Jawab Arnal.


"Oh iya Arnal, apa kamu tidak ingin bekerja lagi di Kantoran? Sayang loh dengan kepandaian kamu dalam bekerja. Bagaimana kalau kamu kembali masuk ke Perusahaanku lagi. Kebetulan setelah anakku lahir dalam usia bebrapa bulan, aku akan tinggal di Amerika beberapa waktu. Aku percaya sama kamu, bahwa kamu sangat disiplin dan dapat dipercaya. " Ucap Zicko mencoba merayunya.


"Maaf, aku belum bisa. Aku tidak ingin akan ada gosip yang tidak baik untuk didengar. Sekarang ini aku sudah merasa nyaman dengan pekerjaanku, walaupun hanya sebagai penjual buah sekalipun." Jawab Arnal dengan sangat hati hati, takut akan melukai perasaan Zicko.


"Tekadmu benar benar sudah bulat, aku tidak berani untuk memaksamu. Jika kamu ingin bekerja di Kantoran, aku siap menerima kamu." Ucap Zicko yang masih tetap memberi peluang pada Arnal, mantan sekretarisnya.


"Ini buahnya, semoga rasanya tidak mengecewakan." Ucap Arnal.


"Berapa semuanya,"


"Jangan mentang mentang kamu mengenalku, kamu memberi harga murah untukku. Ini, aku bayar sesuai harga pasaran. Sisanya untuk kamu, jangan menolak." Ucap Zicko dengan tegas.


"Tidak apa apa, sekali kali aku memberikan harga murah untuk kamu. Aku masih dapat untung kok, serius."


"Aku tidak suka dengan sesuatu menolak pemberian, terimalah." Ucap Zicko yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


"Baik lah, aku akan menerimanya. Terima kasih, lain kali juga jangan menolak harga murah dariku." Jawab Arnal, Zicko pun mengangguk dan tersenyum.


"Kalau begitu, aku pamit pulang. Aku harus membeli bebek bakar kesukaan istriku, semoga dagangan kamu semakin laris. Sampai ketemu lagi, Arnal." Ucap Zicko, disaat itu juga kenangan Arnal kembali terlintas dengan masa lalunya dengan mantan kekasihnya.


"Aku hanya bisa mendoakan, semoga kalian berdua selalu bahagia dengan sempurna. Dan ... aku berharap aku pun bisa membuka lembaran baru, entah siapa yang akan menjadi bagian hidupku." Gumamnya sambil memperhatikan Zicko sampai masuk kedalam mobilnya.


"Hai Bro, ngelamun aja. Tuh banyak orang yang mau beli buah kamu." Ucap seseorang yang tengah mengagetkannya.


"Eh iya, terima kasih Bang, sudah mengingatkan." Sahut Arnal yang baru tersadar dari lamunannya.


Sedangkan didalam perjalanan pulang, Zicko kembali teringat disaat ingin mendapatkan cinta dari istrinya.


"Tuan, kita sudah sampai." Ucap pak Yitno membuyarkan lamunan Tuannya.


"Ah iya, saya sampai lupa. Oh iya Pak, barang belanjaan di bagasi, jangan lupa untuk dibawa ke Dapur. Jika Bapak kesusahan, Pak Yitno bisa meminta tolong dengan pelayan lainnya." Ucap Zicko memberi perintah pada supirnya.


"Baik, Tuan." Jawab pak Yitno, Zicko pun segera masuk ke rumah dengan membawa bebek bakar sesuai permintaan istrinya.


"Sayang, aku pulang." Seru Zicko memanggil istrinya sambil berjalan menuju ruang makan.


"Zicko, kebiasaan deh kamu. Panggil istri kok sambil berjalan, temui dulu dikamarnya. Tidak baik untuk didengar, ada kedua orang tua istri kamu serta kakek Dana dan istrinya." Sahut sang ibu menimpali, Zicko menatap ibunya serasa tidak percaya jika keluarga istrinya sudah berada di rumahnya. Zicko hanya tersenyum malu pada ibunya.


"Ini Ma, bebek bakar sesuai pesanan Lunika. Katanya meminta bebek bakar 10 porsi. Kalau buah mangga segarnya ada di dapur, tadi Zicko meminta pak Yitno untuk membawanya ke dapur." Ucap Zicko sambil menyerahkan bebek bakarnya.


Setelah itu, Zicko segera menemui keluarga istrinya yang tengah berada di ruang keluarga.


"Papa, Mama, Kakek Dana, Ibu, apa kabarnya?" sapa Zicko dengan senyumnya yang ramah. Kemudian mencium punggung tangan dengan santun secara bergantian. Setelah itu, Zicko ikut duduk bersama ayah mertuanya dan yang lainnya.


"Kabar kita semua baik baik saja, kamu sendiri? kenapa kamu jarang datang ke rumah? apa Lunika masih merasakan keram pada kakinya?" tanya sang ibu asuh Lunika, yang tidak lain istri dari kakek Dana.


"Kabar Zicko baik baik saja, Bu. Seperti yang Ibu lihat, hanya saja Lunika yang sering kambuh pada area kedua kakinya yang bengkak akibat perutnya yang semakin membesar." Jawab Zicko menjelaskan.


"Jangan jangan anak yang di kandung istri kamu, kembar. Sudahlah, jujur saja pada Mama. Kenapa kamu selalu mengelak jika diberi pertanyaan soal anak kamu? bahkan jenis kelaminnya." Sahut Ibu mertua ikut menimpali, Zicko sendiri tersenyum mendengarnya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tiba tiba Zicko dikagetkan sang istri yang rupanya sudah keluar dari kamar.


"Sayang, baru aja aku mau masuk ke kamar. Oh iya, tadi aku membelikan kamu bebek bakar dan juga mangga segar. Tidak hanya itu, aku juga membeli jambu madu." Ucap Zicko pada istrinya.


"Terima kasih, sayang." Jawab Lunika dengan senyumnya yang mengembang.