
Pintunya pun sudah terbuka, akhirnya Lunika mengikuti sang suami masuk ke dalam ruangan kecil namun sangat privat bagi suaminya.
Lunika menatap isi didalam ruangan tersebut tidak ada apa apa yang membuatnya curiga, semua aman aman saja dan tidak ada senjata api maupun senjata tajam yang tergeletak, pikirnya.
Lunika masih terus mengamati isi dalam ruangan tersebut, ia takut tiba tiba dikagetkan sesuatu yang bisa saja akan melukai dirinya sendiri.
"Duduklah, aku menunjukkan sesuatu padamu. Tapi bukan sebuah benda yang dijadikan bukti untuk menjelaskan semuanya padamu." Perintahnya dengan tatapan yang begitu serius, Lunika hanya mengangguk.
Setelah membuat sang istri sudah yakin, Raya membuka sebuah laptopnya sekilas melihat istriny. Kemudian ia menyalakan laptopnya dan memulai fokus deng layar pintarnya.
Cukup lama Rayan mencari sebuah rekaman CCTV maupun rekaman Video yang mana akan ditunjukkan pada istrinya yang terlihat semakin penasaran.
Rasa takut itu pasti itu ada pada diri Rayan, yang mana dirinya juga harus siap mental untuk menerima reaksi dari sang istri.
Karena tidak ingin membuat istrinya lama menunggu, Rayan segera mengurutkan video video secara teratur. Supaya ketika sudah selesai dapat melanjutkan putaran video yanh berikutnya.
Setelah mendapatkan video yang cukup jelas untuk menjelaskan pada istrinya, Rayan memutar video tersebut dihadapan istrinya.
"Ingat, kondisikan mentalmu. Aku berharap sikap terkejutnya kamu hadapi dengan tenang, luaskan pikiran kamu juga. Jangan sampai kamu menelan isi dalam video tersebut secara mentah mentah tanpa kamu pikirkan dan di saring terlebih dahulu." Ucap sang suami mengingatkan sang istri terlebih dahulu sebelum salah tanggap ketika mendengarnya sendiri.
Pelan pelan, video yang diputar mulai menunjukkan durasinya. Lunika begitu serius melihat Video tersebut tanpa ada yang dilewatkan, sedangkan sang suami tetap dengan posisinya duduk dengan tenang sambil memperhatikan istrinya yang sedang fokus pada layar pintar milik suaminya untuk melihat sesuatu yang ditunjukkannya.
Dengan sangat serius, Lunika tidak bergeming sedikitpun.
Video semakin lama durasinya, Lunika masih bersikap biasa biasa saja. Kini berganti lah ke video selanjutnya yang sudah diputar secara otomatis, Lunika pun mulai serius kembali melihat Video tersebut.
Namun kini Lunika mulai menunjukkan reaksi yang membuatnya cukup tercengang tidak percaya, bahkan ia benar benar terkejut melihatnya. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam benaknya, kini pikirannya mulai kemana mana arahnya. Lunika benar benar tidak menyangkanya, sungguh di luar dugaannya selama ini.
Seketika, Lunika tercengang saat melihat serta mendengar isi dalam video tersebut yang terdengar begitu sangat jelas. Bahkan gambar videonya nyaris tidak ada kecacatan apapun, benar benar sangat jelas dan membuatnya seperti tidak percaya.
Lunika mulai menunjukkan ekspresinya, ia terkejut dan membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya. Setelah itu, Lunika menatap tajam pada suaminya.
Bukan sikap tenang atau bahagia, atau yang lainnya, justru raut wajah Lunika mendadak penuh tanda tanya untuk menebaknya.
Rayan berusaha untuk tetap tenang, meski didalam pikirannya menyimpan sejuta kekhawatiran yang cukup luas. Sebelum sang istri yang memulai untuk bicara, Rayan akan tetap bersikap tenang.
BRAK!!!!!
"Kau! kau bukan suamiku yang penuh kejujuran." Tuduh Lunika sambil menunjuk kearah suaminya penuh kekesalan, bahkan kebenciannya mulai terlihat. Sikap lembutnya kini mulai berubah tatkala dirinya merasa dibohongi. Seakan dirinya dijadikan ajang uji coba perasaan.
Rayan yang merasa dituduh oleh istrinya, ia hanya bisa untuk berdiam diri. Ia sengaja diam, agar sang istri dapat meluapkan segala emosinya tanpa dirinya harus membela diri.
"Kau! benar benar bukan suamiku yang aku kenal, kau! tidak lain bagian orang jahat yang tidak bisa membedakan akibatnya. Aku muak melihat video yang kamu tunjukkan itu padaku, aku jijik melihatnya. Sekarang juga, jangan kau anggap aku ini istri sah kamu. Dan Niko, dia adalah anakku! bukan anakmu." Ucap Lunika penuh dengan amarah yang memuncak, bahkan kebenciannya semakin dalam saat ia merasa dibohongi begitu lamanya. Lunika yang merasa terasa muak, ia segera angkat kaki dari ruangan tersebut.
Namun naas, sampainya didepan pintu, Lunika tidak bisa membukanya. Rupanya selain menggunakan kunci biasa, pintu tersebut menggunakan kode.
"Sial!" umpatnya sambil memukul pintunya.
"Sayang, tolong dengarkan penjelasanku dulu. Aku Zicko! Zicko suami kamu yang tidak pernah berubah, aku melakukan ini ada alasannya." Pinta sang suami membujuk istrinya.
Dengan terpaksa, Lunika menoleh kearah suaminya yang mulai mendekatinya.
"Penjelasan yang bagaimana? hah! penjelasan jika kamu adalah lelaki hebat, begitu maksud kamu? menjijikkan." Sahut Lunika yang masih menyimpan rasa kekesalannya.
"Bukan begitu maksud aku, sayang. Tolong dengarkan dulu penjelasanku, kamu tidak akan mengerti dengan kondisiku saat itu." Ucap sang suami, sedangkan Lunika tengah memikirkan kode apa yang kiranya pas untuk membuka pintu ruangan tersebut..
Dengan ingatannya yang sangat tajam, Lunika teringat akan tanggal pernikahannya. Dengan cepat, Lunika menekan tombol angka teesrnit dengan cepat kilat. Sedangkan suaminya mengira jika Lunika akan salah menekan tombolnya, namun naas, justru Lunika begitu lihai melakukannya.
"Berhasil." Gumam Lunika penuh kemenangan, dan ia langsung membuka pintunya.
"Sayang! tunggu! jangan pergi, diluaran sana sangat bahaya untuk keselamatan kamu." Teriak sang suami sambil mengejar istrinya dengan kecemasan. Takut, jika musuhnya dengan sigap mencelakai istrinya.
Lunika masih terus berlari dengan kencang sekuat tenaganya dan begitu remuk hatinya ketika mendapati sebuah jawaban yang begitu menyakiti hatinya. Rasa kecewanya pun tidak mampu menerima suaminya dengan hati yang lapang.
Tidak dapat dipungkiri, sekian lamanya berusaha berjuang tanpa seorang suami demi membesarkan buah hatinya. Begitu sakit, sangat sakit yang Lunika rasakan saat ini ini. Yang diinginkannya hanyalah ketenangan, bukan untuk memikirkan hal yang membuatnya lemah dan tidak mampu untuk menerima sebuah kenyataan. Entah kemana larinya, ia hanya mencari tempat yang menurutnya sangat nyaman dan mampu membuatnya tenang.
Sedangkan dijalanan, sang suami masih terus terusan mencari keberadaan sang istri yang entah kemana perginya. Karena takut jika istrinya akan ditemukan oleh musuhnya, dengan cepat kilat ia merogoh saku celananya untuk mengambil sebuah ponsel. Kemudian, ia langsung menghubungi beberapa anak buahnya untuk mencari sang istri kemana perginya. Tidak hanya itu, ia juga segera menghubungi orang tuanya untuk mengabarkan pada seluruh anggota keluarganya bahwa istrinya telah pergi entah kemana.
Prustasi, seperti itulah gambaran yang sedang dirasakannya. Berulang ulang mengacak acak rambutnya, kemudian ia menendang sebuah botol minuman dan melayang entah mengenai siapa orangnya.
Sedangkan di tempat lain, kini tengah tertawa puas ketika mendengar kabar seorang Lunika tengah kabur dari suaminya. Peluang emas telah didapatkannya, pikirnya dengan penuh kemenangan.
Setelah cukup lama, akhirnya seorang kepercayaannya kini mendatanginya untuk memberi sebuah kabar untuknya.