
"Ular ..." Teriak Lunika dengan histeris saat mendapati ular yang mengarah pada dirinya. Dengan reflek, Lunika berlari sekencang mungkin untuk keselamatannya.
"Sayang!! tunggu!" Teriak Zicko memanggil istrinya sambil mengejar kemana perginya sang istri. Begitu juga dengan satu anak buahnya yang ikutan mengejar istri Tuan nya.
"Nona!! Tunggu! berdiamlah dengan tenang."
BRUG!!!
"Aw!!" Pekik Lunika saat menabrak seseorang. Disaat itu juga Lunika mendongakkan pandangannya, betapa terkejutnya saat mengetahui siapa yang ada dihadapannya itu.
Cepat kilat, mulut Lunika disumpal dengan sebuah kain dan kedua tangannya telah diikatnya kebelakang.
Zicko yang melihatnya pun semakin geram dibuatnya. Kekesalan serta kebencian kini telah menjadi satu, bahkan ingin rasanya untuk bermain dengan pelatuk andalannya. Senyuman yang menyeringai terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya.
"Bagaimana? puas! bukan? rupanya kau sudah mengetahui keberadaan ku, bagus! bagus! sekali. Jadi, aku tidak repot repot mendatangi mu. Dengan mudahnya kalian mendatangi tempat ini, sangat bagus."
Zicko yang mendengarnya pun sudah tidak sanggup untuk menahan kesabarannya, ingin rasanya melenyapkan orang orang yang selama ini sudah menyakiti keluarganya.
"seret! perempuan ini dan bawa masuk ke dalam." Perintahnya, kemudian mendorong Lunika hingga terpental. Setelah itu atas perintah Bos nya, akhirnya Lunika dibawa masuk ke dalam Mansion lama untuk menjadi tahanannya.
Zicko yang melihat istrinya diperlakukan kasar, segera ia mengeluarkan salah satu pistolnya dari balik punggungnya.
"Kau! benar benar bia*dab, aku pastikan peluru ini akan menembus di Otak busuk! mu! itu." Sambil menodongkan sebuah pistol tepat dihadapan musuhnya, Zicko menatapnya penuh kebencian serta amarah yang sudah memuncak.
PROK! PROK! PROK!
Sebuah tepukan tangan tengah mengganggu konsentrasi Zicko yang hampir saja akan melayangkan peluru hingga tembus ke belakang.
"Rupanya kau masih hidup, Zicko? aku pun yakin jika kau belum lah mati dengan sia sia. Apakah kamu tidak penasaran dengan dua orang didalam sana?"
Seketika, Zicko mengalihkan pandangan ke Mansion lama. Yang dimana sang istri dibawanya masuk secara kasar dan juga main tarik dan menyeretnya.
"Katakan padaku, siapa orangnya yang sudah kamu sandra di dalam Mansion lama itu. Apa perlu aku paksakan peluru ini akan tembus di kepala mu."
"Jangan terburu buru untuk membunuhku, karena kau bakal menyesal nantinya."
"Cepat! katakan padaku, siapa orang nya yang sudah kau sandra."
"Pengawal! bawa laki laki tidak berguna ini untuk masuk ke dalam Mansion." Perintahnya, kemudian Zicko dan satu anak buahnya diarahkan ke tempat yang dimana istri dan orang yang dirahasiakan dalam tahanan nya.
Dengan hati yang penuh rasa penasaran, Zicko ditemani satu anak buahnya untuk masuk ke dalam Mansion dikawal oleh seorang yang sudah dipercaya untuk melakukan penjagaan dengan sangat ketat.
Dengan penuh amarah serta emosi yang sudah memuncak, sambil berjalan dan mengamati disekilingnya, Zicko tetap pada satu tujuannya. Menyelamatkan sang istri dari tahanan orang yang tidak lain adalah seorang yang sudah mencelakainya.
"Arnal!" sebut Zicko dan pandangannya mengarah ke dua orang perempuan yang rupanya tidak ada kata tobat.
Lunika yang tidak dapat berkutik, ia hanya bisa pasrah. Namun seenggaknya, Lunika berpikir untuk mencari cara agar dirinya bisa terlepas dari kejahatan yang tidak bertanggung jawab itu.
Dengan cepat kilat, seorang Seril sudah berada didekat Lunika. Bahkan, bibir pistolnya kini sudah menempel di bagian bawah dagu miliknya. Sedangkan kedua tangannya masih terikat dibelakang.
"Lihat lah istri kamu ini, sangat menyedihkan, bukan? sungguh sangat menyedihkan. Apalagi jika sebuah peluru ini tembus di kepalanya, kau! akan menangis histeris ketika istrimu lenyap di tanganku."
Tanpa pikir panjang karena sudah geram saat melihat istrinya diperlakukan buruk, Zicko langsung mengarahkan bibir pistolnya tepat pada salah satu perempuan yang sudah membuatnya murka.
Dengan kuat, Zicko menekan sebuah pelatuk dan berjalan mendekat. Pandangannya fokus pada seseorang yang sudah diarahkan dengan bibir pistolnya.
Karena yang dihadapi kini tidak kalah jauh lihainya, Seril akhirnya mengambil salah satu pistolnya. Hingga kedua tangannya kini tengah menggunakan pistolnya. Yang satu mengarah pada Lunika, dan yang satunya tengah mengarah ke arah Zicko. Tinggal menghempaskan pelatuknya, sebuah peluru telah melayang ke suatu yang di incar nya.
Begitu juga dengan Zicko, dirinya pun ikut mengeluarkan satu pistolnya lagi yang diarahkan nya pada Jennyta. Kemudian, dengan fokus sepasang matanya Zicko ikut mengawasi seseorang yang sudah ia curigai.
Tidak hanya itu, satu anak buahnya yang ikut dengan Zicko, ia pun ikut berjaga jaga di belakang Tuan nya. Kedua tangannya pun ikut bermain dengan kedua pistolnya, kemudian mengarahkan bibir pistolnya ke arah seseorang yang ia jaga keselamatannya.
PROK! PROK! PROK!
Sebuah tepuk tangan tengah mengganggu indra pendengaran milik Zicko. Disaat itu juga, pandangan Zicko berubah penuh amarah dan kebencian yang berlipat ganda.
Dendam, sebuah dendam yang sudah seperti kutukan. Yang dimana sebuah dendam yang tidak pernah ada hentinya, bahkan sudah entah keberapa turunan. Dan kini Zicko harus mengulangi nya lagi di kesekian kalinya.
"Kau! menatang ku, Zicko. Menyerah lah, dan serahkan istrimu pada ku. Bukan kah kau sudah mendapatkan penerusmu? ayolah berbagi denganku." Ucapnya menantang, Zicko yang mendengarnya pun sudah habis kesabarannya. Apa lagi mengenai seorang istri yang di cintainya, Zicko tidak segan segan untuk menghabisinya.
"Kau! benar benar licik, kau pasti sudah menghasut Seril dan Jennyta untuk menjadi jembatan cara licikmu dan rencana untuk menghancurkan keluargaku. Sayangnya, kau dibutakan dengan perasaanmu sendiri. Arnal lebih terhormat dari pada kau! rupanya." Zicko yang tidak lagi tahan dengan emosinya, segera ia mendekati seseorang yang sudah dibutakan dengan keangkuhannya.
"Lepaskan istriku dan Arnal, sekarang juga. Atau ... kau akan berakhir di balik jeruji besi, atau ... aku pastikan tinggal namamu saja yang masih tertinggal di Mansion ini."
Senyum menyeringai tengah terlihat jelas pada kedua sudut bibirnya, ia pun tidak mau kalah untuk menggunakan senjatanya.
"Kau pikir, kau bisa menyelamatkan istrimu. Lihat lah, kau hanya segelintir orang. Sedangkan dua orang sudah aku tahan, yakni istrimu dan Arnal orang kepercayaan mu. Siap siap kau akan kehilangan istrimu dan orang yang sudah menyelamatkan mu."
"Bede*bah! kau Denra!"
Senyum menyeringai bisa ditunjukkan didepan Zicko. Sedangkan Zicko mulai geram dan ingin segera melenyapkan nya.
"Ayo! lakukan apa yang bisa kau lakukan padaku, Zicko. Kau pikir aku ini bodoh untuk mengantarkan nyawaku padamu, tidak! Zicko. Yang ada, kau akan mati sia sia di hadapanku." Denra yang hatinya sudah dibutakan dengan kebencian, ia tetap bersikukuh atas pendiriannya.
Entah kebencian apa yang membuatnya begitu benci pada seorang Zicko, mungkin kah masa lalu kedua orang tuanya? atau yang lainnya? atau yang berhubungan dengan hak waris. Atau yang jelas jelas cintanya yang tidak terbalaskan. Semakin berdiam lama, Zicko kembali mengingatnya lagi.