Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Merasa kesal


Sambil memikirkan sesuatu, Daka masih sibuk dengan pekerjaannya. Secepat mungkin Daka segera menyelesaikan pekerjaannya. Diperhatikan nya sang adik yang tengah sibuk dengan tugas yang diberikan nya, Daka segera bangkit dari posisinya dan mendekati sang adik.


"Tidak kesulitan, 'kan?" tanya Daka sambil memeriksa tugas yang diberikannya itu.


"Tidak, cuman menyalin aja. Eh sudah jam istirahat ya, Kak?" jawabnya dan balik bertanya.


"Belum, sebentar lagi. Selesaikan dulu pekerjaan kamu itu, baru kita makan siang." Jawab Daka dengan datar, Kalla sendiri hanya mengerucutkan bibirnya dengan lirikan matanya yang sinis.


"Punya Kakak perhitungannya pakai kebangetan." Ucap Kalla menggerutu.


"Apa kamu bilang? hem, cepat selesaikan dulu pekerjaan kamu itu. Kalau sudah selesai bilang aja sama Kakak, ngerti." Kata Daka layaknya Bos dan bawahan, tidak ada senda gurau atau kebebasan. Pekerjaan tetap lah pekerjaan, keluarga tetap lah keluarga. Apapun yang diucapkan oleh seorang Daka adalah tergantung situasi dan posisi tempatnya.


Daka tetap menggunakan caranya sendiri u tuk menghargai waktu, apapun dan dimana pun. Karena kedisiplinan nya, ia sendiri rela untuk tidak pernah menjenguk keadaan Enja yang lumayan cukup lama tidak memberi kabar. Sedangkan Daka tengah sibuk dengan pekerjaannya yang harus segera ditangani. Semata mata yang dilakukan Daka adalah untuk menjadi orang yang disiplin dan prifesional.


Setelah selesai dengan pekerjaan nya, akhirnya Kalla tersenyum lega dan penuh kemenangan. Dengan senyumnya yang sumringah dan berbinar, membuat Kalla merasa puas dengN pekerjaan barunya.


"Akhirnya, aku berhasil menyelesaikan pekerjaanku. Jadi sudah tidak sabar ingin makan siang, efek banyak tugas dan pikiran.


"Kak Daka, tugas aku sudah selesai. Bagaimana kalau aku beristirahat dan pergi ke Kantin, lapar." Kata Kalla penuh harap sambil memegangi perutnya yang tengah merasa lapar.


"Sebentar lagi, tugasku nanggung jika harus di tutup." Jawab Daka tanpa menoleh kearah sangat adik.


Kalla yang mendapatkan jawaban dari sang Kakak pun kembali lagi la tempat duduknya. Karena arti sebuah menunggu itu sangat membosankan, akhirnya Kalla memilih untuk menyibukkan diri dengan benda pipihnya. Ali alih untuk bermain sosial media agar tingkat kejenuhannya dapat terobati.


Daka yang hampir saja selesai, ia masih tetap berada didepan layar pintarnya. Tanpa Daka sadari jika dirinya berulang kali tengah menguap karena rasa capek maupun kantuk telah menjadi satu sisi.


Kalla yang tengah asik dengan permainan sebuah game nya, tanpa ia sadari sang kakak sudah berada didekatnya ikut melihat sebuah permaian lewat game online.


"Sudah kenyang makannya? maksudku makan game nya?" tanya Daka mengagetkan Kalla yang sedang fokus dengan permainannya.


"Apa!! Kak Daka sudah selesai? kenapa baru bilang sekarang? hem. Bikin jantungan aja, untung saja masih bisa di rem jantungan nya." Ucap Kalla dengan reflek.


"Buruan, jangan banyak drama." Kata Daka kemudian ia segera keluar dari ruang kerjanya. Sedangkan Kalla masih dengan sikap manjanya seorang adik perempuan pada kakak laki lakinya. Kalla tidak peduli sedingin apa sangat Kakak dan sejutek apapun, bahkan sekeras apapun itu. Kalla tetap layaknya gadis manja saat berada bersama sang kakak.


Tanpa rasa malu malu, Kalla melingkarkan tangannya pada lengan sang kakak jika dilihat sudah seperti pasangan kekasih.


Semua karyawan kembali berbisik untuk membicarakan sosok Kalla saat begitu dekat dengan kakak laki lakinya.


"Wah, pastinya menang banyak itu pacarnya. Udah ganteng, tajir, lagi. Siapa coba yang tidak mau, kita mah mimpi untuk dapatkan cowok tajir plus ganteng." Kata salah satu karyawan ketika membicarakan sosok Bos nya yang bernama Daka.


Daka yang mendengarnya pun sedikit pun tidak meresponnya, begitu juga dengan Kalla. Keduanya tetap acuh pada semua karyawannya.


Sampai di Kantin khusus Daka dan seorang sekretaris, Daka dan Kalla segera duduk ditempat duduk nya masing masing.


"Makan dulu, bukan kah kamu tadi bilang sudah lapar? hem."


"Iya sih, tapi apa salahnya jika kak Daka bercerita gitu. Lagian juga pesanannya belum datang, cerita sedikit tidak apa apa, 'kan? ok."


"Sekretaris Kakak mengalami kecelakaan, dan sejak itu juga dia berhenti bekerja." Jawab Daka sambil meletakkan sebuah benda pipih dipojok mejanya.


"Kecelakaan? kasihan sekali, perempuan atau laki laki Kak? terus apakah sudah lama kecelakaannya?" tanya Kalla memberondong banyak pertanyaan sudah seperti ibu ibu yang suka bergosip.


"Diam lah, kita makan dulu. Nanti Kakak akan jawab lagi pertanyaan kamu itu, Kakak sudah lapar." Ucap Dey yang paling tidak suka untuk mengobrol dan membicarakan orang lain.


Demi mendapatkan informasi yang akurat dan bisa dijadikan berita untuknya, Kalla memilih untuk nurut dengan apa yang dikatakan sang Kakak.


'Kenapa Kak Daka menjadi misterius kek gini ya? sepertinya ada bau bau cerita yang mengharu biru deh, jadi penasaran.' Batin Kalla penuh dengan rasa penasaran.


Hening, ruangan yang hanya dihuni Daka dan Kalla kini tidak lagi seperti dulu yang ada tawa yang riuh penuh gurauan, kini seketika menjadi hening.


Dengan sangat jeli, Kalla sedari tadi menikmati makan siangnya sambil memperhatikan sang kakak.


Karena sudah tidak sabar ingin memberikan pertanyaan untuk sang Kakak, Kalla cepat cepat menyelesaikan makan siangnya. Cukup kilat, akhirnya Kalla dapat menghabiskan makanannya.


Dirasa sudah kenyang, Kalla segera mengelap mulutnya dengan tissue. Begitu juga dengan Daka yang sama halnya seperti sang adik.


"Kak, katanya tadi nunggu selesai makan. Aku ingin bertanya lagi soal pertanyaan yang aku berikan tadi ke Kak Daka, bagaimana ceritanya Kak?"


"Kamu ini, benar benar udah kek jadi ratu penggosip. Baru aja nelan makanan, sudah dipaksa untuk bergosip ria. Sabaran dikit, kenapa, hem."


"Iya iya, habisnya bikin penasaran aja deh."


"Kamu ingin tahu siapa sekretaris Kakak?" tanya Daka sambil menghidupkan kembali ponselnya, takut tiba tiba ada yang menghubunginya.


"Harus bilang berapa kali, coba. Ya iya lah ingin tahu, cewek apa cowok? dan kondisinya seperti apa? dimana sekarang? ada biaya ansuransinya atau tidak?" lagi lagi Kalla memberondong pertanyaan yang begitu padat dan memusingkan kepala yang diberi pertanyaan darinya.


"Sekretaris Kakak namanya ... Enja, puas sekarang?"


Seketika, Kalla mendadak terkejut saat mendengar jawaban dari sang Kakak. Sungguh benar benar tidak ia sangkakan, jika yang pernah menjadi sekretarisnya yakni perempuan yang belum lama ia temui. Perempuan yang dari keterbatasannya, dan mengalami kebutaan.


Disaat itu juga, hati Kalla terasa panas mendengarnya. Rasa sakit yang seharusnya dirasakan Enja, kini Kalla ikut merasakannya. Betapa teganya seorang Daka yang terbilang kaya raya dan mampu melakukan uji coba untuk menyembuhkan nya, sedikitpun tidak ada tindakan darinya.


Tatapan Kalla tiba tiba berubah menjadi tajam, terlihat jelas jika Kalla tengah kesal dan juga geram.