Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Pijatan


Di tempat lain, tepatnya di kediaman tuan Viko. Dey masih malas malasan untuk beranjak bangun dari tempat tidurnya.


"Kak Dey, woi! bangun." Tidur aja kerjaannya, noh! udah siang. Meringkuk kok sama guling, meringkuk tuh sama bini."


"Ah! crewet elu Vell!!"


BUG!


Sebuah bantal melayang tepat pada sang adik yang tengah mengganggu tidurnya. Velly pun langsung melemparkannya kembali kepada kakaknya.


BUG!


Vellyn pun berhasil mendaratkan sebuah bantal kearah sang kakak.


"Aw!! sialan, kamu Vell. Ganggu aja orang tidur, udah sono lu keluar. Berisik, tau! mana suara lu itu nyaringnya kebangetan. Persis ama cewek bawel yang selalu bikin sial itu, cih!"


"Cewek yang mana? Vey, ya? cie ... sudah ingat nih ye ... jangan jangan kakak berjodoh lagi, cocok deh."


"Apaan sih! lu, asal ngomong aja kamu ini." Sahut Dey dengan sungut. Vellyn tertawa kecil melihat sang kakak yang sudah mulai menunjukkan sikapnya yang bisa diajaknya untuk menerima gurauan dari adik perempuannya.


"Kak, ayo cepetan bangun. Papa dan Mama sudah menunggu Kak Dey di ruang makan loh, ayo cepetan." Ajak Vellyn sambil menarik tangan Dey.


"Iya ya ya, nanti Kakak nyusul. Sudah sana kamu keluar, pinggang Kakak masih sakit." Jawab Dey sambil menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya.


"Tuh kan, jadi Kak Dey belum pijat? hem. Nanti bisa tambah sakit loh Kak, kalau Kak Dey bandel untuk diurut."


"Kak Dey bukan bandel, tepatnya Kak Dey tidak mau diurut sama perempuan bawel itu. Yang bener aja, seharusnya cari tukang urut laki laki. Paman Zayen tuh ada ada aja, entah lah maksudnya apa." Jawab Dey yang masih menahan rasa sakit, Vellyn sendiri justru senyum senyum tidak jelas.


"Ini anak, seneng bener lihat Kakaknya menderita."


CTAk!


"Aw! sakit, tau Kak." Pekik Vellyn mengusap keningnya.


"Makanya jangan suka bercanda, sudah sana keluar." Ucap Dey dan mengusir adiknya untuk segera keluar dari kamarnya.


"Iya ya, deh. Jangan lama lama, waktu Kakak hanya sebentar." Jawab Vellyn, kemudian ia langsung keluar dari kamar sang kakak.


Sedangkan Dey masih menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya. Dengan malas, Dey beranjak dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri. Selesai bersiap siap dan sudah berpenampilan rapi, Dey meraih tas kerjanya dan keluar dari kamarnya.


Dengan pelan karena menahan rasa sakit, Dey berpegangan sisi tangga. Takut, jika dirinya terpeleset dan jatuh begitu saja.


Sambil berjalan, Dey memegangi area pinggangnya. Kedua orang tuanya pun memperhatikan putranya yang terlihat menahan sesuatu.


"Pinggang kamu masih sakit? Papa tuduh juga apa, kamu pasti belum pijat. Bandel sekali kamu ini, maunya apa? hem." Tanya sang ayah, Dey hanya menarik kursinya dan segera duduk dihadapan orang tuanya.


"Pa, tolong carikan Dey tukang pijat khusus laki laki. Dey tidak mau tukang pijatnya seorang perempuan, bikin malu Dey aja." Pinta Dey penuh harap.


Setelah selesai menikmati sarapan paginya, suara bel pintu pun terdengar sampai di ruang makan.


"Permisi Tuan, ada seseorang yang mencari Tuan." Ucap salah satu pelayan rumahnya.


"Sampaikan padanya, suruh masuk dan kamu ajak ke ruang pemijatan khusus." Perintah tuan Viko, kemudian segera bangkit dari posisi duduknya. Kemudian berjalan menuju ruang khusus pemijatan yang dimaksudkan tadi.


"Dey, buruan ikut Papa. Katanya kamu ingin dipijat oleh laki laki, dan bukan perempuan." Bujuk ibunya.


"Iya Ma, kalau begitu Dey pindah ruangan dulu." Jawab Dey, kemudian ia segera bangkit dari posisi duduknya. Sedangkan Vellyn dan sang ibu kembali ke kamarnya masing masing untuk bersiap siap melakukan aktivitasnya.


Kini Dey sudah berada didalam ruangan khusus pemijatan, dilihatnya seorang laki-laki yang bertubuh kekar tengah berada diruangan tersebut sedang duduk bersama ayahnya.


"Dey, ayo cepetan kesini. Kamu ngapain berada diambang pintu segala, hah. Takut dipijat? hem, ada ada saja jika kamu sampai takut." Ucap sang ayah, Dey sendiri segera menghampirinya.


"Bapak sudah siap untuk memijat pinggang saya?" tanya Dey sedikit ragu jika dirinya akan berhasil untuk dipijatnya.


"Kamu ini lucu sekali, Dey. Yang ada tuh, apakah kamu sudah siap untuk dipijat Bapak Baron? hem, kamu ini." Sahut sang ayah menimpali, Dey hanya mengernyitkan dahinya tatkala pertanyaan darinya kembali untuk dirinya sendiri.


"Tentu saja Dey siap, mana ada yang sanggup menahan rasa sakit ini berhari hari." Ucap Dey masih dengan posisi memegangi pinggangnya dan menahan rasa sakitnya.


"Ya sudah kalau begitu, silahkan posisi Tuan untuk tengkurap. Agar saya lebih mudah untuk memijatnya, Tuan muda jangan takut."


"Iya Pak, saya mah nurut aja sama perintah Bapak. Yang terpenting saya tidak jadi diurut sama perempuan sial itu, yaitu perempuan yang sudah membuat pinggangku menjadi cidera seperti ini." Jawabnya, kemudian bergeming membicarakan soal perempuan yang sudah menabraknya hingga cidera pada bagian pinggangnya.


"Baik lah, kalau begitu saya akan mengurutnya. Bapak minta untuk tetap tenang dan tahan rasa sakitnya, dan jangan panik sedikitpun." Ucapnya memberi saran untuk Dey, sedangkan Dey sendiri hanya menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan.


Dengan sangat hati hati, Dey mencoba untuk tetap tenang sambil menahan rasa sakitnya. Dey pun terus berusaha untuk tidak gusar atas rasa sakit yang ditahannya.


"Aw! gila, busyet, ampun, sakit, anu, itu, aduh, stop, udah, aduh, sakit!!!" teriak Dey sambil berkomat kamit tidak jelas.


CTAK!!


"Aw!! Papa, sakit." Pekik Dey menahan rasa sakit yang begitu hebat pada bagian pinggangnya. Ditambah lagi mendapat sentilan pada keningnya yang cukup mulus itu.


"Banyak omong, diam! nanti pinggang kamu akan tambah sakit." Sahut sang ayah yang menemani putranya saat sedang dipijat.


"Aaaa!!! wudu busyet, sakit! aduh ... stop! stop! Dey nyerah." Teriak Dey dengan nafasnya yang tidak karuan, bahkan terasa tersengal saat menarik nafasnya dalam.


"Maaf Tuan, kalau bisa Tuan berusaha untuk tetap tenang." Ucap tukang urut, Dey hanya mengusap pinggangnya dengan pelan. Takut rasa sakitnya akan bertambah dan berkepanjangan.


"Pa, Dey nyerah. Pinggang Dey tambah sakit, Dey kapok! sakit banget deh. Dey tidak lagi lagi diurut sama Bapak, yang ada tuh bisa bisa pinggang Dey tambah remuk aja nih tulang tulangnya." Sahut Dey dengan menahan rasa sakit pada pinggangnya.


"Papa bilang juga apa, sudah benar benar Paman Zayen carikan tukang urutnya. Eee kamunya memilih untuk menolak, itu sudah menjadi resikomu sendiri." Sahut sang ayah mencoba mengingatkannya hingga lupa siapa jati dirinya sendirinya, Dey sendiri hanya bisa nurut dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah.