Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kebahagiaan


Tuan Arganta dan istri masih berada didalam ruangan dimana putrinya tengah dirawat.


Keduanya menatap putrinya dengan sedih, berharap akan sadarkan diri, namun tidak juga sadarkan diri dari tidurnya.


"Mungkin putri kita membutuhkan kak Elima, karena selama ini kak Elima lah yang menjadi orang tuanya. Mungkin dengan adanya kak Elima, putri kita akan sadarkan diri. Hanya itu yang bisa kita lakukan, kita tidak memiliki cara lain." Ucap tuan Guntara pada istrinya.


"Boleh, aku pun tidak memiliki cara lain selain meminta kak Elin untuk datang kesini, Mas." Jawabnya dan disertai anggukan.


"Ya sudah, aku mau meminta Zicko untuk menghubungi yang ada dirumah untuk mengantar kak Elin ke rumah sakit." Ucap tuan Guntara dan bergegas keluar untuk menemui Zicko, sang istri mengangguk.


"Papa, bagaimana dengan Lunika?" tanya Zicko dengan cemas.


"Lunika, Lunika belum juga sadarkan diri. Papa ingin meminta kamu untuk menghubungi Ibu asuhnya Lunika, yaitu Elin." Jawab tuan Guntara.


"Ibu, astaga! Zicko sampai lupa. Iya Pa, Zicko akan segera menghubungi orang rumah untuk mengantarkan ibu datang kesini."


"Tidak perlu, Zicko. Ibu sudah datang, tadi ayah kamu sudah menelfon Ibu untuk segera datang. Dimana ruang rawat Lunika? Ibu juga cemas memikirkannya." Sahut istri kakek Dana dengan raut wajahnya yang gelisah.


"Mari Bu, Zicko antarkan Ibu untuk masuk kedalam." Jawab Zicko, kemudian berjalan dan menuju ruang rawat Lunika.


Dengan pelan, Zicko membukakan pintunya. Istri kakek Dana pun masuk dan berjalan mendekati putri kesayangannya.


Istri tuan Guntara segera bangkit dari posisi duduknya, kemudian mendekati istri dari kakak iparnya.


"Kak Elin, apa kabarnya? maafkan aku dan terima kasih atas semuanya." Sapa istri tuan Guntara dengan tatapan sedihnya.


"Kabarku seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja. Dan kamu sendiri, apa kabarnya? kamu bilang maaf dan terima kasih, maksudnya?" jawabnya dan balik bertanya sekaligus ikut menyapa.


"Kabarku jauh lebih baik, kak Elin. Maaf, karena aku sudah memberikan beban pada kak Elin mengenai putriku. Dan terima kasih atas kasih sayang kak Elin untuk putriku, maafkan aku yang tidak bisa membalas jasa kak Elin." Jawabnya merasa tidak enak hati dan merasa sangat bersalah.


"Aku menyayangi Lunika dengan tulus, aku menganggapnya putriku sendiri. Yang aku punya hanyalah Lunika, sampai kapanpun Lunika akan tetap putri kesayanganku. Meski kamu lah pemiliknya, akupun tidak memiliki hak atas semuanya. Aku tetap menggangap nya putriku kesayanganku." Ucap Elin dan memeluk istri tuan Guntara, lalu melepasnya kembali.


"Kita sudah menjadi kakak beradik sekarang, dan tidak ada lagi yang terpisah lagi. Semoga, kebahagiaan akan terus menyelimuti keluarga kita." Ucap Elin dan tersenyum bahagia, begitu juga istri tuan Guntara ikut tersenyum pada kakak iparnya.


"Kak Elin, aku mohon ajaklah Lunika untuk mengobrol. Mungkin sekarang ini Lunika sedang membutuhkan kak Elin, hanya kak Elin yang dekat dengan Lunika." Ucapnya penuh harap.


"Tapi ..."


"Tidak ada tapi tapian kak, sekarang juga aku akan mengajak istriku untuk keluar." Sahut tuan Guntara, " Kak Elin, aku percaya dengan kakak." Lanjut istri tuan Guntara menimpali.


Kini, hanya ada ibu asuh rasa ibu kandung yang menemani Lunika didalam ruang rawatnya. Kasih sayang yang tidak terbatas atas semua kebaikan kebaikan dari istri kakek Dana yang brnama Elin dan menggantinya menjadi ibu Ruminah.


Perjalanan yang cukup lama tinggal bersama gadis kecil hingga tumbuh dewasa. Suka duka selalu dilewati bersama, tidak ada sedikitpun diantara keduanya mengalami percekcokan. Begitu bahagia yang diciptakan oleh seorang anak asuh dan ibu asuh.


Dengan lembut, beliau membelai rambut Lunika dan menci*um keningnya. Lalu mendekatkan ke daun telinga milik Lunika seraya akan berbisik, berharap ada respon pada Lunika walaupun respon yang sangat kecil sekalipun.


"Lunika, sayang ... ini Ibu, Nak ... apa kamu tidak ingin mengobrol dengan Ibu?" pelan pelan berbisik didekat putri kesayangannya.


"Nak ... kamu ingat, dulu kamu begitu tegar dan mandiri. Bahkan, cemoohan dari orang orang di sekitarmu, kamu begitu kebal menghadapi cibiran cibiran yang menyakitkan itu. Bahkan, hinaan demi hiinaan dari warga kamu tetap tersenyum pada mereka, tapi ... kenapa saat kamu temukan bahagia, kamu memilih diam seperti ini sayang? apa kamu tidak ingin memeluk kedua orang tuamu. Lihat lah, kamu anak yang sempurna. Kamu tidak mempunyai kekurangan, kamu masih memiliki orang tua yang lengkap, dan keluarga. Kamu bukan anak ha*ram seperti yang orang orang sangkakan, kamu bukan anak tidak jelas. Tetapi, kamu bagaikan mutiara yang terbungkus kerang yang sangat keras. Dan kini, kamu kembali pada pemiliknya. Yaitu, kedua orang tuamu dan keluarga kamu." Ucapnya, berusaha untuk menyadarkan Lunika dari tidurnya.


Sedangkan Zicko, tuan Guntara serta sang istri, kini sudah berada didalam ruang rawat Lunika bersama istri dari tuan Dana. Tuan Guntara dan sang istri bagian lehernya terasa tercekik ketika mendengar ucapan kakak iparnya.


Tanpa diminta, keduanya menitikan air matanya. Sungguh, kedua orang tua Lunika benar benar tidak bisa membayangkan betapa kerasnya perjalanan hidup putrinya itu.


'Pasti sangat keras perjalan hidupmu, putriku ... maafkan kedua orang tuamu ini yang begitu bo*doh akan keselamatanmu. Sungguh, kamu putriku yang begitu kuat dan juga tegar.' Batin istri tuan Guntara.


'Maafkan Papa, putriku. Papa begitu bo*doh dalam menjaga ibu kamu, maafkan Papa. Papa janji, Papa tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Papa akan selalu menjaga kalian berdua, istriku dan kamu putriku.' Batin tuan Guntara merasa bersalah besar terhadap anak dan istrinya.


Sedangkan Lunika masih saja tidak sadarkan diri, ia terlihat seperti dalam keadaan tertidur pulas dalam mimpinya.


Namun, tiba tiba jari jemari milik Lunika dapat digerakkan satu persatu bagian tangan sebelah kanan. Setelah itu, Lunika mencoba membuka kedua matanya dengan pelan. Lalu, ia menatap langit langit ruangan tersebut dengan pandangan yang masih terlihat buram. Lunika masih terus berusaha untuk menyempurnakan pandangannya agar terlihat cerah dan terlihat nyata.


Dan benar saja, kesadaran Lunika benar benar sudah terkumpul. Karena merasa aneh dan sedikit pusing pada bagian kepalanya, Lunika menoleh ke arah samping kanan kirinya. Dilihatnya ada sosok dua perempuan yang terlihat jelas dimatanya.


"Aku, aku ada dimana?" tanya Lunika sambil mencari sosok yang dicarinya. Siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri.


Senyum merekah terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Zicko yang tengah berdiri disebelah ayah mertuanya.


Namun, tiba tiba senyumnya hilang begitu saja saat tatapannya tertuju pada tuan Guntara.


'Apakah putriku tengah membenciku? kenapa senyumnya seketika hilang?' batin tuan Guntara yang juga ekspresinya berubah menjadi sedih.


"Ibu ..." panggil Lunika pada ibu asuhnya.


"Iya Nak, bagaimana keadan kamu?" jawab istri kakek Dana dan menyapa putri kesayangannya.


Sedangkan Zicko segera mendekati istrinya.


"Keadaan Lunika sudah tidak pusing berat lagi, Bu. Hanya saja, Lunika merasa lemas." Jawab Lunika.


Karena tidak ingin mengganggu tuan Guntara dan istrinya untuk mengobrol bersama Lunika, istri kakek Dana akhirnya memilih untuk keluar. Mau bagaimanapun, keduanya adalah orang tua kandungnya. Dan tentu saja, kedua orang tuanya memiliki hak untuk menyembuhkan luka serta mengobati kerinduannya yang begitu dalam.


"Nak ... ibu keluar dulu, ya. Jangan takut, mereka berdua adalah bagian keluargamu. Ibu permisi, semoga kerinduan kalian bisa terobati dan tidak ada lagi rindu yang mendalam." Ucap istri kakek Dana berpamitan, Lunika sendiri mengangguk mengerti.


Kini, tuan Guntara dan sang istri berdiri disebelah kiri putrinya. Sedangkan Zicko berdiri disebelah kanan istrinya dan membantunya untuk duduk bersandar.


"Sayang, lihat lah mereka berdua. Apakah kamu mengenalinya?" tanya Zicko sambil menunjuk kearah kedua orang tua istrinya. Sedangkan Lunika sendiri hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan, mereka berdua siapa?" tanya Lunika yang masih tidak mengerti.


"Mereka berdua, mereka berdua adalah kedua orang tua kandungmu, sayang. Kamu masih memiliki orang tua, bahkan keluarga." Jawab Zicko dengan yakin.


DEG!!!


Lunika terasa tersambar petir di siang bolong ketika mendengar penuturan dari suaminya, ia benar benar terasa mimpi mendengarnya.


"Apa! kedua orang tuaku?" tanya Lunika memastikannya kembali dan menoleh kearah tuan Guntara dan istrinya. Keduanya pun mengangguk sambil menatap putrinya yang sudah lama dirindukannya.


"Benarkah kalian berdua adalah kedua orang tuaku? tapi ... kenapa kalian begitu tega membiarkan aku hanya seorang diri tanpa kalian berdua?" tanya Lunika yang terasa sakit mendengar kenyataan jika kedua orang tuanya masih hidup.


Lunika memang merindukannya, namun seketika pikirannya tengah dikuasai oleh emosinya yang menahan rindu yang begitu dalam.


"Sayang, kedua orang tua kamu ada alasannya. Kenapa semua ini terjadi? semua ada sebab dan akibatnya, sayang. Apa kamu lupa, saat kamu mendatangi markas itu?"


DEG!!


Seketika, Lunika teringat jelas dalam ingatannya saat ia ingin menyelamatkan orang tuanya.


'Benarkah mereka berdua ini adalah kedua orang tuaku yang aku rindukan? aku tidak sedang mimpi 'kan?' batin Lunika yang masih tidak percaya.


Disaat itu juga, tuan Guntara berdiri disisi istrinya. Lalu dengan pelan, tuan Guntara beserta istrinya mengusap pucuk kepala milik putrinya. Sedangkan Lunika tidak ada penolakan sedikitpun. Disaat itu juga, Lunika tengah meraih tangan ibu dan ayahnya, lalu memeganginya dengan kedua tangannya.


"Benarkah kalian berdua adalah kedua orang tua Lunika?" tanya Lunika ingin memastikannya lebih jelas lagi.


Disaat itu juga, kedua orang tua Lunika menitikan air matanya.


"Benar, sayang. Kami adalah orang tua kamu, Maafkan atas semua kesalahan Mama dan Papa ya, sayang. Maafkan kita berdua yang sudah banyak melukai perasaan kamu bertahun tahun lamanya, maafkan Mama dan Papa." Jawab sang ibu penuh sesal, namun tidak dapat dipungkiri, semua bukan dari kesalahan kedua orang tua. Namun, ada pihak ketiga yang telah membuat semuanya harus berpisah.


"Jadi ... Lunika masih mempunyai orang tua?" tanyanya yang masih tidak percaya.


Seketika, sang ibu langsung memeluk putrinya dengan erat dan menc*iumnya. Begitu juga dengan tuan Guntara yang langsung pindah posisi ke sebelah kanan dan ikut memeluknya.


Sungguh, kebahagiaan yang telah didapatkan oleh keluarga tuan Guntara Ganta. Perpisahan yang begitu lamanya harus menahan rasa sakit karena rindu, rindu yang begitu lamanya harus tertahan karena sesuatu dendam yang begitu rumit untuk didapatkan jejak siapakah pelakunya.


Lunika, yang bertahun tahun lamanya menerima cibiran dan cemoohan dari orang orang yang tidak pernah bertanggung jawab akan perbuatannya. Kini, Lunika tengah mendapatkan apa yang diharapkannya.


Disaat itu juga, seorang Dokter tengah masuk kedalam ruang rawat Lunika.


"Ada apa ya, Dok?" tanya Zicko penasaran. Tidak hanya itu, semua yang ada didalam ruangan ikut mendadak panik ketika ada seorang Dokter tengah masuk secara tiba tiba.


"Saya hanya ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada tuan Zicko serta keluarga lainnya." Jawab sang Dokter dan tersenyum, sedangkan Zicko serta yang lainnya masih juga belum mengerti dengan apa yang dimaksudkan sang Dokter.


"Sebenarnya ada apa sih, Dok?" lagi lagi Zicko kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Selamat ya, Tuan Zicko. Sebentar lagi Tuan akan menjadi seorang ayah, sekali lagi selamat atas kehamilan istri Tuan." Jawab sang Dokter mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat pada Zicko.


Semua yang mendengarnya mendadak tercengang seperti mimpi.


"Apa! Dok? istri saya hamil? serius nih Dok, sebentar lagi saya akan menjadi sosok ayah?" tanyanya lagi masih terasa mimpi. Kemudian, Zicko mendekati ibunya. "Ma! Zicko tidak salah dengar, 'kan?" tanya Zicko pada ibunya untuk memastikannya.


"Benar, sayang. Istri kamu hamil, kamu akan menjadi seorang ayah dari anakmu. Selamat ya, sayang. Dijaga baik baik istrimu, jangan biarkan untuk beraktivitas yang berat berat. Karena didalamnya ada nama Wilyam yang harus kamu jaga dengan baik." Jawab sang ibu sembari memberi sebuah nasehat pada putranya.


"Cie .... kakak pertama akan menjadi seorang ayah, aku kapan nyusul ..." ucap Vellyn yang tiba tiba sudah berada di dekat Zicko.


"Hem, makanya buruan menikah." Jawab Zicko, sedangkan yang lainnya ikut tertawa kecil melihat Vellyn dengan tingkahnya.


Kini, semua tidak ada lagi masalah yang menghantui keluarga tuan Guntara maupun keluarga dari kakek Alfan. Semuanya kini dapat bernafas dengan lega. Berawal dari sebuah dendam yang membara, kini dapat dilewati bersama dan telah menjadikannya keluarga.


Begitulah kehidupan, Semua akan ada ujiannya masing masing. Namun, bagaimana diri kita untuk melewatinya. Seperti halnya dalam keluarga dan bersahabat, ada masanya kita akan menerima kesalahpahaman karena sebuah rasa iri hingga menjadikan praduga yang tidak tidak. Untuk itu, jadikanlah disetiap masalah adalah awal perbaikan dan menjalinnya lebih erat lagi.


-----TAMAT------


NB: Lanjutannya masih ada ya ... kisah Deyzan anak dari Viko dan Adellyn.


Maaf beribu maaf, jika berakhirnya kisah Zicko dan Lunika hanya sampai disini. Namun kenyataannya kisah mereka berdua sudah berakhir. Keduanya sudah mendapatkan kebahagiaan yang sudah sempurna.


Terus ...


"Thor, Aden bagaimana? Arnal bagaimana? Vellyn? Romi? dan lain lainnya?"


"Kalau ada waktu, otor lanjut di bonus chapter. Tapi otor tidak janji ya, selain ada kesibukan mengurus anak anak, otor harus bagi waktu untuk mengajari anak belajar dan juga mengurus pekerjaan di dunia nyata. Dan jika di lanjut apa tidak bosan? sudah lima turunan loh ini.. 😃😃😃 bagaimana kalau otor buat novel baru yang beda? yang usianya terpaut jauh gitu, dan pastinya konflik berbeda ya... tidak melulu kehilangan anak dan dendam. 😂😂


Yang masih mau lanjut cerita barunya, besok akan ada pengumumannya deh...


POKOKNYA TERIMAKASIH BANGET DARI READERS SETIA YANG SUDAH SELALU SETIA MENEMANI AUTHOR SELAMA INI, DARI AWAL BAB HINGGA TERAKHIR. BAHKAN DARI PERTAMA OTOR MENULIS NOVEL BARU YANG BERJUDUL " MENIKAH KARENA PERJODOHAN" OTOR UCAPKAN BANYAK BANYAK TERIMA KASIH DARI PARA READERS SETIA, MAAFKAN OTOR YANG SELAMA INI BANYAK KESALAHAN DALAM KATA, SALAH NULIS, SALAH MEMBALAS KOMENTAR, DAN YANG LAINNYA.


TERIMAKASIH JUGA YANG SUDAH MEMBERI DUKUNGAN PADA AUTHOR REMEHAN INI, DARI MEMBERI HADIAH, MEMBERI POIN, DAN MEMBERI KOIN. OTOR UCAPKAN BANYAK BANYAK TERIMA KASIH PADA READERS SETIA, MAAFKAN AUTHOR YANG TIDAK BISA MEMBALAS KOMENTAR PARA READERS SATU PERSATU, TAPI PERCAYALAH OTOR SELALU MEMBACANYA DAN SANGAT BAHAGIA.


SEMOGA KITA SEMUA SELALU DIBERI KESEHATAN, KESELAMATAN, KEBAHAGIAAN, DAN DIBERI KEMUDAHAN UNTUK MENGAIS RIZKI. AAMIIN...


SALAM HANGAT, SALAM BAHAGIA DARI OTOR REMAHAN. 😘😘😘😘


BY, OTOR FATAHILLAH