
Lunika masih berusaha untuk tetap tenang, sebisa mungkin ia tidak terpancing emosi yang tiada gunanya. Sedangkan Romi sendiri tidak bisa berbuat apa apa, selain mengawasi juga berusaha untuk tidak menambah masalah. Ditambah lagi Lunika yang kenyataannya sudah bersuami.
"Sudah deh, Lun. Kamu itu seharusnya sadar diri, kamu itu tidak pantas bersanding dengan Arnal. Yang pantas bersanding dengan Arnal itu, putriku Hana." Ucap ibunya Hana dengan percaya dirinya, lagi lagi Lunika harus menambah kesabarannya. Meski kenyataannya Lunika sangatlah kesal dan juga geram.
Tiba tiba suasa semakin panas saat kedatangan tamu yang sangat istimewa, kedua orang tua Arnal dan yang lainnya antusias menyambut tamu undangan yang begitu sangat spesial.
Semua membungkuk memberi hormat tatkala melihat seseorang yang tengah dikawal oleh beberapa anak buah lainnya, didalam gedung tidak ada satupun yang tidak tergoda melihatnya. Semua perempuan terpesona melihat akan ketampanannya serta penampilannya yang sangat menyegani.
"Selamat datang, Tuan muda." Sapa Arnal setengah membungkuk memberi hormat, Arnal hanya mendapatkan balasan anggukan.
"Selamat datang di acara pernikahan putra kami, Tuan muda." Sapa kedua orang tua Arnal dengan hormat serta membungkukan badannya.
"Selamat untukmu, Arnal. Dan, sepertinya ada keributan. Apakah ada masalah di acara pernikahan kamu? ayo katakan dengan jujur." Ucapnya, kemudian menoleh kearah Lunika dengan penampilannya yang terlihat berantakan.
Lunika yang sudah tahu siapa orangnya yang berada disebelahnya hanya bisa berdiam diri dan juga pasrah, meski sedikit ada rasa takut dan gemeratan.
'Mam*pus, aku. Bagaimana kalau dia marah karena aku telah menghadiri acara pernikahan Arnal, padahal aku izinnya untuk menghadiri acara pernikahan Hana. Kenapa bisa jadi begini? dia pasti akan salah paham. Pasti pak Yitno telah melaporkannya.' Batin Lunika dengan ketidaktahuannya akan sedekat apa antara Arnal dengan suaminya sendiri.
"Begini Tuan, perempuan ini yang membuat kacau diacara pernikahan putra kami. Dan perempuan ini juga telah sengaja berdandan cantik agar putra kami jatuh hati dengannya dan membatalkan pernikahannya." Ucap ibunya Arnal penuh alasan, Arnal sendiri tidak bisa berbuat apa apa. Ditambah lagi orang tuanya sendiri yang menjadi permasalahannya, hingga membuat Arnal hanya bisa pasrah dengan keadaan.
"Lun, ayo kita pulang saja. Nanti akan tambah rumit permasalahannya, dan kamu akan terus disakiti oleh banyak orang." Ajak Dewi mencoba membujuknya, sedangkan Lunika hanya menggelengkan kepalanya.
Romi yang tidak jauh dari Lunika, dirinya hanya memperhatikan dan mengawasi Lunika dan suaminya.
"Oooh, jadi gara gara perempuan ini. Acara pernikahan putra anda menjadi ricuh, dan kalian semua berusaha untuk mengusirnya?"
"Iya Tuan, perempuan ini sangat bahaya. Perempuan miskin ini sok kaya dan juga sok cantik, padahal sangat miskin dan tidak jelas asal usulnya. Hati hati dengan perempuan ini sangat matre, Tuan. Jangan sampai jatuh cinta dengannya, bahaya." Jawab ibunya Arnal terang terangan tanpa ada rasa malu sedikitpun saat mengolok olok Lunika didepan para tamu undangan.
Setelah mendengar ucapan dari ibunya Arnal, segera ia mendekati Lunika yang tengah terlihat gugup dan juga takut.
"Kenapa kamu terlihat takut? seharusnya kamu berubah menjadi tenang saat aku berada di dekatmu, bukan lagi rasa takut yang kamu rasakan." Ucapnya, Arnal serta kedua orang tuanya dan juga semua yang tengah menyaksikannya pun saling menoleh satu sama lainnya.
"Lalu, aku harus berkata apa didepan mereka? apa masih ada yang mau percaya denganku?" tanya Lunika berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Dengan lembut, pipi mulus milik Lunika tengah mendapatkan ci*uman mesra oleh suaminya sendiri begitu lembut. Semua yang ada didekatnya tercengang melihat Lunika tengah dici*um begitu mesra, termasuk Lunika sendiri ikut tercengang merasakannya.
Arnal seperti mimpi melihat pemandangan yang tidak pernah disangka sebelumnya, termasuk kedua orang tuanya serta yang lainnya ikut tercengang melihatnya.
Sebuah tinjuan tengah melayang ke sudut bibir milik Zicko hingga mengeluarkan sedikit darah segarnya.
"Brengs*ek! kamu, Zick." Ucap Aden dengan sorot matanya yang begitu tajam, sedangkan Zicko mengusap darah segarnya dengan ibu jarinya sambil menatap kekesalannya pada sahabatnya sendiri.
"Maksud kamu bilang brengs*ek, itu apa? hah! ada yang salah denganku. Ayo katakan, ada yang salah denganku." Tanya Zicko dengan kesal, Lunika sendiri bingung harus berbuat apa untuk melerainya. Semua yang hadir dalam acara pernikahan Arnal dan Hana hanya menjadi penonton untuk melihat kegaduhan dua insan yang sama tampan dan kuatnya dalam dunia bisnis.
"Ooh! masih tidak nyadar juga, kamu ini. Mentang mentang kamu bagian keluarga Wilyam, seenaknya saja kamu perlakukan perempuan dengan begitu rendahnya." Ucap Aden masih dengan emosinya serta sorot matanya yang tajam.
Dengan cepat, Zicko langsung mence*ngkram kerah baju milik Aden dengan kuat. Kedua mata milik Zicko tidak kalah sadisnya saat menatap sahabat dekatnya itu.
"Kamu bilang apa, tadi? aku memperlakukan perempuan dengan rendahnya? memang yang kamu lihat itu perempuan siapa? hah! apakah perempuan yang bernama Lunika itu pacar kamu? istri kamu? atau ... selingkuhan kamu? ayo! jawab." Tanya Zicko masih tetap pada posisinya sambi menatapnya tajam.
"Das*ar! gile, kamu. Sudah punya istri, masih saja menggoda perempuan lain. Menji*jikkan, cu*ih! sangat kotor caramu itu." Ucap Aden dengan tatapan be*ngisnya.
Zicko yang merasa terhina, semakin menambahkan cengkramannya. Tatapannya semakin tajam, setajam mata elang yang siap memangsanya.
"Asal kamu tahu, aku tidak seburuk yang kamu katakan." Ucap Zicko dan melepaskan cengkramannya, lalu mendorong Aden begitu kuat hingga terjatuh ke lantai. Lunika yang melihatnya seakan ingin berteriak sekencang mungkin.
"Satu pun, diantara kalian semua telah dibutakan mata serta mata hati kalian. Bahkan, untuk menilai seseorang saja masih banyak kesalahan. Asal kalian tahu, perempuan yang sedari tadi mendapat perlakuan buruk dimulai ketika menginjakkan kakinya disini hingga saat ini yang masih dihina, di caci maki, dan juga dijadikan bahan olokan adalah ... istri sah dari seorang Zicko Wilyam. Putra semata wayang dari seorang ayah Zayen Wilyam dan seorang ibu Afnaya Danuarta." Ucap Zicko berterus terang sambil merangkul istrinya, Lunika sendiri masih berdiam diri.
DUUUAAAR!!!
Seketika, semua tercengang mendengarnya. Semua terasa tersambar petir disiang bolong. Semua penuturan dari Zicko seperti tidak nyata dan hanya mimpi semata. Tidak hanya Arnal yang tercengang, namun termasuk Aden, kedua orang tua Arnal, Hana, kedua orang tuanya, serta para tamu undangan lainnya.
"Apa? Lunika istri kamu?" tanya Aden yang masih tidak percaya dengan apa yang telah didengarkannya. Zicko hanya mengangguk, kemudian mendekati Arnal sambil menggandeng tangan milik istrinya.
"Sekarang Lunika sudah menjadi istriku, dan kamu harus siap menerima kenyataan ini. Seperti istriku yang begitu terkejut melihat pernikahan kamu tanpa sepengetahuannya. Jadi, terimalah nasibmu. Hati hati, kedua orang tuamu begitu membahayakanmu jika kamu tidak pandai menjaga diri kamu sendiri." Ucap Zicko di hadapan Arnal, kemudian menoleh kearah kedua orang tuanya Arnal yang terlihat sangat ketakutan. Bahkan, kedua orang tua Arnal tidak mampu untuk berucap ketika mendengarkan kebenaran tentang status Lunika yang sudah menjadi istri Bosnya putranya sendiri.
Malu, itu sudah pasti yang tengah dirsakan oleh kedua orang tua Arnal dan Hana serta kedua orang tua Hana sendiri.
Karena tidak ingin menambah masalah dan terjadi keributan, Zicko mengajak istrinya untuk segera pulang.
Sedangkan Aden masih berdiri tegak sambil memperhatikan kepergian Zicko bersama istrinya. Karena masih terasa sakit hati, Aden mengikuti mobil yang dinaiki Zicko bersama Lunika.