Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Tidak menyangka


Keduanya tengah berjalan dengan langkah kaki yang sama, terkadang Zicko memilih untuk berlari. Lunika sendiri Auntuk memilih berjalan dengan langkah kakinya yang gesit.


Sesampainya di rumah, Lunika maupun Zicko sama sama melepas sepatunya. Kemudian, keduanya berjalan dan menapaki anak tangga.


"Zicko, Lunika," panggil sang mama menghentikan langkah kaki keduanya tatkala sudah dipertengahan tangga. Lunika maupun Zicko sama menolehnya ke bawah.


"Ada apa, Ma?" tanya Zicko.


"Nanti, setelah mandi jangan lupa kalian berdua segera untuk sarapan. Mama dan Papa ada kesibukan, tinggal beberapa hari lagi Mama dan Papa mau berangkat ke luar Negri. Ingat, perhatikan istrimu." Jawab sang ibu.


"Iya Ma, tenang saja." Ucap Zicko dan kembali menapaki anak tangga menuju kamarnya diikuti sangat istri dari belakang. Sesampainya didalam kamar, Lunika duduk disofa.


"Kamu duluan yang mandi, aku masih ada pekerjaan. Kalau sudah selesai, panggil aku di ruang kerjaku." Ucapnya, Lunika hanya mengangguk. Kemudian, ia segera membersihkan diri. Sedangkan Zicko segera masuk ke ruang kerjanya.


Sambil duduk dan sambil bersandar dengan posisi duduknya dikursi kerjanya dengan menyibukkan diri dengan sebuah layar laptopnya.


Entah apa yang dilakukan Zicko, setidaknya ia membuang kejenuhan nya. Sudah lama ia tidak menggunakan media sosialnya sejak dirinya pulang dari luar Negri.


Alih alih ia membuka kembali dunia media sosialnya, Zicko sendiri memilih pesan masuk yang menurutnya penting. Namun, tiba tiba kedua matanya tertuju pada sebuah pesan yang membuatnya penasaran.


"Seril? rupanya selama ini dia selalu memberiku pesan. Mau apa lagi dia, memintaku untuk balikan? terlambat. Semua sudah menjadi pilihannya, cih! dengan percaya dirinya ingin mendekatiku lagi." Ucapnya lirih, kemudian Zicko kembali mematikan laptopnya dan menyingkarkannya.


"Permisi, Tuan."


"Masuk lah, cepetan."


"Iya, Tuan."


"Buang jauh jauh ini laptop, bila perlu kamu masukkan saja ini laptop ke gudang barang yang tidak terpakai. Biarin saja sampai busuk berkaratan. Satu lagi, bersihkan ruang kerjaku dari nama Seril. Kamu periksa sendiri, jangan sampai ada yang tertinggal tentangnya. Kamu ganti sesuatu yang tidak menyepatkan mataku, terserah mau di pajang benda apa." Perintahnya, lalu segera bangkit dari posisi duduknya dan kembali masuk ke kamarnya.


"Semoga saja, tuan muda benar benar sudah melupakan Nona Seril dan sudah membuka hatinya untuk istrinya. Ah! iya, aku pajang saja foto pernikahannya. Cakep dah, pasti akan terasa adem jika ada foto pernikahannya tuan muda di ruang kerjanya." Ucapnya lirih sambil memeriksa sesuatu yang ada kaitannya dengan mantan kekasihnya, yaitu Seril.


Brak brak brak brak!!


"Cepetan mandinya, aku sudah kebelet. Kamu itu mandi atau tidur, hah? cepetan." Seru Zicko memanggil sambil gedor gedor pintunya berulang ulang.


Lunika yang melihat ekspresi suaminya hanya tersenyum serta sedikit tertawa kecil. Zicko yang dapat menangkap suara tersebut, langsung menoleh ke sang pemiliki suara tawa kecil itu. Zicko langsung mendekatinya, dan semakin dekat pandangan diantara keduanya yang saling menatapnya.


"Kamu pikir lucu, tidak! awas! kamu." Ucapnya dan mencengkram lengan istrinya dan mengunci tubuh milik istrinya yang cukup kuat, Lunika langsung mengambil tindakan.


Dengan lihai, Lunika memutar posisinya dan melintirkan tangan suaminya dengan kuat. Hingga sebuah lengannya mengunci leher milik sang suami, meski lebih tinggi suaminya. Lunika mampu menjatuhkan tubuh suaminya itu dengan tenaganya yang super ekstra dengan menyangga satu kakinya.


"Kamu pikir, hanya kamu yang bisa melakukan kekerasan."


"Lepaskan, aku mau mandi. Tenagamu benar benar gila, cepat! lepaskan aku."


Masih dengan perasaan kesalnya, Lunika terpaksa melepaskan suaminya. Zicko yang sudah bebas dari sang istri, Zicko sendiri masih meringis kesakitan akibat ulah sang istri dengan tenaganya yang cukup kuat.


Lunika kembali menyisiri rambutnya, sedangkan Zicko segera membersihkan sendiri sambil mengusap bagian lengannya yang lumayan terasa sakit.


Usai mandi, Zicko segera mengenakan pakaiannya dan menyisiri rambutnya. Setelah dirasa tidak ada yang lupa, Zicko celingukan mencari sosok istrinya di dalam kamar. Bayangan sang istri pun tidak dapat dilihatnya.


"Kemana dia? apakah sudah turun? berani sekali dia mendahuluiku, hem." Ucapnya lirih dan segera keluar dari kamarnya, kemudian mencari sosok istrinya berada.


Dengan terburu buru, Zicko menapaki anak tangga. sampainya diruang keluarga, Zicko masih tidak menemukan istrinya. Lanjut menuju ruang makan hingga sampai dapur tetap saja tidak ia temukan istrinya itu.


"Kemana lagi sih, itu anak. Sudah seperti jin iprit saja, menghilang saja sudah kaya kilat." Ucapnya menggerutu.


"Mbak Yuyun, dimana istriku?" tanya Zicko pada asisten rumahnya.


"Nona muda ada di taman belakang, Tuan. Katanya sih penasaran dengan taman bunga yang ada dibelakang rumah." Jawabnya.


"Bawakan sarapan paginya ke taman belakang, aku tunggu disana." Perintahnya, kemudian ia berjalan menuju taman yang berada dibelakang rumahnya.


'Tumben sekali tuan muda mau sarapan pagi ditaman belakang, biasanya juga tuan muda selalu melarang keras untuk menikmati sejenis apapun makanan di taman belakang. Tapi ini benar benar aneh, apakah sudah ada perubahan dengan tuan muda? semoga saja.' Batinnya, kemudian segera mengantarkan sarapan paginya sang Bos ke taman belakang.


Lunika masih menikmati pemandangan yang begitu banyak beraneka macam bunga, Lunika tersenyum saat melihat banyak kupu kupu yang tengah berterbangan. Tanpa Lunika sadari, jika dirinya tengah diperhatikan oleh suaminya.


Lunika masih fokus dengan pandangannya, terlihat jelas pancaran senyum manisnya yang tengah menghiasi wajah cantiknya.


"Tinggal menghitung dengan hitungan jari, lelaki yang pernah singgah dihatiku akan segera menikah. Apakah aku harus menjadi saksi pernikahannya? itu sangat menyakitkan. Sedangkan pernikahanku ini hanya sebuah kebutuhan yang sangat mendesak, senyumku saja itu palsu. Apalagi pernikahanku ini, hanya sandiwara dan semu." Ucapnya lirih, buliran air matanya pun tengah membasahi kedua pipinya.


Zicko yang yang baru saja melihat senyum manis milik istrinya, tiba tiba dirinya harus melihat kesedihan sang istri yang terlihat begitu jelas saat tengah mengusap air matanya.


"Kenapa dia menangis? apakah karena lelaki yang dicintainya itu akan menikah? kasihan sekali. Mungkin saja, rasa sakitnya tidak jauh dariku. Ah, dia siapanya aku. Yang ada juga istri bayaran, jangan sampai aku terhanyut karenanya." Ucapnya sambil memperhatikan sangat istri.


"Permisi, Tuan."


"Ada apa?" tanya Zicko.


"Sarapan paginya sudah saya siapkan di tempat biasa duduk bersantai, Tuan." Ucapnya sedikit mengagetkan majikannya yang tengah melamun.


"Iya, terima kasih." Ucap Zicko, kemudian ia mendekati sang istri untuk mengajaknya sarapan pagi.


"Sudah menangisnya?" tanya Zicko mengagetkan.


Dengan cepat, Lunika menoleh ke arah sebelahnya. Dilihatnya sangat suami yang tengah berdiri didekatnya. Dengan cepat, Lunika menghapus air matanya yang masih tersisa pada kedua pipinya.


"Aku tidak menangis, kamu salah lihat." Jawabnya membela diri.


"Terserah kamu saja, aku juga hanya menebaknya. Jangan kepedean, malu. Ah! sudah lah, ayo kita sarapan. Aku sudah meminta pada pelan untuk mengantarkan sarapan paginya ke taman kecil ini." Ucapnya, kemudian Zicko membalikan badannya dan berjalan menuju ke tempat dimana sarapan paginya diletakkan.


Lunika hanya mengikutinya dari belakang sambil mengusap sisa air matanya yang masih ada di pipinya.


"Duduk lah, jangan banyak protes. Satu lagi, aku tidak menyukai pembicaraan ketika saat sarapan, makan siang, maupun makan malam sedang berlangsung." Ucap Zicko sambil meraih piring kosong yang ada dihadapannya.