
Selesai bersiap siap, Daka dan Kalla segera berangkat ke Kantor. Sedangkan sang ayah ditemani ibunda Vella untuk pergi ke Restoran.
Sudah cukup lama Tuan Kazza tidak pernah mengontrol keadaan Restoran nya.
"Kalla, Daka, tunggu Nak." Panggil sang Ibu yang ibu pada kedua anaknya.
"Iya Ma, ada apa?" sahut Daka dan menoleh kearah sang ibu.
"Jaga adikmu dengan baik, Daka. Jangan biarkan Kalla untuk berbuat onar di Kantor. Dan buat kamu Kalla, jaga sikap kamu. Ingat, kamu itu perempuan, jangan menunjukkan tingkah kamu yang bar bar itu."
"Iya Ma, tenang saja." Jawab Daka, sedangkan Kalla hanya mengerucutkan bibirnya.
"Iya ya Ma, Kalla berangkat ya Ma." Ucap Kalla dan mencium tangan sang ibu bergantian dengan sang kakak.
"Sudah cepetan berangkat, nanti bisa bisa kalian berdua terlambat. Ingat, kalian berdua kan sudah sama dewasanya. Jadi, Mama percayakan sama kalian berdua." Kata sang ibu mempercayakan pada kedua anaknya, Kalla dan Daka mengangguk.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, kini Daka dan Kalla segera berangkat ke Kantor. Didalam perjalanan, Daka masih diam dan tidak berkata sepatah kata pun dengan sang adik.
"Kak Daka sariawan, ya? diam aja perasaan dari tadi."
"Bawel, tinggal diam apa susahnya."
"Hem, dingin dan kaku sepertinya sudah mendarah daging sama Kakak." Kata Kalla terus bersuara.
"Biarin aja, yang terpenting tidak merugikan kamu. Sudah lah, jangan banyak bicara. Lebih baik kamu itu diam, persiapkan diri kamu untuk terjun di perkantoran." Sahut Daka sambil fokus dengan setirnya.
"Iya ya ya, babang Daka yang dinginnya kek es balok. Sama adiknya saja dinginnya kek begitu, apa lagi dengan perempuan yang baru dikenalinya ya." Sindir Kalla yang tidak pernah berhenti untuk membicarakan kakak nya sendiri.
"Banyak omong, kamu ini. Sudah lah diam aja kamu, nanti aku turunin ditengah jalan, mau? hem."
Kalla tidak mempedulikannya dan tidak lagi meresponnya. Kalla memilih untuk berdiam diri sambil bersandar. Tiba tiba ia teringat dengan seseorang yang pernah bertemu dengannya, rasa penasarannya pun kembali terngiang ngiang di ingatannya.
'Dih! kenapa lelaki itu mesti nangkring dipikiran gua sih, benar benar mengganggu.' Batin Kalla sambil melihat jalanan.
"Bangun, bangun, bangun, melamun aja kerjaan kamu ini."
"Kak Daka apa apaan sih, ganggu aja orang lagi ngelamun, juga." Sahut Kalla dengan muka masamnya.
"Jangan banyak alasan, ayo kita turun."
"Turun? memangnya kita sudah sampai?" tanya Kalla sambil melihat disekelilingnya.
"Sudah, makanya ayo kita turun." Jawab Daka sambil melepas sabuk pengamannya, sedangkan Kalla masih celingukan dengan keadaan disekitarnya.
"Tempat apaan ini, Kak? sepertinya bukan Kantor deh."
"Memang bukan Kantor, kenapa? sudah cepetan, mau ikutan turun atau tidak."
"Iya mau sih, tapi tempat apaan ini?" tanya Kalla yang masih penasaran dengan tujuan sang kakak dan membawa dirinya ke suatu tempat yang tidak pernah ia temui sebelumnya.
"Makanya, ayo kita turun. Nanti kamu bakal mengetahuinya sendiri, ayo cepetan." Jawab Daka yang langsung membuka pintu mobilnya. Begitu juga dengan Kalla yang akhirnya ikut turun dan mengikuti sang kakak menuju ke tempat yang dituju.
Kalla yang kualahan mengejar langkah kakinya sang kakak, dengan napasnya yang terengah engan akhirnya ia dapat berjalan beriringan.
"Kak kenapa mobilnya tidak dibawa masuk saja sih, capek kakiku ini, tau."
"Aku menyembunyikan identitasku, lebih baik kamu ikuti aja apa yang kakak arahkan."
"Iya ya ya deh, jadi penasaran." Jawab Kalla yang akhirnya menyerah.
"Apa? Panti asuhan?"
"Iya, ini Panti Asuhan yang sudah lama tidak ada perhatian, dan sekarang kakak lah yang memegang kuasa atas Panti Asuhan ini."
"Tidak, itu bukan type kakak kamu ini. Nanti kamu bakal mengetahuinya, sekarang lebih baik ayo kita masuk. Waktu kita tidak banyak, kita harus pergi ke Kantor."
"Baik lah, aku mengerti maksud kakak. Tapi entah benar atau salah, penting nurut aja seperti yang kakak katakan." Jawab Kalla sambil nyengir pasta gigi.
"Hem." Daka hanya berdehem.
Karena tidak ingin membuang buang waktu, Daka langsung masuk kedalam area Panti asuhan.
"Kak Daka!!!!!" teriak lelaki kecil berlarian menghampirinya. Dakka langsung merentangkan kedua tangannya untuk memeluk lelaki kecil yang tengah berlari dan menghambur kepelukan Daka.
"Damar, sehat?"
"Sehat Kak, kalau Kak Daka apa kabarnya?"
"Kabar Kakak sangat baik, kok kamu sendirian?" jawab Daka dan bertanya.
"Kak Enja sakit, sudah satu minggu."
"Sakit? kok Ibu tidak bilang sama Kakak?" tanya Daka penasaran, sedangkan Kalla tidak begitu peduli dengan obrolan kakaknya dengan lelaki kecil yang menghambur dipelukan kakaknya.
"Kak Enja tidak mau merepotkan Kak Daka, kata Ibu." Jawab Damar.
"Sekarang juga antarkan Kakak untuk melihat kondisi Kak Enja, ok."
"Ayo Kak, itu perempuan, siapa Kak?" tanya Damar yang baru menyadari akan keberadaan sosok Kalla yang datang bersama Daka.
"Namanya Kak Kalla, adiknya Kak Daka." Jawab Daka memperkenalkan adik perempuannya.
"Hai, perkenalkan. Nama Kakak, namanya Kak Kalla. Kakak adik perempuannya Kak Daka. Salam kenal denganmu, adik kecil." Ucap Kalla dengan ramah dan mengulurkan tangannya.
"Nama saya Damar, Kak. Salam kenal juga sama Kakak cantik." Sahut Damar yang ikut memperkenalkan diri.
Karena tidak mempunyai waktu yang lama, akhirnya Daka meminta Damar untuk mengantarkan nya ke ruangan Enja yang sedang sakit.
"Nak Daka," panggil seorang ibu paruh baya. Daka yang mendengar namanya di panggil segera ia menghampirinya.
"Ibu, apa kabarnya?" sapa Daka, kemudian mencium tangan Beliau. Begitu juga dengan Kalla yang juga ikut mencium tangan Beliau.
Saat melihat keberadaan Kalla disamping Daka, Beliau memperhatikan dari ujung sampai ke ujung.
'Rupanya Nak Daka sudah mempunyai pacar, dan sepertinya kekasih Nak Daka sangat lah sempurna, dan juga sangat cantik. Sepertinya dari keluarga terpandang jika dilihat dengan kulitnya yang mulus.' Batin Beliau mencoba menerka nerka.
"Ibu, Enja bagaimana kabarnya? kata Damar, Enja sakit Bu?" tanya Daka untuk memastikannya.
"Iya Nak Daka, sudah ada satu minggu Enja sakit. Sekarang dia sedang berada di kamarnya.
"Boleh saya meminta tolong sama Ibu untuk bertemu dengan Enja?" pinta Daka yang sudah dihantui dengan perasaan khawatir.
"Tentu saja Nak, mari ikut Ibu." Jawab Beliau dan mengajaknya untuk menemui Enja yang sedang sakit. Sambil berjalan, Daka langsung mengirimkan pesan untuk meminta salah satu Dokter untuk mendatangi Panti Asuhan tersebut.
Sambil berjalan, Kalla memperhatikan Panti Asuhan yang tidak begitu besar, namun begitu rapih dan juga kebersihan nya cukup terjaga.
Dan tibalah di depan pintu kamar milik Enja, Beliau segera membukakan pintu kamarnya.
Seketika, Daka terkejut melihat kondisi Enja yang terlihat begitu pucat dan badan yang terlihat kurus. Kalla yang melihatnya pun ikut prihatin dengan kondisi Enja yang terlihat kurus dan pucat.
"Enja! kamu?"
Panggil Daka dan berteriak cukup kencang, Enja pun langsung meraba tempat tidurnya dan mencari sesuatu.