Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Membujuk


Kalla yang melihat perempuan yang dipanggil sang Kakak nya pun semakin menajamkan penglihatannya. Daka yang melihat Enja tengah mencari sesuatu yang dia cati, Daka segera mengambilkannya.


"Ini, pegang lah." Kata Daka sambil menyerahkan sebuah tongkat yang selalu menjadi alat bantu Enja untuk berjalan.


"Terima kasih," jawab Enja sambil menunduk.


"Kenapa kamu tidak menanyakan kabar dariku? ah iya, aku sendiri sampai lupa. Bagaimana kabarmu? kenapa kamu tidak menghubungi aku jika kamu sakit?" tanya Daka.


Sedangkan Kalla yang melihatnya pun terkejut atas sikap dari Kakaknya begitu ramah dan sangat lembut memperlakukan perempuan yang ada dihadapannya itu.


'Selama ini aku salah menilai sosok Kak Daka, rupanya sikap dingin dan kaku dari Kak Daka benar benar menyimpan perhatian dan sikap lembutnya. Pantas aja selalu memintaku untuk diam dan jangan banyak bertanya, rupanya ini jawabannya. Seperti perempuan ini adalah perempuan yang Kak Daka sukai, meski buta sekalipun. Aku benar benar salut dan takjub melihat Kak Daka yang mencintai seseorang tanpa mengenal fisik.' Batin Kalla sambil memperhatikan sang Kakak dan perempuan yang sedang sakit.


"Kabar kamu pasti selalu baik, 'kan? kalau kabarku seperti yang kamu lihat."


"Kata siapa? sok tahu kamu, kenapa kamu tidak menghubungiku? apakah kamu sengaja mau melupakan aku?"


"Tidak tahu, oh iya kamu datang dengan siapa?"


"Aku datang dengan adik perempuan ku, namanya Kalla."


"Kalla, nama yang sangat cantik. Pasti orangnya juga cantik seperti namanya." Puji Enja dengan senyum.


'Adik? benarkah? jadi tadi salah menebaknya. Syukur lah, jika perempuan ini adalah adiknya.' Batin Beliau yang merasa lega.


Kalla yang merasa namanya disebutkan oleh sang Kakak, ia segera mendekati Enja yang tengah duduk bersebelahan dengan sang Kakak.


"Hai Kak Enja, perkenalkan namaku Kalla. Salam kenal buat Kak Enja, semoga lekas sembuh ya." Ucap Enja memperkenalkan diri, kemudian ia meraih tangan milik Enja untuk berjabat tangan.


"Tangan kamu sangat lembut, perkenalkan namaku Enja. Senang berkenalan dengan mu." Sahut Enja yang juga memperkenalkan dirinya pada Kalla.


"Kakak terlihat sangat pucat, kenapa Kak Daka diam aja. Telfon dokter kek, atau ... bawa ke rumah sakit biar mendapatkan perawatan yang baik." Kata Kalla yang tidak tega melihat kondisi Enja yang terlihat sangat mengkhawatirkan.


"Jangan, aku baik baik saja kok. Aku tidak ingin merepotkan kalian, nanti juga sembuh. Ibu Mala sudah membelikan aku obat, tidak perlu." Kata Enja ikut menimpali.


Sedangkan Daka memberi kode kepada adiknya untuk diam, Kalla pun hanya mengangguk.


"Kamu sudah makan?" tanya Daka setelah melihat satu mangkok bubur yang belum juga tersentuh.


"Em ... belum, aku masih kenyang." Jawab Enja beralasan. Sedangkan Kalla memilih untuk keluar dari kamar Enja, ia tidak ingin mengganggu kenyamanan dari sang Kakak maupun Enja nya.


"Kak Enja, Kak Daka, aku keluar sebentar ya. Aku ingin lihat lihat Panti Asuhan ini, aku ingin melihat anak anak yang lainnya." Ucap Kalla berpamitan.


Daka hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Ibu Mala pun ikut berpamitan untuk keluar bersama Kalla.


"Iya, silahkan." Jawab Enja.


"Kamu masih saja bandel seperti dulu, sini aku suapin." Kata Daka, kemudian meraih mangkok yang ada di atas meja.


"Tidak usah, kamu tidak perlu menyuapi aku. Aku masih kenyang, nanti jika aku lapar juga bakal menghabiskan itu bubur.


"Lihat lah, badan kamu sangat pucat dan semakin kurus. Jangan bandel, sekarang aku yang akan menyuapi mu." Ucap Daka yang tetap dengan tekadnya.


Enja pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Daka.


"Maafkan aku yang sudah lama tidak pernah mendatangi tempat ini, aku sibuk dengan duniaku."


"Tidak apa apa, kamu pasti sibuk dengan pekerjaan mu." Kata Enja sambil menikmati bubur suapan dari Daka.


Tidak lama kemudian, datang lah seorang Dokter yang sudah berdiri diambang pintu.


"Ibu Dokter, silahkan masuk."


Enja pun kaget mendengar sebutan kata Dokter, sedangkan Daka memegangi tangan Enja agar tidak cemas dan juga gelisah.


"Dokter?" tanya Enja sambil gemetaran.


"Iya, aku tadi meminta sama Pak Satpam untuk menghubungi Dokter. Aku tidak ingin kamu kenapa napa, ini semua demi kesembuhan kamu." Jawab Daka meyakinkan.


"Permisi Tuan, eh maksud saya, permisi Pak. Apakah mbak nya sudah bisa untuk saya periksa?" tanya seorang Ibu Dokter dengan kebingungan untuk memanggil sebutan seorang Daka.


"Bapak kau! Seyla. Cepat buruan periksa, jangan banyak drama kamu ini." Bisik Daka dengan geram ketika dirinya harus dipanggil dengan sebutan Bapak.


"Ngapain juga kamu panggil aku Ibu Dokter, tidak sekalian Emaknya Dokter." Sahutnya lirih dengan kesal, Daka hanya nyengir pasta gigi.


'Kalau bukan saudara, ogah gua meriksa calon bini nya.' Batin nya berdecak kesal.


"Mbak nya sudah berapa lama sakitnya?" tanya nya sambil duduk didekatnya.


"Sudah sekitaran satu minggu, Dok." Jawab Enja dengan tatapan lurus kedepan. Sedangkan Dokter Seyla pun terkejut saat melihat pasiennya tidak mampu untuk melihat nya.


'Rupanya gadis ini tidak dapat melihat, kasihan sekali hidupnya. Sudah gitu dimana letak perhatian dari Daka? sungguh keterlaluan itu anak. Lihat saja, habis ini akan aku ceramahi habis habisan. Katanya orang kaya, tetapi lupa akan kekayaannya.' Batin Dokter Seyla dengan geram ketika melihat saudaranya yang begitu tega dengan perempuan yang disukainya, pikirnya.


Setelah diperiksa, Dokter Seyla memberikan resep obat untuk pasien. Kemudian mendekati Enja yang terlihat cemas dan gelisah.


"Mbak nya, mau ya kalau dirawat di rumah sakit?" bujuk Dokter Seyla penuh harap karena sangat prihatin saat melihat kondisinya yang terlihat semakin kurus.


"Di rumah sakit biayanya sangat mahal, Dok." Jawab Enja merasa minder.


"Kamu tidak perlu memikirkan biaya, aku yang akan menanggungnya. Sekarang aku sudah mempunyai tabungan yang cukup banyak, bahkan aku maaih mampu untuk membiayai kamu dirawat di rumah sakit. Terima lah saran dari Dokter, yang terpenting kamu sembuh." Ucap Daka menimpali.


"Tapi ..."


"Tidak ada tapi tapian, Sekarang ini juga kamu akan dibawa ke rumah sakit. Nanti ada Ibu Mala yang akan menemani kamu, karena aku harus bekerja." Ucap Daka yang tetap memaksa Enja.


"Iya Kak, jangan khawatir. Kak Daka sekarang sudah sukses, jadi tidak akan kekurangan hanya untuk mengobati Kak Enja." Kata Kalla ikut menimpali.


"Iya Nak Enja, terima saja tawaran dari Daka. Kesehatan itu jauh lebih penting dari apapun, yang terpenting kamu sembuh terlebih dahulu.


"Tuh kan, semuanya aja meminta kamu untuk sembuh. Lantas, kenapa kamu tidak ingin sembuh?"


"Bukan begitu maksud aku, karena aku tidak ingin menyusahkan banyak orang. Aku takut merepotkan kamu, itu saja." Jawab Enja dengan perasaan tidak enak hati.