
Selesai dipijat, Dey merasa lega. Meski kenyataannya masih merasakan sakit pada pinggangnya, setiknya bisa lepas dari seorang tukang urut tersbut.
'Gila, yang bener aja itu tukang urutnya. Mana badan kekar gitu, lagi. Pantas aja badanku terasa dipatahin, orangnya aja sudah kek pengawal saja.' Batin Dey sambil memperhatikan tukang urutnya sambil menahan rasa sakit yang masih ia rasakan.
Setelah bapak tukang urutnya sudah pergi dari ruangan tersebut, kini Dey tinggal lah sendirian.
"Aw! sialan, bukannya tambah untung yang ada buntung nih. Mana Papa masih memintaku untuk berangkat ke Kantor lagi, ah! sial banget nasib gua hari ini." Sambil menggerutu, Dey berusaha untuk bangkit dari posisinya.
Dengan susah payah, akhirnya Dey dibantu oleh salah satu pelayan yang sudah diperintahkan tuan Viko untuk memperhatikan putranya ketika mendapat kesulitan saat hendak bangkit dari tempat pijatnya.
"Pak Roy, tadi itu tukang pijat bukan sih! kejam bener memijatnya." Tanya Dey dengan sambil menahan pinggangnya.
"Tukang pijat, Tuan. Pak Baron memang pengawal di rumah ini, tapi dia juga seorang tukang pijat untuk pekerja di rumah ini." Jawabnya.
"Oh, pantesan. Badanku terasa remuk oleh perbuatannya, untung saja aku meminta untuk menyudahinya."'Ucap Dey yang memang dasarnya sudah mencurigainya.
Setelah berada di ruang tamu, Dey mendapati sang ibu yang terlihat seperti mau pergi keluar. "Mama mau kemana?" tanya Dey penasaran.
"Mama mau belanja kebutuhan dapur dan ditemani sama Vellyn, jadi kamu berangkatnya sama Papa saja. Oh iya, bagaimana pinggang kamu? sudah mendingan?" jawab sang ibu dan bertanya mengenai rasa sakit pada putranya.
"Apaan lah, Papa nyariin tukang urut saja salah. Bukannya sembuh, eh! sudah kek di plintir." Jawab Dey sedikit kesal sambil menahan pinggangnya.
"Oh iya, kata Papa anti kalau sudah ada di Kantor kamu akan dipijat lagi." Ucap sang ibu.
"Aduh Ma, ini saja masih sangat sakit. Kenapa harus dipijat lagi? yang ada tambah sakit, Ma." Jawab Dey menolak.
"Lebih baik kamu itu nurut, supaya pinggang kamu itu cepet sembuh." Ucap sang ibu mengingatkannya.
"Iya ya, Ma." Dey pun segera berangkat, ia tidak ingin berlama lama. Ditambah lagi berhadapan dengan sang adik, serasa tensi nya naik drastis.
Sedangkan di tempat lain, nampak ada sosok Vey yang tengah bersiap siap untuk berangkat ke Kantor.
"Vey, ingat dengan pilihan kamu itu." Ucap sang kakak mengingatkan.
"Pilihan Vey atau pilihan kakek, Vey berangkat. Tentukan saja tanggal penentunya, Vey akan melakukannya demi Kakek." Jawab Vey dengan perasaan yang masih kesal.
Dengan terburu buru, Vey segera berangkat ke Kantor. Berharap pening dikepalanya akan segera hilang bak ditelan bumi. Namun tetap saja, pikirannya terus dihantui bayang bayang yang tidak diinginkannya.
Sampai di Kantor, Vey duduk termenung di dalam ruangan kerjanya. Tepatnya satu ruangan dengan Bosnya, hanya beberapa jarak yang memisahkan diantara Bos dan sekretarisnya itu.
Vey menyangga dagunya seakan begitu berat untuk menerima permintaan dari kakeknya. Tanpa disadari adanya kehadiran dari Bosnya sendiri sambil manahan rasa sakit dipinggangnya, sedangkan Vey sendiri tetap fokus dengan sejuta lamunannya.
BRAK!!!
Seketika, Vey serasa jantungnya seperti mau copot. Bahkan lebih dasyat dari suara petir yang menggelegar.
"Kau ini, mau terima gaji buta? hah!" Dey semakin kesal melihat sekretarisnya yang ada di hadapannya itu tengah melamun dengan sesuka hati. Bukan kesal karena tengah melamun, Dey kesal dengan rasa sakit yang diakibatkan oleh Vey ketika menabraknya hingga terpental dan juga terjatuh dijalanan.
"Maaf Tuan, saya sedang tidak enak badan."'Jawab Vey dengan alasan, Dey masih menatapnya tajam.
"Buatkan kopi pahit sekarang juga, ingat! kamu yang membuatnya." Perintah Dey dengan tatapan penuh ancaman.
"Baik Pak Bos, saya permisi." Jawab Vey sedikit menahan rasa takut akibat tatapan tajam dari seorang Dey yang terlihat ingin memangsa musuhnya.
"Cie cie ... ceritanya sudah pindah posisi nih sekarang, ah senangnya bisa satu ruangan dengan Bos ganteng." Ledek Yeni sambil mengedipkan matanya menggoda.
"Dih! senang dari mananya, eneg mah iya. Sudahlah, aku mau membuatkan kopi buat Pak Bos." Jawab Vey, kemudian segera pergi begitu saja dari hadapan sahabatnya.
"Vey, kamu itu aneh. Semua karyawan berebut ingin menjadi sekretaris, nah si Vey kenapa merasa eneg. Memang ya, dunia Vey penuh terbalik. Mana dikatain perempuan laki, perasaan dianya normal normal aja deh. Ah entahlah, bikin pusing aja." Gumam Yeni dengan rasa tidak percayanya dengan sahabatnya sendiri yang terbilang aneh, pikirnya.
Sesudah membuatkan kopi untuk Bosnya, Vey segera kembali masuk ke ruang kerjanya. "Bos, ini kopi pahitnya." Ucap Vey sambil menyodorkan minuman kopinya.
"Coba kamu minum duluan, aku tidak mau ada racun di minuman kopiku. Dan aku pun tidak ingin mati sia sia karena minuman kopi buatan kamu. Bayangkan saja, ditabrak kamu saja sudah bikin badanku terasa sakit berkepanjangan. Apalagi dengan minuman kopi buatan dari kamu, bisa bisa mematikan." Perintahnya, Vey hanya bengong mendengar penuturan dari Bosnya.
"Dih! si Bapak, korban sinetron kali ya. Dih! tidak aku sangka, jika si Bapak doyan sinetron. Wow! benar benar unik si Bapak, ganteng sih! tapi ah sudah lah." Jawab Vey dengan entengnya tanpa Beban, bahkan jika dipecat pun akan merasa lebih senang, pikir Vey.
"Kamu mau mengejekku? hah! pakai panggil sebutan Bapak segala, kamu pikir aku ini Bapak kamu, hah. Dan sekarang juga kau minum ini kopi, atau aku yang akan meminumkannya lewat mulutku. Siapa tahu aja rasanya berubah manis, dan racunnya dapat dinetralkan dengan sebuah ciu ..." seketika Dey memperlambat ucapannya diakhir kalimatnya.
"Iya ya ya ya! sahut Vey yang semakin kesal dibuatnya.
'Gila, rupanya mes*um juga orang ini. Ya iyalah mes*um, dia kan baru pulang dari luar Negri. Pasti disana penuh kebebasan dalam pergaulan. Bahkan bisa saja sudah icap icip sana sini, dih! menjijikkan.' Batin Vey menerka nerkanya.
Dengan cepat, Vey segera menyesap minuman kopi buatannya sendiri.
" Sudah Pak, bagaimana?" tanya Vey. Dey pun segera meraih kopi yang disodorkan oleh sekretarisnya itu.
BRUG!! Vey pun terjatuh di lantai.
"Bangun Vey, bangun. Jangan bikin aku panik, Woe. Kamu pasti sengaja mengerjai ku, Vey. Awas saja kalau kamu mengerjaiku, aku bakal cium kamu dan aku gigit bibir kamu." Ucap Dey campur aduk dengan perasaan kesalnya dan rasa paniknya.
Vey sendiri mendadak ketakutan saat Dey mengatakan tentang akan menciumnya.
Plak plak plak plak.
Dey berkali kali menepuk kedua pipi milik Vey berulang ulang dengan perasaan panik dan juga kesal menjadi satu.
"Aku bohong, Bapak ..." Sahut Vey dengan senyumnya yang lebar.
"Kamu!!!!!" Dengan geram, Dey menjapit hidung milik Vey sangat kuat dan menariknya.
"Pak, lepaskan tangannya. Aku tidak bisa bernapas, aduh." Rengek Vey sambil berusaha untuk melepaskan tangan milik Dey.
"Berani ya, kamu mengerjaiku." Ucap Dey dengan tatapan kesalnya. Vey hanya mengigit bibir bawahnya deng perasaan yang sama geramnya.
"Sudah sana kembali ke tempat kerjamu, selesaikan tugas kamu." Perintah Dey, kemudian ia segera kembali duduk di kursi kerjanya.
Vey yang belum tahu apa yang harus dikerjakan, dengan berani ia kembali mendekati Dey yang tengah fokus dengan layar lebarnya.
"Pak Bos, saya harus mengerjakan tugas apa?" tanya Vey yang memang belum mengerti apa yang harus dikerjakan.
Dey yang baru sadar jika Vey memang belum ada pekerjaan untuknya, seketika idenya pun muncul untuk mengerjainya.
Sambil menatap lekat, senyum licik tengah dilemparkan ke arah Vey.