Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Tidak bersemangat


Vey yang mendapatkan pertanyaan dari Vellyn pun tersenyum. "Bukan Vell." Sahutnya dibarengi dengan senyum manisnya.


"Terus?" tanya Vellyn yang semakin penasaran.


"Sudahlah, nanti kamu akan tahu sendiri." Jawab Vey dan terus berjalan menuju ke Kantin, sedangkan Vellyn tidak ada cara lain selain mengikuti langkah kaki Vey berjalan.


"Vey, tunggu." Seru Yeni ketika sepasang matanya menangkap bayangan sahabatnya.


Vey yang merasa namanya dipanggil, segera ia memutar posisinya untuk menoleh kebelakang. Dilihatnya Yeni yang tengah berjalan kearahnya.


"Vey, kemana aja sih kamu? sedari tadi kamu tidak kelihatan. Apakah kamu mendapatkan hukuman dari Bos baru? aku khawatir, tau." Seru Yeni memanggil sahabatnya saat dirinya dapat mendapati keberadaan Vey yang hendak masuk ke Kantin. Yeni sendiri tidak begitu memperhatikan adanya sosok Vellyn yang tengah berdiri didekat Vey.


"Aku tadi ada pekerjaan dari Bos baru, Yen. Memangnya ada apaan sih, udah kek gak pernah bertemu satu tahun aja." Jawab Vey sambil menepuk pundak milik Yeni berulang ulang dengan pelan.


"Bukan begitu Vey, soalnya tadi aku melihat jika kamu ditarik sama Bos baru dengan kasar dan terlihat galak itu." Ucapnya tanpa menyadari adanya sosok yang ada didekat Vey. Disaat itu juga, Yeni tersadar dengan adanya perempuan cantik yang tidak jauh darinya.


"Karyawan baru, ya?" tanya Yeni tanpa rasa canggung. Selain sudah lama bekerja di Kantor milik keluarga Wilyam, sedikitpun tidak membuat Yeni merasa malu dan gugup.


"Iya, aku karyawan baru. Statusku saudara vey, perkenalkan namaku Vellyn." Jawabnya secepat mungkin dan mengulurkan tangannya seraya mengajaknya untuk berteman. Vey yang mendengar ucapan dari Vellyn hanya bisa berusaha untuk mengimbanginya.


"Iya Yen, Vellyn ini saudaraku. Kedatangannya di Kota ini untuk merubah nasib." Ucap Vey beralasan dan mencoba untuk meyakinkan sahabatnya.


"Oh karyawan baru, salam kenal dariku. Namaku Yenifa, sahabat Vey." Ucap Yeni yang juga ikut mengulurkan tangannya, keduanya pun berjabat tangan dan sama sama melempar tersenyum satu sama lain.


Setelah cukup lama berbicara, Vey maupun kedua temannya segera masuk ke Kantin. Sedangkan Vey tiba tiba teringat jika ponselnya tertinggal diruang kerjanya.


"Vell, Yen, aku tinggal sebentar ya, aku mau mengambil ponselku di meja kerjaku. Aku takut ada pesan dari kakakku, karena aku diminta untuk pulang lebih awal." Ucap Vey berpamitan sebentar.


"Iya sudah epetan, jangan kelamaan Vey." Jawab Yeni memberi pesan pada sahabatnya.


"Ok, tenang aja. Kamu tidak perlu khawatir," Sahut Vey meyakinkan.


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu." Ucapnya dan segera pergi meninggalkan kedua temannya.


Sambil lari kecil, Vey tetap fokus dengan satu arah dan tanpa memperhatikan sisi kanan maupun sisi kirinya.


BRUG.


"Sialan! kalau jalan itu lihat lihat, main lari aja. Kamu pikir ini jalan milik nenek moyang, Lu. Bisa lihat atau tidak sih" Umpat Selwy penuh kekesalannya tanpa berpikir seribu kali jika menghina seseorang.


"Kau!! jaga ucapanmu, Selwy!" sahut Vey yang merasa kesal untuk mendengarkannya. Tanpa pikir panjang, Vey segera mendekatkan diri pada Selwy dan mencengkram kerah bajunya dengan sangat kuat.


"Vey! lepaskan tanganmu." Bentak Selwy dengan emosi.


"Makanya, punya mulut itu di didik. Bukan diajari untuk ngomong seenak jidat kau itu, ngerti." Ucap Vey semakin kuat dengan cengkramannya, Selwy pun terbatuk batuk sambil mencoba melepas cengkraman pada Selwy.


"Aw! sialan, awas kau Vey." Umpat Selwy saat cengkramannya dilepas dengan cara didorong dengan kuat oleh Vey.


"Ok, siapa juga yang takut denganmu. Meski kau jago bela diri, tapi tidak membuatku menyerah untuk menghancurkan kamu." Sakit Selwy kembali menantang, Vey tidak peduli dan juga tidak meresponnya. Vey memilih untuk pergi dan segera mengambil ponselnya dimana ia melakukan pekerjaannya.


"Lihat aja Vey, aku akan membalasmu. Kamu pikir aku takut denganmu, aku tidak takut sama sekali. Apalagi untuk berkuasa di Kantor ini, aku pastikan kamu akan segera dipecat dan kembali menjadi gelandangan." Gumam Selwy dan segera pergi dari tempat tersebut.


Sedangkan Vey dengan terburu buru segera menuju ke tempat kerjanya. "Sial! awas kau Selwy." Umpat Vey sambil berjalan dengan langkah kakinya yang lebar.


Sesampainya di ruangan kerjanya, Vey segera mengambil ponselnya. Kemudian segera ia buka layar pada benda pipihnya untuk melihat sebuah pesan masuk.


"Pesan masuk dari kakek? ada apa, ya?" Vey yang penasaran segera membuka pesan masuk.


Dilihatnya dengan seksama, tidak ada satu kalimatnya pun yang tertinggal.


"Dih! yang benar aja, jam segini kak Denra memintaku untuk pulang." Gumam Vey mengerucutkan bibirnya.


"Ngapain Elu manyun kek gitu Vey, ada masalah? sini cerita denganku." Tanya teman satu kerjanya.


"Tidak Don, aku sedang tidak ada masalah. Kalau begitu, aku mau pergi ke Kantin." Jawab Vey dan berpamitan.


Dengan malas, Vey berjalan menuju Kantin. Pikirannya pum kembali pada sesuatu yang dimintai oleh sang kakek dan juga sang kakak.


'Kenapa secepat ini sih? padahal aku ingin menikmati kebebasan untuk memilih.' Batin Vey tidak bersemangat, tanpa sadar Vey sudah berada di Kantin.


"Vey, kamu kenapa? kok murung kek gitu. Kamu sedang ada masalah? duduk lah, aku sudah pesankan makanan untuk kamu. Bukankah hari ini masih santai untuk bekerja? besok baru padat pekerjaan kita." Tanya Yeni heran dengan sosok sahabatnya yang tiba tiba tidak bersemangat.


"Iya Vey, kamu kenapa? kok murung kek gitu. Ayo, kita makan sotonya. Kata Yeni kamu menyukai soto ayam, dan soto di Kantin ini sangat enak. Aku jadi penasaran, ayo duduk lah."


Dengan senyum yang tipis dan mengangguk, Vey akhirnya duduk didekat Yeni. "Aku hanya merasa tidak enak badan, jangan mencemaskan aku." Ucap Vey sambil mengambil sendok didekatnya.


"Ya sudah, setelah ini aku antarkan kamu untuk periksa. Sekarang kita makan dulu, nanti hambar sotonya." Sahut Vellyn sambil menyuapi mulutnya sendiri, Vey hanya tersenyum. Kemudian ketiganya menikmati sotonya hingga tak tersisa di mangkoknya masing masing.


"Wah, rupanya soto ayamnya sangat enak ya." Ucap Vellyn yang merasa ketagihan.


"Iya Vell, sotonya memang bikin nagih." Jawab Yeni.


"Kalau begitu besok besok mendingan aku sarapan di Kantin." Ucap Vellyn, Vey hanya tersenyum.


Disaat itu juga, tiba tiba ponselnya pun berbunyi menandakan ada seseorang yang tengah menelponnya.


"Sebentar ya, aku Terima dulu panggilan dari kakakku." Ucap Vey, kedua temannya pun mengangguk.


"Halo, Kak Denra." Sapa Vey tidak bersemangat.


"Apa!! kak Denra sudah berada didepan Kantor? cepat amat, bukankah kakek baru aja kirim pesan."


"Tapi ... Vey sedang di Kantin bersama teman Vey."