Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Sedikit lega


Lunika masih berdiam membisu, ia masih tidak mampu untuk menatap Denra yang dikenal baik dan tidak pernah menunjukkan sikap buruknya. Dan kini, Lunika benar benar sangat kecewa dengan nya.


Zicko yang melihat pemandangan yang sama diamnya, segera ia menghampiri sang istri yang tengah berhadapan dengan Denra yang juga teman akrabnya.


"Sayang, kamu masih marah dengan Denra?" tanya Zicko dengan suara lumayan lirih.


Lunika masih diam, ia masih menahan napas beratnya. Kekecewaannya masih belum juga mereda, Zicko segera memeluknya.


"Lun, jika kamu masih belum terima dan juga masih belum bisa memaafkan aku, sekarang juga aku siap untuk kamu laporkan ke pihak yang berwajib. Aku siap menanggung segala resikonya, aku tau jika aku memang sangat lah bersalah besar terhadapmu, suami kamu, bahkan keluarga besar Wilyam. Aku tau, kesalahanku ini tidak pantas untuk dimaafkan. Bahkan gara gara perbuatanku, suami kamu harus merubah wajahnya. Maafkan aku, Lun. Lakukan saja apa yang bisa kamu lakukan, aku tidak melarangmu untuk melaporkan aku." Ucap Denra penuh permohonan maaf pada Lunika.


Berulang ulang Zicko mengusap punggung milik istrinya, berharap pikirannya tidak lagi dikuasai oleh emosinya.


"Aku saja sudah memaafkannya, lantas kenapa kamu masih membencinya? maafkan lah dia, selagi kamu masih bisa untuk memberi maaf. Aku tau, hati kecil mu masih ada kata maaf untuk Denra." Ucap Zicko mencoba untuk mengingatkan istrinya.


"Tapi, rasa sakit itu benar benar sakit. Aku yang mengenalnya sangat baik, lantas kenapa tiba tiba dia menjadi buas. Bahkan dia begitu tega untuk mencelakai kamu? itu tidak adil." Ucap Lunika yang masih merasa benci pada teman sekolahnya, yakni pada Denra.


"Baik lah, jika kamu masih belum bisa memaafkan aku. Mungkin bila aku berada dibalik jeruji besi, kamu akan jauh lebih tenang. Jangan khawatir, aku tidak akan pernah menampakkan wajahku didepan hadapanmu." Ucap Denra yang tidak mempunyai cara lain selain menyerahkan diri pada pihak yang berwajib.


Lunika yang mendengarnya pun segera melepas pelukan dari suaminya.


"Tunggu!" Panggil Lunika pada Denra, sedangkan Denra tidak menghiraukan nya. Denra memilih untuk menghentikan langkah kakinya, namun tidak untuk menoleh.


"Aku memaafkan kamu, dan ini yang terakhir kalinya kau menjadi penghianat." Ucap Lunika dengan satu peringatan.


Senyum tipis telah ditunjukkan oleh Denra, kemudian ia menoleh kearah Lunika yang tengah berdiri didekat suaminya.


Karena merasa mendapatkan kata maaf, akhirnya Denra melangkah dengan dua langkah dan berhenti.


"Terima kasih banyak atas kata maaf darimu, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku pergi, semoga kalian berdua bahagia selalu. Selamat pada kalian berdua untuk melewati kehidupan yang baru." Ucap Denra berpamitan, kemudian Zicko mendekati nya dan memeluk tubuh Denra.


"Semangat untuk kamu, Denra. Aku yakin jika diluaran sana masih ada seorang perempuan yang lebih baik dari istriku, semoga kamu menemukan kebahagiaanmu." Ucap Zicko, lalu menepuk punggung milik Denra.


"Aku pamit, sampai jumpa." Jawab Denra, kemudian berpamitan dengan yang lainnya satu persatu.


Sambil pergi dan berjalan seorang diri, Denra meninggalkan tempat yang hampir saja akan mengakhiri hidupnya dibalik jeruji besi.


"Selamanya, tidak akan ada yang menggantikan posisi kamu dihatiku, Lunika. Biar lah aku akan simpan sendiri rasa sakit ini, aku percaya dengan namanya kesempatan. Jika memang tidak ada kata kesempatan, biar lah aku terus sendiri." Batinnya yang merasa dirinya telah mati rasa dengan wanita lain, mungkinkah karena terlalu dalam rasa itu. Hanya seorang Denra yang merasakannya, hingga dirinya harus masuk dalam permainannya sendiri.


Sedangkan didalam Mansion, satu persatu meninggalkan tempat tersebut. Dari Denra dan sang kakek Revan, lalu diikuti kakek Ganan dan yang lainnya.


Begitu juga dengan Jennyta dan Seril, keduanya telah diajak oleh Vey untuk pergi ke suatu tempat yang dimana untuk dijadikan tempat tinggalnya.


"Arnal, kamu boleh pulang. Oh iya, untuk hari besok aku izinkan kamu untuk libur. Kamu pasti butuh istirahat setelah melewati masalah yang baru saja diselesaikan, maafkan aku yang sudah membuatmu masuk dalam masalahku." Ucap Zicko yang merasa tidak enak hati, yang dimana Arnal yang selalu membantunya.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi. Lunika, aku pulang." Jawab Arnal dan berpamitan.


Sambil berjalan, Arnal mengusap wajahnya kasar. 'Aku masih menyukaimu, tapi aku mempunyai jarak untuk menatapmu.' Batin Arnal yang tidak bisa memungkiri akan perasaannya sendiri, meski perempuan yang di sukainya kini telah menjadi milik orang lain.


Setelah semua tidak ada lagi yang berada didalam Mansion, Tuan Zayen memerintahkan beberapa anak buahnya serta para pelayan untuk membereskan tempat tersebut.


Kini semuanya telah berada dalam perjalanan pulang ke tempat tujuannya masing masing, Lunika yang merasa capek pikiran dan juga capek badannya, ia hanya bersandar pada dada bidang milik suaminya.


Rasa ketakutan sedikit mulai pudar, apa yang dikhawatirkan kini telah usai permasalahannya. Kelegaan mulai dirasakan oleh keluarga Wilyam, serta keluarga yang lainnya.


Setelah cukup lama dalam perjalanan pulang, tidak terasa kini telah sampai didepan rumah utama, yakni di kediaman keluarga Zayen.


"Sayang, syukur lah jika kalian berdua baik baik saja. Mama sempat jantungan saat kakek Ganan memberi pesan jika kalian berada di dalam Mansion." Ucap istri Tuan Zayen yang begitu khawatir, kemudian memeluk menantunya dengan erat.


Setelah itu, Tuan Gantara yang tidak lain ayah kandungnya pun memeluk anak perempuan satu satunya.


"Papa, Mama dimana?" tanya Lunika yang tidak mendapati sosok ibunya di dalam rumah.


"Mama kamu sedang menemani Niko tidur, sayang. Sekarang lebih baik kamu bersihkan badan kamu terlebih dahulu, kemudian jika kamu ingin istirahat, istirahat lah. Nanti biar pelayan yang akan membawakan makanan untuk kalian berdua." Kata Beliau kepada anak dan menantunya.


"Iya Ma, kalau begitu kita masuk ke kamar terlebih dahulu.


Karena sudah terasa gerah dan juga badannya terasa lengket, Zicko dan Lunika segera masuk ke kamar.


Sampainya didalam kamar, Zicko yang benar benar terasa lelah, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Sedangkan Lunika memilih untuk membersihkan diri dan ingin cepat cepat segera beristirahat. Karena rasa kantuk yang sulit untuk ditahan, akhirnya Zicko terlelap dari tidur nya. Bahkan sudah tidak peduli dengan aroma yang sangat menggoda indra penciuman nya.


"Sayang, bangun. Mandi dulu, biar badan kamu terasa enakan." Panggil Lunika berbisik didekat daun telinga milik suaminya.


Zicko masih juga tidak meresponnya, ia masih terlelap dari tidurnya. Lunika yang tidak ingin mengganggu tidur sang suami, akhirnya ia memilih untuk tidur disebelahnya.


"Akgirnya, semua telah berakhir." Gumam Lunika sedikit lega, mau bagaimana pun rasa khawatir masih terngiang ngiang dalam ingatannya.


Hai readers... masih ingin lanjut kisah adiknya Deyzan? ditunggu bab berikutnya ya ... Ada Arnal ada Romi juga pastinya 😊


Belum End ya... Dey sama Vey masih lanjut juga, soal konflik pasti ada.