
Karena rasa tidak sabaran nya, Vellyn langsung mengajak Tante nya untuk segera bertemu dengan saudara sepupunya.
"Tante, Vellyn takut nih."
"Takut kenapa? hem."
"Takut aja sih Tante, kalau kak Zicko punya niat untuk mengerjai Vellyn. Kakak pertama kan kek gitu. Suka jailin Vellyn ampe bikin Vellyn kesel, punya kakak cowok tapi semua menyebalkan." Jawab Vellyn menggerutu dan mengerucutkan kedua bibirnya.
"Ada ada saja jalan pikiran kamu itu, sudah ah jangan ngomongin kedua kakak laki laki kamu. Kasihan mereka berdua kalau kamu bicarakan, nanti kalau mereka berdua tersedak bagaimana?"
"Biarin aja deh Tante, ada istrinya ini." Lagi lagi Vellyn masih berbicara dengan ketus, sedangkan Bunda Afna hanya tertawa ketika mendapati keponakannya tengah berdecak kesal.
"Coba kamu lihat, Niko dan Bundanya sedang bermain main tuh." Ucap Bunda Afna sambil menunjuk ke arah cucu kesayangan dan menantunya, Vellyn pun mengarahkan pandangannya kearah Niko yang hendak di gendong seorang laki laki. Sedangkan pandangan nya Lunika justru ke arah yang lain.
"Woi!! keponakan Gue, itu." Teriak Vellyn sambil berlari kencang untuk mengejar nya, Lunika yang mendengar seseorang yang berteriak ia segera menoleh ke arah sumber suara.
"Woi, Balikin keponakan Gue. Balikin! tidak, apa perlu aku meminta orang orang untuk menangkap mu." Dengan suara yang cukup nyaring, Vellyn berusaha untuk merebut keponakannya. Sedangkan lelaki yang ada dihadapan nya itu justru mengerutkan keningnya dengan tatapan heran.
"Kalau aku tidak mau, kenapa? mau marah? silahkan." Jawabnya santai, sedangkan Vellyn sendiri semakin geram melihatnya.
"Kak Lun, kenapa Kakak diam aja? itu Niko mau di culik? kak Zicko nya mana?"
"Kak Zicko? memang nya kamu belum bertemu dengan nya?" tanya Lunika, Vellyn menggelengkan kepalanya.
"Vellyn, Vellyn. Lah itu, Kakak Zicko nya kamu." Ucap Bunda Afna sambil menunjuk kearah Zicko yang tengah menggendong putranya, yakni Niko.
Seketika, Vellyn membelalakan kedua bola matanya saat pandangan nya tertuju pada siang kakak.
"Kak Zicko!!!!!"
"Aw!! Vellyn, lepasin. Sakit telinga ku, tau. Gil*a kamu ini, sengaja mau mematahkan telinga ku." Pekik Zicko sambil memegangi telinganya yang mendapatkan jeweran dari sepupunya.
"Rasain, memangnya enak Vellyn jewer? salah sendiri ngerjain Vellyn sampai kedua kalinya, wek ...." kata Vellyn dan menjulurkan lidahnya.
"Reseh, kamu ini. Tau gini tadi tak kerjain abis abisan kamu, biar nyahok." Ucap Zicko yang tak mau kalah, sedangkan Lunika dan Bunda Afna hanya tertawa kecil saat melihat nya.
"Sudah sush sudah, kalian berdua ini sudah pada tua nya. Masih aja kek anak kecil, malu ah. Zicko, jangan diulangi lagi."
"Wek ... kena marah sama Tante." Kata Vellyn yang masih menjulurkan lidahnya untuk meledek sepupunya.
Zicko yang hendak menjewer Vellyn, disaat itu juga sang ibu lebih dulu menjewer putranya.
"Aw! sakit, Ma ..."
"Mama sudah bilang apa, tadi? hem."
"Niko keponakan Ante Vellyn yang paling ganteng, sini ikut Ante ayuk ..." Ajak Vellyn sambil merentangkan kedua tangannya sambil berjongkok. Sedangkan Niko hanya menggelengkan kepalanya dan merangkul kaki kanan milik Zicko, seraya memberikan isyarat meminta gendong. Sang ayah pun langsung menggendong putranya.
Disaat itu juga, Vellyn langsung bangkit dari posisinya dan ikutan berdiri sambil mengerucutkan bibirnya.
"Niko kok jadi berubah sih ... biasanya juga langsung minta gendong Ante. Sekarang kok jadi takut sama Ante, padahal Ante pingin gendong Niko." Kata Vellyn dengan lesu dan masih mengerucutkan bibirnya.
"Bibir mu itu dikondisikan dulu, Vel. Tidak perlu dimonyong monyongin gitu juga, kali."
"Dih, habisnya Vellyn gagal merayu Niko. Ah, Niko kek gitu sih. Ante selingkuh nanti, kalau Niko tidak mau Ante gendong." Lagi lagi Vellyn memasang muka sedihnya.
"Vellyn, jangan gitu dong. Niko sedang dalam pendekatan, jadi biarkan Niko mengenali Papa nya terlebih dahulu. Dalam satu minggu ini, waktu nya Zicko sepenuhnya bersama Niko. Jadi, jangan kamu ganggu kedekatan mereka berdua. Lebih baik kita sekarang mencari tempat untuk makan siang, bagaimana? biar kak Zicko dan kak Lunika bersama Niko dapat menghabiskan waktunya dalam seharian ini untuk saling mengenal lebih dekat lagi." Ucap Bunda Afna memperjelas permasalahan nya. Vellyn yang mendengarnya pun tersenyum.
"Ah iya, Vellyn baru ingat. Wajah kak Zicko kan berubah total, jadi Kak Lunika juga harus melakukan pendekatan lagi, cie ..." lagi lagi Vellyn menggodanya.
"Sudah sana pergi, carikan menu makanan yang menggugah selera. Bila perlu Bebek bakar, sambal yang ekstra pedas." Usir Zicko dan memberi pesan pada sepupunya, yakni Vellyn.
"Hem, iya ya ya kakak pertama." Sahut Vellyn, kemudian ia segera menggandeng tangan milik Bunda Afna untuk cepat cepat meninggalkan tempat tersebut.
Kini tinggal lah Zicko dan istri bersama putra kesayangan nya untuk menikmati kebersamaan yang selama ini telah di rindukan.
Dengan perasaan bahagia, akhirnya Zicko dapat merasakan saat dirinya menggendong putra kesayangan nya yang selama ini terpisah karena jarak dan waktu serta keadaan yang belum memungkinan.
Saat semua dapat di lewati dan teratasi dengan baik, kini Zicko akhirnya dapat merasakan betapa bahagianya ketika berkumpul dengan keluarga kecilnya yang sekian lama ia rindukan.
Rindu yang begitu sakit, namun tetap untuk bertahan dengan rasa sakit itu. Demi semuanya baik baik saja, Zicko merelakan kebahagiaan nya untuk ditaruhkan dengan kesabaran.
Niko yang sudah berada di gendongan sang ayah, Zicko berkali kali mencium kedua pipi milik putranya dan juga keningnya. Perasaan bahagianya benar benar tidak bisa ia uraikan dengan kata kata, karena terlalu bahagia hingga sulit untuk diartikan.
Berulang kali Niko mengusap wajah sang ayah yang begitu mulus hingga ikutan mencium pipi milik ayah nya. Zicko semakin gemas dibuatnya oleh tingkah anaknya.
"Pa -- pa, Pa pa, Pa pa pa pa pa." Seru Niko sambil memanggil sang ayah dengan sebutan Papa, meski masih terdengar menggambaskan.
"Iya sayang, ini Papa. Pa pa, Papa nya Niko." Ucap Zicko yang lagi lagi merasa gemas dengan putranya, Lunika yang melihat kedekatan seorang anak dan ayah nya yang begitu cepat lengket membuat perasaannya sangat bahagia.
'Akhirnya, suamiku sudah meluluhkan putranya. Semoga kedekatan mereka berdua akan terus terjaga hingga dewasa.' Batin Lunika dengan doa serta harapan.
Setelah cukup lama bermain dan bersenda gurau bersama anak dan istri, Zicko mengajaknya untuk menyusul Bunda Afna dan Vellyn.
"Sayang, aku sudah lapar nih. Udahan dulu ya mainan nya, nanti kita lanjutkan lagi jalan jalannya. Ngomong ngomong Mama nyari tempat dimana? jangan jangan masih jauh, lagi."
"Itu, Mama dan Vellyn. Ayo kita kesana, aku juga sudah lapar." Ucap Lunika sambil menunjuk kearah yang ditunjukkan.