
Zicko dan istri masih berada didalam kamar, dengan lembut Zicko mengecup keningnya dan mendaratkan ciu*mannya pada bi*bir ranum milik istrinya. Keduanya beradu dalam asmara cintanya, bahkan dunia terasa milik berdua. Bahkan, waktu sarapan pagi pun telah tergantikan dengan nikmatnya berc*inta.
"Sayang, sop buntutnya?" Lunika mendadak teringat akan masakannya.
"Hei kita sedang bercinta, sayang. Kita masih proses Zicko junior, kenapa kamu memikirkan sop buntut? lupakan sop buntutnya." Pekik Zicko mendadak menghentikan aktivitasnya.
"Ah iya, aku lupa." Ujarnya sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.
Zicko yang sudah tidak lagi sabar, dengan sigap ia melepaskan sesuatu yang telah menempel pada dirinya dan sang istri. Hingga tidak ada sehelai benang pun yang menempel kecuali selimut tebal yang menutupi sesuatu yang polos.
Dengan sentuhan sentuhan lembut, Zicko memperlakukan istrinya begitu lihai hingga pertahanan pada keduanya tidak lagi dapat ditahannya hingga tembus pada dinding pertahanan.
Setelah melakukan ritual panjangnya, Lunika dan Zicko masih bermanja manja layaknya orang yang tengah jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Jangan pernah bermain drama lagi, aku tidak menyukainya. Jika mau bermain drama, tanyakan dulu padaku. Kamu tahu? drama dan real itu tidak beda jauh, terkecuali dramanya yang penuh drama."
"Iya, aku minta maaf. Eh ngomong ngomong mana ada dramanya yang penuh drama, ada ada saja kamu ini."
"Hem, terserah kamu saja. Ayo mandi, nanti keburu sop buntutnya hambar."
"Hem, aku udah kenyang."
"Maksudnya udah kenyang? aaah! iya, aku tahu. Sop buntut 'kan? yang original."
"Original? sop buntut original? apaan? aku tidak mengerti maksud kamu, sayang."
"Sudah ah, lupakan. Mandi dulu kita, nanti kamu baru mengerti. Sop buntut originalnya yang bikin nagih."
Lunika masih berpikir keras tentang apa yang dimaksudkan oleh suaminya itu. Berulang ulang ia berucap "sop buntut original" pikir Lunika. Sedangkan Zicko langsung menggendong istrinya yang tanpa bu*sana sampai dikamar mandi. Lunika sendiri masih sibuk memikirkan perkataan suaminya, entah kenapa membuat Lunika ingin segera mendapatkan jawabannya.
"Aah! tau ah, sop buntut original? berarti mentah dong? eh! kok mentah. Dih!! kenapa aku jadi ngeres begini sih, sop buntut mentah. Apaaaa!!! sialan." Ucap Lunika setengah sadar dari apa yang telah ia pikirkan, lalu menatap serius pada suaminya. Zicko yang melihat ekspresi istrinya langsung tertawa lepas tatkala sang istri merasakan sesuatu yang mengenai dirinya dan dapat menangkap apa yang dimaksudkan suaminya.
"Kamu ..."
Dengan cepat, Zicko mengunci bi*bir manis milik istrinya dengan ciu*man yang hangat. Kemudian turun pada jenjang leher milik istrinya. Semakin kebawah, semakin menggila. Zicko yang semakin ketagihan, ia kembali melanjutkan ritualnya didalam kamar mandi. Lunika yang sudah merasa capek, ia sendiri tidak dapat menolaknya. Apa yang sudah diinginkan suaminya, Lunika melayaninya dengan baik.
Semakin hari, Zicko menjadikan istrinya bagian dari candunya. Zicko semakin tidak terkendali, bahkan sesuatu yang ada didekatnya pun ikut berserakan entah kemana.
'Pengantin baru, bahkan dengan waktu jam makan saja sudah dilupakan. Rasa kenyang pun seakan sudah menguasai tenaganya. Berbeda denganku, kalau belum makan seperti mau pingsan saja.' Gumam mbak Yuyun yang tengah menghangatkan sup buntutnya setelah mendapat perintah dari tuan mudanya.
Tidak menunggu lama, Zicko dan Lunika telah berada di ruang makan. Dengan sedikit khawatir, Lunika menutupi jenjang lehernya dengan rambutnya yang terurai dan di kedepankan.
"Kenapa rambutmu tidak dikuncir saja? apa kamu tidak terasa gerah? hem."
"Apa kamu lupa, karena ulahmu yang beringas tadi. Jenjang leherku penuh tanda kepemilikan kamu, aku malu."
"Kenapa mesti malu, sayang. Di rumah ini tidak ada yang berani berkomentar, apapun itu."
"Biarin aja, aku masih punya rasa malu. Apalagi dilihat sama mbak Yuyun, malu ah. Tidak apa apa dengan rambutku, tidak ada yang rontok kalau tidak ditarik, sayang." Ujar Lunika yang bersikukuh, sedangkan Zicko hanya mengangguk mengerti.
Tidak lama kemudian, mbak Yuyun telah memanaskan makanan yang ada dimeja. Lalu, Zicko dan Lunika menikmati makan siangnya dengan sop buntut buatan Lunika.
Seketika, Zicko seperti tidak percaya saat menikmati sop buntutnya.
"Sempurna! sop buntutnya sangat menggugah selera, sayang. Rasanya tidak kalah jauh dengan resep milik restoran Datuk, benar benar sempurna. Rupanya kamu itu mahir disegala bidang, bahkan tidak hanya pandai ber akting saja. Tetapi juga mahir dari segi bela diri dan juga memasak. Besok apalagi ya? aaah! iya, bikin kueh." Ucap Zicko memuji istrinya.
"Jangan berlebihan, aku tidak menyukai pujian yang terlalu berlebihan. Kalau soal kueh, aku belum belajar membuatnya. Karena apa? karena aku sudah gagal duluan, dan sekarang aku sedang menyerah." Jawab Lunika yang tiba tiba teringat saat dirinya memilih untuk menjadi istri sandiwara.
"Kenapa menyerah? mulai sekarang, aku tidak akan melarangmu untuk belajar di bidang yang kamu sukai. Tapi, kamu tetap dalam aturanku serta pengawasan dariku. Bukan berarti aku kejam padamu, tapi aku ingin menjagamu dari orang orang yang berencana untuk melukaimu."
Ucap Zicko.
"Maksudnya? aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan. Memangnya siapa yang ingin melukaiku? aku rasa aku tidak mempunyai musuh." Jawab Lunika yang tidak mengerti.
"Kamu tidak akan pernah mengerti, jika sesuatunya belum terjadi pada diri kamu. Yang aku minta dan yang aku inginkan, ikuti saja peraturanku dan jangan banyak protes. Aku tahu bahwa kamu jago bela diri, tapi aku tidak bisa menjaminnya." Ucap Zicko dengan serius menatap istrinya.
"Aku masih belum bisa menangkap apa yang kamu ucapkan sedari tadi, memangnya masalahnya apa? sampai sampai ada orang yang akan melukaiku. Apakah Arnal? Hana? mantan kamu yang tadi? atau ... Aden? atau ... keluarga kamu sendiri."
"Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku tidak tahu. Yang jelas banyak orang yang tengah mengincarmu, soal apanya aku sama sekali tidak mengetahuinya. Karena aku bukan tipe orang yang suka menuduh, aku hanya berjaga jaga."
"Baiklah, aku nurut saja dengan apa yang telah kamu perintahkan padaku. Asal itu bukan hal yang salah, aku tetap nurut padamu. Karena pada dasarnya aku sendiri tidak bisa untuk asal berasumsi, dan aku lebih memilih untuk berjaga diri."
"Ya sudah, ayo habiskan dulu makanannya. Setelah ini, aku akan mengajakmu kesuatu tempat untukmu belajar. Karena bila belajar didalam kamar, pikiran kita akan mudah lelah dan bosan. Maka dari itu, aku menunjukkan tempat yang pas untuk bersantai sembari belajar." Ucap Zicko sambil menyuapi dirinya sendiri.