
Setelah cukup lama membicarakan sesuatu dengan orang kepercayaannya, Zicko akhirnya menutup pembicaraannya. Kemudian setelah itu orang kepercayaan nya berpamitan untuk pulang. Sedangkan Zicko yang sudah tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan, dirinya memilih untuk kembali ke kamarnya.
Sampainya sudah berada di dalam kamar, Zicko tidak mendapati istrinya. Kemudian ia mengecek ruangan perawatan yang ada disebelah kamarnya, dan dilihatnya sang istri yang sedang mendapatkan perawatan oleh orang orang suruhannya.
Sambil duduk bersandar dan bersantai, sesekali Zicko mengecek laporan dari anak buahnya.
Sedangkan didalam ruangan yang tidak begitu lebar, Lunika sedang mendapatkan perawatan khusus.
"Mbak, boleh tanya tidak?" tanya Lunika membuka suara.
"Silahkan, Nona. Tanyakan saja jika ada yang ingin Nona tanyakan."
"Mbak nya sudah berapa lama bekerja dengan Tuan Rayan?" tanya Lunika menyelidik.
"Oooh Tuan Zicko,maksud Nona? sekitaran 1 tahun, Nona. Memangnya ada apa, Nona?" jawabnya dan balik bertanya.
"Satu tahun? terus ... rumah yang kecil itu? Mbak nya juga tahu jika Rayan itu Tuan Zicko?" tanya Lunika yang masih menyimpan rasa penasaran.
"Saya mengetahuinya sudah satu tahun yang lalu, Nona. Kalau soal rumah kecil itu saya kurang tahu, mungkin ayah mertua Nona yang bisa menjelaskannya." Jawabnya, Lunika yang merasa kurang puas dengan jawaban tanpa penjelasan, ia merasa gagal untuk mengorek informasi.
'Dengan siapa aku harus mencari tahu kebenarannya, apa iya aku harus meminta tolong sama ... Dia saja. Tapi ... sepertinya dia juga sudah dibungkam sama Tuan nya, itu pasti.' Batinnya yang masih terus berpikir.
Tidak terasa Lunika telah selesai melakukan perawatan, kemudian ia memilih untuk berendam dengan air hangat. Berharap apa yang membuatnya penasaran akan terpecahkan semuanya.
Setelah tidak ada lagi yang berada di ruang perawatan, Lunika masih sendiri didalam kamar mandi untuk berendam sambil menenangkan pikirannya dengan aroma terapi.
"Aku masih tidak percaya, jika ada yang tega melakukan semua ini padaku. Tapi ... bagaimana perasaanku, apa aku bisa untuk jatuh cinta lagi? itu mustahil bagiku. Antara cinta, egois, dan benci sangat beda tipis. Maafkan aku, mungkin aku masih butuh waktu untuk menerima kenyataan ini." Gumam Lunika sambil memejamkan kedua matanya.
Tanpa Lunika sadari, sejak dirinya memejamkan kedua matanya sambil bergumam, rupanya sudah ada sang suami yang tengah duduk disebelahnya.
"Aku tidak akan pernah memaksamu untuk jatuh cinta lagi padaku, setidaknya kamu mau mengenaliku saja itu sudah jauh lebih cukup. Jika kamu sudah mati rasa dengan perasaanmu sendiri, aku tidak akan pernah cemburu. Karena aku tahu, cintamu masih untuk ayah dari anakmu." Ucap Zicko yang juga berterus terang, dirinya pun tidak ingin ada paksaan apapun untuk istrinya. Semua pilihan biar lah sang istri yang akan memilihnya, pikir Zicko. Disaat itu juga Lunika kaget bukan main, yang dimana suaminya sudah berada disebelahnya.
Ada rasa malu dan juga rasa bersalah, itu sudah pasti. Malu, karena suaminya sudah mendengarkannya langsung tanpa rekayasa. Merasa bersalah, karena sudah menyakiti hatinya lewat ucapannya sendiri.
"Aku tidak membutuhkan alasan dari kamu, yang terpenting status mu akan tetap menjadi istriku sampai kapanpun. Aku tidak akan melakukan sebuah perceraian, apapun alasannya. Kamu akan tetap menjadi istriku untuk selama lamanya, meski aku tidak akan pernah mendapatkan cintamu sekalipun." Sahut Zicko dengan berucap sedetail mungkin, Lunika sendiri hanya terdiam tanpa bergeming sedikitpun.
"Sudah cepetan selesaikan mandinya, setelah itu aku akan mengajakmu untuk makan malam di rumah Utama. Bukankah kamu ingin bertemu Dengan Niko? buruan, selesaikan mandinya." Perintah dari Zicko, sedangkan Lunika hanya mengangguk tanpa bersuara.
Setelah sang suami tidak ada didalam kamar mandi, kemudian Lunika segera menyelesaikan ritual mandinya. Begitu juga dengan Zicko yang mulai bersiap siap untuk membersihkan diri.
Setelah keduanya sudah bersiap siap, Lunika dan suami segera keluar dari kamarnya. Sambil menuruni anak tangga, pikiran Zicko mulai gelisah dan tidak tenang. 'Aku bisa memilikinya, namun tidak untuk cintanya. Seperti inikah rasanya tidak dianggap menjadi suaminya? haruskah aku untuk tetap bersabar? entahlah. Aku mengejarnya, seperti aku mengejar bayanganku sendiri. Yang dimana aku begitu kesulitan untuk memilikinya.' Batin Zicko sambil menuruni anak tangga, ia mulai dilema akan pikirannya sendiri yang dimana dirinya harus bisa mendapatkan cintanya kembali.
Selama perjalanan, Lunika tidak bersuara sepatah kata pun. Diam, diam, dan terus berdiam diri tanpa bergeming.
DUG
"Aw!" pekik Lunika sambil meringis menahan sakit pada bagian keningnya.
Seketika, Zicko segera menepikan mobilnya dipinggir jalanan. Karena dirinya merasa ada sesuatu kesengajaan atas kejadian tersebut, segera ia menghubungi anak buahnya untuk melakukan penyelidikan.
"Kamu tidak apa apa? sini, coba aku lihat." Tanya Zicko dengan perasaan cemas, ditambah lagi dengan keadaan yang semakin genting dan juga was was. Membuat aktivitasnya seperti dihantui bayang bayang yang mengerikan, bahkan takut akan adanya pertumpahan darah hanya karena masalah sepele, pikirnya.
"Aku tidak apa apa, cuman sedikit sakit aja. Nanti juga sembuh sendiri kok, luka seperti ini sudah biasa bagiku. Bahkan ada yang lebih parah lagi, ini mah hanya luka biasa." Jawab Lunika sambil mengusap usap keningnya.
"Sekarang kamu sudah percaya, bukan? sebuah teror akan terus mengikuti kita? bahkan ketika kita tengah duduk dengan tenang sekalipun. Maafkan aku dengan terpaksa membohongi kamu, karena aku tidak ingin ada yang melukaimu. Sejak kita tertangkap basah oleh warga karena memang rencanaku untuk menyelamatkan kamu, disaat itu juga identitas ku mulai dicurigai. Dan sekarang, aku sudah tidak bisa lagi untuk menutupi tentang jati diriku ini. Aku melakukan kebohongan, semata hanya ingin melindungi kamu. Karena kamu lah yang menjadi sasarannya, bukan aku."
Disaat itu juga, Lunika baru menyadari akan pengorbanan dari suaminya itu. Sungguh, Lunika tidak pernah menyangka nya. Jika suaminya benar benar mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan dirinya.
Seketika, Lunika langsung memeluk erat tubuh suaminya meski berada didalam mobil. Lunika yang sudah tidak dapat menahan rasa sesak didadanya, ia langsung menangis sesenggukan. Air matanya terus membasahi kedua pipinya hingga tidak tau lagi harus berkata apa pada suaminya.
Zicko yang tidak ingin istrinya banyak pikiran, sebisa mungkin dia mencoba untuk menenangkannya. Dengan pelan, Zicko mengusap punggung milik istrinya berulang ulang. Berharap, kecemasannya sedikit demi sedikit segera pergi dari ingatannya.
Karena tidak ingin istrinya larut dalam kesedihan, Zicko segera melepas pelukannya dan menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya.
"Sekarang lebih baik tenangkan pikiran kamu, jangan terlalu memikirkan sesuatu yang dapat memicu kesehatanmu. Sambil menunggu anak buah Papa, ini aku ada minuman, minumlah." Ucap Zicko mengingatkan sang istri, kemudian ia menyodorkan minuman padanya.