
Dengan ruang kamar yang tidak begitu luas, kini didalamnya ada sepasang pengantin yang tengah tertidur pulas. Merasa nyaman, keduanya pun terlelap dari tidurnya dan berbalutkan dalam satu selimut.
Sedangkan di kediaman keluarga Karsa, sosok Aden tengah duduk termenung sambil melamunkan sesuatu.
"Aden, kamu belum tidur? sudah jam berapa ini?" tanya sang kakek mengagetkan.
"Kakek, kenapa kakek juga belum tidur?" panggil Aden dan melempar pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan dari kakeknya itu. Sedangkan sang kakek ikut duduk disebelah cucu kesayangannya.
"Kebiasaan kamu, ditanya balik bertanya. Ayo, ceritakan saja keluh kesahmu. Kakek tahu, kamu pasti sedang ada masalah. Jangan kamu pendam sendiri masalahmu, yang ada kebencian dan dendam yang kamu kuasai." Jawab sang kakek mencoba menasehatinya.
"Tidak ada apa apa kok, Kek. Aden hanya sedang menyesali dengan perasaan Aden pada seseorang yang Aden sukai, hanya itu Kek." Ucap Aden menjelaskannya.
"Maksud kamu menyesali itu apa, Den? kakek tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan." Tanya sang kakek yang penasaran.
"Aden gagal untuk mendapatkan perempuan yang Aden sukai, Kek. Sekarang perempuan yang Aden sukai sudah menjadi istri teman sekaligus saudara Aden sendiri, entahlah." Jawab Aden dengan lesu, sang kakek pun tersenyum pada cucu kesayangannya dan menepuk punggungnya dan seakan menguatkannya.
"Apakah yang kamu maksud itu adalah istri Zicko?" tanya sang kakek mencoba menebaknya.
Seketika, Aden menoleh kearah sang kakek. Aden menatapnya tidak percaya, jika tebakan kakeknya adalah nyata adanya. Dengan kasar, Zicko langsung menarik nafasnya dan membuangnya kasar.
"Kenapa kamu diam? apa benar yang kakek ucapkan?" tanya sang kakek memastikannya.
"Iya, Zicko yang telah memenangkannya. Bahkan, dengan kekuasannya yang dimilikinya sangat mudah untuk mendapatkan apa yang dia mau. Beda dengan Aden, Kek. Kenapa dari dulu selalu Zicko yang harus menjadi saingannya, kenapa Kek?" Jawab Aden dengan gondok dengan nafasnya yang berat.
"Kenapa kamu harus emosi, Nak? mungkin disinilah ujian kamu untuk belajar tentang kesabaran dan lapang setiap kamu menerima kenyataan pahit sekalipun." Ucap sang kakek yang terus menasehati cucunya.
"Iya, tapi mau sampai kapan, Kek? mau sampai rambut Aden memutih? yang benar saja." Jawab Aden dengan kesal dan berusaha untuk menahan emosinya, meski kenyatannya sangat lah menyakitkan.
Karena sudah mulai dikuasai emosinya, Aden langsung bangkit dari posisi duduknya. Sang kakek yang melihat cucunya yang mulai ingin meluapkan emosinya, segera beliau ikut bangkit dari posisi duduknya dan mendekatinya.
"Kakek mohon, tahan emosi kamu. Cukup masa lalu keluarga besar Karsa berurusan dengan keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta, jangan kamu ulangi lagi masa lalu itu." Ucap sang kakek menasehati sambil memegangi pundak milik cucunya itu.
Sedangkan Aden yang mendengar penuturan dari kakeknya, segera ia menoleh kearah sang kakek yang tengah berdiri disebelahnya. Kemudian, Aden menatap lekat wajah kakek yang dimilikinya.
"Aden tidak bisa janji, Kek." Jawab Aden yang masih menatap jalanan lewat jendela kaca kamarnya.
"Kamu itu tampan, pintar, dan juga tidak kalah suksesnya. Lalu, kenapa kamu harus merusak nama baikmu hanya karena seorang perempuan? hem.' Ucap sang kakek mengingatkan, Aden pun hanya tersenyum tipis mendengarkannya. Lalu, ia menyerah untuk membicarakan masalah pribadinya.
"Tidurlah, jangan bergadang. Tidak baik untuk kesehatan, Kakek sayang kamu." Jawab Aden dan berusaha untuk bisa tersenyum.
Setelah berkata ingin istirahat untuk segera tidur, Aden langsung menjatuhkan badannya ke tempat tidurnya. Aden tidak perduli dengan pakaian yang ia kenakan, dirinya tetap fokus untuk menenangkan perasaannya yang tengah gundah gulana.
Karena tidak lagi bisa menahan rasa kantuk dan sepasang matanya tidak bisa untuk bergadang, akhirnya menyerah begitu saja. Hingga sepasang matanya tertidur pulas tanpa disadarinya.
Begitu juga di kediaman rumah milik orang tuanya Arnal yang tidak jauh beda dirinya sama halnya dengan Aden yang tengah sibuk memikirkan seorang perempuan gang kini telah bersuami.
"Sudah malam, kenapa kamu masih juga belum tidur?" tanya Hana dengan gelisah.
"Bukan urusan kamu, jika kamu mau tidur! tidur saja sendiri. Ingat! aku tidak sudi tidur dengan perempuan sepertimu, ngerti! kamu." Jawab Arnal dengan suaranya yang membenbak, seketika Hana langsung menciut nyalinya.
Arnal yang juga sedang dikuasai emosinya pun ingin rasanya meluapkan kekesalannya. Berkali kali Arnal mandi meski tengah malam, berharap rasa pusing yang bersemayam dikepalanya pun segera pergi tanpa banyak dituntutnya.
"Ayo lah, kita tidur. Sekarang sudah tengah malam, tidak baik untuk bergadang. Aku ini istri kamu, tapi kenapa kamu masih memikirkan perempuan lain sih. Apa coba, istimewanya Lunika dibanding aku." Ucap sang istri yang juga mulai ikut kesal di buatnya.
Arnal yang semakin emosi akan kekesalannya, ia pun mendekati istrinya.
"Kamu tidak perlu mengaturku, apa lagi kamu mencoba untuk mendekatiku. Aku tidak sudi, ngerti! sekarang juga kamu pergi dari hadapanku." Ucapnya semakin meninggi suaranya dan menatap tajam pada istrinya dengan tatapan yang terlihat be*ngis.
Arnal sengaja memperlakukan buruk pada istrinya, ia berharap dalam waktu dekat akan segera bercerai dan pergi dari kehidupan kluarganya, pikirnya.
Hana yang tidak ingin kehilangan Arnal, ia memilih untuk mengalah. Dengan perasaannya yang juga sudah dikuasai emosi, Hana segera tidur lebih awal. Arnal yang sudah tidak bisa lagi untuk tidur, ia memilih untuk keluar dari rumahnya.
"Arnal, kamu mau kemana tengah malam begini?" tanya sang ibu yang tiba tiba muncul dihadapan putranya.
Arnal yang tengah mengenakan jaket pun terhenti begitu saja, ia menatap ibunya dengan tatapan ketidaksukaannya.
"Arnal, tidak baik malam pengantin kamu keluar rumah. Kasihan Hana istri kamu, seharusnya mendapatkan perlakuan lembut dan penuh cinta dari kamu." Ucap sang ibu lagi, Arnal tidak meresponnya.
Tanpa pikir panjang, Arnal langsung keluar dan pergi dari rumahnya dengan mengendarai sepeda motornya. Sedangkan sang ibu hanya membuang nafasnya kasar. Sedikitpun tidak berani untuk mencegahnya, ditambah lagi penyesalan yang hadir di belakangan ketika kenyataan ada dihadapannya.
"Arnal, maafkan Mama. Semua karena keegoisan Mama yang sama sekali tidak memikirkan akan perasaanmu, dan Mama selalu memaksamu. Hatimu pasti sangat hancur, ketika perempuan yang kamu sukai ternyata sudah bersuamikan Bos kamu sendiri." Ucap sang ibu dengan lirih dan penuh penyesalan.
"Sudah lah Ma, percuma kita menyesal. Semuanya sudah terjadi, kita tidak bisa berbuat apa apa. Papa juga menyesal, tapi semua sudah terjadi. Ayo, kita kembali ke kamar. Kita tidak mungkin mengejar Arnal, itu tidak mungkin. Karena kita tidak tahu kemana perginya Arnal, Papan yakin jika Arnal pasti akan kembali." Ucap ayahnya Arnal yang juga menyesalinya.