
Acara pernikahan pun telah usai, kini suasana kembali sepi. Zicko yang sudah terasa gerah, ia segera membersihkan diri.
Dengan langkah kakinya yang terburu buru, Zicko membuka pintunya sedikit kasar. Lunika yang tengah fokus di depan cermin tidak menyadari sang suami tengan membuka pintunya. Seketika, kedua bola matanya Zicko mendadak tercengang saat melihat sang istri tengah menguncir rambutnya. Terlihat jelas jenjang lehernya yang putih dan terlihat mulus. Zicko hanya menelan ludahnya kasar, pikirannya pun melanglang buana entah kemana.
Disaat itu juga, Zicko langsung menepis pikiran kotornya. Kemudian ia langsung melepaskan pakaiannya, hingga celana kolor yang tersisa.
"Tidak!!!" teriak Lunika sangat kencang, Zicko tidak memperdulikannya. Justru Zicko mendekati sang istri begitu dekat, Lunika hanya menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat tubuh Zicko yang begitu mempesona.
"Norak, kamu. Jangan kepedean, mulai sekarang kamu harus bisa membiasakan kedua mata kamu itu untuk melihatku yang hanya mengenakan kolor saja. Tidak perlu kamu teriak teriak tidak jelas seperti tadi, ngerti." Ucap Zicko, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi.
Lunika sendiri hanya bergidik ngeri ketika mendengar ucapan dari Zicko, suaminya.
'Drama ini baru saja dimulai, bagaimana dengan selanjutnya? apa aku bisa untuk melewatinya? lalu, malam ini aku harus tidur dimana? di lantai? menyedihkan. Tapi, kenyataannya memang seperti ini. Aku bukan istri sungguhan, aku hanya melakukan peranku sebagaimana perjanjian yang sudah aku sepakati.' Batinnya, kemudian Lunika tersenyum mengembang tatkala dirinya melihat sofa yang ada didekatnya. Akhirhya, ia memilih untuk tiduran disofa. Tanpa Lunika sadari, saat dirinya tengah tiduran ia terlelap dari tidurnya tanpa berselimut.
Zicko yang merasa sudah selesai membersihkan diri, ia segera beranjak dari kamar mandi. Setelah itu, Zicko mengenakan pakaian tidurnya.
Rasa capek pun sedikit berkurang, meski masih menyisakan badan terasa pegal pegal dibagian anggota tubuhnya. Namun, setidaknya rasa pegelnya sedikit berkurang. Disaat hendak berbaring diatas tempat tidur, pandangannya tertuju pada sofa yang tidak jauh dari penglihatannya.
"Perempuan itu, maksudnya apa lagi sih. Tidur saja pakai nyusahin orang, menjengkelkan." Gerutu Zicko sedikit geram.
"Bangun, cepetan pindah." Berkali kali Zicko membangunkannya dan terus berusaha untuk membangunkan istrinya hingga terbangun dari tidurnya, sayangnya Lunika sendiri sedikitpun tidak meresponnya.
Zicko semakin geram melihatnya, dengan terpaksa Zicko langsung memindahkan istrinya dari sofa ke tempat tidur.
Dengan lekat, Zicko menatap wajah istrinya begitu dekat. Otaknya pun mulai traveling entah kemana, Zicko mulai terbawa suasana. Secepat kilat, Zicko membuang pikiran kotornya.
'Zicko, ingat! Zicko. Dia istri bayaran kamu, tidak pantas kamu menyentuhnya.' Gumam Zicko pada dirinya sendiri, kemudia segera menyelimuti sang istri sampai di bagian dadanya.
Sedangkan Zicko sendiri memilih untuk tidur disebelah sang istri tanpa menggunakan pembatas apapun, Zicko yang tidak kuat menahan rasa kantuknya, segera memejamkan kedua matanya hingga terlelap dari tidurnya.
Lunika yang tidak terbiasa mengenakan selimut, ia merasa gerah dan juga tidak nyaman.
Dengan pelan, Lunika membuka kedua matanya. Ditatapnya langit langit kamar dan kedua tangannya pun ikut meraba di sekitarnya.
Seketika, Lunika mendadak tercengang tatkala satu tangan sebelahnya terasa terkunci begitu saja. Lunika merasakan apa yang tengah ia temui melalui tangan kanannya.
"Tidak!!!" teriak Lunika dengan kencang. Zicko yang tengah tertidur pulas pun mendadak terbangun dari tidurnya.
Zicko langsung mengunci tubuh Lunika sangat kuat, tatapannya pun sangat tajam.
"Tidak, serius. Bukankah aku tidur di sofa, lalu siapa yang memindahkan aku dari sofa?"
"Hem, kamu pikir aku setega itu denganmu. Membiarkan kamu tidur disofa yang sangat sempit dan tidak nyaman, apa kamu menginginkanku mendapat masalah dengan kedua orang tuaku, hah?"
"Maaf, aku benar benar tidak sengaja. Lagian kamu tidak memberi pembatas ditengah tengah, mana aku tahu." Jawab Lunika sedikit takut saat mendapati tatapan yang menakutkan pada suaminya sendiri.
"Jangan salahkan aku jika aku berbuat nekad, dan meminta hakku." Ucap Zicko mengancam, Lunika yang mendengarnya pun tercengang menatap suaminya. Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Zicko memilih bangkit dari posisinya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lunika yang merasa kikuk, ia memilih untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Karena bingung harus ngapain, Lunika meraih sebuah ponsel meski harus turun dari tempat tidur. Kemudian, ia kembali bersandar dan meluruskan kedua kakinya. Lalu, ia menyibukkan diri dengan ponselnya.
Tanpa Lunika sadari, sang suami tengah memperhatikan dirinya yang sudah berdiri dihadapannya. Tanpa pikir panjang, Zicko langsung merampas ponsel yang ada pada istrinya dan mengeceknya begitu teliti. Sebisa mungkin, Lunika berusaha untuk tenang.
Kalimat demi kalimat, Zicko membacanya dengan seksama. Bahkan tidak ada satu kata pun yang terlewatkan, Zicko terus membacanya pesan yang masuk.
Seketika, Zicko langsung tercengang saat menerima sebuah pesan dengan nama kontak yang tidak asing baginya. Zicko sendiri langsung mengambil ponselnya dan mencocokkan nomor tersebut yang membuatnya penasaran.
DEG!!
Zicko kembali tercengang, disaat itu juga Zicko menatap tajam ke arah Lunika yang kebetulan sang istri menatap kearah suaminya. Entah ada angin apa, Zicko menunjukkan raut wajahnya yang terlihat jelas akan kekesalannya.
Lunika semakin bingung dibuatnya, ditambah lagi sang suami tengah menunjukkan kekesalannya lewat tatapannya yang sangat tajam.
"Mulai sekarang, aku melarangmu menggunakan ponselmu ini. Bukankah aku sudah memberimu sebuah ponsel? dimana barang yang aku berikan padamu?" ucapnya dan bertanya.
"Ada didalam tas, kenapa? aku lebih nyaman dengan ponselku." Jawabnya.
"Oooh, lebih nyaman karena ada nomor kontak yang spesial? kamu lupa, sekarang kamu sudah sah menjadi istriku sepenuhnya. Apapun yang berhubungan dengan laki laki lain selain aku, maka kamu akan tahu akibatnya." Ucapnya mengancam.
"Bukankah kita hanya bersandiwara? lagian aku tidak merugikan kamu. Begitu juga dengan kamu, aku tidak melarangmu untuk berkomunikasi dengan perempuan yang kamu sukai." Jawab Lunika dengan polosnya.
Tanpa pikir panjang, Zicko langsung mendekati Lunika semakin dekat. Bahkan jarak diantara keduanya yang hampir saja tidak ada jarak. Nafas hangat begitu terasa satu sama lainnya, Lunika semakin bingung dibuatnya. Ditambah lagi kedua tangannya telah ditahan oleh Zicko.
"Lepaskan aku, aku mohon. Aku tidak lagi menggunakan ponselku, kamu berhak membuangnya. Tapi aku mohon, lepaskan tanganku. Jangan lakukan yang tidak aku inginkan, aku mohon." Ucap Lunika berulang ulang, Zicko masih menatapnya dengan tajam.
"Aku maafkan kamu, jika kamu mengulangi kesalahan kamu, jangan harap kamu akan selamat." Ancam Zicko dengan tatapannya yang serius, Lunika hanya mengangguk pasrah.
"Cepetan mandi, aku mau mengajakmu jalan jalan pagi. Jangan protes, ikutin saja apa kataku. Ingat, kamu masih banyak hutang denganku." Ucapnya lagi dan memberi peringatan pada istrinya.