
7 Bulan Kemudian
Sudah 5 bulan ini, Brio dan Vita akhirnya ikut tinggal dengan Brio di Paris, Negara dia berasal.
Kenapa 5 bulan? Karena 2 bulan 3 minggu yang lalu, mereka masih memilih menetap di Singapore, untuk Brio menghabiskan kontrak kerjanya. Untuk Beverly, pembantunya itu sudah di alihkan ke Majikan yang lainnya.
Sedangkan Rumah mereka yang di Singapore, Vita memilih untuk menyewakannya saja, agar ada uang bulanan masuk, lumayan lah untuk tambah - tambah.
Dan untuk sekarang, Brio kembali lagi bekerja di perusahaan Daddynya, membantu Brina dan juga Daddnya itu dalan mengembangkan bisnisnya. Entah mau dikembangkan seperti apa lagi, yang jelas jawab Mario hanya untuk memberikan sebuah keseimbangan saja.
Saat ini terlihat Vita dan Brio sedang berjalan - jalan di sekelilin Menara Eifel. Sudah dua minggu terakhir ini, Vita selalu saja ingin berjalan kaki di sekitaran taman - taman, di samping menara. Katanya menurut orang - orang dewasa dan saran dari dokter, agar anaknya bisa keluar dengan lancar.
“Sayang,” panggil Brio, ketika melihat Vita yang sedang terdiam menghirup aroma embun di pagi hari.
Vita tersenyum menatap ke arah Brio, lalu mengusap perutnya yang sudah sangat - sangat besar itu.
Brio mengecup kening istrinya sejenak, lalu dia berlutut, agar bisa sejajar dengan perut Vita. “Hallo sayang, anak Daddy bagaimana kabarmu hari ini sayang?” Sapanya pada baby yang ada di dalam perut Vita.
“Gimana sayang, sakitnya sudah sering belum?” Tanya Brio lagi, namun kali ini pertanyaannya untuk Vita istrinya.
Vita menggelengkan kepalanya pelan, “belum sih, masih 3 jam sekali, belum terlalu sering.” Jawab Vita, memberitahu suaminya, apa yang sedang dia rasakan.
Dari kemarin, Vita memang sudah merasakan rasanya perut kram yang sering datang setiap 3 jam sekali.
Waktu ke dokter, mereka di beritahu, bahwa Brio kecil saat ini sudah ingin melihat dunia. Namun, masih harus menunggu 12 jam, agar pembukaanya bisa lengkap di dapatkan.
Kemarin, Eden memang sudah menyarankan agar bisa melahirkan Sesar saja, namun Vita menolak, begitupun juga dengan Dokternya, yang mengatakan bahwa melahirkan dengan Normal jauh lebih baik ke timbang harus melahirkan secara sesar.
Dan Vita juga sudah siap menerima dan menanggung rasa sakit yang katanya sakitnya sama dengan 20 tulang rusuk dipatahkan.
“Sayang Daddy, sebentar lagi sudah mau keluar ya?” Tanya Brio lagi, pada anaknya.
Vita hanya bisa tersenyum, melihat intraksi antara calon anaknya dan juga suaminya. “Apakah kamu bahagia?” Tanya Brio, yang kini sudah terlihat berdiri dan memeluk istrinya dari belakang.
Dia menggengam tangan istrinya, agar bisa sama - sama mengusap perut buncit kesayanganya itu.
Brio sama sekali tidak menyangka bahwa kebahagiaan yang sebenarnya hanyalah bersama dengan istrinya, dan juga sekarang dia akan kedatang mahluk kecil baru yang akan membuat hidupnya semakin sempurna.
****
Setelah puas berjalan - jalan tadi, kini Vita terlihat sedang kembali menahan sakit. Dan rasa sakit yang dia rasakan kini mulai sering muncul, sekitar 30 menit sekali.
“Mau langsung ke rumah sakit saja? Atau masih bisa di tahan?” Tanya Eden, ketika melihat menantunya sudah terlihat sangat merasakan sakit.
Brio menatap ke arah Mario, lalu beralih lagi menatap istrinya, yang saat ini sedang berada di sebelahnya. “Mau ke rumah sakit sekarang atau gimana sayang?” Tanyanya pada Vita.
Namun, tiba - tiba saja dia merasakan geplokan yang dia dapatkan dari Mommynya, “aduh Mom, kenapa aku di jitak?” Protesnya, tidak terima ketika Mommynya memukulnya seperti itu.
“Kamu juga, tahu istrinya lagi kesakitan, masih juga di tanya, mau ke rumah sakit atau tidak?! Bisa peka sedikit tidak sih kamu?!” Sentak Eden, yang membuat Brio kesal mendengarnya.
“Ya makanya kan di tanya dulu Mom, Vitanya mau pergi sekarang atau tidak? Agar Brio tahu, apa yang Brio bisa siapkan.” Balasnya, dengan perasaan yang sangat - sangat kesal.
Eden menghela nafasnya, lalu kembali menarik telinga putranya itu. “Adduhhh, Mom, sakit!” Brio berusaha melepaskan tangan Mommynya dari telinganya karena itu memang terasa sangat - sangat sakit.
“Tidak usah bertanya panjang lebar, langsung siapkan mobil! Dan bawa Vita ke rumah sakit sekarang!” Tegas Eden, dan kali ini Brio sudah tidak bisa menjawab apa pun lagi.
Dengan keadaan terpaksa, Brio melangkahkan kakinya keluar untuk segera menyiapkan mobil, agar bisa cepat membawa istrinya ke rumah sakit.
“Mommy, jangan terlalu keras begitu sama Brio, dia pasti juga lagi tertekan karena kondisi ini.” Tegur Mario, agar istrinya itu tidak terlalu seperti itu pada putranya.
“Stop ya Mario!” Sentak Eden, yang membuat Mario juga terdiam.
“Kamu itu sama dengan Brio! Sama - sama tidak peka! Hal yang seharusnya sudah tidak perlu di pertanyakan, masih harus kalian pertanyakan lagi.” Seru Eden, dan semakin membuat Mario terdiam.
“Aduhhh, aduhhh, sakittt.” Teriak Vita, merasa sakitnya semakin terasa luar biasa.
“Iya, sabar ya Vita, ini kita akan langsung ke rumah sakit sekarang.” Ucap Eden, tak lupa dia mengusap perut Vita, dan juga meminta Vita untuk mereng ke kiri.
Vita menganggukan kepalanya menuruti apa pun yang dikatakan oleh mertuanya ini. Karena dia paham, jika mertuanya ini pasti sangatlah mengerti dengan semuan ini. Karena sudahlah sangat pengalamn.
***
Namun Brio menolak, Brio mengatakan, pakai saja lantai itu seperti sebagaimana mestinya, karena hanyalah istrinya yang mau melahirkan, bukan sekampungnya yang mau melahirkan sampai harus rumah sakit di kosongkan seperti itu.
Lagian, kamar president suite yang di miliki rumah sakit itu, sudah cukup begitu luas jika ingin membawa keluarga. Karena sudah terdapat ranjang pasien, ranjang penjaga yang cukup luas di sebelah ranjang Pasien, ada Ruang makan, ada Kitchen, ada Mewah dua, untuk dua keluarga yang mau menunggu proses persalinan. Tak lupa juga ada sebuah ruang tamu, yang bisa di pakai keluarga untuk berkumpul jika sedang merasa bosan.
Tak lama Vita berada di rumah sakit, karena masih pembukaan 5, berarti Vita harus menunggu selama 5 jam lagi, agar pembukaanya itu bisa lengkap.
Dan karena kemarin Brio sudah menghubungi Vika mamah dari Vita, serta Jendra, maka saat ini terlihat semua keluarga sedang berkumpul.
“Vita yang kuat yah sayang, sebentar lagi bisa bertemu dengan baby Michel.” Ucap Vika, mengelus puncak kepala putrinya.
Di dalam ruangan Vita, ada Eden dan Vika yang sedang menjaga Vita, sedangkan Brio, Alson, Jendra dan Mario, sedang berada di ruang tamu untuk mengobrol.
Tanpa terasa, Dokter sudah datang dan membawa Vita masuk ke dalam ruang bersalin. Tadinya Brio di perbolehkan untuk masuk. Namun Brio menolak, karena dia merasa takut melihat yang seperti itu. Akhirnya Vikalah yang ikut masuk menemani putrinya, sebagai tindak dukungan yang bisa diberikan pada putrinya. Sedangkan yang lain kini menunggu dengan harap cemas di luar ruang bersalin.
“Ayo ibu Vita!! Dorong terus!” Seru dokter, meminta agar Vita bisa mengerahkan tenaganya agar bisa mendorong bayinya.
“Aarrgghhh,” teriakan Vita, ketika berusaha mendorong bayinya.
“Ayo sayang, Anak Mamah pasti bisa.” Ucap Vika, memberikan semangat untuk putrinya.
“Ayo Ibu Vita, tarik nafasnya dalam - dalam, lalu keluarkan.” Pinta dokter itu, agar Vita kembali memperbaiki nafasnya.
“Eeehhhhhhhhhhh.” Vita terus mengejan, sampai akhirnya dia merasakan begitu legah, ketika mendengar suara tangisan bayi.
“Oeekkkk,,oeekkkk,,oeeekkk,” tangis baby tersebut, membuat Vika dan Vita menangis di dalam sana.
“Ibu, pastikan ibu Vita tidak tidur ya.” Pintanya pada Vika, agar terus berintraksi dengan Vita, agar anaknya itu tidak tidur.
Lalu tak lama kemudian, dokter meletakan baby itu ke dalam pelukan Vita, betapa bahagiaya Vita, melihat anaknya yang begitu kecil, serta masih berdarah sedang berada di dadanya.
“Mah, ini anak Vita Mah,” ucapnya pada Mamahnya.
“Iya sayang, Vita kecilnya Mamah sekarang sudah menjadi seorang ibu.” Sahut, Vika yang juga merasakan begitu bahagia karena melihat Anaknya berhasil melahirkan cucu pertamanya.
“Hallo, Cucu Eyang, ganteng banget sih Nak.” Sapa Vika pada baby yang sedang melek untuk mencari susu ibunya.
****
Karena Vita sedang di tangani di dalam, kini Vika memilih keluar sejenak, untuk mengabari seluruh keluarga, jika putra Vita dan Brio sudah lahir.
“Bagaimana Vik?” Tanya Eden pada Vika, setelah melihat Vika keluar dengan tangisannya.
“Puji Tuhan, anaknya selamat, bayinya ganteng banget.” Serunya, membuat semua orang yang ada di situ merasa begitu senang sekali. Tak terkecuali Brio, yang merasa sabgat - sangat bahagia, karena anak dan istrinya sudah selamat.
****
Setelah menunggu waktu yang cukup lama, kini Vita dan bayi laki - lakinya, baru saja di antar masuk ke dalam kamar.
“Wahhh, ganteng sekali,” seru Eden, ketika melihat ketampanan dari cucu laki - lakinya.
“Iya dong Mom, anak Brio itu.” Sahut Brio merasa begitu bangga, karena anaknya mengambil Gen darinya.
“Anak aku cuman numpang lahir doang dari aku,” seru Vita, merasa begitu sedih, karena anaknya benar - benar mirip dengan Brio.
Mendengar penuturan Vita, semua yang mendengarnya tertawa, tak lupa semuanya memberikan selamat kepada Vita atas kelahiran anak pertama mereka.
“Siapa nama untuk anak kamu Io?” Tanya Mario pada putranya.
“Namanya, Michel Polixander Jonathan,” jawabnya dengan bangga, karena sudah memberikan nama itu, karena arti nama itu benar - benar sangatlah baik. Yaitu, Malaikat Pemberian dari Tuhan untuk mengsejahterakan umat.
Brio berharap sekali, setelah ini, malaikat kecilnya itu akan memberikan sebuah kedamaian bagi semuanya. Menjadi sebuah perekat dalam hubungan dirinya dan juga Vita, agar bisa selalu selamanya sampai Mati.
The End.
Hay Gengs, terima kasih ya sudah mengikuti cerita Mimin sampai tamat.
Jangan sedih, karena kalau cerita Mimin Tamat, berarti Mimin sedan membuat cerita baru yang tak kalah seru. Untuk kisah Jendra sudah Mimin update di sini ya, dengan judul TERJERAT CINTA SANG KAKEK yang penasaraan boleh mampir loh ya. Gratis gak pakai - pakai koin. Cek profil aja ya
Yuk Mampir yuk, cek Profil Mimin ya, oh ya, cerita Griffin season 2 juga sudah Mimin update. Jadi jangan sampai ketinggalan ya gengs. 😘😘