Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 27


🌹 Happy Reading ya Gengs 🌹


Di sisi lain, Vita yang baru saja sampai di rumahnya, kini tidak sengaja melihat papahnya yang sedang duduk bekerja dengan sekertaris wanitanya.


"Vita, kamu sudah pulang sayang," tegur Jendra, yang kini mihat putrinya dengan wajah sembam, seperti habis menangis.


"Vita kamu kenapa sayang? Kamu habis menangis ya?" tanya Jendra dengan menampilkan raut wajah khawatirnya.


Sejenak Vita menatap ke arah sekertaris papahnya yang terlihat ganjen, "pah, kenapa dia masih kerja sama papah sih? Kaya gak ada sekertaris lain aja," ketus Vita, sangat tidak menyukai sekertaris papahnya ini.


Jendra mengalihkan pandanganya sejenak melihat ke arah wanita itu, dan kini beralih menatap ke arah putrinya. "Tidak ada alasan papah memecatnya sayang, pekerjaannya bagus, dia cepat tanggap, kamu tahukan saat ini sangat sulit mendapatkan sekertaris pintar seperti dia," jawab Jendra jujur. Tidak ada sedikitpun niat di hatinya untuk menyukai ataupun mencintai wanita lain saat ini. Karena seluruh cintanya telah habis diambil oleh putrinya seorang.


Vita menganggukan kepalanya pelan, membenarkan apa yang dikatakaan oleh papahnya, "baiklah pah, tetapi papah harus ingat! Kalau suatu saat nanti papah ingin menikah, papah wajib mencari wanita yang benar-benar mencintai papah dari hati, mau dia miskin, jelek atau apapun, yang penting adalah ketulusaanya, papah pahamkan maksud Vita apa?" Vita memberikan papahnya nasehat, agar tidak sembarangan dalam memilih wanita.


"Siap bos," sahut Jendra, dengan sedikit menggoda ke arah putrinya. Hingga terdengar suara tawa dari keduanya.


Tanpa mereka berdua sadari, jika sedari tadi terlihat ada yang mengepalkan tangnya menahan emosi mendengar semua kalimat ayah dan anak ini.


"Ehm, oh iya, kamu belum menjawab pertanyaan papah, kenapa kamu menangis?" tanya Jendra, di sela-sela obrolannya.


Sontak saja, Vita terdiam sejenak, lalu secepat kilat menampilkan senyum manisnya. "Tadi mamah telpon Vita pah, lalu dia meminta Vita agar segera pulang ke Italia." Jawab Vita jujur apa adanya.


"Terus, kamu nangis buat apa?" tanya Jendra lagi.


"Karena aku takut bicara sama papah, dan aku gak mau ninggalin papah di sini." Vita beralasan agar papahnya tidak lagi banyak bertanya.


Jendra tersenyum tipis, sambil membawa putrinya masuk ke dalam dekapan hangatnya. "Sayang, papah bukanlah anak kecil yang takut untuk kamu tinggal," ucap Jendra, mencoba memberikan pengertian kepada putrinya.


Namun dengan cepat Vita menggelengkan kepalanya menolak pengertian dari papahnya. "Pah, yang aku takuti itu, bagaimana jika mamah tahu dengan semua kejadian yang menimpaku, tentang hubunganku dengan White? Aku takut jika mamah akan menyalahkan papah atas semua ini." Ungkap Vita mengeluarkan segala ketakutaan di dalam dirinya.


Dengan menghela nafasnya panjang, Jendra mulai memahami maksud dari putrinya itu. "Sayang, setakut-takutnya kamu dengan semua ini, tetapi mengunjungi mamah itu adalah hal yang paling penting sayang, jangan sampai mamah malah mencari tahu kenapa sebabnya kamu tidak mau mengunjungi mereka," tungkasnya pada Vita.


"Papah benar," balas Vita pelan.


Sejenak dia menguraikan pelukan papahnya, dan berdiri tegak dengan sempurna.


"Ya sudahlah pah, nanti Vita pikir-pikir dulu lagi, sebenarnya Vita juga udah ambil cuti satu minggu, hanya saja, entah mengapa tiba-tiba menjadi ragu pah," lirihnya pelan, menatap kosong ke arah bawah.


Jendra yang mengerti dengan ketakutaan putrinya itu, hanya bisa membantu dengan memberikan arahan dengan baik. Karena biar bagaimanapun Vika tetaplah ibu kandung dari putrinya.


Jendra tidak mau jika nanti Vika malah berpikir jika dirinya yang menghasut Vita agar tidak mau mengunjunginya.


Setelah berbicara panjang lebar dengan papahnya, akhirnya Vita memutuskan untuk tetap pergi ke Italia mengunjungi mamahnya.


Sudah hampir delapan tahun dia tidak pernah ke Italia, karena mamahnya itu selalu yang lebih dulu berkunjung ke Indonesia, sekalian bertemu dengan nenek Veli dan om kakek Kevin.


Namun, tiba-tiba saja dia teringat akan pernikahaan Brio dan Mezty. Vita bergegas membuka tasnya dan melihat hasil usg janinnya. "Kita harus apa sekarang sayang? Daddy kamu tidak mau bertanggung jawab, dan bahkan memilih untuk menikahi wanita lain, mommy bahkan sampai bingung, ada apa sebenarnya dengan daddy kamu? Padahal karier mommy juga lebih baik dari pada karier aunty Mezty," ucapnya pelan, sambil terus mengusap lembut foto tersebut.


Dan di detik selanjutnya, Vita mempunyai ide untuk mengambil sebuah buku album kosong, dan mulai menghiasnya dengan foto-foto dan bintang di dalamnya.


Kisah Untuk Baby V


Vita menempel fotonya bersama dengan Brio yang lalu sempat dia cetak sebagai gambar pembuka di buku itu, tidak lupa dia menuliskan beberapa kalimat yang menceritakan kisah pertemuan mereka.


Lalu, di halaman berikutnya di kembali menempelkan lagi foto dirinya sendiri dan juga foto Brio sendiri yang dia letakan di setiap ujung buku tersebut, lalu di tengahnya dia tempelkan foto usg baby V.


Aku mencintai Baby V, yang tercipta dengan mengambil separuhku, dan separuhnya lagi adalah Dia.


Setelah selesai, Vita kembali menarik nafasnya dalam, senyum yang indah terlihat begitu saja terpancar di wajahnya. Mungkin benar, Brio telah menyakitinya. Tetapi darah yang mengalir di tubuh putrinya, tidak akan pernah bisa terputus hanya karena sebuah rasa benci yang dia ciptakan sendiri.


"Aku mau memberikan mereka kado apa ya?" gumam Vita, sambil melihat-lihat ponselnya dan mencari barang-barang yang cocok untuk Mezty dan Brio.


Malaikat : ehm, sepertinya kamu cocok memberikan mereka paket honeymoon Vit.


Iblis : heh, pakai otak kalau ngomong, kalau dikasih paket honeymoon, yang ada mereka akan makin lengket. Kasian sama Vitanya bodoh.


Malaikat : Vit, udahlah ikhlaskan aja, lagian kalau emang gak jodoh masa mau dipaksa.


Iblis : ini bukan masalah jodoh apa enggak maimunah! Ini itu masalah perasaan. Mending kamu belikan tempat tidur deh, biar kalau Brio tidur jadi ingat kamu terus.


Malaikat : kamu pikir Brio semiskin itu sampai harus dibelikan tempat tidur?


"Heh udahhh diammm!" Sentak Vita pada kedua mahluk yang terus saja menari di dalam pikiraanya.


"Itu Iblis sama malaikat kelai terus sih? Heran deh," keluhnya kesal, mengingat keduanya yang selalu saja tidak pernah satu jalan sama Vita.


Vita kembali melihat-lihat hadiah apa yang pantas untuk mereka berdua. "Ehmm, sepertinya aku lebih bagus memberikaan mereka," gumamnya terus menerus melihat-lihat semua property yang ada.


"Nothing."


"Iyalah Nothing, uang aku hanya untuk diriku sendiri dan juga Baby V, kalau dia mau barang-barangkan Brio kaya, masa iya gak mampu beli paket honeymoon dan lain-lain," gumamnya, mulai bersikap pelit.


"Hahahah, atau aku lebih baik datang aja ya ke pesta pernikahaan mereka? Bisa jadikan aku kaya yang di novel-novel, yang tiba-tiba menggantikan pengantin wanitanya, atau aku harus memberikan doa kepada mereka, agar mereka secepatnya bercerai?"


"Ah, tapi kalau mereka tahu doaku sejelek itu, emangnya mereka mau mengundang aku?"


"Sepertinya tidak." Vita benar-benar bersikap setengah saat ini. Karena sedari tadi dia mengajukan pertanyaan untuk dirinya sendiri dan diapun menjawabnya sendiri.


"Sudahlah, lebih baik sekarang aku bersiap-siap untuk berangkat ke Italia besok, siapa tahu aja aku mendapatkan udara yang segar di sana," gumamnya lagi dengan penuh semangat.


Namun, sepertinya semangat yang dia ucapakan sepertinya hanyalah sebuah angin lalu. Karena saat ini dia terlihat sedang tertidur nyenyak.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπŸ₯° jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»*