
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
Setelah drama kemarin terjadi, kini terlihat Khanza yang sedang menemani Brio untuk kembali ke Singapore.
Brio sudah memutuskan untuk kembali memulai kehidupan barunya, dengan modal yang dia dapatkan kemarin.
Dan saat ini, ke duanya terlihat sedang melihat - lihat rumah Condo yang akan ditinggali oleh Brio.
“Bagaimana kalau yang ini?” Tanya Khanza pada Brip, setelah mereka mendatangi Rumah ke 6 hari ini.
Brio menimbang - nimbang keinginannya, “sepertinya aku ambil yang ini saja, dari sini pemandangannya lebih indah dibandingkan yang sebelum - sebelumnya.” Jawab Brio, yang akhirnya menjatuhkan pilihannya pada sebuah Condo di daerah Orchard.
“Bukannya kemarin kamu sudah memasukan lamaran kerja di sini, lalu hasilnya bagaimana?” Tanya Khanza lagi.
Brio tersenyum, lalu memperlihatkan email yang dia terima pagi ini dari perusahaan Singapore.
Khanza tersenyum melihat satu step Brio ada kemajuan, “Cukup besar dengan tawaran gaji $10.000, sebagai Manager di hotel terbesar di Singapore, Marina Bay Sands.” Ujar Khanza, membuat Brio merasa bahwa gaji segitu sebenarnya jauh dari kata cukup baginya. Tetapi tidak masalah jika memang dia harus mencoba dari bawah.
Brio tersenyum membayangkan, bahwa dirinya akan bekerja sebagai bawahan dari orang lain. “Khanza, setelah ini apa yang akan kamu lakukkan?” Tanya Brio pada wanita yang sudah menemaninya selama seminggu ini.
Dengan wajah yang sangat tenag, Khanza beralih untuk mendekat ke arah jendela, “Sama sepertimu, aku juga akan memulai kehidupanku yang baru.” Jawabnya, dengan pandangan lurus ke depan, melihat pemandangan Negara Singapore, yang membuatnya berpikir bahwa hidup ini jika dijalanin juga pasti akan seindah itu.
“Aku juga sudah ke terima kerja,” sambung Khanza lagi, dengan wajah yang sangat berbinar.
“Oh ya? Di mana?” Tanya Brio dengan antusias.
“Di Balikpapan, di Pt Pertamina Persero, aku sudah memasuki lamaranku dari lama sih, tapi baru ini dipanggil, dan aku juga sudah mengurus surat izin tinggalku di Indonesia.”
“Di sana, aku disediakan Apartemen untuk para karyawannya, jadi aku tidak perlu lagi sibuk mencari rumah.” Khanza, mengalihkan pandanganya ke Brio.
“Terima kasih ya Io,” ujar Khanza lagi, dengan tulus.
Mendengar kalimat itu, Brio sontak berdecak ingin meremehkan. “Memangnya apa yang si Trouble Maker ini buat? Sampai kamu merasa harus berterima kasih?” Brio merasa, bahwa kalimat ucapan terima kasih itu, sangat tidak pantas untuknya.
“Terima Kasih, karenamu lah aku merasa bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan ini.” Brio terkejut mendengar kalimat Khanza yang ini. Namun, di detik selanjutnya Brio tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan.
“Terima kasih juga karena kamu sudah memberikanku tempat tinggal selama seminggu ini, aku senang mengenalmu Khanza, kita berdua banyak mempelajari kehidupan setelah mendengar masing - masing dari kisah kita ini.” Ucap Brio, yang baru pertama kali ini dirinya mengeluarkan kata - kata bijak.
Khanza tersenyum puas, lalu mendekat ke arah Brio, “mulai sekarang, kita haru membuat sebuah janji, bahwa pertemuan kita ke dua kalinya nanti, kita haru sudah menjadi orang - orang sukses dengan hasil keringat kita sendiri, bukan dari orang lain. Deal,” tantang Khanza, mengulurkan tangannya sebagai acuan bahwa mereka melakukkan sebuah kesepakataan sebelum berpisah nanti.
Brio dan Khanza memang mengatakan akan mulai kehidupan mereka masing - masing, menuju kesuksaan tanpa adanya orang tua yang ikut campur tangan.
***
Seharian ini Khanza masih mempunyai kesempatan untuk membantu Brio membeli alat - alat prabotan untuk Rumah barunya. Mulai dari tempat tidur, sofa dan lain - lain.
Tak lupa juga, Khanza menghubungi Agensi untuk meminta seorang pembantu yang akan membantu Brio membersihkan rumah dan memasakan pria itu makanan.
“Brio, ini Agensi mengirim harga untuk seorang pembantu, ada yang dari Philippin, Myanmar atau Indonesia?” Tanya Khanza, sebelum akhirnya dia menentukan pilihannya.
“Terserah,” jawab Brio, yang terlihat sedang merakit sebuah lemari.
Khanza menganggukan kepalanya pelan, sebelum dia memilih seorang Pembantu yang berasal dari Philipins.
Karena seharian ini mereka sibuk, Brio dan Khanza sepakat untuk memesan saja makanan dari luar.
Ketika mereka berdua sedang duduk bersama di meja makan, terlihat Brio menyerahkan Pasport milik Khanza serta tiket ke Balikpapan Indonesia, tetapi dia sengaja membelikan tiket transit 12 jam di Jakarta, agar Khanza bisa kembali mengemasi barangnya yang mungkin akan dia bawa ke Balikpapan.
Sedangkan mobil milik Khanza memang sudah di jual, sebelum mereka pergi ke Singapore. Tadinya Khanza juga ingin menjual Apartemennya, tetapi Brio melarangnya, karena dikhawatirkan pembeli itu akan mempermasalahkan sertifikat yang masih tertera nama ibu Khanza. Dan takutnya malah keberadaan Khanza yang ada di Indonesia justru malah akan ketahuan.
“Waahhh, cepat sekali kamu mendapatkannya.” Seru Khanza merasa bahagia melihat tiketnya, yang tertera tanggal keberangkataanya yang terjadi di besok sore.
“Kenapa tidak pagi sih?” Gerutu Khanza kesal, karena dia begitu malas berangkat sore - sore, karena jam - jam santai dirinya malah harus di dalam pesawat.
Brio tertawa melihat wajah Khanza yang begitu kesal. “Kamu mengambil seorang pembantu yang datang besok pagi! Lalu kamu mau pergi pagi, itu bagaimana konsepnya?!” Ucap Brio, yang membuat Khanza seketika tersenyum mendengarnya.
“Hahahaha, iya juga ya.” Sahutnya, yang lalu melihat rumah baru Brio telah jadi, dan terasa sangat minimalis dengan semua prabotan yang bewarna putih dan cream.
“Kamu masih memajang foto pernikahaanmu bersama dengan Vita?” Tanya Khanza, dengan senyum ramahnya melihat sekeliling ruang tamu, yang terdapat begitu banyak foto ketika mereka melakukkan prawed, pernikahan serta foto Usg bayi mereka yang telah tiada.
Khanza tau apa yang sedang dirasakan Brio saat ini, hingga dia memilih untuk menggengan tangan pria itu. “Brio, kamu percayakan sama takdir indah dari Tuhan.” Tungkas Khanza yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Brio.
“Jika takdir Vita memang bersamamu, maka biar sejauh apapun dirinya menghindarimu, dia akan tetap kembali sama kamu,”
“Kejar dan raih maafnya, semakin dia menolak, kamu juga harus semakin bisa membuat dirimu pantas mendapatkan maafnya. ingat itu!” Nasehat terakhir yang diberikan Khanza untuknya.
“Baik, lalu bagaimana dengan kamu?” Serang Brio balik.
“Aku?”
“Apakah kamu selamanya akan tidak mau menikah? Usiamu sudah 27 tahun, lalu kapan kamu akan mencoba untuk membuka hatimu kembali?” Brio kembali merasa penasaraan pada Khanza.
Wanita itu tertawa lalu mendekatkan diri kepada Brio. “Sepertinya aku menyukai seseorang.” Ucapnya pelan, membuat Brio tersenyum mendengarnya.
“Siapa? Cepat katakan! Aku akan memaksa laki - laki itu, untuk segera menikahimu, agar kamu tidak terus dijodohkan oleh orang tuamu.” Seru Brio, membuat Khanza seketika menampilkan wajahnya yang begitu malu.
“Haahahahahah,” Khanza terdengar tertawa geli sendiri, padahal belum mengatakan apa - apa pada Brio.
“Kamu kenapa sih Tertawa seperti itu?!” Tanya Brio yang begitu kesal di tambah penasaraan.
Karena belum mengucapkan nama pria itu, Khanza sudah duluan tertawa, dan bahkan sampai tersedak beberapa kali.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*