
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, kini Vita sedang duduk di depan meja rias. Dia ingin bermake up, tetapi meja itu terlihat masih kosong. "Hishh, menyebalkannya, coba dibantu kek, buat keluarkan barang - barang dikoper, nih suami benar - benar deh," keluhnya, merasa jika Brio sama sekali tidak perhatian kepadanya.
"Vitaaa, ayoo cepatan," panggil Brio dari luar, yang sudah sangat bosan menunggu istrinya yang begitu lama menghabiskan waktunya di dalam sana.
Vita mengerucutkan bibirnya lagi, kalau dia membongkar barang - barang lebih dulu, pasti akan lebih lama lagi waktu yang dia butuhkan.
"Baiklah, baiklah, hanya belanja saja, tidak bermake up juga gak masalahkan," gumam Vita, dan memilih langsung mengenakan bajunya, dan berjalan keluar menghampiri suaminya yang sudah berteriak sedari tadi.
"Udah ayo," ajak Vita, dengan suara yang sangat ketus.
Brio menatap ke arah Vita yang kini hanya menampilkan wajah cemberutnya, bahkan Vita berjalan sendiri keluar sambil menghentak - hentakan kakinya seperti anak balita yang gak dikasih susu sama ibunya.
"Harusnya aku yang marah?" Batin Brio, yang kali ini memilih untuk mengalah, agar tidak menjadi masalah panjang nantinya.
Namun, belum sampai di mobil, dirinya mendapatkan sebuah panggilan dari Daddy yang menanyakan tentang niat Brio untuk pindah ke Jerman.
Akhirnya di situlah baru Brio jujur tentang semua ini, tentang ancaman Griffin, tentang tindakan Griffin yang sudah melewati batas. Dan Daddynya juga berjanji akan memberikan perlindungan terbaik untuk putra dan menantunya selama berada di Jerman.
Brio menghela nafasnya dengan dalam, dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini, yang jelas dia harus menjaga istri dan anaknya sendiri terlebih dahulu.
"Tadi suruh cepat, sekarang kamu enak - enakkan terima telpon di luar sampai satu jam tau gak aku tunggu." Vita menyemprot Brio yang baru saja masuk ke dalam mobil. Membuat Pria itu menatap bingung ke arah istrinya.
"Siapa yang telpon? Mezty? Atau siapa? Selingkuhanmu yang baru?" Tuduhnya pada Brio.
"Kamu jangan gila Vit," sahut Brio dengan santai.
"Enggak, aku gak gila emang benarkan kamu tukang selingkuh! Awas aja kamu selingkuh di saat aku lagi hamil." Ancam Vita, yang saat ini terkesan lebih possesif dari pada Brio.
"Terserah,"
Setelah pertengkaran kecil yang terjadi di antara mereka, kini Brio lebih memilih menulikan pendengarnya dari pada harus terpancing emosi dengan semua kalimat - kalimat tuduhan yang tidak beralasan dari Vita. Dan segera berangkat agar mereka tidak pulang kemalaman.
****
Sesampainya di sebuah super market besar, kedunya langsung masuk dengan Brio yang mendorong troli. "Kamu suka makan apa?" tanya Vita, sambil melihat - lihat ikan segar yang berada di sana.
Brio melihat - lihat ikan tersebut, namun tidak ada minatnya sama sekali untuk memakan ikan saat ini. "Aku tidak ingin memakan ikan, aku ingin yang lain," jawab Brio, dan langsung melirik ke arah udang, dan sotong.
"Aku mau ini," ujar Brio, sambil menunjukan udang lobster yang besar. Vita menganggukan kepalanya pelan, dan mulai memilih untuk mengambil apa keinginan suaminya.
Dengan setia Brio menunggu Vita yang sedang menimbang semua barang - barang lautnya. "Setelah ini mau kemana? Tanya Vita.
Brio menatap ke arah trolinya yang sudah penuh, "apa masih banyak yang perlu dibeli lagi?" tanya Brio.
"Kita keliling sebentar lagi ya, aku takut nanti ada barang yang ketinggalan untuk dibeli, aku tahu kamu pasti tidak mau jika aku menyuruhmu bolak balik untuk membeli barang," Vita membantu suaminya menarik troli dan mengarahkaanya ke tempat lain.
"Aku rasa ini sudah cukup, sekarang ayo kita ke kasir." Kedua pasangan itu kini menjadi pusat perhatian dari beberapa orang.
Melihat mereka pasti akan tahu bahwa mereka adalah pasangan pengantin baru, namun yang membuat lucu adalah ketika mereka membeli barang - barang dengan diikuti oleh pertengkaran - pertengkaran kecil yang terjadi di antara mereka, membuat beberapa orang merasa gemas melihatnya.
Sesampainya di kasir, Brio menatap ke arah mbak yang ada di sana. "Matamu tolong dijaga," ucap Vita menggunakan bahasa Indonesia, agar orang - orang di sekelilingnya tidak memahami apa yang dia katakan.
"Aku enggak liat mbaknya, aku lihat harga yang ada di samping mbaknya itu," jelasnya menunjuk barang yang ada di sebelah kasir.
"Cikhh, alasan."
"Jadi berapa semua totalnya?" tanya Brio, tidak ingin memperpanjang masalah yang ada
"Β£725." Jawab Vita, sambil menunjukan angka yang tertera di komputer.
"Banyak juga ya kita belanja," protes Brio, sambil mengeluarkan kartu debit dari kantongnya.
Brio menggelengkan kepalanya, sambil menghitung perkalian uang di dalam kepalanya, "sekitar 12 juta lebih 500an lah," jawab Brio.
"Banyak juga ya," sahut Vita.
Hidup di Jerman berdua dengan hidup dengan sangat sederhana ini, membuat Brio dan Vita, akhirnya memahami betapa sulitnya kehidupan para karyawan mereka.
Brio sengaja melakukaan hal ini, agar Griffin tidak dapat melacak atm ataupun debit yang selama ini Brio punya. Dia menggunakan debit khusus yang hanya dimiliki oleh rakyat kalangan bawah, karena dia sangat tahu, Griffin pasti tidak akan mengira jika Brio akan melakukan ini.
"Sudah semuakan?" tanya Brio, ketika melihat Vita yang masih ingin kembali masuk ke dalam.
Dengan ragu Vita menganggukan kepalanya pelan, "kenapa?" Brio merasa bahwa istrinya ini sedang menginginkan sesuatu.
"Tidak, aku ingin lihat sesuatu di dalam, tapi aku rasa itu tidak terlalu penting, jadi aku rasa besok - besok saja ketika kita ke sini lagi," .
"Baiklah kalau begitu, kamu mau makan di rumah atau?"
"Kita drive thru aja ya, aku lagi pengen makan junk food," izinnya pada Brio.
"Vita, itu gak sehat," tegas Brio, menolak permintaan istrinya.
Kecewa, itu yang dirasakan oleh Vita, bahkan karena perasaan kecewa itu, tanpa sadar dia langsung meneteskan air matanya. Membuat Brio langsung menghela nafasnya kasar.
"Baiklah Vita, is the Last, aku gak mau lagi kamu makan - makanan seperti ini," lagi - lagi Brio yang memilih mengalah, untuk mengikuti kemauan Vita.
Walaupun di dalam hati dirinya terus saja mengumpat, karena Vita selalu saja mengungkapkan keinginan atas nama bayi, tetapi demi menebus kesalahanya yang mungkin tidak akan pernah termaafkan oleh Vita, Brio ingin membuat yang terbaik sebelum Vita mengambil keputusan untuk berpisah dengannya.
"Makasih Io," ungakp Vita, begitu merasa bahagia, ketika Brio mengikuti keinginannya.
"Jadi mau drive thru yang mana? KFC atau MCdonald?" tanya Brio ingin memastikan arah tujuannya terlebih dahulu.
"Ehmm, sayang, kamu ingin makan apa, Nak?" Tanya Vita, sambil mengusap lembut perutnya yang masih begitu rata.
Seutas senyum tipis terbit begitu saja dari kedua sudut bibir milik Brio, lalu tanpa izin dari Vita, dia juga ikut meletakan tanganya, mengusap lembut perut istrinya.
"Anak daddy, jangan sering - sering minta junk food ya son, daddy gak suka soalnya," Sontak tatapan mata Vita membulat tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.
Plaakk, Vita memukul tangan Brio dengan keras. "Kenapa dipukul?"
"Kamu jangan seperti itu sama anak kita, dia masih baby Io, kenapa udah kamu larang - larang?" Vita merasa sangat kesal dengan Brio, yang tidak bisa membedakan bagaimana cara bicara dengan baby dan Vita.
"Jadi aku harus gimana?"
"Begini caranya," Vita kembali meletakan tangan Brio di posisi yang benar.
"Sayang, mommy sama daddy, akan mengikuti semua permintaan kamu, tapi kata daddy jangan yang gak sehat ya sayang, daddy gak mau hal buruk terjadi dengan kamu sayang, paham kan, Nak?!" Keduanya langsung tersenyum bahagia, begitupun juga dengan Brio. Bahkan Vita sampai terkesima ketika melihat tawa suaminya yang baru pertama kali ini dia lihat.
"Semoga kehadiran baby V, bisa menjadi pelindung untuk keluarga kita, dan bisa merubah sifatmu yang kejam itu," Vita berucap lirih di dalam hatinya, tentang keinginan yang dia harapkan pada babynya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*