Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 79


🌹 Happy Reading Gengs 🌹


Brio berlari, untuk mencari Khanza yang ternyata sudah lebih dulu berada di dalam mobil.


“Khanza apa yang kamu lakukkan di sini? Dan kenapa kamu menangis?” Tanya Brio, yang merasakan khawatir dengan keadaan Khanza saat ini.


Dengan berusaha menghapus air matanya, yang sama sekali tidak mau berhenti, Khanza memeluk tubuh Brio dengan begitu erat.


“I really miss him Io, hue,,huee,,hue,” tangisnya, membawa Brio ke dalam pelukannnya.


“Kisah kalian, mengingatkan aku dengan seseorang yang sampai detik ini masih aku cintai.” Ucap Khanza lagi, sebelum akhirnya dia menguraikan pelukan dari tubuh Brio, dan menatap kosong ke depan dengan ke dua mata yang sudah bengkak.


“10 tahun yang lalu, aku kehilangannya, kehilangannya karena aku yang terlalu egois karena tidak bisa membuka pintu maaf untuknya. Hue,hue,hisk,hisk,” ungkapnya pada Brio.


Sedangkan Brio sepertinya sudah tahu, siapa sosok yang saat ini Khanza sedang ceritakan.


“Marco Frencaes, pria keturunan Italia, yang membuat kamu berhasil menempatkan hatimu padanya.” Ucap Brio, yang membuat Khanza melirik ke arahnya.


“Dari mana kamu tahu soal Marco?” Tanya Khanza, dengan tatapan intimidasinya.


Brio tersenyum dengan puas, ketika dirinya berhasil menguak semua kisah Khanza. “Aku membaca buku Diarymu,” jawab Brio jujur. Karena memang di saat dia membantu Khanza untuk bersih - bersih rumah, Brio sempat menemukan buku itu lalu menyembunyikannya.


Khanza menganggukkan kepalanya pelan, lalu kembali menatap kosong ke depan. “Itu terjadi, di saat kami masih menduduki bangku SMA kelas 2 di Turki.”


“Marco, merupakan murid pindahan dari High School lain, tetapi usia kita berbeda 1 tahun, karena dia merupakan kakak tingkatku.”


“Ketika dia baru saja masuk, ajaibnya pesona dan ketampanannya itu, membuat dirinya mendapatkan sebuah julukan King of the School dan selalu saja dijodohkan dengan anak pemilik sekolah yaitu, Hazal.”


“Entah bagaimana ceritanya, ketika dia putus dari Hazal, kami berdua selalu terlibat dalam organisasi selalu bersama, dan ketika itu, Marco selalu melirik ke arahku, tanpa aku tahu, apa arti dari tatapannya itu.”


“Marco dan Hazal, adalah orang yang selalu suka membully di sekolah, dan aku adalah wanita yang selalu membela dan menuntut keadilan untuk siapapun yang mereka bully. Dan mulai sejak itu aku jadi musuh bebuyutan dengan Marco.” Jelas Khanza menceritakan masa lalunya.


“Tetapi, siapa sangka, pepatah yang mengatakan, jangan terlalu benci, nanti akan cinta, itu terasa benar.”


“Akan tetapi aku menepisnya, karena kebencianku yang lebih sangat dominan kepadanya. Dia berulang kali baik padaku, hingga aku permah terjebak dan benar - benar jatuh untuk mencintainya.”


“Kami menjalin hubungan, tetapi Marco terlalu toxic dengan alasan takut kehilanganku. Dia meniduriku sampai aku hamil anak kita.” Ungkap Khanza, di bait yang paling tersakitnya.


“Harusnya Vita beruntung, karena kamu masih mau bertanggung jawab dan menikahinya, sedangkan Marco, dia malah perlahan menjauhiku dan sama sekali tidak memberitahuku bagaimana untuk lewat dari semua itu. Sampai aku memilih untuk menggugurkan bayi itu sendiri.” Khanza bercerita dengan ke dua mata yang terpancarkan sebua api kemarahaan.


“Aku marah dengannya, sangat - sangat marah, sampai aku benci kepadanya.” Khanza berkata dengan jujur, namun itu malah membuat Brio merasa bingung dengannya.


“Kalau kamu marah dan Benci, lalu kenapa kamu masih mencintainya saat ini?” Tanya Brio penasaraan.


Khanza tersenyum di dalam tangisnya, kala dia kembali mengingat kenangan itu. “Itu karena, dia membantuku menanggung malu akibat bullyan satu sekolah, yang ternyata mengetahui jika aku pernah hamil dan mengugurkannya.” Ungkap Khanza lagi.


“Awalnya aku hanya mengira jika ini hanyalah sebuah akal - akalan darinya, agar aku luluh kembali, tetapi dengan semua yang dia lakukkan, melindungi dari segala bentuk pembullyan, hingga di siksa oleh teman - teman yang merasa bahwa kami adalah orang yang tidak pantas untuk melakukkan sekolah lagi.”


“Tetapi, aku sama sekali tidak melihat itu, aku tidak melihat perjuangan Marco dan bahkan penyesalaanya untuk menebus kesalahaanya. Aku mengabaikan kata maafnya, aku mengabaikan semua yang dia lakukkan untuk berjuang untuk mendapatkan maafku.”


“Hingga akhirnya aku tersadar semua itu ketika dia sudah benar - benar pergi, aku baru sadar kalau aku terlau perduli dengan kesakitaanku sendiri, sampai aku tidak pernah sadar bahwa dia sudah benar - benar berubah dan menyesali perbuataannya.”


“Aku terlalu sibuk dengan rasa dendamku, tanpa aku pernah tahu, apa yang dia rasakan. Aku kehilangannya karena kesalahanku sendiri.” Khanza kembali menutup wajahnya, dan membiarkan tangisnya lagi - lagi pecah.


Jujur sampai detik ini dia merasa masih belum ikhlas untuk melepaskan Marco pergi di dalam kecelakaan itu. Kecelakaan yang sebenarnya di sebabkan, karena depersi yang Khanza alami.


Sehingga pada tengah malam Khanza histeris, karena ke dua orang tua Khanza yang berada di luar kota, pembantu rumah Khanza memilih untuk menelpon Marco, karena pria itu mengatakan jika terjadi sesuatu, segera menghubunginya.


Sampai pada saat malam iti, hujan yang begitu lebat, serta kekhawatiran pada Khanza, memicu Marco hilang fokus, hingga menerobos lampu merah dan membuat kecelakaan itu terjadi.


“Jika bukan karena aku, pasti sekarang, aku tidak akan kehilanganya, dan aku tidak akan merasakan sakit menahan kerinduan yang tidak akan pernah bisa terobati.” Khanza menangis tanpa henti, namun Brio yang memahami duka Khanza, sama sekali tidak berniat untuk menghentikan tangisan itu.


Karena dia tahu, mungkin setelah menangis ini, Khanza akan merasa sedikit legah. “Makanya, aku mau Vita itu tidak keras kepala untuk memaafkan kamu, agar dia tidak menyesali nantinya.” Ucap Khanza lagi, siapapun yang mendengarnya, pasti mengetahui bahwa wanita ini sangat tulus mengucapkan hal itu. Membuat Brio tertawa.


“Sejujurnya, aku memang hanya bercanda denganmu, aku tahu, kalau kamu memiliki Depresi yang tingkat tinggi.” Ucap Brio jujur.


“Aku sering melihatmu meminum obat ratusan butir Khanza!” Tekannya, dengan mata yang tajam ke arah wanita itu, membuat Khanza terkejut ketika mendengat Brio mengetahui apa yang sering dia lakukkan.


“Aku sering mengajakmu berdebat, karena aku mau kamu tidak kepikiraan terus menerus untuk bunuh diri.”


“Dan sejujurnya, aku datang ke sini, memang tulus dari hatiku untuk meminta maaf dengan tulus pada Vita.”


“Aku tidak menyalahkan keluarga mereka karena membenciku, karena aku merasa tahu dan paham, jika perbuataanku sudah sangat - sangat kerterlaluan.” Ucap Brio, tanpa terdengar seperti main - main.


“Dan untuk apapun yang terjadi ke depannya, Khanza kamu berharga, jangan pernah berpikir bahwa dunia orang mati itu akan membawa kebahagiaan untuk kamu, berhenti melakukkan hal gila itu sebelum kamu Over Dosis!” Brio memberikan peringatan kepada wanita itu.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*