Partner Ranjang My Uncle

Partner Ranjang My Uncle
Partner Ranjang Chapter 52


🌹 Happy Reading ya Gengs 🌹


“Pah, please, jawab pertanyaan aku diawal!!! SIAPA LANGIT SEBENARNYA??!!!” Brio sudah tidak memandang lagi dengan siapa dia berbicara.


Dia terlalu lelah untuk keadaan saat ini, niatnya sekarang hanya butuh mengetahui, siapa sebenarnya Langit untuk istrinya.


Jendra mulai mencoba untuk mengatur nafasnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya kepada Brio, pria yang saat ini sudah menjadi menantunya.


“Langit itu adalah cinta pertama dari Vita, mereka sama – sama saling mencintai tetapi harus dipisahkan oleh sebuah takdir.” Jelas Jendra, kembali membuat Brio sulit untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh mertuanya.


“Pah, Vita pernah mengatakan kepadaku, jika dia tidak pernah sekalipun berpacaran -,”


“Ya, semua itu memang benar Vita sama sekali tidak pernah berpacaran,” sahut Jendra lagi.


“Tetapi Papah bilang tadi jika Langit adalah cinta pertama dari Vita?”


“Dia memang cinta pertama dari putri saya, tetapi karena kegigihan Vita yang memegang teguh janjinya untuk tidak akan pernah berpacaran sebelum dia menyelesaikan sekolahnya, sehingga mereka hanya bisa menjalani sebuah hubungan layaknya teman dekat saja.” Jendara mulai menerangkan semuanya pada Brio, dan barulah pria itu mengerti, apa yang sedang dialami dengan istrinya di masa lalu.


“Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka Pah?” Tanya Brio lagi, karena dirinya semakin begitu merasa sangat penasaraan dengan kisah cinta istrinya.


Kenapa sampai papah mertuanya ini mengatakan bahwa jika adanya keberadaan Langit, pasti akan membuat Vita tidak akan pernah bisa mencintainya???


Jendra terdiam sejenak, sambil memutar otaknya, agar kembali mengingat ke dalam memori di masa lampau.


“Mereka memang saling mencintai, tetapi Tuhan tidak menyatukan mereka.”


“Ketika sebuah cinta yang mereka bina, harus dihalangi dengan sebuah iman yang berbeda, itu sangatlah membuat Vita merasa diantara dua pilihan tersulit.


Brio menyeritkan keningnya bingung, “perbedaan agama? Bukankah di era sekarang, masalah perbedaan agama itu sangat dimaklumi pah? Dan bahkan diberbagai Negara Dunia ini mengizinkan sebuah pernikahaan beda agama,” jawab Brio.


“Memang benar, tetapi tidak dengan Negara kita di Indonesia.” Tegas Jendra, yang mengingatkan Brio, bahwa mereka bukanlah berasal dari Negara luar.


“Mereka adalah penduduk asli Indonesia, sehingga tidak akan mudah bagi mereka untuk menyatukan dua agama sekalipun.”


“Lagi pula, walaupun sebuah pengadilan Hukum negara luar menyatakan boleh untuk menjalani sebuah pernikahan Beda keyakinan, tetapi satu yang harus kamu ingat! Ketika sebuah pengajaran agama menyatakan bahwa gelap dan terang tidak bisa dipersatukan. Maka detik itu juga Siapapun yang lebih mencintai keluarganya, tetap akan meninggalkan orang tersebut, walaupun ada perasaan cinta yang sedang mengikatnya." Ucap Jendra lagi, dan kini semakin membuat Beio paham, bahwa cinta Vita dengan Langit terhalang restu dari keluarga dan Tuhan mereka.


“Dulu, saya memang menetang hubungan mereka, karena saya jelas tahu jika keduanya itu saling mencintai, tetapi dengan tegas saya menyatakan pada Vita, agar tidak pernah menyakiti perasaan hati keluarganya sendiri dengan harus berpindah agama, dan Vita menurutinya.”


“Tetapi, belakangan baru saya tahu, jika putri saya itu hanya berpura – pura menyetujuinya,” ucapnya lagi pada Brio.


“Ceritakan kepada saya pah, apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu Vita,” pinta Brio kepada Jendra.


*** Flash Back On ***


Sejak saat Vita pulang dari perkemahan tempo hari, saat itu Bita malah semakin aktiv mengikuti kegiatan cagar alam yang dilakukan oleh sekolahnya.


“Jadi ini rumah kamu Vit?” tanya Langit pada Vita.


Langit dengan Vita memang sudah sangat dekat saat ini, namun baru pertama kali ini Langit diperbolehkan untuk mengantarkan sang pujaan hatinya itu untuk pulang.


Vita tersenyum mendengar pertanyaan Langit, lalu dia memilih turun dari motor milik pria yang menjadi pengisi hatinya.


“Iya, ini rumahku, kamu mau makpur dulu tidak?” jawab Vita, dan tidak lupa dia menawarkan Langit untuk mampir.


“Enggak deh Vit, soalnya sudah mau magrib, aku harus sholat dulu mampir masjid dekat sini ada kali ya?” Tolak Langit, sambil mempertanyakan masjid terdekar pada Vita, karena waktu magrib yang memang sudah sangat mepet sekali, mengharuskannya untuk harus segera beribadah.


Vita menyeritkan keningnya bingung, pasalanya semenjak dia mengenal Langit, dia sama sekali belum tahu tentang agama pria itu.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, membuat Langit menganggukan kepalanya bingung, karena jelas mendengar pertanyaan dari Vita, bahwa wanita itu pasti terkejut mengetahui agamanya yang sebenarnya.


"Tapi aku tidak pernah melihat kamu beribadah?” tanya Vita lagi, karena memang itulah kenyataan yang dia tahu.


Namun, bukannya menjawab pertanyaan Vita, Langit justru tertawa mendengarnya.


“Kok kamu ketawa sih? Orang lagi serius juga,” Vita mulai merasa kesal dengan sikap Langit yang memang tidak pernah serius jika diajak berbicara.


“Lalu aku harus apa? Hem?” tanya Langit balik, sambil mencoba untuk mengusap lembut pipi milik Vita.


“Ya jawab dong pertanyaan aku!” Sewot Vita, yang seketika membuat tawa Langit berubah menjadi senyuman tipis.


“Untuk sekarang waktu aku sangat sempit Vita, besok aku akan menjelaskan semuanya deh, aku janji,” balas Langit. Lebih memilih untuk menjelaskan pada Vita dengan waktu yang lebih panjang, agar dirinya bisa puas untuk mengatakan semuanya pada Vita.


Walaupun tidak puas dengan jawaban dari Langit, namun Vita harus mulai memberikannya sebuah toleransi antara agama. Vita tidak akan menggangu waktu Langit untuk beribadah menurut ajaran agamanya.


“Benar ya, janji besok kamu akan menjelaskannya.” Vita menatap wajah Langit dengan lekat, berharap laki – laki dihadapannya ini tidak sedang mempermainkannya.


“Iya Janji, udah sana masuk, nanti dicariin sama papah kamu lagi,” balas Langit, dengan sedikit mendorong tubuh Vita, agar segera masuk ke dalam rumahnya.


“Siap – siap, ya sudah, kamu pulangnya hati – hati ya,” seru Vita lagi, yang akhirnya mengalah dengan Langit.


“Siap Nyonya,” sahut Langit, yang kerap selalu saja menggoda Vita, ketika wanita itu tengah mengomel kepadanya.


***


Ketika Vita baru saja masuk ke dalam rumah, dia melihat keadaan rumah yang begitu sepi, “ahh, iya, sekarangkan sudah jadwalnya makan malam,” gumam Vita, ketika dirinya melirik ke arah jam yang melingkar di tanganya.


Dengan langkah yang penuh semangat, Vita melangkahkan kakinya masuk untuk menemui papah, oma dan opanya yang sudah sangat dia rindukan.


“Papah, Oma, Opa, Vita pulang,” serunya, mengejutkan ketiga orang yang baru saja ingin memulai kegiatan makan malam mereka.


“Ahhh, Vita kesayangan kami sudah pulang,” seru Vina, oma dari Vita, yang begitu merasa sangat bahagia ketika cucunya baru saja pulang ke rumah.


Vina, Dyzon dan Jendra langsung berdiri untuk menyambut gadis kevil kesayangan mereka yang baru saja pulang dari kegiataan cagar alamnya.


“Oh Jesus, puji Tuhan sekali kamu pulang dengan selamat Vita, oma padahal khawatir sekali, ketika papah kamu mengatakan bahwa kamu sedang berkemah,” Vina merasa legah sekali dengan keberadaan cucunya. Dia memang adalah orang yang paling merasa sangat khawatir ketika Vita tidak pulang ke rumah.


“Sudah – sudah oma, Vita akan baik – baik saja kok, percaya sama Tuhan yang akan selalu menyertai setiap perjalanan Vita.” Serunya, yang membuat keluarganya merasa bahagia dengan sifat kasih sayang dan kepercayaan Vita masih dengan Tuhannya.


*To Be Continue. **


**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.


*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*


*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*


Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘


**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*


*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*